Ditemukan 37384 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nopi Susilawati; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Muhammad Noor Farid, Bachti Alisjahbana
T-3950
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Istiqomah Nur Ocnisari; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Penasun merupakan populasi kunci yang memiliki risiko ganda untuk penularan HIV, yaitu melalui perilaku menyuntik dan perilaku seksualnya. Upaya yang dilakukan untuk mencegah penularan HIV dan infeksi lainnya yang terjadi melalui penggunaan napza dengan jarum suntik dan perlengkapannya adalah dengan melalui program pengurangan dampak buruk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan program pengurangan dampak buruk HIV-AIDS dengan perilaku menyuntik. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan data STBP Tahun 2013. Sampel dalam penelitian ini adalah penasun yang pernah bertemu dengan petugas penjangkau sebanyak 430 responden di kota Yogyakarta, Tangerang, Pontianak dan Makassar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penasun yang menyuntik berisiko dalam seminggu terakhir adalah sebesar 43% dan 45,4% penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk. penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk berisiko 1,2 kali lebih tinggi untuk menyuntik berisiko dibandingkan dengan penasun yang mengakses program pengurangan dampak buruk setelah dikontrol oleh faktor usia, tempat menyuntik, penggunaan kondom, lama menjadi penasun, dan jumlah teman menyuntik. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan program pengurangan dampak buruk secara komprehensif untuk mengurangi perilaku menyuntik berisiko, sehingga penularan HIV-AIDS pada penasun dapat dicegah.
Kata Kunci : penasun, perilaku menyuntik, pengurangan dampak buruk
Injection Drug Users (IDUs) are key population that have double risk of HIV transmission, through injecting behaviors and sexual behaviors. The effort to reduce HIV transmission and other infection among IDUs is by implementing harm reduction program. This study was conducted to identify the association between harm reduction program of HIV-AIDS among IDUs with injecting behaviors. This study used cross sectional design and used data of IBBS 2013. The respondents are IDUs who ever met with the outreach workers as many as 430 respondents in Yogyakarta, Tangerang, Pontianak, and Makassar.
The result showed that the prevalence of IDUs who inject risky in the past week is 44,3% and 54,1% of IDUs do not access harm reduction program. IDUs who do not accsess harm reduction program has 1,3 time higher chance to inject risky than IDU who accsess harm reduction program after controlled by age, place of injection, condom use, duration of injecting drugs and total number of injecting partner. Therefore, optimalization of comprehensive harm reduction program is needed to decrease injection risk behavior in order to prevent HIV-AIDS transmission among IDUs,
Keywords : people who inject drugs, injection behaviors, harm reducion
Read More
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penasun yang menyuntik berisiko dalam seminggu terakhir adalah sebesar 43% dan 45,4% penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk. penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk berisiko 1,2 kali lebih tinggi untuk menyuntik berisiko dibandingkan dengan penasun yang mengakses program pengurangan dampak buruk setelah dikontrol oleh faktor usia, tempat menyuntik, penggunaan kondom, lama menjadi penasun, dan jumlah teman menyuntik. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan program pengurangan dampak buruk secara komprehensif untuk mengurangi perilaku menyuntik berisiko, sehingga penularan HIV-AIDS pada penasun dapat dicegah.
Kata Kunci : penasun, perilaku menyuntik, pengurangan dampak buruk
Injection Drug Users (IDUs) are key population that have double risk of HIV transmission, through injecting behaviors and sexual behaviors. The effort to reduce HIV transmission and other infection among IDUs is by implementing harm reduction program. This study was conducted to identify the association between harm reduction program of HIV-AIDS among IDUs with injecting behaviors. This study used cross sectional design and used data of IBBS 2013. The respondents are IDUs who ever met with the outreach workers as many as 430 respondents in Yogyakarta, Tangerang, Pontianak, and Makassar.
The result showed that the prevalence of IDUs who inject risky in the past week is 44,3% and 54,1% of IDUs do not access harm reduction program. IDUs who do not accsess harm reduction program has 1,3 time higher chance to inject risky than IDU who accsess harm reduction program after controlled by age, place of injection, condom use, duration of injecting drugs and total number of injecting partner. Therefore, optimalization of comprehensive harm reduction program is needed to decrease injection risk behavior in order to prevent HIV-AIDS transmission among IDUs,
Keywords : people who inject drugs, injection behaviors, harm reducion
S-9072
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sugiarto; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Toha Muhaimin, R. Sutiawan, Nurhalina Afrianti, Maya Trisiswati
Abstrak:
Konsistensi penggunaan kondom pada Penasun masih rendah. MenurutLaporan STBP 2013, konsistensi penggunaan kondom pada Penasun sebesar 17%pada pasangan tetap, 17% pasangan tidak tetap dan 16% pasangan komersial.Penelitian ini bertujuan untuk melihat determinan penggunaan kondom padaPenasun di 4 Kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data STBP Penasuntahun 2013. Cara pengambilan sampel STBP Penasun adalah Responden DrivenSampling (RDS). Analisis data secara univariat, bivariat dan multivariabel.
Hasil penelitian menunjukkan proporsi penggunaan kondom pada saatberhubungan seks sebesar 18% pada pasangan tetap, 17% pada pasangan tidaktetap, 17% membeli seks dan 5% menjual seks. Determinan penggunaan kondompada 4 pasangan berbeda, namun tidak memiliki kondom selalu ada pada semuajenis pasangan. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tetap adalahtidak memiliki kondom, tidak merasa berisiko, pengetahuan rendah, tidakmengakses LASS, tidak menikah dan merasa kondom tidak bermanfaat dalammencegah HIV merupakan determinan dari perilaku penggunaan kondom Penasunpada pasangan tetap. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tidak tetapadalah tidak memiliki kondom dan tidak menikah merupakan determinanpenggunaan kondom Penasun pada pasangan tidak tetap. Determinan penggunaankondom pada Penasun yang membeli seks adalah tidak memiliki kondommerupakan determinan penggunaan kondom Penasun saat membeli seks.
Kata Kunci : Penasun, Penggunaan Kondom
Consistent condom use in IDUs remains low. According to the report IBBS2013, the consistent use of condoms in 17% IDU steady partner, 17% of couplesare not fixed and 16% commercial partner. This study aims to look at thedeterminants of condom use among IDU in four cities in Indonesia. This studyuses IBBS IDU 2013. How sampling IBBS IDU is Respondent Driven Sampling(RDS). Analysis of univariate, bivariate and multivariable.
The results showed the proportion of condom use during sex by 18% on aregular partner, 17% on casual partners, 17% and 5% purchase sex sell sex.Determinants of condom use on four different couples, but does not have acondom always exist in all types of couples. Determinants of condom use on aregular partner is not having a condom, do not feel at risk, low knowledge, noaccess LASS, not married and feel condoms are not useful in preventing HIV is adeterminant of condom use behaviors of IDUs in couples staying. Determinants ofcondom use in casual partners is not to have condoms and abstaining frommarriage is the determinant of condom use in casual partners of IDUs. The Determinants of condom use among IDU who buy sex is not having a condom is a determinant of the use of condoms when buying sex IDU.
Keywords: IDU, Condom Use
Read More
Hasil penelitian menunjukkan proporsi penggunaan kondom pada saatberhubungan seks sebesar 18% pada pasangan tetap, 17% pada pasangan tidaktetap, 17% membeli seks dan 5% menjual seks. Determinan penggunaan kondompada 4 pasangan berbeda, namun tidak memiliki kondom selalu ada pada semuajenis pasangan. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tetap adalahtidak memiliki kondom, tidak merasa berisiko, pengetahuan rendah, tidakmengakses LASS, tidak menikah dan merasa kondom tidak bermanfaat dalammencegah HIV merupakan determinan dari perilaku penggunaan kondom Penasunpada pasangan tetap. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tidak tetapadalah tidak memiliki kondom dan tidak menikah merupakan determinanpenggunaan kondom Penasun pada pasangan tidak tetap. Determinan penggunaankondom pada Penasun yang membeli seks adalah tidak memiliki kondommerupakan determinan penggunaan kondom Penasun saat membeli seks.
Kata Kunci : Penasun, Penggunaan Kondom
Consistent condom use in IDUs remains low. According to the report IBBS2013, the consistent use of condoms in 17% IDU steady partner, 17% of couplesare not fixed and 16% commercial partner. This study aims to look at thedeterminants of condom use among IDU in four cities in Indonesia. This studyuses IBBS IDU 2013. How sampling IBBS IDU is Respondent Driven Sampling(RDS). Analysis of univariate, bivariate and multivariable.
The results showed the proportion of condom use during sex by 18% on aregular partner, 17% on casual partners, 17% and 5% purchase sex sell sex.Determinants of condom use on four different couples, but does not have acondom always exist in all types of couples. Determinants of condom use on aregular partner is not having a condom, do not feel at risk, low knowledge, noaccess LASS, not married and feel condoms are not useful in preventing HIV is adeterminant of condom use behaviors of IDUs in couples staying. Determinants ofcondom use in casual partners is not to have condoms and abstaining frommarriage is the determinant of condom use in casual partners of IDUs. The Determinants of condom use among IDU who buy sex is not having a condom is a determinant of the use of condoms when buying sex IDU.
Keywords: IDU, Condom Use
T-4741
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andini Ayu Lestari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Kelompok Penasun merupakan kelompok berisiko HIV dengan agka prevalensi HIV lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok berisiko HIV lainnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku berisiko HIV pada Penasun dewasa muda dan dewasa madya di 3 kota di Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross sectional menggunakan data STBP tahun 2011 dan 2015. Sampel dalam penelitian ini adalah Penasun di kota Medan, Bandung, dan Malang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi HIV lebih tinggi pada Penasun dewasa madya, namun meningkat 10% pada Penasun dewasa muda. Analisis multivariabel menunjukkan perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif tahun 2011 pada Penasun dewasa muda adalah mulai menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, tidak mengurangi praktik setting basah, pernah melakukan hubungan seks, berhubungan seks dengan lebih dari 1 orang, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik dan berhubungan seks pada usia ≤ 18 tahun dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya.
Pada tahun 2015 perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif pada Penasun dewasa muda adalah menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, pinjam meminjam jarum, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik pada usia ≤ 18 tahun, dan memiliki pasangan seks tidak tetap dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya. Perlu adanya peningkatan layanan pencegahan HIV ke Penasun dewasa muda dan intervensi terhadap jejaring Penasun.
Kata kunci : Penasun, dewasa muda, dewasa madya, perilaku berisiko HIV
IDU is population-at-risk that has the highest HIV prevalance in Indonesia. This study aims to know different risk behavior among young adult and middle-aged adult IDU in 3 cities in Indonesia. This study design is cross sectional by using IBBS data 2011 and 2015. Samples in this study were IDU in 3 cities in Indonesia that meet inclusion and exclusion criteria.
The result shows that HIV prevalence is higher among middle-aged adult IDU, but increase 10% among young adult IDU. Multivariable analysis shows risk behaviors that increase risk of HIV positive among young adult IDU in 2011 are age at first injection ≤ 18 years, not reduce sharing drugs with water, ever had sex, and having multiple sex partners; whereas first injection and first had sex at ≤ 18 years old increase risk of HIV positive status among middle-aged adult IDU.
In 2015, risk behaviors that increase HIV positive status among young adult IDU are age at first injection ≤ 18 years, sharing syringes to inject, and not consistent using condom; whereas first injection at ≤ 18 years old and having casual sex partner increase risk of HIV positive among middle-aged adult IDU. Prevention HIV services should be improved for young adult IDU and also network intervention should be improved.
Keywords : IDU, young adult, middle-aged adult, hiv risk behavior
Read More
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi HIV lebih tinggi pada Penasun dewasa madya, namun meningkat 10% pada Penasun dewasa muda. Analisis multivariabel menunjukkan perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif tahun 2011 pada Penasun dewasa muda adalah mulai menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, tidak mengurangi praktik setting basah, pernah melakukan hubungan seks, berhubungan seks dengan lebih dari 1 orang, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik dan berhubungan seks pada usia ≤ 18 tahun dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya.
Pada tahun 2015 perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif pada Penasun dewasa muda adalah menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, pinjam meminjam jarum, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik pada usia ≤ 18 tahun, dan memiliki pasangan seks tidak tetap dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya. Perlu adanya peningkatan layanan pencegahan HIV ke Penasun dewasa muda dan intervensi terhadap jejaring Penasun.
Kata kunci : Penasun, dewasa muda, dewasa madya, perilaku berisiko HIV
IDU is population-at-risk that has the highest HIV prevalance in Indonesia. This study aims to know different risk behavior among young adult and middle-aged adult IDU in 3 cities in Indonesia. This study design is cross sectional by using IBBS data 2011 and 2015. Samples in this study were IDU in 3 cities in Indonesia that meet inclusion and exclusion criteria.
The result shows that HIV prevalence is higher among middle-aged adult IDU, but increase 10% among young adult IDU. Multivariable analysis shows risk behaviors that increase risk of HIV positive among young adult IDU in 2011 are age at first injection ≤ 18 years, not reduce sharing drugs with water, ever had sex, and having multiple sex partners; whereas first injection and first had sex at ≤ 18 years old increase risk of HIV positive status among middle-aged adult IDU.
In 2015, risk behaviors that increase HIV positive status among young adult IDU are age at first injection ≤ 18 years, sharing syringes to inject, and not consistent using condom; whereas first injection at ≤ 18 years old and having casual sex partner increase risk of HIV positive among middle-aged adult IDU. Prevention HIV services should be improved for young adult IDU and also network intervention should be improved.
Keywords : IDU, young adult, middle-aged adult, hiv risk behavior
S-9554
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andri Yan Prima Zani; Pembimbing: Budi Utomo, Besral
T-2020
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firli Kusuma Ardiati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Martya Rahmaniati, Novera Parulian Sandi
S-6083
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suliati; Pembimbing: Indang Trihandini, Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ari Wulan Sari
Abstrak:
Prevalensi HIV pada penasun meningkat dari 27%(2009) menjadi 39,2% pada tahun 2013. Akan tetapi pada kelompok penasun konsistensi pemakaian kondom hanya 17%, Perilaku membeli seks mencapai 19% dan perilaku berbagi jarum suntik 22%. Penularan HIV pada pengguna narkoba suntik tidak hanya dari pemakaian jarum suntik bersama, tetapi bisa juga melalui hubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Penelitian ini bertujuan untuk melihat model perilaku seks berisiko pada penasun di kota Tangerang, Pontianak, Samarinda dan Makassar tahun 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan jumlah sampel sebesar 261 responden. Hasil analisis dengan GSEM memperlihatkan perilaku menyuntik dan pengetahuan secara langsung mempengaruhi perilaku seks berisiko (koef path = 0,24 dan 0,016). Secara tidak langsung pengetahuan juga dapat mempengaruhi perilaku seks berisiko (koef path = 0,019). Secara keseluruhan perilaku menyuntik memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan dengan pengetahuan. Perilaku berbagi basah, berbagi jarum dan membeli NAPZA secara patungan (koef path = 3,5 ; 2,1 dan 1,8) merupakan faktor penting yang mempengaruhi perilaku seks berisiko. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama lintas sektor dalam menjangkau kelompok penasun, pelayanan terpadu layanan alat suntik steril dan pemberian kondom bagi penasun merupakan langkah untuk mengurangi risiko penularan HIV /AIDS
Kata kunci : GSEM, Penasun, Perilaku Seks Berisiko
Read More
Kata kunci : GSEM, Penasun, Perilaku Seks Berisiko
T-4326
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Slamet Hidayat; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Pandu Riono, Felly Philipus Senewe, Miladi Kurniasari
Abstrak:
Read More
Notifikasi penemuan kasus TB di Indonesia mengalami penurunan sebesar 20,5% Pada tahun 2019-2020 dan kenaikan 6,8% pada tahun 2020-2021. tujuan penelitian ini untuk mengetahui evaluasi program TB-HIV pada program penanggulangan Tuberkulosis di Provinsi Jawa Barat Tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data sekunder dari database Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. hasil analisis deskriptif diketahui bahwa Proporsi orang dengan TB dengan diagnosis TB Klinis lebih besar 64.44%, dibandingkan orang dengan TB dengan diagnosis TB Bakteriologis lebih sedikit yaitu 35.56%. Proporsi ODHIV yang terdiagnosa TB secara klinis sebanyak 64.33%, sedangkan proporsi ODHIV yang terdiagnosa secara bakteriologis lebih sedikit hanya 35.67%. Proporsi orang dengan TB dengan HIV positif lebih besar pada TB klinis yaitu 67.12%, sedangkan orang dengan TB dengan hasil HIV Positih lebih sedikit pada TB klinis sebanyak 32.88%. Proporsi orang dengan TB dengan HIV positif lebih besar pada TB klinis yaitu 67.12%, sedangkan orang dengan TB dengan hasil HIV Positif lebih sedikit pada TB klinis sebanyak 32.88%. Proporsi orang dengan TB pada laki-laki lebih besar pada diagnosis bakteriologis sebesar 56.88%, sedangkan proporsi laki-laki pada diagnosis klinis 43.12%. Untuk peningkatan program dapat dilakukan dengan memaksimalkan kolaborasi program TB-HIV sehingga semua penderita TB dapat diperiksa HIV agar kasus bisa ditemukan dengan cepat sehingga juga bisa mendapatkan pengobatan lebih awal.
Notifications for finding TB cases in Indonesia have decreased by 20.5% in 2019-2020 and increased by 6.8% in 2020-2021. the purpose of this study was to determine the evaluation of the TB-HIV program in the Tuberculosis control program in West Java Province in 2022. This research is a descriptive study using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB) database from the West Java Provincial Health Office. The results of the descriptive analysis revealed that the proportion of people with TB with a clinical TB diagnosis was 64.44% greater, compared to people with TB with a bacteriological diagnosis of TB which was less, namely 35.56%. The proportion of PLHIV who were clinically diagnosed with TB was 64.33%, while the proportion of PLHIV who were diagnosed bacteriologically was less, only 35.67%. The proportion of people with HIV positive TB was greater in clinical TB, namely 67.12%, while people with TB with HIV positive results were less in clinical TB as much as 32.88%. The proportion of people with HIV positive TB was greater in clinical TB, namely 67.12%, while people with TB with positive HIV results were less in clinical TB as much as 32.88%. The proportion of people with TB in men was greater with a bacteriological diagnosis of 56.88%, while the proportion of men with a clinical diagnosis was 43.12%. Then, the proportion of people with TB in women based on a bacteriological diagnosis was 51.45% and the proportion of women with a clinical diagnosis was 48.55%. Program improvement can be done by maximizing the TB-HIV collaboration program so that all TB sufferers can be tested for HIV so that cases can be found quickly so they can also get treatment earlier.
T-6794
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elisabeth Sri Lestari Handayani; Pembimbing: Indang Trihandini, Penguji: Artha Prabawa, Kemal N. Siregar, Alexander K. Ginting, Erni Priyatni
T-3522
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Berdita; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Indang Trihandini, Besral, Kristina, Vinny Sutriani Tobing
T-4071
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
