Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37576 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Florentina Sustini; Pembimbing: Buchari Lapau, Amal Chalik Syaaf
Abstrak: Demam nifas adalah peningkatan suhu badan yang terjadi paling sedikit dua hari berturut-turut atau lebih pada waktu nifas (42 hari pascapersalinan), kecuali 24 jam pertama pascapersalinan. Demam nifas merupakan manifestasi adanya infeksi nifas dan sering digunakan untuk memperkirakan besarnya angka infeksi nifas. Infeksi nifas merupakan bagian dari infeksi maternal. Infeksi maternal menempati urutan kedua sebagai penyebab obstetri langsung dari kematian maternal. Demam nifas diperkirakan menyebabkan 5%-10% kematian maternal. Jika demam nifas sebagai manifestasi dari infeksi nifas tidak teridentifikasi secara dire dan diobati secara tepat maka dapat berkembang menjadi sepsis nifas dan dapat berakibat fatal. Sebagai masukan, untuk mencegah terjadinya demam nifas dan infeksi nifas, perlu diketahui faktor risiko terjadinya demam nifas tersebut.
 
Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kebiasaan ibu sewaktu dan pascapersalinan terhadap kejadian demam nifas.
 
Penelitian dilakukan di Kecamatan Keruak, Kabuapten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat, dengan alasan angka kelahirannya tinggi, merupakan daerah kritis jika dilihat dari segi geografis, dan keadaan sosial ekonomi masyarakatnya. Selain itu, terdapat kebiasaan yang unik, yaitu sewaktu melahirkan ibu dalam posisi jongkok, pengasapan ibu pascapersalinan, dan kompres panas pada vagina ibu pascapersalinan, yang diduga sebagai faktor risiko kejadian demam nifas, di samping faktor risiko yang lain.
 
Hipotesis yang diajukan adalah kejadian demam nifas dipengaruhi oleh posisi ibu sewaktu melahirkan, pengasapan ibu, dan kompres panas pada vagina; serta dipengaruhi pula aleh variabel-variabel kontrol. Variabel-variabel kontrol yang dimaksud adalah umur ibu, parilas, pendidikan ibu, status ekanami, periksa kehamilan, imunisasi tetanus loksaid, anemia ibu sewaktu hamil, gangguan kehamilan, penggunaan aba! pencegah demam sewaktu handl, keluban pecah secara dim, periksa dalam, jenis parsalinear, lama persalinan, tennbrrni terlinggal, luka jalan lahir, perdarahan sewaktu dan pascapersalinan, penggunaan abat pencegah demam sewaktu dan pascapersalinan, jenis penolong persalinan, kebersihan alai penolong persalinan, penolong persalinan mencuci atau tidak tangannyanya dengan sabun sebelum menolong persalinan, mobilisasi ibu, kebersihan diri ibu, jenis tempest persalinan, jenis lantai tempest persalinan, dan alas untuk persalinan.
 
Janis desain penelitian ini adalah observasional analitik kohor prospektif dan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan secara wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Populasi adalah ibu yang melahirkan di Kecamatan Keruak, yang terpajan dan tidak terpajan dengan pajanan posisi ibu melahirkan berbaring, pengasapan ibu, dan kompres panas pada vagina. Sampel diambil dari ibu melahirkan yang dapat diobservasi dan bertempat di Kecamatan Keruak daratan. Observasi dimulai dan ibu hamil 7 bulan sampai dengan masa nifas (42 hari pascapersalinan). Observasi dilakukan minimal satu kali sewaktu hamil trimerter ketiga oleh bidan. Setelah ibu melahirkan, observasi suhu badannya dilakukan setiap hari oleh kader sampai dengan 10 hari pertama pascapersalinan, kemudian dilanjutkan oleh anggota keluarga yang ditunjuk sampai dengan 42 hari pascapersalinan. Petugas kesehatan supervisi dua kali selama masa nifas, pada hari ke 11 dan hari ke 43 pascapersalinan. Sampel untuk penelitian kuantitatif adalah ibu nifas, ibu atau ibu mertua dari ibu nifas diambil secara random. Sampel untuk tokoh agama, dan dukun bayi diambil secara purposive.
 
Penelitian di lakukan selama satu tahun, pengumpulan data selama 6 bulan, Variabel dependennya adalah demam nifas, yang dibagi menjadi 3 kategori yaitu (1) ibu sehat, (2) menderita demam nifas yang onsetnya dalam waktu 10 hari pertama pascapersalinan, dan (3) menderita dernam nifas yang onsetnya dalam kurun waktu hari ke-11--42 pascapersalinan,Variabel independennya adalah posisi ibu sewaktu melahirkan, pengasapan ibu, kompres panas pada vagina, dan variabel lain seperti yang dinyatakan pada hipotesis. Analisis data dilakukan dengan regresi logistik politomus ganda dengan batas kemaknaan uji statistik sebesar 0.05.
 
Dari pengumpulan data didapatkan 1.077 persalinan, yang dapat diobservasi secara lengkap adalah 1.004 orang ibu. Risiko insiden demam nifas sebesar 22.7%, yang 46% diantaranya secara klinis merupakan infeksi nifas. Pada analisis regresi ganda politomus dan analisis hubungan kausal didapatkan bahwa kejadian demam nifas, yang onsetnya dalam waktu 10 hari pertama pascapersalinan dipengaruhi oleh (1) ibu melahirkan dengan posisi berbaring, risiko relatifnya (RR) sebesar 1.90 dan population attributable risk (PAR) sebesar 12%, (2) ibu meaakukan pengasapan sewaktu nifas, RR sebesar 2.17 and PAR sebesar, (3) gangguan kehamilan sehari sebelum persalinan, RR sebesar 3.57 dan PAR sebesar 4%, (4) anemia selama keha. nilan, RR sebesar 1.78 dan PAR sebesar 33%, (5) lama persalinan lebih dari 24 jam, RR sebesar 5.61 dan PAR sebesar 4%, (6) penolong persalinan tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum menolong persalinan, kR sebesar 3.62 dan PAR sebesar 68%, (7) ibu tidak menggunakan obat pencegah demam selama persalinan dan nifas, RR sebesar 2,78 dan PAR sebesar 56%, dan (8) lantai tempat persalinan terbuat dari tanah, RR sebesar 1.87 dan PAR sebesar 39%.
 
Demam nifas yang onsetnya dalam waktu 11 sampai dengan 42 hari pascapersalinan dipengaruhi oleh (1) ibu melahirakan dengan posisi berbaring, RR sebesar 2.67 dan PAR sebesar 19%, (2) ibu tidak melakukan kompres panas pada vagina, RR sebesar 2.82 dan PAR sebesar 58%, (3) anemia selama kehamilan, RR sebesar L86 dan PAR sebesar 34%, (4) penolong persalinan tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum menolong persalinan, RR sebesar 9.27 dan PAR sebesar 87%, (5) ibu tidak menggunakan obat pencegah demam selama persalinan dan nifas, sebesar 2.78 dan PAR sebesar 57%.
 
Dari studi kualitatif didapatkan perbedaan kepercayaan dan persepsi antara petugas kesehatan dengan masyarakat tentang penyebab kesakitan maternal termasuk demam nifas. Masyarakat percaya bahwa penyebab kesakitan maternal adalah penyebab supranatural (seperi roh jahat, guna-guna), makanan tertentu (berlemak, pisang, apel, ikan), kebiasaan yang salah, bibit penyakit, dan fisik (jatuh). Makanan `pangs' (jahe, bawang) berpengaruh baik terhadap kesehatan. Alasan mereka melahirkan dengan posisi berjongkok karena dapat mempercepat persalinan, kompres panas pada vagina untuk mengurangi rasa saldt dan pembengkakan pada vagina, pengasapan ibu waktu nifas dapat menghilangkan bau ands, mempercepat berhentinya perdarahan dan pemulihan kesehatan ibu.
 
Kesimpulannya adalah (1) insiden demam nifas masih tinggi (22.7%), (2) sekitar 46% demam nifas secara klinis diidentifikasi sebagai infeksi nifas, (3) diantara 28 variabel indeperiden hanya 9 variabel yang terbukti berpengaruh pada kejadian demam nifas, (4) ibu melahirkan dengan posisi berjongkok dan kompres panas pada vagina waktu pascapersalinan bermanfaat bagi kesehatan ibu, (5) ibu melakukan pengasapan waktu nifas berpengaruh tidak baik terhadap kesehatan ibu, (6) adanya perbedaan kepercayaan dan persepsi tentang penyebab demam nifas antara petugas kesehatan dan masyarakat merupakan informasi penting untuk masukan intervensi di masa yang akan datang.
 
Saran sesuai urutan prioritas intervensi adalah (1) peningkatan perawatan persalinan melalui pendidikan kesehatan kepada masyarakat dan kursus penyegar bagi petugas kesehatan, (2) memperhatikan sosiobudaya melalui diskusi dengan tokoh masyarakat dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat, (3) peningkatan perawatan kehamilan melalui pendidikan kesehatan kepada masyarakat dan kursus penyegar bagi petugas kesehatan, dan (4) pengembangan ekonomi keluarga melalui kerjasama dengan instansi lain dan lembaga swadaya masyarakat terkait dalam peiatihan ketrampilan dan pinjaman modal kerja bergulir untuk meningkatkan daya beli masyarakat dalam meniiih dan membayar tempat persalinan yang memadai.
 

Puerperal fever is the increase of the bodily temperature at least two or more consecutive days during puerperal period, except the first 24 hours postpartum. Puerperal fever is the manifestation of puerperal infection and usually is used to predict the puerperal infection rate. It is a part of maternal infection. The maternal infection is the second cause of direct obstetrics on maternal mortality. Approximately 5%--10% of maternal mortality is caused by puerperal fever. If puerperal fever as an infection manifestation could not be identified and treated early, the infection would develop into sepsis and fatality.
 
The objective of this study is to identify the influence of the behavior of women during deliveries and postpartum on Puerperal Fever.
 
This study was conducted in Keruak Subdistrict, East Lombok District, West Nusa Tengara Province, where the birth rate was high. This sub district is a critical area, viewed from the aspects of geography and socioeconomic. Beside, there were unique community behaviors as for instance mothers' deliveries were carried out in squatting position, postpartum mothers conducted `smoking' themselves, and hot compress for their vaginas, all of which were predicted as the risks of puerperal fever.
 
- The proposed hypothesis is that puerperal fever incidence was influenced by the mother's position during delivery, `smoking', and hot compress for vagina in the puerperal period, and other variables as age, parity, education, economic status, antenatal care, tetanus toxoid immunization, anemia during pregnancy, pregnancy disorders, drug using for fever prevention in pregnancy, premature rupture membrane, vaginal touche, the kind of delivery process, duration of delivery, retentio placentae, birth canal injury, excessive bleeding during and postpartum, drug using for fever prevention in delivery and postpartum period, the kind of birth attendant, the hygiene of delivery instruments, birth attendant's hand wash with soap or none of it before attending delivery, postpartum mobilization, postpartum personal hygiene, the kind place of delivery, the kind of the floor of the place of delivery , and the mats for delivery.
 
The study design was an observational analytic prospective cohort study and a qualitative study. The qualitative study was conducted by in-depth interview and focus group discussion. The populations were mothers, who delivered in the Keruak Subdistrict and that were exposed and unexposed by lying delivery position, which `smoked' themselves, and used hot compress on their vaginas. The samples were derived from a part of the population, who agreed to be observed, and lived in Keruak Subdistrict, excluding the small island areas. Women in their seventh month pregnancy were observed until childbirth period (42 days postpartum). Midwife observed the pregnant women, at least once during the third trimester of pregnancy. After delivery, the mothers? bodily temperature were examined by cadre every day until 10 days, and then continued by the family member until 42 days postpartum, the health providers supervised the cadre and the member of family on the 11" and 42' days postpartum. The samples of qualitative study were postpartum mothers, mothers or mother in law of postpartum mothers that were selected at random. The samples of religious leaders and traditional birth attendants were selected purposively.
 
This study was conducted in one year; the data collection was in six months. The dependent variable was puerperal fever that was categorized into 3, they were (1) healthy mother, (2) puerperal fever of which the onset was in the first ten days postpartum, and (3) puerperal fever, which the onset was in the 11'' until 42°° days postpartum. The independent variables were mother's position during delivery, `smoking' and hot compress for vagina, and others as stated in the hypothesis. The data analysis was conducted by multiple polytomous logistic regression. The limit of the significance of the test was 0.05.
 
During the six month study, 1.077 deliveries data was collected, but just 1.004 postpartum mothers were observed completely. The incidence risk of puerperal fever was 22.7%, of which about 46% was identified as clinical puerperal infection. The multiple polytomous logistic regression analysis and the causal relationship revealed that the puerperal fever of which the onset was in the first ten days postpartum was influenced by (1) delivery in lying position with relative risk (RR) of 1.90 and population attributable risk (PAR) of 12%, (2) postpartum smoking for vagina with RR of 2.17 and PAR of 44%, (3) pregnancy disorder in one day before delivery with RR of 3.57 and PAR of 4%, (4) anemia during pregnancy with RR of 1.78 and PAR of 33%, (5) duration of delivery longer than 24 hours with RR of 5.61 and PAR of 4%, (6) birth attendant's negligence to hand wash with soap before attending the delivery with RR of 3.62 and PAR of 68%, (7) no drugs used by mothers to prevent fever during delivery and postpartum period with RR of 2.78 and PAR of 56%, and (8) the floor of place of delivery made of soil, with RR of 1.87 and PAR of 39%.
 
The puerperal fever of which the onset in the 11 a, until 42 "a days postpartum was influenced by (1) delivery in lying position with RR of 2.67 and PAR of 19%, (2) without hot compress for vagina with RR of 2.82 and PAR of 58%, (3) anemia during pregnancy with RR of 1.86 and PAR of 34%, (4) birth attendant's negligence to hand wash with soap before attending the delivery with RR of 9.27 and PAR of 87%, (5) no drugs used by mothers to prevent fever during delivery and postpartum period with RR of 2.78 and PAR of 57%.
 
The result of the qualitative study showed the difference in trust and perception between the health providers and the community about the cause of maternal morbidity, including puerperal fever. The people believe that the causes of maternal morbidity were supernatural being (as demon, curses), certain food (fatty food, banana, pineapple, or fish), and physical accident. The hot food (ginger or onion) promotes good health.
 
We conclude that (1) the incidence of puerperal fever was still high (22.7%), (2) about 46% of puerperal fever could be identified as an infection, (3) among 28 independent variables just nine of them significantly influenced the puerperal incidence, (4) mother's lying position during delivery and postpartum mother's hot compress for vagina were beneficial for mother's health, (5) the smoke for vagina habit of postpartum mother gave bad influence on mother's health, (6) the difference in trust and perception on the cause of maternal morbidity between health provider and the community was an important information as input for future intervention.
 
The suggestions for intervention according to priorities are (1) increasing the delivery care through health education for community and refreshing course for health providers, (2) paying attention on socioculture through discussion with community leaders and health education for community, (3) increasing antenatal care through health education for community and refreshing course for health providers, and (4) developing the family economy through cooperation with other institution and NGC?s in skill training and rotatory small business capital loan to enhance the community capability to pay and choose the adequate place of delivery.
Read More
D-96
Depok : FKM UI, 2000
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Alfian Zainuddin; Promotor: Umar Fahmi Achmadi; Ko-Promotor: Syafruddin; Penguji: Purnawan Junadi, Agus Suwandono, Tris Eryando, Dewi Susana, Lukman Hakim
Abstrak: Indonesia masih menjadi negara yang belum terbebas dari malaria. Terdapat kesenjangan kasus malaria di Indonesia dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model manajemen malaria berbasis wilayah yang nantinya dikembangkan menjadi algoritma manajemen malaria berbasis wilayah. Desain penelitian ini adalah desain penelitian analitik yang menggabungkan studi ekologi dan studi potong lintang. Sampel diambil dari empat desa yang berdekatan di Kecamatan Kodi Balaghar Kabupaten Sumba Barat Daya Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki perbedaan prevalensi malaria dan perbedaan ekosistem yaitu Desa Mata Kapore, Desa Waikarara, Desa Kahale dan Desa Karang Indah.
 
Hasil penelitian menunjukkan terdapat variabilitas dinamika transmisi di antara keempat desa tersebut yaitu jenis parasit, densitas parasit, kepadatan nyamuk, perilaku pemajanan, jarak rumah dari tempat perindukan nyamuk. Terdapat variabilitas respons imun di antara keempat desa yaitu kadar IgG dan alel gen MSP2. Pola persebaran kasus dan alel gen MSP2 di masing-masing desa memiliki karakteristik tertentu. Ada hubungan antara jarak rumah dari tempat perindukan nyamuk (p=0,041) dan alel gen MSP2 (p=0,032) dengan densitas parasit. Model akhir menunjukkan alel gen MSP2 memiliki hubungan dengan densitas parasit.
 
Penelitian ini menyarankan algoritma manajemen malaria berbasis wilayah yang memuat manajemen kasus, manajemen faktor risiko, integrasi dan keterlibatan lintas sektor.
 

Indonesia is not malaria-free country. There is a gap of malaria cases in Indonesia with the highest prevalence in the province of Papua, West Papua and East Nusa Tenggara.
 
This study aims to obtain spatial management of malaria model which will be developed into an spatial management of malaria algorithms. This study design is an analytic study designs that combines ecological study and cross-sectional study. Samples taken from four adjacent villages in the district of Kodi Balaghar Southwest Sumba Regency East Nusa Tenggara Province which have differences in prevalence of malaria and ecosystem diversity. They are Mata Kapore Village, Waikarara Village, Kahale Village and Karang Indah Village.
 
The results showed there are variabilities in the transmission dynamics among the four villages. The variabilities are the type of parasite, parasite density, density of mosquitoes, behavioral exposure, the distance of house from breeding places. There are variabilities in immune response among the four villages. They are IgG level and MSP2 gene alleles. Distribution patterns of cases distributif and MSP2 gene alleles in each village have certain characteristics. There is a association between the distance of house from breeding place (p=0,041) and MSP2 gene alleles (p=0,032) with parasite density. The final model shows MSP2 gene alleles have a relationship with parasit density.
 
This study suggested spatial management of malaria algorithm that includes case management, risk factor management, integration and cross-sector involvement.
Read More
D-321
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arum Atmawikarta; Promotor: Budi Utomo; Ko-promotor: Endang L. Achadi, Muhilal; Penguji: Darwin Karyadi, Mien Karmini, Abas Basuni Jahari, Kusharisupeni; Purnawan Junadi, Adang Bachtiar
D-199
Depok : FKM UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuli Amran; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Rita Damayanti; Penguji: Purnawan Junadi, Besral, Dwiyana Ocviyanti, Rina Herarti, Soewarta Kosen, Julianto Witjaksono
Abstrak: Dalam siklus reproduksi, bertambah usia, jumlah anak dan kondisi kesehatan menimbulkan kebutuhan jenis alat kontrasepsi baru yang lebih rasional. Peralihan ke metode yang tidak rasional dapat berdampak pada kehamilan tidak direncanakan. Pengetahuan yang tinggi serta persepsi efektifitas dan efisiensi penggunaan alat kontrasepsi berhubungan dengan pola penggantian metode rasional. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pola penggantian metode kontrasepsi, serta membuktikan perbedaan hubungan pengetahuan serta persepsi penggunaan alat kontrasepsi dengan pola penggantian metode kontrasepsi rasional antara perempuan akseptor KB di Jawa Timur dan NTB.Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi Cross-Sectional. Subyek penelitian adalah wanita usia subur dengan jumlah 4616 perempuan di Jawa Timur dan 4819 perempuan di NTB. Perubahan jenis kontrasepsi ditinjau dari perbedaan jenis kontrasepsi saat ini dengan sebelumnya selama rentang waktu mengikuti program KB. Penilaian rasionalitas ditinjau dari kecocokan metode kontrasepsi terakhir dengan usia, jumlah anak dan motivasi KB. Pengetahuan yang diukur terkait MKJP. Sementara persepsi yang diukur terkait efektifitas efek samping dan cara pemakaian dan efisiensi biaya dan kemudahan memperoleh alat kontrasepsi. Data dianalisis dengan meggunakan multilevel analisis regresi logistik berganda untuk membuktikan hipotesis penelitian. Pola pengantian metode kontrasepsi didominasi oleh perpindahan dari non MKJP ke non MKJP lainnya. Hanya sebagian kecil perempuan berisiko tinggi yang beralih menggunakan kontrasepsi rasional baik di NTB maupun Jawa Timur. Persepsi terhadap efek samping terbukti berhubungan dengan pola penggantian rasional pada perempuan di Jawa Timur, dan persepsi terhadap cara pemakaian alat kontrasepsi terbukti berhubungan dengan pola penggantian metode kontrasepsi rasional pada perempuan di NTB. Persepsi terhadap biaya alat kontrasepsi terbukti berhubungan dengan pola penggantian metode kontrasepsi rasional pada perempuan di Jawa Timur dan NTB.Dapat disimpulkan ada perbedaan hubungan persepsi penggunaan alat kontrasepsi dengan pola penggantian metode kontrasepsi antara Jawa Timur dan NTB. Oleh karena itu, disarankan strategi KIE pada perempuan di Jawa Timur fokus pada penyelesaian masalah persepsi terkait efek samping dan pada perempuan NTB fokus pada penyelesaian masalah persepsi cara pemakaian alat kontrasepsi. Untuk menyelesaikan permasalah terkait persepsi biaya alat kontrasepsi pada perempuan di Jawa Timur dan NTB, perlu didukung keberlanjutan program penggratisan alat kontrasepsi pada masyarakat miskin dan juga masyarakat katagori lainnya melalui program BPJS.
 

In the reproductive cycle, the increasing age, number of children and health conditions lead to the need for more rational types of new contraceptives. Switching contraception to irrational methods may cause unintended pregnancies. High knowledge and perceptions of the effectiveness and efficiency of contraceptive use are related to the rational switching method pattern. Therefore, this study aims to evaluate the pattern of switching contraceptive methods, and to prove the difference association of knowledge and perception of contraceptive use with the pattern of rational switching contraceptive methods among women of Family Planning FP acceptors in East Java and West Nusa Tenggara.This study used a quantitative approach with Cross Sectional study design. Research subjects were women of reproductive age with 4616 women in East Java and 4819 women in West Nusa Tenggara. Changes in types of contraceptives were reviewed from the different types of contraceptives with the previous one during the timeframe of the FP program. Assessment of rationality was reviewed from the compatibility of the last method of contraception with age, number of children and family planning motivation. Knowledge was measured related to Long Term Contraceptive Method LTCM . While, perception rsquo s measurement was related to the effectiveness side effects and mode of use and efficiency cost and ease of obtaining of contraceptives. Data were analyzed using Multilevel Multiple Logistic Regression analysis to prove the research hypothesis.The switching pattern of contraceptive methods was dominated by changing from non LTCM to other non LTCM. Only a small proportion of high risk women switched to use rational contraception both in West Nusa Tenggara and East Java. Perceptions of side effect was associated with rational patterns of switching method in women in East Java, and perceptions of the use of contraceptives had relationship with patterns of rational contraceptive methods for women in West Nusa Tenggara. Perceptions of the cost of contraceptives was foundto be related withrational switching pattern of contraceptive methods among women in East Java and West Nusa Tenggara.In conclusion, there was a difference relationship of perceptionon contraception use and switching contraceptive method between East Java and West Nusa Tenggara. Therefore, it is recommended that Communication, Information and Education CIE strategies for women in East Java should focus on solving perceptual problems related to side effect while in West Nusa Tenggara women more focus on solving perception problems about how to use contraceptives. To solve the problems related to perception of contraceptive cost among women in East Java and West Nusa Tenggara, it is necessary to support the continuity of contraceptive application program for the poor and other categories through the Social Insurance Administration Organization Badan Penyelenggara Jaminan Sosial BPJS program.
Read More
D-377
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alwi Alhabsyi; Promotor: Hasbullah Thabrany; Ko-promotor: Azrul Azwar, Adang Bachtiar
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Di Indonesia pembayaran kapitasi kepada fasilitas kesehatan primer (Puskemas dan DP) telah dilakukan oleh PT . Askes sejak tahun 1991. Rumah Sakit swasta seperti Metropolitan Medical Centre (MMC) pada tahun 2000 telah menjalin kontrak kapitasi dengan jumlah cakupan 2.000 orang dan besaran kapitasinya adalah Rp l75.000,- per kapita per bulan. Tahun 2004 MMC bersedia dikontrak kapitasi dengan jumlah cakupan minimal 3.000 orang dan besaran kapitasinya Rp 350.000,- per orang per bulan (Ima, 2004).
 
 
Dalam program Askeskin, PT Askes membayar Puskemas secara kapitasi dengan besaran Rp 1.000,- per kapita per bulan. Program Askeskin ini dipantau secara ketat oleh berbagai pihak, terrnasuk oleh Departemen Kesehatan sendiri dengan membentuk unit ?safe guarding?. Salah satu sasaran pemantauannya adalah pembayaran kapitasi dan dampaknya terhadap deman pelayanan kesehatan (dengan 15% perlunya peserta berobat ke PKM) dan kepuasan peserta minimal 70%.
 
 
Mengingat di masa mendatang pembayaran kapitasi akan semakin bergeser dari Puskesmas ke DP, karena Puskesmas akan difokuskan untuk melaksanakan fungsi Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) maka kajian pembayaran kapitasi terhadap deman pelayanan kesehatan dan kepuasan pasien perlu dilakukan lebih intensif. Kajian ini merupakan maaukan bagi ?evidence based policy? dalam pembayaran kapitasi yang menguntungkan semua pihak, yaitu fasilitas kesehatan (DP), pembayar iuran, regulator (Pemerintah), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJ S) dan masyarakat.
 
 
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka penelitian tentang ?Pengaruh Pembayaran Kapitasi Tehadap Deman Pelayanan Dokter dan Kepuasan Pasien? ini dilakukan. Penelitian ini sangat penting bagi Indonesia, karena Lndonesia harus segera melaksanakan Jaminan Kesehatan (JK) sebagai salah satu komponen program prioritas yang diamanatkan UU nomor 40 taun 2004 tentang SJSN.
 
 
Rumusan Masalah
 
Indonesia diharapkan akan menerapkan pembayaran kapitasi secara lebih luas sebagai suatu cara pengendalian biaya kesehatan dalam sistem jaminan kesehatan. Namun, berbagai studi menunjukkan efek pembayaran kapitasi terhadap deman dan kepuasan pasien masih kontroversial. Sebagian peneliti menunjukkan bukti bahwa pembayaran kapitasi dapat menurunkan deman/utilisasi dan dengan pelayanan yang kurang memuaskan. Sebagian peneliti lain mendapatkan bahwa pembayaran kapitasi tidak menurunkan kepuasan pasien, sebagai indikator kualitas. Salah terap pembayaran kapitasi di Indonesia dapat mengakibatkan tidak-berfungsinya sistem jaminan kesehatan dengan baik.
 
 
Tujuan Penelitian
 
1. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan (konfirmasi) tentang pengaruh pembayaran kapitasi kepada dokter terhadap deman pelayanan kesehatan yang disediakan dokter dan efek pembayaran kapilasi terhadap tingkat kepuasan pasien atas pelayanan dokter yang dibayar secara kapitasi.
 
2. Menemukan faktor-faktor yang merupakan confounding pengaruh kapitasi terhadap deman pelayanan kesehatan oleh DP dan tingkat kepuasan karyawan.
 
 
Pertanyaan Penelitian
 
Berdasarkan rumusan permasalahan, dan pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
 
1. Apakah pembayaran kapitasi berpengaruh terhadap deman pelayanan dokter?
 
2 Apakah pembayaran kapitasi berpengaruh terhadap kepuasan pasien?
 
 
Manfaat Penelitian
 
Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat dalam tiga aspek, yaitu untuk sumbangan ilmu pengetahuan, unmk peneliti, dan untuk implikasi praktis.
 
 
Sumbangan Ilmu Pengetahuan/Teoritis:
 
1. Sebagai masukan dalam pengembangan ilmu kesehatan masyarakat, khususnya ekonomi kesehatan yang berkaitan pembayaran kepada dokter primer.
 
2. Memberikan informasi tetang hal-hal yang perlu diteliti lebih lanjut tentang pembayaran kapitasi.
 
 
Untuk Peneliti:
 
Sebagai pengalaman berharga dalam melaksanakan penelitian secara sistematis.
 
 
Implikasi Praktis:
 
1. Apabila terbukti bahwa pcmbayaran kapitasi kepada DP berpengaruh terhadap deman pelayanan kesehatan dan kepuasan pasien maka informasi ini dapat dimanfaatkan oleh para penentu kebijakan untuk menetapkan kebijakan pembayaran kapitasi kepada DP.
 
2. Informasi penelitian ini dapat dipergunakan oleh masyarakat dan pimpinan perusahaan agar ikut serta sebagai peserta program asuransi kesehatan yang menerapkan pembayaran kapitasi kepada DP sehingga biaya kesehatan karyawan dapat terkendali.
 
3. Sebagai masukan bagi penyelenggara asuransi/jaminan kesehatan agar menerapkan pembayaran kapitasi yang berdampak positif bagi semua pelaku jaminan/asuransi kesehatan.
 
 
Ruang Lingkup Dan Keterbatasan Penelitian
 
Penelitian ini dibatasi pada pelayanan kesehatan primer yang diberikan oleh DP yang dikontrak oleh PT Askes untuk keluarga karyawan sebagai peserta komersial PT Askes dimana DP dibayar secara kapitasi dan keluarga karyawan non peserta PT Askes yang membayar DP secara FFS. Khusus untuk keluarga karyawan pasien peserta sukarela PT Askes dibatasi pada produk-produk yang paling banyak diminati yang ditandai dengan besarnya jumlah peserta yang berpartisipasi, yaitu "silver", Keterbatasan dana penelitian dan mitra peneliti merupakan pertimbangan utama mengapa penelitian ini dilakukan di DKI Jakarta (Jakarta Selatan dan Jakarta Timur) dan Propinsi Banten (Kabupaten dan Kota Tangerang). Penelitian ini menggunakan metode kohort selama 6 bulan dengan pengukuran variabel tiga bulan sekali. Namun pengukuran kepuasan konsumen pasien dilakukan pada akhir penelitian.
Read More
D-206
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suriah; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-Promotor: Hadi Nurlaella, Yeni Rustina; Penguji: Sudijanto Kamso, Sudarto Ronoatmodjo, Rulina Suradi, Dwi Susilowati, M. Ridwan Thaha
D-252
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raditya Wratsangka; Promotor: Budi Utomo; Ko-Promotor: Achmad Biben, Budi Hidayat; Penguji: Sudijanto Kamso, Budi Utomo, Achmad Biben, Adi Hidayat, Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Djamhoer Martaadisoebrata
D-253
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esty Eka Wahyu Pratiwi; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Mugia Bayu Rahardja
S-10086
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Purwaningsih; Pembimbing: Bambang Sutrisna
D-69
Depok : FKM-UI, 2001
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sudarti Kresno; Pembimbing: Soeratmi Poerbonegoro
D-63
Depok : FKM UI, 1999
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive