Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35601 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mochamad Setyo Pramono, F.X. Sri Sadewo
Bulitsiskes Vol.15, No.3
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suryaningsih, Damaryanti; Pembimbing: Martha, Evi
T-1034
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.10, No.2, April. 2007: hal. 116-122, (cat. ada di bendel 2006-2007
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pony Natalia Heryadi; Pembimbing: Endah Wuryaningsih; Penguji: Luknis Sabri, Evi Martha, Harni Koesno, Lukas C. Hermawan
Abstrak:

Pemanfaatnn jasa dukun bayi untuk menanpni kehamilan dan pelsalinan merupakan salah satu faktor penghambat upaya peningkazan akses pelayanan KIA melalui penempaum bidan di desa. Oleh karma itu perm promosi kcsehatan melalui pendekatan kemitraan bidan di desa dan dukun bayi menjadi sangat panting. Upaya kemitraan telah dilaksanakan di Kabupaten Katingan namun belum pemah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mempemleh informasi yang mendalam mengenai kemitraan bidan di desa dan dukun bayi di Kabupatcn Katingan, hal internal dan ckstemal apa saja yang berkaitan, sem mengidentifikasi hal-hal yang mendukung dan menghambat bemjalannya kemitman. Penelitian dilakukan di enam dcsa di Riga kecamatan di Kabupaten Katingan Propinsi Kalimantan Tcngah yang telah melaksanakan upaya kemitraan, menggunakxm pendekatan kualitatif bemdesain RAP, dengan cara wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Infonnan penelitian adalah bidan di desa yang bemnitra, bidan kooxdinator, kepala Puskesmas, pengelola KIA Dinkcs Kntingan, Ketua [BI Katingan, dukun bayi yang bennilra dan anggota masyarakat (tokoh masyarakat dan kader posyandu). Hasil penclitian menunjukkan bahwa dilihat dari tahap kerjasama dan pembagian perannya, kemitraan bidan di desa dan dukun bayi di Kabupatzn Katingan ada yang sudah baik dan ada yang masih kurang, scrta memiliki kecenderungan hubungan deugan persepsi dukun bayi terhadap manfaat dan hambatan kemitraan, sikap bidan di desa dan duinm bayi daiam bermitra, motivasi dukun bayi, scrta pendekatan personal bidan di dcsa kepada dukun bayi. Pendukung kemitraan bidan di desa dan dukun bayi antara lain persepsi dukun bayi bahwa kemitraan memberikan rasa aman, sikap positif antara bidan dan duknn bayi, kebutuhanakmlrasaanmnyangmemotivasidukunbaydunmkbermiumserta intensitas komunikasi interpersonal bidan dan dukun bayi yang [ebih sexing dan lebih baik. Penghambat kemitraan antara lain pexsepsi dukun bayi yang kelim tentang manfaat kemitraan, keluarga tidak sctuju dukun bayi memanggil bidan di desa kamna alasan biaya dan ada! istiadat, proses persalinan yang terlalu ocpat, sikap negatif antara bidan dan dukun bayi, kebutuhan aktualisasi diri dukun bayi, intcnsitas komunikasi bidan-dukun yang kutang baik, bclum meratanya tenaga bidandi seluruh desa, serza pcndekatan seoara koe1sif7ancaman bidan di desa untuk mengubah perilaku dukun bayi. Masih di temukan mgenerasi dukun bayi dan kcbiaseum langsung memandikan bayi baru lahir, baik olch kcluarga, dukun bayi dan bidan di desa. Dengan demikian perlu dilakukan strategi pemctataan bidan di desa melalui insentif dan supervisi yang ketat khususnya di daerah terpencil, upaya pembinaan kcmitraan yang betkesinambungan, pclatihan komunikasi interpersonal bagi bidan di desa, sosialimi Iamkesnas untuk meaingkatkan persalinan dengan bidan di desa, melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dalam pembinaan kemitraan, menetapkan sistem pembagian pembayamn antara bidan di desa dan dukun bayi dcngan dana bergulir khususnya bagi kcluarga mislcin, menetapkan pcrtemuan rutin antara bidan di desa dan dukun bayi untuk mengetahui perkembangan kemitraan, Iebih pmaktif dan intcns melakukan pendekatan personal untuk mengubah persepsi dukun bayi tentang perannya saat ANC, persalinan, setelah bayi {ahh' dan nifas, sorta melakukan penyuluhan kepada masyarakat tcntang pencegahan hipotermia dengan menunda memandikan bayi bam Iahir.


Utilization of the Traditional Birth Attendants ('I`BAs] to handle pregnancy and childbirth is one of the factors which barricade etforts to increase access to maternal and health services through the placement of midwives in the villages. Therefore, the role of health promotion through partnership approach is very important. It has been undertaken in Katingan Region, but research to obtain infomation about how depth is partnership between village michvives and TBA in Katingan, to know related internal and external things, and to identify things that support and hinder the flow of partnership has never done. Research was conducted in six villages in three Katingan subdistricts in Central Kalimantan Province, which have been in partnership effort. use qualitative approach and RAP design, with depth interviews and focus group discussions methods to obtain data. Research informants are village midwives who have partnership with TBA, the midwife coordinators, head of public health centers, managers of ruatemal and child health programme of health district in Katingan, chairman of IBI Katiugan, TBAs who have partnership with village midwive, and member ofthe communities (community leaders and or Posyandu cadres). Base on partnership stage and role division, results of research shows that there have been good and less partnership between villages midwives and TBAS in Katingan. It is likely related to 'l'BA?s benefits dan barrier perceptions, attitudes between village midwives and the TBA, TBA?s motivation, and midwives personal approach to the TBAS. 'l'BA?s perception that partnership will give her a safe labor, positive attitudes to each other, TBA?s safety feeling that motivate her to have partnership, and the intensity of interpersonal communication between midwives and TBA which are more olien beside better quality, support the partnership. Wrong TBA?s perception about the benefits of partnership, the lixrnily who do not agree to pick the midwive up because of costs and custom reasons, immediately labor process, negative attitudes and less communication intensity to each other, TBA seltl actualization needs, villages without midwive, coersive approach to change TBA?s behaviour, hind the partnership. 'l'BAs regeneration and the practice of bathe the new hom are still found. Thus, some efforts and strategies like giving more incentives and strict supervision esspesially to village midwife in remote area, sustainable partnership programme, midwives interpersonal communication training, increasing Jamkesmas socialization, involving traditional leaders, community leaders, and religious lwders in partnership activities, setting a payment sharing system to village midwife and TBA i.e revolving iimd system mpecially to poor family, setting a regular meetings between midwives and 'I'BAs to talk about partnership, more proactive and intensely do personal approach to TBA to change her perception about her roles in antenatal care, labor process, and post natal, and develop community education about hypotermia prevention by delay a new born baths, all need to be done.

Read More
T-2981
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retna Pertiwi; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anwar Hassan, Hermansyah
S-7486
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
oleh Widayatun ... [et al.]
618.2 BUK b
Jakarta : PPT-LIPI, 1999
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deddy Ferry Rachmat Santoso; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Mieke Savitri, Wachyu Sulistiadi, Eni Gustina, Konni Kurniasih
Abstrak: Abstrak

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 memperlihatkan bahwa persalinan yang dilakukan di fasilitas kesehatan sebanyak 55,4%, sedangkan persalinan yang dilakukan di rumah ibu bersalin sebanyak 43,2%, dan sebagian besar ditolong oleh dukun bayi sebanyak 40,2%. Persalinan di rumah yang dilakukan oleh dukun bayi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya Angka Kematian Ibu. Di Kabupaten Karawang, JawaBarat masih terjadi kasus kematian pada ibu dan kematian pada bayi. Jumlah kematian ibu cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Dari laporan KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang ada ibu bersalin yang meninggal dunia yang persalinannya ditolong oleh Dukun bayi. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Karawang yang melakukan kunjungan K4 mencapai 93,43%. Hal ini menunjukan terdapat 6,57% bumil yang melakukan kunjungan K4 tapi tidak bersalin oleh tenaga kesehatan. Masih banyaknya persalinan oleh dukun bayi menunjukkan kurangnya kemitraan antara bidan dan dukun bayi. Namun hingga kini masih ada saja dukun bayi yang enggan bermitra dengan bidan, dan terjadi juga di Kabupaten Karawang terutama di wilayah kerja Puskesmas TanjungPura dan Pedes.

Dari masalah tersebut sehingga tujuan umum dari penelitian ini adalah ingin mengetahui mengenai faktor-faktor yang menghambat dukun bayi untuk bermitra dengan bidan.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 48 orang, yang merupakan jumlah dukun bayi yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tanjungpura dan Pedes, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variable pengetahuan, sikap dan pelatihan keterampilan dukun bayi yang berpengaruh terhadap kemitraan dukun bayi dengan bidan.Faktor yang paling dominan menghambat kemitraan dukun bayi dengan bidan adalah pengetahuan dukun bayi.

Saran pada penelitian ini adalah memberikan pembekalan dan pelatihan tentang Peran Dukun bayi dalam kemitraan dengan bidan kepada semua dukun bayi agar informasi yang diberikan dapat menyebar secara merata guna meningkatkan pengetahuan dukun bayi.


Health Research (Riskesdas) in 2010 showed that deliveries conducted at health facilities as much as 55.4%, while the delivery is done at maternal home as much as 43.2%, and mostly attended by traditional birth attendants as much as 40.2%. Home deliveries conducted by TBAs is one of the factors that affect the high maternal mortality rate. In Karawang regency, West Java still occur in cases of maternal mortality and infant mortality. Number of maternal deaths is likely to increase from year to year.

KIA of reports there Karawang District Health Office maternal childbirth who died were rescued by Shaman baby. Coverage of births by skilled health personnel in Karawang regency K4 visits reached 93.43%. It is revealed that there is 6.57% pregnant women who visited K4 but not delivery by health workers. Still many deliveries by traditional birth attendants showed a lack of partnership between midwives and TBAs. But until now there are still traditional birth attendants are reluctant to cooperate with the midwife, and occurs also in Karawangdistrict, especially in the Tanjungpura and Pedes Primary Health Centre.

Of the problem so that the general purpose of this research is to know about the factors that hinder traditional birth attendants to partner with midwives. This study uses cross-sectional design with a sample size of 48 people, which is the number of midwives who are in the Primary Health Center Tanjungpura and Pedes, Karawang regency, West Java.

The results showed that knowledge, attitudes and skills training TBAs affecting TBAs partnership with midwives. The most dominant factor inhibiting partnership with the midwife and TBAs is knowledge.

Suggestions on this research is to provide a soft skill and briefing on the role of healer baby in partnership with midwives to all traditional birth attendants to the information provided can be spread evenly in order to increase the knowledge of TBAs.

Read More
T-3848
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lis Prifina; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Tris Eryando, Harimat Hendrawan, Zaeni Dahlan
Abstrak:

ABSTRAK Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) hingga mencapai 102 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2015 sulit dicapai. Peningkatan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan merupakan upaya pendekatan untuk mencapai target tersebut. Chen et al menyatakan densitas tenaga kesehatan per 1000 penduduk kurang dari 2,5 akan sulit mencapai persentase persalinan oleh tenaga kesehatan lebih dari 80%. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan antara densitas bidan dan persentase persalinan oleh bidan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Desain penelitian adalah cross sectional menggunakan data gabungan Susenas 2010 dan Potensi Desa 2011 dengan unit analisis 107 kabupaten/kota. Hasil analisis menunjukkan ukuran yang paling baik dalam menjelaskan hubungan antara densitas bidan dan persentase persalinan oleh bidan adalah jumlah bidan per 10.000 penduduk dibandingkan jumlah bidan per luas wilayah dan persentase desa memiliki bidan. Peningkatan jumlah bidan per 10.000 penduduk dapat meningkatkan persentase persalinan oleh bidan sebesar 4,1% setelah dikontrol oleh densitas dokter dan provinsi, dengan R2 0,38. Sedangkan peningkatan jumlah bidan per 10.000 penduduk dapat meningkatkan persentase persalinan oleh bidan pada kuintil pengeluaran rendah sebesar 6,0% setelah dikontrol oleh densitas dokter, dengan R2 0,11.<><> ABSTRACT Decreasing Maternal Mortality Rate (MMR) up to 102 per 100000 live births in 2015 is difficult to achieve. An approaching effort to achieve these targets is by increasing skilled birth attendant. Chen et al declared the density of health workers per 1000 population less than 2.5, will be difficult to reach the percentage of skilled birth attendant more than 80%. This study is aimed to determine the relationship between density of midwives and percentage of births by midwives in West Java, Central Java, East Java, and Banten. This research used secondary data from Susenas 2010 and Podes 2011, with cross-sectional study design. Unit of analysis covers 107 districts / cities. The results showed that number of midwives per 10,000 population describes the relationship between density of midwives and percentage of births by midwives better than number of midwives per area and percentage of village which has midwives. The increasing number of midwives per 10,000 population can increase the percentage of births by midwives by 4.1% after controlling the density of doctors and province (R2 0.38). While increasing number of midwives per 10,000 population can increase the percentage of births by midwives at lower quintiles by 6.0% after being controlled by the density of physicians (R2 0.11).

Read More
T-3857
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ella Nurlaela Hadi; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-promotor: Sudarto Ronoatmodjo, Rulina Suradi; Penguji: Sudarti Kresno, Sudijanto Kamso, Kusharisupeni, Suwarta Kosen
D-201
Depok : FKM UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive