Ditemukan 24848 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kabar Kesmas (IKM), Vol.1, No.4, Des. 2001, hal. 31, ( cat. ada di bendel 2001/ 2004 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febi, Retno
KIK-Vol.1/No.4
Depok : LPKM-FKMUI, 2001
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hendrik Permana; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Dadan Erwandi, Tri Noviati, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak:
ABSTRAK Kejadian kebakaran rumah sakit masih merupakan salah satu bencana yang cukup tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kegagalan dalam merespon keadaan darurat kebakaran dapat menimbulkan kerugian yang besar bahkan kehilangan nyawa. Sumberdaya manusia yang ada, struktur organisasi, tingkat kompleksitas bangunan, karakteristik pasien, masing masing membawa potensi bahaya yang harus dikelola dengan baik. Sehingga diperlukan usaha secara berkelanjutan untuk memastikan semua karyawan RS, sarana dan prasarana serta manajemen dapat merespon keadaan darurat kebakaran dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesiapsiagaan dan manajemen kegawatdaruratan Rumah Sakit Umum Pasar Rebo terhadap bahaya kebakaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis dengan melihat gambaran persepsi karyawan terhadap tanggap darurat, kemudian mengevalusi sistem proteksi kebakaran rumah sakit terhadap Peraturan Daerah DKI Jakarta, Peraturan Menteri dan NFPA, selanjutnya menilai indeks keselamatan RS menggunakan hospital safety indeks dari WHO tahun 2015. Penelitian ini dilakukan pada gedung B (8 lantai) dan gedung D (7 lantai + 1 Basement) di Rumah sakit Pasar Rebo Jakarta Timur. Hasil penelitian mengambarkan mayoritas responden (67,7%) mempunyai persepsi baik terhadap tanggap darurat kebakaran di Rumah Sakit Pasar Rebo. Kebijakan rumah sakit, komitmen manajemen dan pentingnya simulasi serta pelatihan kebakaran merupakan hal yang berhubungan secara signifikan untuk meningkatkan persepsi baik karyawan terhadap tanggap darurat kebakaran RS. Nilai sistem proteksi kebakaran gedung B sebesar 78,5% sesuai dengan standar, sedangkan gedung D 64,5% sesuai dengan standar. Komponen kritikal yang perlu ix Universitas Indonesia mendapatkan perhatian pihak rumah sakit agar meningkatkan pemenuhan standar yang ada adalah perbaikan instalasi pompa kebakaran pada gedung D, kompartemenisasi ruang pada gedung, Penghalang api dan asap pada gedung, Perlindungan bukaan vertikal, akses pemadam kebakaran ke lingkungan rumah sakit dan ruang pengendalian operasi. Hasil perhitungan indeks keselamatan Rumah Sakit Pasar Rebo secara keseluruhan berada pada nilai 0,70 (kategori A) artinya Rumah Sakit Pasar Rebo dapat melindungi manusia di dalamnya dan dinilai dapat tetap berfungsi dalam situasi bencana. Komponen yang perlu mendapatkan perhatian RSUD Pasar Rebo guna meningkatkan indeks keselamatan rumah sakit adalah perbaikan dalam elemen-elemen manajemen kegawatdaruratan dan bencana. Kata kunci: kesiapsiagaan; kebakaran; Rumah sakit. Hospital fire incident is still one of the high disaster in both domestic and abroad. Failure to respond to a fire emergency can result in large losses and even loss of life. Existing human resources, organizational structure, level of building complexity, patient characteristics, each carrying potential dangers that must be managed properly. It is therefore necessary to continuously make efforts to ensure that all hospital employees, facilities and infrastructure, and management can respond to a fire emergency situation well. This study aims to determine the description of preparedness and management of Pasar Rebo Hospital's against fire hazard. This research is a descriptive analysis study by looking at the employee's perception of the emergency response, then evaluating the hospital fire protection system to the DKI Jakarta Regulation, the Minister of Public Works and NFPA Regulation, then assessing the hospital safety index using WHO hospital safety index in 2015. This Research is done in Pasar Rebo Hospital of East Jakarta, covering building B (8 floor building) and building D (7 floor + 1 Basement building). The result of the research shows that the majority of respondents (67,7%) have good perception on fire emergency response in Pasar Rebo General Hospital. Hospital policies, management and simulation commitments and fire training are important to improve employee perceptions of hospital fire emergency response. Building fire protection system B 78.5% in accordance with the standard, while building D 64.5% in accordance with the standard. Critical components that need to get the hospital's attention to improve compliance with existing standards include repair of fire pump installations in Building D, compartmentalization of building space, Fire barriers and smoke on buildings, Vertical openings protection, fire-fighting access to hospital environment and control rooms operation. xi Universitas Indonesia The result of the hospital safety index calculation of Pasar Rebo Hospital as a whole is at a value of 0.70 (category A) meaning that Pasar Rebo hospital can protect people in it and be assessed to remain functioning in disaster situations. The components that need to get the attention of Pasar Rebo Hospital to improve the hospital safety index are improvements in emergency and disaster management elements. Keywords: preparedness; fire; hospital.
Read More
T-5198
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putri Nur Anggraini; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Udit
S-7862
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Avinia Ismiyati; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, Berton Suar Panjaitan, Aminah
Abstrak:
Kota Palu dan Gorontalo adalah ibu kota provinsi yang terletak di Pulau Sulawesi, Indonesia. Di tahun 2018, Kota Palu mengalami bencana, gempa, tsunami danfenomena likuifaksi yang menyebabkan ribuan orang meninggal dunia dan ratusan ribu orang harus mengungsi. Potensi bencana dan keadaan darurat ini juga berpotensi terhadap Kota Gorontalo yang secara geografis tidak berbeda dengan Kota Palu. Kejadian bencana alam tersebut memberikan dampak terhadap tenaga kerja dan perusahaan, termasuk industri perhotelan Tidak hanya bencana alam, keadaan darurat di industri perhotelan juga dapat terjadi akibat bencana nonalam maupun bencana sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesiapsiagaan keadaan darurat dan bencana khususnya di bidang perhotelan yang berada di Kota Palu dan Gorontalo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang diadopsi dari APEC tourism risk management dan tourism resilience index. Focus Group Discussions dan Wawancara juga dilakukan untuk mengeksplorasi implementasi manajemen keadaan darurat dan bencana di tempat kerja. Hasil analisis korespondensi berganda faktor kesiapsiagaan manajemen keadaan darurat dan bencana pada hotel di Kota Palu relatif lebih dekat dengan kategori variabel sedang dibandingkan dengan Kota Gorontalo yang relatif cenderung berada pada kategori rendah untuk di seluruh variabel penelitian. Berdasarkan hasil tersebut, peran serta sektor private dan pemerintah sangat diperlukan untuk membangun sinergisitas program disaster risk reduction baik skala lokal maupun nasional.
Palu and Gorontalo cities are provincial capitals located on Sulawesi Island, Indonesia. In 2018, the city of Palu was hit by the earthquake, tsunami disaster and liquefaction which a phenomenon that caused thousands of people to lose the world and thousands of people had to be displaced. Potential disasters and emergencies also discussed Gorontalo City which is different from Palu City. Natural disasters have an impact on workers and companies, including the hospitality industry. Not only natural disasters, emergency situations in the hotel industry can also occur due to non-natural disasters or social disasters. This study aims to increase the level of emergency and disaster preparedness in the hotel sector in Palu and Gorontalo. The method used in this study is a questionnaire adopted from APEC tourism risk management and tourism resilience index. Focus Group Discussions and Interviews were also conducted to discuss the implementation of emergency and disaster management in the workplace. The results of the multiple correspondence analysis of emergency preparedness and disaster management factors in hotels in Palu are relatively closer to the medium rating, while the emergency and disaasters preparedness factors in Gorontalo were relatively on the low categories for research variables. Based on these results, the participation of the private sector (hospitality industry) and the government is needed to build synergy in disaster risk reduction programs both locally and nationally
Read More
Palu and Gorontalo cities are provincial capitals located on Sulawesi Island, Indonesia. In 2018, the city of Palu was hit by the earthquake, tsunami disaster and liquefaction which a phenomenon that caused thousands of people to lose the world and thousands of people had to be displaced. Potential disasters and emergencies also discussed Gorontalo City which is different from Palu City. Natural disasters have an impact on workers and companies, including the hospitality industry. Not only natural disasters, emergency situations in the hotel industry can also occur due to non-natural disasters or social disasters. This study aims to increase the level of emergency and disaster preparedness in the hotel sector in Palu and Gorontalo. The method used in this study is a questionnaire adopted from APEC tourism risk management and tourism resilience index. Focus Group Discussions and Interviews were also conducted to discuss the implementation of emergency and disaster management in the workplace. The results of the multiple correspondence analysis of emergency preparedness and disaster management factors in hotels in Palu are relatively closer to the medium rating, while the emergency and disaasters preparedness factors in Gorontalo were relatively on the low categories for research variables. Based on these results, the participation of the private sector (hospitality industry) and the government is needed to build synergy in disaster risk reduction programs both locally and nationally
T-5978
Depok : FKM UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Handayani; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Wachyu Sulistiadi, Nurbaeti Yuliana
Abstrak:
Kondisi negara Indonesia memiliki banyak potensi bencana, baik bencana alam dan non-alam. Kesiapsiagaan organisasi dan masyarakat dalam menghadapi darurat kesehatan masyarakat menjadi salah satu isu yang penting dalam usaha pengurangan resiko bencana. Darurat kesehatan masyarakat Intervensi kesiapsiagaan KLB merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan organisasi dalam menghadapi wabah dan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang merupakan manifestasi dari darurat kesehatan masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesiapsiagaan organisasi dan masyarakat pada wilayah intervensi dalam menghadapi darurat kesehatan masyarakat. Studi ini merupakan descriptive study menggunakan metode kuantitatif yang diperkuat juga dengan metode kualitatif untuk mengetahui dinamika proses kesiapsiagaan. Penilaian tingkat kesiapsiagaan organisasi diukur dengan menggunakan sembilan tahap pada undang-undang penanganan bencana. Penilaian kesiagsiagaan masyarakat diukur dengan memadukan indikator desa siaga aktif dan desa tangguh bencana. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesiapsiagaan dari BPBD dan PMI di Kabupaten Cianjur dan Kotamadaya Jakarta Pusat masuk dalam kategori belum siap karena belum dapat memenuhi semua tahap kesiapsiagaan darurat kesehatan masyarakat, sedangkan Dinas Kesehatan masuk dalam kategori siap dalam menghadapi darurat kesehatan masyarakat. Hasil penilaian kesiapsiagaan masyarakat di tiga desa intervensi di Kabupaten Cianjur menunjukkan level sedang atau hampir siap, sedangkan dua kelurahan di Kotamadya Jakarta Pusat masuk dalam kategori siap menghadapi darurat kesehatan masyarakat. Ada perbedaan tingkat kesiapsiagaan menghadapi darurat kesehatan masyarakat antara wilayah pedesaan dan perkotaan. Hal ini disebabkan karena prioritas dan strategi pembangunan yang cukup berbeda pula di kedua wilayah tersebut. Kata kunci: kesiasiagaan organisasi, kesiapsiagaan masyarakat, darurat kesehatan masyarakat Under condition of Indonesia which has a lot of potential disaster,both natural ond non-natural disasters, community preparednes in public health emergency become the most important issue of disaster risk reduction. Emergency response are often being a triggers of public health emergency. Major trigger of public health emergencies is disease outbreak which cause the damage of public health system. Epidemic Preparedness project is a program which aims to improve organization and community preparedness to deal with outbreak and epidemic as public health emergency. This study aimed to analyze the organization and community preparedness as result of epidemic preparedness project. The study used the method of qualitative analysis and descriptive statistical analysis which refer to existing indicators of resilient both health and disaster. The study shows the role and responsibilities of Health District Office in term of public health emergency categorized ready while BPBD and PMI have not been ready yet. BPBD, District Health Office and PMI in the two intervention project areas (Cianjur District, Central Jakarta District) have a good coordination mechanis, otherwise the leading sector for handling public health emergencies is still dominated by the Health Sector. Analysis of community preparedness in Cianjur district showed at moderate level while Centre Jakarta showed advance level. Keywords: Organization Preparedness, Community Preparedness, Public Health Emergency
Read More
T-4802
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jurisman Nazara; Pembimbing: Meily L. Kurniawidjaja,; Lestari, Fatma; Penguji: Dadan Erwandi, Syahrul Efendi Panjaitan, W, Julianto
T-5513
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wildan Ramdan Nurhuda; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Zulkifli Djunaidi, Sopyan Agus H, Burhanudin
T-4465
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Abdul Fatah; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Bambang Wispriyono, Ponco Sugianto
Abstrak:
Read More
Skor indeks risiko bencana banjir tahun 2024 di Kabupaten Bogor berada di kelas tinggi dengan skor 12,82. Banjir menyebabkan krisis kesehatan akibat buruknya sanitasi dan penularan vektor. Penelitian ini mengevaluasi kesiapsiagaan Pemerintah Kabupaten Bogor dalam persiapan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan lingkungan dengan pendekatan kualitatif. Diketahui kebijakan merujuk pada regulasi nasional, mekanisme koordinasi antar sektor berjalan baik, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Secara umum, perencanaan dalam kebutuhan air bersih, keamanan pangan, sanitasi darurat, pengelolaan sampah, dan limbah medis baik. Namun diperlukan peningkatan dalam rasio perhitungan kebutuhan dasar sesuai standar, fasilitas aksesibel bagi disabilitas, dan pemilahan jenis sampah di lokasi bencana.
In 2024, Bogor Regency’s flood disaster risk index was categorized as high with a score of 12.82. Floods can trigger health crises due to poor sanitation and vector-borne disease transmission. This study qualitatively evaluates the local government’s preparedness in fulfilling basic environmental health needs. Policies refer to national regulations, intersectoral coordination functions well, and various community empowerment programs are in place. Planning for water, food safety, emergency sanitation, and waste management is generally adequate. However, improvements are needed in standard-based needs calculation, accessible facilities for persons with disabilities, and waste segregation at disaster sites.
S-11923
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irma Widiastari; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Wachyu Sulistiadi, Nurbaiti Yuliana
Abstrak:
Wilayah Indonesia secara geografis merupakan area yang rawan bencana. Jikaterjadi bencana biasanya akan ada penyakit-penyakit menular tertentu yang timbuldan mengalami peningkatan melebihi batas normalnya di masyarakat yangterdampak oleh bencana tersebut. Pada akhirnya hal tersebut dapat dikategorikansebagai darurat kesehatan masyarakat. Masyarakat adalah pihak pertama yanglangsung berhadapan dengan ancaman dan bencana karena itu kesiapanmasyarakat menentukan besar kecilnya dampak bencana di masyarakat. Indonesiasebagai negara berkembang tentunya memiliki wilayah perkotaan dan pedesaanyang berbeda dari aspek pembangunan, pemerintahan serta kondisi geografisnya.Perbedaan potensi aspek tersebut tentunya berpengaruh terhadap kemungkinanadanya perbedaan juga dari sisi kesiapsiagaan masyarakatnya dalam menghadapikondisi darurat kesehatan masyarakat dan kebencanaan. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui seperti apa gambaran kesiapsiagaan masyarakatperkotaan dan pedesaan di Indonesia yang dalam penelitian ini mengambil contohdi wilayah Kampung Makasar-Jakarta Timur dan Desa Campaka-Cianjur yangdipilih berdasarkan pertimbangan bahwa kedua wilayah tersebut berpontensi akanadanya masalah darurat kesehatan masyarakat baik dari segi bencana maupunpeningkatan kasus penyakit. Penelitian ini menggunakan gabungan dari metodekuantitatif data analisis deskriptif berdasarkan penilaian kesiapsiagaan masyarakatyang mengkombinasikan dari unsur Desa Siaga Aktif dan Desa Tangguh Bencanadan kualitatif (wawancara mendalam, telaah dokumen). Hasil dari penelitian inimengungkap bahwa ada perbedaan nilai kesiapsiagaan di masyarakat pedesaaandan perkotaan. Pada wilayah perkotaan, hasil persentase kesiapsiagaan yangdidapat adalah sebesar 62.3% sedangkan untuk wilayah pedesaan sebesar 41.3%.Dari 20 indikator hampir memenuhi dalam hal keberadaan dan juga bervariasiantara daerah pedesaan dan perkotaan. Poin yang masih kurang adalahpelaksanaan indikator dan kinerja belum seperti yang diharapkan sebagaimanamestinya. Penyebab perbedaan yang paling mencolok hasil antara pedesaan danperkotaan perbedaan struktural, aksesibilitas, pendanaan dan pengetahuanmasyarakat. Untuk itu diperlukan pengawasan pihak stakeholder (dalampenelitian ini adalah Puskesmas, pemerintah di pedesaan dan perkotaan)Kata kunci : kesiapsiagaan masyarakat, darurat kesehatan masyarakat, pedesaan,perkotaan.
Indonesia teritory geographically is a disaster-prone area. In the event of a disasterthere will usually be certain infectious diseases that arise and have increasedbeyond normal limits in communities affected by the disaster. In the end it can becategorized as a public health emergency. Community is the first to directly dealwith the threat and disaster. Preparedness in community will determines the sizeof the impact of disasters on communities. Indonesia as a developing country haveurban and rural areas that different from the aspect of development, governmentand geography. The potential difference aspects certainly affect the possibility ofdifferences also in terms of community preparedness in the face of public healthemergencies and disasters. The purpose of this study was to determine aboutcommunity preparedness in urban and rural communities in Indonesia, which inthis study took a sample in Kampung Makasar-East Jakarta and Desa Campaka-Cianjur that were selected based on the consideration that the two regions areequally harmful for any problems public health emergencies both in terms ofdisaster as well as an increase in cases of the disease. This study uses acombination of quantitative methods (descriptive analysis data based on anassessment of the preparedness of community that combines elements of DesaSiaga Aktif and Desa Tangguh Bencana) and qualitative methods (in-depthinterviews, review of documents). The results of this study reveal that there areany differences in preparedness in rural and urban communities. In urban areas,the percentage of community preparedness is 62.3%, while in rural areas is 41.3%.Almost all of 20 indicators meet in existence and also vary between rural andurban areas. Points are still lacking is the implementation and performanceindicators were not as expected as it should be. The cause of the most strikingdifference between the results of the structural differences in rural and urbanareas, accessibility, funding and knowledge society. It is necessary for thesupervise of the stakeholders (in this research are health centers, the governmentin rural and urban)Keywords: community preparedness, public health emergency, rural, urban.
Read More
Indonesia teritory geographically is a disaster-prone area. In the event of a disasterthere will usually be certain infectious diseases that arise and have increasedbeyond normal limits in communities affected by the disaster. In the end it can becategorized as a public health emergency. Community is the first to directly dealwith the threat and disaster. Preparedness in community will determines the sizeof the impact of disasters on communities. Indonesia as a developing country haveurban and rural areas that different from the aspect of development, governmentand geography. The potential difference aspects certainly affect the possibility ofdifferences also in terms of community preparedness in the face of public healthemergencies and disasters. The purpose of this study was to determine aboutcommunity preparedness in urban and rural communities in Indonesia, which inthis study took a sample in Kampung Makasar-East Jakarta and Desa Campaka-Cianjur that were selected based on the consideration that the two regions areequally harmful for any problems public health emergencies both in terms ofdisaster as well as an increase in cases of the disease. This study uses acombination of quantitative methods (descriptive analysis data based on anassessment of the preparedness of community that combines elements of DesaSiaga Aktif and Desa Tangguh Bencana) and qualitative methods (in-depthinterviews, review of documents). The results of this study reveal that there areany differences in preparedness in rural and urban communities. In urban areas,the percentage of community preparedness is 62.3%, while in rural areas is 41.3%.Almost all of 20 indicators meet in existence and also vary between rural andurban areas. Points are still lacking is the implementation and performanceindicators were not as expected as it should be. The cause of the most strikingdifference between the results of the structural differences in rural and urbanareas, accessibility, funding and knowledge society. It is necessary for thesupervise of the stakeholders (in this research are health centers, the governmentin rural and urban)Keywords: community preparedness, public health emergency, rural, urban.
T-4826
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
