Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 17654 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Achmad Hudoyo
JRI Vol.21, No.2
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2001
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lily Zerlina S; Pembimbing: Faiq Bahfen; Penguji: Tjipta Lesmana, Santoso Soeroso, Budhi Yahmono
Abstrak:

Sejak tanggal 20 April 2000 yang lalu, pemerintah telah memberlakukan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). Sebenarnya sebelum UUPK, sudah ada produk hukum yang memberikan perlindungan terhadap konsumen, salah satu diantaranya adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan (UUK). Pada bidang kesehatan, pasien selaku penerima jasa layanan dapat disebut sebagai konsumen, sedangkan rumah sakit sebagai institusi pemberi layanan dapat disebut sebagai pelaku usaha. Majunya sistem informasi yang ditunjang dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap hukum, membuat mereka semakin mengerti dan berani menuntut haknya apabila mereka dirugikan. Untuk itu, RSUP Fatmawati sebagai salah satu rumah sakit pemerintah yang akan diPERJANkan telah melakukan beberapa upaya antisipasi, diantaranya adalah penataan peraturan internal sesuai dengan jenis, jumlah dan fasilitas layanan. Instalasi Rawat Jalan (IRJ) merupakan salah satu sumber dana rumah sakit yang setiap hari melayani pasien dalam jumlah besar. Keadaan ini membuat peluang untuk terjadi gugatan semakin besar. Untuk memperkecil kemungkinan tersebut, perlu dilakukan analisa peraturan internal yang sejalan dengan ketentuan UUPK dan UUK serta peraturan perundangan lain, sehingga mutu layanan dapat diperbaiki dan ditingkatkan. Disain penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan model penelitian survey pada bulan Juni dan Juli 2001 di IRJ RSUP Fatmawati. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: 1. Sebagian besar peraturan internal IRJ RSUP Fatmawati bagi perlindungan pasien dan rumah sakit sudah sejalan dengan ketentuan UUPK dan UUK serta peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. 2. Semua peraturan internal IRJ RSUP Fatmawati bagi perlindungan pasien dan rumah sakit sudah dapat diterapkan walaupun pada kondisi tertentu ada beberapa peraturan yang tidak dapat diterapkan sepenuhnya. 3. Masukan masyarakat terhadap peraturan IRJP RSU Fatmawati yang disampaikan melalui loket pengaduan, tata usaha IRJ RSUP Fatmawati dan kotak saran periode April 2000 sampai dengan April 2001, sebagian besar mengeluhkan pelayanan umum/askes tidak/kurang baik/profesional. Sedangkan sebagian kecil lainnya mengeluhkan akan sikap dokter/petugas tidak ramah, dokter datang terlambat dan waktu pelayanan yang lama/lambat. 4. Sebagian besar saran yang diberikan oleh pelanggan adalah peningkatan pelayanan pasien umum/askes, jumlah dokter/petugas ditambah dan perbaikan perilaku dokter/petugas. 5. Sebagian besar rekomendasi yang diberikan peneliti berdasarkan analisa peraturan internal IRJ RSUP Fatmawati bagi perlindungan pasien dan rumah sakit adalah berupa penambahan hak dan atau kewajiban pasien dan rumah sakit. Daftar bacaan: 54 (1986-2001)


 

Analysis on Internal Regulation of Outpatient Installation at Fatmawati Hospital, on Law of Consumer's Protections 1999 and Law of Health 1992Since 20`h April 2000, government has applied Law No. 8/1999 about Law of Consumer's Protections (ULTPK). Actually, prior to UUPK, there were law products, which provided protection to consumer, one among others is Law No. 23/1992 about Health (UUK). In health, patient as recipient of service could be considered as consumer, while hospital as institution of service provider could be considered as business doer. Advance of information system that is supported by the growth of education level and community awareness on law make them more understand and dare to fight for their rights if they are being harmed. In that sense, Fatmawati Hospital which will be being PERJAN, Service Company, has done several anticipation efforts, among others are arrangement of internal regulation according to kinds and service facilities. Outpatient Installation (IRJ) is one fund source of the hospital which everyday provides service to patients in big amount. This situation leads to bigger chance to cause of suit. To minimize such possibility, analysis of internal regulation needs to be done according to the stipulation of UUPK and UUK, and also other regulation of law, so that quality of service can be corrected and improved. Research design that was done is descriptive research with model of survey research, done in June and July 2001 at Outpatient Installation (IRJ) Fatmawati Hospital. Results from the research can be concluded that : 1. Most of internal regulation at outpatient installation of Fatmawati Hospital for patient and hospital protection has run according to the stipulation of UUPK and UUK, and also other applied regulation of law. 2. All of internal regulations at outpatient installation of Fatmawati Hospital for patient protection and hospital have been able to be applied even though at a certain condition there were regulation, which cannot be fully applied. 3. Public input on regulation at outpatient installation of Fatmawati Hospital addressed to counter of complaint, management of outpatient installation of Fatmawati Hospital and box of suggestions for period of April 2000 up to April 2001, most of them complained that public service/health insurance (askes) did not good/less professional. While others complained about unfriendliness attitude of doctors/officers, doctors late coming and service which is longer I slower. 4. Most of suggestions given by customers were improvement of service to general patient/askes, increase quantity of doctors/officers and improvement on attitude of doctors/officers. 5. Most of recommendations given by researcher based on analysis of internal regulation at outpatient installation of Fatmawati Hospital for patient and hospital protection are to increase rights and or obligations of patients and hospital. Bibliography: 54 (1986-2001)

Read More
B-484
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggitaningtyas Dzaky Salsabila; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Asnawi Abdullah, Adang Bachtiar
Abstrak:
Pengesahan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan memicu transformasi fundamental dalam tata kelola (governance) pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan di Indonesia. Regulasi ini menandai pergeseran paradigma dari model self-regulation yang didominasi oleh otonomi profesi menuju state regulatory governance yang terpusat pada otoritas negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tata kelola kewenangan regulatif, rekonfigurasi relasi kelembagaan antara Kementerian Kesehatan RI, Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), Kolegium, dan Organisasi Profesi (IDI, IBI, dan PPNI), serta implikasinya terhadap kepastian hukum, akuntabilitas negara, dan perlindungan publik. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan sosio-legal yang memadukan analisis normatif (law in books) dan empiris (law in action). Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi studi dokumen dan wawancara mendalam dengan informan kunci di tingkat pusat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara telah mengatribusi kembali kewenangan strategis, mengintegrasikan Kolegium ke dalam struktur KKI, serta menghapus instrumen rekomendasi Organisasi Profesi (OP) dalam pengurusan izin praktik. Reformasi ini terbukti berhasil menyederhanakan birokrasi perizinan dan mempertegas kepastian hukum secara administratif. Namun pada tataran operasional, sentralisasi ini memicu beban kapasitas (overload capacity) di tingkat pusat dan melahirkan "area abu-abu" (governance grey areas) berupa dualisme Kolegium sebagai bentuk resistensi pasif. Direduksinya peran OP di tingkat daerah melumpuhkan sistem peringatan dini (early warning system) melalui pengawasan antarsejawat (micro-surveillance), yang berisiko menciptakan perlindungan yang kurang efektif (pseudo-protection) bagi masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model state regulatory governance yang terlampau sentralistis kurang adaptif dalam menyangga kompleksitas ekosistem kesehatan. Oleh karena itu, direkomendasikan transisi lanjutan menuju Collaborative Regulated Governance, yakni tata kelola yang menyinergikan ketegasan otoritas hukum negara dalam administrasi publik dengan pendelegasian wewenang pengawasan teknis lapangan kepada Organisasi Profesi guna menjamin keselamatan pasien yang optimal.

The enactment of Law Number 17 of 2023 concerning Health has triggered a fundamental transformation in the governance of the development and supervision of health workers in Indonesia. This regulation marks a paradigm shift from a self-regulation model dominated by professional autonomy towards a state regulatory governance model centralized under state authority. This study aims to analyze the changes in regulatory authority governance, the institutional reconfiguration among the Ministry of Health, the Indonesian Health Council (KKI), Collegiums, and Professional Organizations (IDI, IBI, and PPNI), as well as their implications for legal certainty, state accountability, and public protection. This qualitative research employs a socio-legal approach combining normative (law in books) and empirical (law in action) analyses. Data collection was conducted through document studies and in-depth interviews with key informants at the central level. The results indicate that the state has reclaimed strategic authority, integrated Collegiums into the KKI structure, and eliminated the recommendatory instrument of Professional Organizations (OP) in processing practice licenses. This reform has proven successful in simplifying administrative bureaucracy and affirming formal legal certainty. However, at the operational level, this centralization has triggered overload capacity at the center and created governance grey areas, such as the dualism of Collegiums as a form of passive resistance. The reduction of OP's role at the regional level disables the early warning system via peer monitoring (micro-surveillance), which risks creating pseudo-protection for the public. This study concludes that an overly centralized state regulatory governance model is less adaptive in sustaining the complexity of the health ecosystem. Therefore, a further transition towards Collaborative Regulated Governance is recommended a model that synergizes the assertive authority of state law in public administration with the delegation of field technical supervision to Professional Organizations to ensure optimal patient safety.
Read More
T-7712
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
340.343 IND p
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Ind. (MKMI), XXVII, No.8, 1999, hal. 412-415
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
John Salindeho
R 344.046 SAL u
Jakarta : Sinar Grafika, 1993
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R 343.0946 IND p
Jakarta : AJKI, 1993
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.54, No.10, Oktober, 2004, hal. 391-396
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reni Heryani
R 344.0321 HER k
Jakarta : Trans Info Media, 2014
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djanius Djamin
344.046 DJA p
Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2007
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive