Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29559 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Budi Riyanto Wreksoatmodjo; Promotor: Nuning Masjkuri; Ko-Promotor: Ratna Djuwita Hatma, Jan Sudir Purba, Tri Budi W. Rahardjo, Asri C Adisasmita, Yvonne Suzy Handayani, Czeresna Heriawan Soejono
D-273
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cermin Dunia Kedokteran (CDK), Vol.41, No.3, Maret 2014 : hal. 171-178. ( ket. ada di bendel 2013- 2014 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imam Rasjidi; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-promotor: M. Farid Aziz, Akmal Taher; Penguji: Syahrizal Syarif, Soewarta Kosen, Laila Nuranna, Chaidir A Mocthar, Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Bambang Sutrisna, Farid Aziz, Akmal Taher
D-223
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fuad Bawardi; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Sutiawati, Popy Yuniar, Diana Magdalena Pakpahan
T-3549
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Tiolina SIdjabat; Pembimning: Nasrin Kodim; Penguji: Yovsyah, Ratna Djuwita, Faisal Yunus, Abdul Hafiz
Abstrak:

Setiap tahun, kurang Iebih 200.000 jemaah haji Indonesia menunaikan ibadah haji.. Hingga saat ini,angka mortalitas haji Indonesia masih tinggi, kcmatian pada kelompok usia lanjut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok jemaah lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penyakit pemafasan yang sudah diidap sebelum ibadah haji terhadap kematian jemaah usia lanjut Indonesia pada musim haji 1428 H(2007 - 2008). Subyek pcnelitian ini adalah 42.885 jemaah usia lanjut Indonesia,dengan 311 kasus kematian. Desain penelitian kohort retrospektiiimasa pcngamatan 68 hari sejak 17 November - 23 Januari 2008. Analisis mcnggunakan Iogistik regresi ganda. Jemaah yang sudah mengidap penyakit pemafasan sebelum ibadah haji secara statistik berpengaruh secaza bermakna tcrhadap kematian jemaah usia lanjut Indonesia (RR= 2,57 ; 95% CI:l,60 - 4,13 ; nilai p=0,00 ). Insiden kematian jemaah pcngidap penyakit pemafasan (2,00%),sedang.ka.': yang tidal; mengidap penyakit pernafasaan sebesar (0,'70%). Jemaah yang mengidap penyakit serebrovaskular mempunyai risiko kematian 2,10 kali dibandingkan jemaah yang tidak mengidap penyakit serebrovaskular (95%CI: 1,44 - 3,04 ; nilai p=0,00). Sedangkan jemaah yang mengidap penyakit endokrin dan metabolik mempunyai risiko kematian 2,05 kali lebih tinggi dibandingkan jemaah yang tidak mengidap penyakit endokrin dan metabolik (95%CI: 1,37 - 3,06 ;nilai p=0,00). Data rawat jemaah JI-II di Arab Saudi menyebutkan bahwa alasan terbanyak JHI untuk berobat dan dirawat adalah karena penyakit pemafasan. Karena penyakit pemafasan yang berisiko tinggi kematian berkisar 40% pada usia lanjut adalah pneumonia,dan mengingat tahun 1428 H adalah musim dingin, kemungkinan besar JI-II usia lanjut wafat disebabkan oleh pneumonia Hanya saja data rekam medik .THI tidak lengkap untuk menjelaskan keadaan tersebut. Karakteristik individual jemaah haji yang berkontribusi terhadap kematian adalah faktor usia, jenis kelamin, gelombang pemberangkatann. JH1 dengan usia 2 80 tahun mempunyai risiko kematian 5,10 kali Iebih tinggi (95% Cl : 3,38 - 7,67 ; nilai p 0,00) dibandingkan dcngan jemaah berusia 60-69 tahun, Jemaah berusia 70 - 79 tahun mempunyai risiko kematian 2,13 kali Iebih tinggi (95%CI: 1,88 - 2,67; nilai 0,00). Jemaah laki-Iaki yang berusia 260 tahlm berisiko untuk wafat 1,88 kali (95% CI:I,48 - 2,37 nilai p 0,00) dibandingkan dcngan jemaah perempuan. Jemaah yang tiba lebih awal dengan gelombang pemberangkatan I mempunyai risiko untuk wafat Iebih tinggi 1,31 kali (95% CI: 1,05 - 1,64 ; nilai p 0,02) dibandingkan jemaah yang diberangkatkan dengan gelombang II. Saran penelitian adalah agar jemaah pengidap penyakit pemafasan, khususnya PPOK menghentikan kebiasaan merokok, melakukan Iatihan pemafasan, dan diberi pengetahuan tentang penyakit-penyakit yang kemungkinan diderita. Perlu diberikan pelatihan pembekalan khusus untuk para dokter dalam deteksi dini, diaglosis dan penanganan penyakit yang tcpan Juga dianjurkan pemeriksaan faal pam berkala dengan spirometer khususnya calon jemaah yang mengidap asthma dan PPOK.


 Annually, about 200.000 Indonesian pilgrims come to perform the ritual Haji.'I`ilI now, mortality rate of Indonesian pigrims is still high , and old age death is relative higher compared to group pilgrims of other age. The aim ofthe study is to know the iniluence of respiratory disease that is suffered before pilgrimace to the number of the d th of old Indonesian hajj pilgrims in haji season 1428 H (2007 - 2008). This study conducted 42.885 old Indonesian pilgrims with 311 numbers of death. The study design is retrospective cohort, to observe subject about 58 days from 17 November 2007 to 23 January 2008. The method used in this study is multiple logistic regressions. The influence of respiratory disease that is suffered before pilgrimage has statistic significantly to the death of old Indonesian pilgrims in hajj season 1428 H ( RR= 2,57 ; 95% CI:1,60 - 4,13 ; p value =0,00).The incidence mortality rate in pilgrims who have a respiratory disease that is suffered before pilgrimace (2,00%) is much the same to pilgrims in normal health condition (0,70 %). Pilgrims who have cerebrovascular disease have 2,10 times risk of death (95%CI: 1,44 - 3,04 ; p value 0,00), and pilgrims who have endocrine and metabolic disease have 2,05 times tisk of death ( 95% CI : 1,37 - 3,06 ; p value 0,00). From data which is taken by taking care of Indonesian pilgrims in Arab Saudi mention that mostly the reason to cure and taken care of Indonesian pilgrims is because of respiration system disease. Because respiration disease which has a high risk of death approximately 40% for the elderly people is pneumonia and to keep in mind that 1428 H is winter time it’s quite possible that old age Indonesian pilgrims pass away caused by pneumonia. But record data medic Indonesian pilgrims is incomplete to explain that situation. Individual characteristic of hajj pilgims factors that contribute to the death of ordinary old age Indonesian hajj pilgirns are age, sex, and length of stay in Arab Saudi. The pilgrims of the ages 2 80 years have 5,10 times higher risk of death ( 95% CI : 3,38 - 7,67 ; p value 0,00) compared to the pilgrims of 60 to 69 years old. The pilgrims of 70 to 79 years old have 2,13 times risk of death (95%CI: 1,88 - 2,67; p value 0,00). The men of the ages 2 60 years have 1,88 times risk of death ( 95% CI: 1,48 - 2,37 ; p value 0,00) compared to the women. Pilgrims who arrived earlier in the iirst tum have 1,31 times higher risk of death (95% CI: 1,05 - 1,64 ; p value 0,02) compared to those who arrive in the second tum. The suggestion is in order that pilgrims who have respiratory disease that is suifered before pilgrimage, especially with COPD is to stop the habit of smoking, conduct exhalation practice, and given the science of diseases that will possible be suifered. Special trainning must be given to doctors in early detection, diagnosis and handling disease correctly. Also is suggested that physiological respiratory examination must carried out periodically with spirometer especially pilgrim candidate with asthma bronchiale and COPD.

Read More
T-2967
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Setiati; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-promotor: Supartondo, Harry Isbagio; Penguji: Aziz Rani, Wiguno Prodjosudjadi, Ratna Djuwita, Syahrizal Syarif, Maryantoro Oemardi
D-208
Depok : FKM-UI, 2006
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andri Musita; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Kusharisupeni, Besral, Minarto, Anies Irawati
T-4782
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Pasenringi; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Budi Haryanto, I Nyoman Kandum, Bambang Wahyudi
T-3388
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Rahman; Pembimbing: Ratna Djuwita
T-1166
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atti Ratnawiati; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Karyana, Lela Amelia
Abstrak: Sitikolin adalah neuroprotektor yang paling banyak digunakan untuk memperbaikikerusakan neurologis pada penderita stroke iskemik, namun efektivitas sitikolinmasih diperdebatkan berdasarkan penelitian ilmiah karena memberikan hasil yangheterogen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi sitikolinterhadap fungsi neurologis yang dinilai dengan The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) dan kemampuan fungsional yang dinilai dengan BarthelIndex. Penelitian pada pasien stroke iskemik berdasarkan terapi sitikolin yangdilakukan di 18 rumah sakit di Indonesia yang berkontribusi dalam registripenyakit stroke. Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektifmenggunakan data registri stroke Indonesia. Penilaian perbaikan fungsineurologis berdasarkan perubahan nilai NIHSS sebesar > 2 poin dan penilaiankemampuan fungsional berdasarkan perubahan nilai Barthel Index sebesar > 20poin yang diukur pada saat masuk dan keluar rumah sakit. Pasien stroke iskemikyang mendapat terapi sitikolin memiliki peluang perbaikan fungsi neurologissebesar 1,34 kali (CI 95% 1,058-1,658) dibanding pasien yang tidak mendapatterapi sitikolin setelah dikontrol variabel neurorestorasi. Peluang perbaikankemampuan fungsional pasien stroke iskemik yang mendapat terapi sitikolinsama dengan pasien yang tidak mendapat sitikolin setelah dikontrol denganneurorestorasi dengan relative risk 1,07 (CI95% 0,879-1,293; p=0,53).Kata kunci: Barthel Index; NIHSS; Sitikolin; Stroke Iskemik
Citicoline is the most widely used neuroprotective to repair neurological deficit inischemic stroke patients, however the effectiveness of citicoline is stillcontroversial and raise arguments against scientific research because it providedheterogeneous results.The objectives of the study are to identify citicoline effecton neurological function improvement using The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) and functional ability improvement using Barthel Index(BI) in the treatment of ischemic stroke patients at 18 hospitals involved inIndonesia stroke registry. The design of this study is retrospective cohort studyusing stroke registry data. Improvement of neurological function assessed bychanges of NIHSS score >2 and improvement of functional ability assesed bychanges of Barthel Index score > 20 as measured at the time of admission anddischarge of the hospital.The result shows that the probability of functionalneurological improvement on citicoline treatment group is higher than nociticoline treatment group with adjusted RR by neurorestoration is 1,34 (95% CI1.058 to 1.658, p=0,0014). There is no difference of functional abilityimprovement between citicoline and no citicoline treatment group, with adjustedRR by neurorestoration is 1.07 (CI95% 0.879 to 1.293; p=0,53).Keywords : Barthel Index; Citicoline; Ischemic stroke; NIHSS.
Read More
T-4632
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive