Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38851 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rosiana Ambarwati; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo
B-479
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veenda Herlyna Pertiwi; Pembimbing: Pujianto
B-781
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Caslyn Jus; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sri Dyah Indherawati, Putri Nadia
Abstrak:
Persaingan rumah sakit swasta yang semakin ketat menuntut rumah sakit untuk memperkuat merek sebagai strategi dalam menarik dan mempertahankan pasien eksekutif atau non-JKN. RS Hermina Jatinegara menghadapi tantangan pada layanan rawat inap eksekutif, ditunjukkan oleh Bed Occupancy Rate (BOR) yang fluktuatif dan belum stabil pada ambang ideal, serta rendahnya konversi pasien dari rawat jalan eksekutif dan IGD eksekutif ke layanan rawat inap eksekutif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan Customer-Based Brand Equity (CBBE) berdasarkan model Keller, yang terdiri dari dimensi brand salience, brand performance, brand imagery, brand judgments, brand feelings, dan brand resonance, dengan keputusan pasien memilih layanan rawat inap eksekutif di RS Hermina Jatinegara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 96 responden pasien eksekutif, terdiri dari 87 responden dari unit rawat jalan eksekutif dan 9 responden dari unit IGD eksekutif, yang dipilih dengan teknik consecutive sampling dan proportional sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert, sedangkan data sekunder diperoleh dari data operasional rumah sakit dan referensi pendukung. Analisis data dilakukan menggunakan SEM-PLS melalui pengujian outer model dan inner model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan pasien dalam memilih layanan rawat inap berada pada kategori baik. Seluruh dimensi CBBE juga menunjukkan persepsi yang baik, meskipun masih terdapat beberapa indikator yang perlu ditingkatkan, terutama pada aspek top of mind, kecepatan respons pelayanan, rasa aman, kebanggaan sosial, dan penghargaan personal. Nilai R-square sebesar 0,786 menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan keputusan pasien sebesar 78,6%. Hasil uji bootstrap menunjukkan bahwa brand imagery berhubungan positif dan signifikan dengan keputusan pasien (p=0,023), demikian pula brand resonance (p=0,018). Sementara itu, brand salience, brand performance, brand feelings, dan brand judgments tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa citra merek dan keterikatan emosional pasien merupakan faktor utama yang berhubungan dengan keputusan pasien memilih layanan rawat inap eksekutif di RS Hermina Jatinegara. Oleh karena itu, rumah sakit perlu memperkuat repositioning citra sebagai rumah sakit umum modern, meningkatkan komunikasi clinical excellence, memperbaiki responsivitas layanan, serta membangun relationship marketing melalui layanan personal dan berkelanjutan bagi pasien eksekutif.

Increasing competition among private hospitals requires stronger brand development as a strategic effort to attract and retain executive or non-JKN patients. RS Hermina Jatinegara faces challenges in its executive inpatient services, as reflected in fluctuating Bed Occupancy Rate (BOR) performance that has not consistently reached the ideal standard, as well as the low conversion rate of patients from executive outpatient and emergency department services to executive inpatient care. This study aims to analyze the relationship between Customer-Based Brand Equity (CBBE), based on Keller’s model consisting of brand salience, brand performance, brand imagery, brand judgments, brand feelings, and brand resonance, and patients’ decision to choose executive inpatient services at RS Hermina Jatinegara. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 96 executive patients, including 87 respondents from the executive outpatient unit and 9 respondents from the executive emergency department, selected using consecutive sampling and proportional sampling techniques. Primary data were collected through a Likert-scale questionnaire, while secondary data were obtained from hospital operational records and supporting references. Data analysis was conducted using SEM-PLS through outer model and inner model testing. The results showed that patients’ decision to choose inpatient services was generally categorized as good. All CBBE dimensions also demonstrated positive patient perceptions, although several indicators still require improvement, particularly those related to top-of-mind awareness, service responsiveness, sense of security, social pride, and personal appreciation. The R-square value of 0.786 indicated that the model was able to explain 78.6% of the variance in patients’ decision-making. Bootstrap testing showed that brand imagery had a positive and significant relationship with patients’ decision-making (p = 0.023), as did brand resonance (p = 0.018). Meanwhile, brand salience, brand performance, brand feelings, and brand judgments did not show significant relationships. This study concludes that brand image and patients’ emotional attachment are the main factors associated with patients’ decision to choose executive inpatient services at RS Hermina Jatinegara. Therefore, the hospital needs to strengthen its repositioning as a modern general hospital, improve communication of clinical excellence, enhance service responsiveness, and develop relationship marketing through more personalized and continuous services for executive patients.
Read More
B-2600
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yessy Susanti; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Surya Ede Darmawan, Amal Chalik Sjaaf, Naomi Dailami
B-1338
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maya Khrisna Silahartini; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Jaslis Ilyas, Vetty Yulianty Permanasari, Avriazar Beng Kiuk, Renyta Amelia
Abstrak: Latar belakang: RS Sultan Imanuddin adalah rumah sakit tipe B yang menerima rujukan berjenjang dari rumah sakit sekitarnya dan menjadi tumpuan pelayanan sehingga diharapkan dapat memberikan pelayanan berkualitas dan memuaskan. Terdapat 5 dimensi yang dapat digunakan dalam menilai kualitas pelayanan yaitu tangible, empathy, reliability, responsiveness, dan assurance. Angka kepuasan pelanggan yang tinggi mempengaruhi keputusan pasien untuk kembali menggunakan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan. Pengukuran loyalitas pelanggan dengan Nett Promoter Score (NPS) diawali pada tahun 2003 dan menggunakan jumlah pertanyaan lebih sedikit, NPS menghasilkan analisis yang lebih baik terhadap loyalitas pasien terhadap institusi kesehatan dan terdapat korelasi yang tinggi antara nilai NPS dengan tingkat kepuasan pasien. Tujuan: Menganalisis hubungan persepsi pasien terhadap kualitas layanan dengan loyalitas di RS Sultan Imanuddin. Mengetahui loyalitas pasien RS Sultan Imanuddin dengan NPS untuk melihat akseptibilitas masyarakat terhadap RSSI. Metode Penelitian: Penelitian mix method dengan pengambilan data kuantitatif kemudian dilanjutkan dengan kualitatif. Penelitian dilakukan Desember 2020-Februari 2021 dengan jumlah responden sebanyak 203 orang pasien dan atau penunggu pasien di instalasi rawat inap Meranti dan manajemen RS Sultan Imanuddin. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat loyalitas terhadap RS diukur dengan Nett Promoter Score sebesar 68,4 dan loyalitas terhadap dokter 91,6. Variabel tangible, empathy, reliability, responsiveness, dan assurance berhubungan signifikan terhadap loyalitas pasien terhadap RS dengan nilai p<0,001. Variabel reliability dan responsiveness memiliki pengaruh signifikan terhadap loyalitas pasien terhadap dokter dengan p<0,001. Karakteristik pasien yang berpengaruh signifikan pada loyalitas pasien terhadap rumah sakit dan dokter adalah pendidikan. Faktor pendidikan mempengaruhi cara pasien berkomunikasi dengan dokter. Faktor jenis kelamin, usia, pekerjaan, cara pembiayaan, tempat tinggal, kelas perawatan, riwayat rawat inap sebelumnya, cara datang berobat, dokter yang merawat, jalur masuk rawat inap, jenis kasus bedah dan lama hari rawat tidak berpengaruh terhadap loyalitas pasien. Kesimpulan: Penelitian di RS Sultan Imanuddin menunjukkan tingkat loyalitas pasien terhadap dokter lebih tinggi dibanding loyalitas pasien terhadap rumah sakit. Variabel tangible, empathy, reliability, responsiveness, dan assurance memiliki hubungan signifikan terhadap loyalitas pasien terhadap rumah sakit. Variabel reliability dan responsiveness memiliki hubungan signifikan terhadap loyalitas pasien terhadap dokter. Pasien yang berpikir untuk beralih layanan rumah sakit, mencari layanan kesehatan yang tidak antri, ruang rawat inap yang lebih nyaman, dan memperhatikan privasi. Pasien yang masih menginginkan layanan di tempat yang sama disebutkan karena faktor jarak yang dekat dan beda selisih pembiayaan bila pindah rumah sakit. Faktor yang membuat pasien loyal terhadap dokter adalah penanganan baik yang diberikan dan telah terbiasa sebelumnya. Hal yang membuat pasien beralih dokter adalah waktu yang diberikan dalam pelayanan dirasa kurang dan ketidakhadiran dokter saat pemeriksaan
Read More
B-2270
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Usri Suharyono; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf
B-459
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Ainy Sidik; Pembimbing: Djoti Atmodjo
B-708
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
May Hizrani;Penguji: Hafizurahman, Adang Bachtiar, Yayuk Hartriyanti, Muki Reksoprodjo, Emmy Salman
Abstrak:
Menghadapi pasar global dimana persaingan sangat terbuka maka industri pelayanan kesehatan harus mampu merubah paradigma lama, pelayanan yang berorientasi dokter ke pelayanan yang berorientasi pelanggan, tidak terkecuali rumah sakit. Upaya untuk pemenuhan tuntutan tersebut maka rumah sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan harus selalu berupaya untuk meningkatkan mutu layanannya. Mutu pelayanan rumah sakit merupakan sesuatu yang abstrak sehingga banyak definisi dibuat oleh peneliti di bidang kesehatan. Disadari bahwa mutu sangat erat kaitannya dengan kondisi atau nilai -nilai yang dianut baik oleh rumah sakit sebagai penyedia jasa pelayanan maupun pasien sebagai penerima jasa pelayanan kesehatan. Sampai sa'at ini belum ada suatu standar baku atau alat ukur baku yang digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan terhadap mutu pelayanan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan metode Servqual untuk rnengukur kepuasan pelanggan berdasarkan harapan dan persepsi mereka terhadap mutu pelayanan yang dikembangkan oleh Parasuraman dkk ( 1985 ) serta dilakukan juga penelitian terhadap minat beli ulang. Desain penelitian adalah cross sectional dengan analisis deskriptif dan merupakan penelitian survey terhadap 200 orang pasien yang dirawat di RS MMC Jakarta dengan menggunakan kuesioner Parasuraman dkk yang telah dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. Kuesioner berisi lima dimensi mutu Servqual, yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty yang menggambarkan harapan dan persepsi pasien terhadap mutu pelayanan. Kepuasan adalah tingkat kesesuaian antara harapan dan persepsi pasien minat beli ulang dibagi menjadi empat subvariabel, seperti ; minat beli setelah melihat fasilitas, lingkungan fisik, pelayanan perawat dan pelayanan dokter. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa semua variabel mutu Servqual baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama mempunyai hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan. Metode Servqual bisa digunakan sebagai alat ukur kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan di rumah sakit. Kelima dimensi mutu pelayanan mempegaruhi kepuasan sebesar 44,6 %, sedangkan sisanya 55.4 % dijelaskan oleh faktor lain. Ketidak puasan pasien terlihat pada dimensi emphaty, reliability ( kehandalan pelayanan ) dan responsiveness ( ketanggapan pelayanan ). Pengaruh kepuasan terhadap minat beli ulang rawat inap adalah sebesar 42.1 % sedangkan sisanya 57.9 % dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan oleh rumah sakit sebagai salah saru alat untuk menyusun strategi perbaikan mutu pelayanan.

Facing thc global market and open competition, the health care industry, including hospital, needs a paradigm doctor-centered to patient-centeredb health serivices. In the effort to meet the needs, hospital as a health care sevice provider should seriously improve the quality of its services. Since quality is a relative term, many health serivices researchers have defined quality of hospital services. It is realized that quality is to a large extent is determined by the conditions and values of hospital as the service provider as well as the patients as the recipient of the health care services. Currently, there is no quality standard nor standardized instruments to measure customer satisfaction onthe quality of hospital care. This research utilized SERVQUAL method to measure customer satisfaction based on expectation and perception of patients on the quality of service developed by Parasuraman et al. ( 1985 ). In relation to satisfaction, behavioral intention to receive care from the same hospital is also investigated. The research design i s cross-sectional with descriptive analysis on a survey of 200 in-patients. Questionnaire developed by Parasuraman et al. ( 1985 ) is modified to accommodate a hospital condition.'I'he questionnaire contain tive dimension of the SERVQUAL quality, i.e. tangible, reliability, responsiveness, assurance, and emphaty that describes expectation and perception of the patients on quality of service provided hospital. The satisfaction is positive if the quality provides is perceived to be equal or better than expected. The behavioral intention to receive care from same hospital is classified into intention utter observing facilities, physical environment, nursing care, and doctor care. The investigation shows that all SERVQUAL quality variables, individually or collectively, correlate with the customer satisfaction. Hence, the SERVQUAL method may be employed as instrument to measure the in-patient satisfaction on the quality of hospital care. The live dimensions of SERVQUAL affects 44.6% of the satisfaction while the rest is determined by other factors. The effect of satisfaction onintention to receive care from same hospital is 42.1% and with strong correlation as shown by a score of 0.649. The results of this investigation is expected to provide the MMC Hospital Jakarta with data and informatiob in developing the hospital service quality imrovement.
Read More
B-601
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Hutagalung; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Masyitoh, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Umi Eliawati, Rakhmad Hidayat
Abstrak:
Latar Belakang: Stroke dan cedera kepala merupakan penyebab utama kecacatan yang sering disertai lama rawat inap memanjang dan kejadian readmisi akibat kompleksitas kondisi neurologis. Discharge planning berperan penting dalam menjamin continuity of care, namun kepatuhan dokumentasinya di RS Awal Bros Pekanbaru masih belum optimal. Tujuan: Menganalisis hubungan kepatuhan dokumentasi discharge planning berdasarkan model METHOD dan IDEAL dengan lama rawat inap serta readmisi 30 hari pada pasien stroke dan cedera kepala. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain retrospektif cross-sectional menggunakan data sekunder rekam medis terhadap 111 pasien stroke dan cedera kepala yang dirawat pada Oktober–Desember 2025. Analisis dilakukan menggunakan uji Spearman, Mann–Whitney, Kruskal–Wallis, regresi linier, dan regresi logistik. Triangulasi sumber melalui wawancara konfirmatorik kepada petugas dilakukan untuk memvalidasi implementasi discharge planning. Hasil: Sebagian besar dokumentasi discharge planning berdasarkan model METHOD berada pada kategori rendah (51,4%), sedangkan model IDEAL sebesar 44,1%. Skor IDEAL berhubungan lemah dengan lama rawat inap (r=0,194; p=0,042), sedangkan model METHOD tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Kedua model tidak berhubungan signifikan dengan readmisi 30 hari (p>0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa komorbiditas dan ketergantungan penuh merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan lama rawat inap. Hasil triangulasi mengonfirmasi bahwa discharge planning telah dilaksanakan secara rutin, namun dokumentasinya belum optimal, terutama pada aspek edukasi, manajemen obat, dan diet. Kesimpulan: Kepatuhan dokumentasi discharge planning berhubungan lemah dengan lama rawat inap, tetapi tidak dengan readmisi 30 hari. Faktor klinis pasien lebih dominan memengaruhi lama rawat inap. Penguatan dokumentasi dan koordinasi multidisiplin diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan transisi pasien. Kata Kunci: discharge planning, lama rawat inap, readmisi, stroke, cedera kepala.

Background: Stroke and traumatic brain injury are associated with prolonged hospital stay and hospital readmission. Effective discharge planning is essential to ensure continuity of care, yet documentation compliance at Awal Bros Hospital Pekanbaru remains suboptimal. Objective: To analyze the association between discharge planning documentation compliance based on the METHOD and IDEAL models and length of hospital stay and 30-day readmission. Methods: A quantitative analytical study with a retrospective cross-sectional design was conducted using medical records of 111 stroke and traumatic brain injury patients hospitalized between October and December 2025. Data were analyzed using Spearman's correlation, Mann–Whitney U, Kruskal–Wallis, multiple linear regression, and logistic regression. Source triangulation through confirmatory interviews with healthcare professionals was performed to validate discharge planning implementation. Results: Poor documentation was found in 51.4% of METHOD and 44.1% of IDEAL assessments. The IDEAL score showed a weak association with length of hospital stay (r=0.194; p=0.042), while neither model was associated with 30-day readmission (p>0.05). Comorbidity and complete functional dependence were significant predictors of prolonged hospitalization. Triangulation confirmed that discharge planning was routinely implemented, although documentation remained incomplete. Conclusions: Discharge planning documentation was weakly associated with length of hospital stay but not with 30-day readmission. Improving documentation quality and multidisciplinary coordination may enhance transitional care. Keywords: discharge planning, length of stay, 30-day readmission, stroke, traumatic brain injury.
Read More
B-2629
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jesslyn Bernadette; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Irene Girsang, Dini Handayani
Abstrak:

Latar Belakang : Waktu tunggu sering kali dijadikan indikator untuk menilai kualitas pelayanan rumah sakit oleh pasien. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah waktu tunggu untuk pemulangan pasien. Data RS Mitra Keluarga Bintaro tahun 2023 menunjukkan rata-rata waktu tunggu pasien adalah 87 menit dengan perbedaan yang cukup signifikan antara pasien dengan penjaminan pribadi (66 menit) dan penjaminan asuransi (121 menit). Data rata-rata waktu tunggu tersebut terhitung sejak dokter memberikan instruksi pulang hingga pasien melakukan billing akhir. Data tersebut belum terhitung hingga pasien meninggalkan ruang rawat inap. Standar pelayanan minimal waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap yang ditetapkan oleh Kemenkes yaitu kurang dari 120 menit. Pencapaian waktu tunggu pasien yang keluar dalam waktu ≤ 2 jam tercatat sebesar 88%, meskipun masih belum memenuhi target korporat yang ditetapkan sebesar 100%.
Metode : Penelitian ini mengadopsi desain operational research yang mengintegrasikan metode kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, dengan total sampel sebanyak 38 pasien yang pulang setelah menjalani rawat inap. Pemilihan sampel didasarkan pada distribusi hari, jam kepulangan, dan jenis metode penjaminan yang telah ditetapkan.
Hasil : Hasil penelitian dengan pendekatan lean six sigma berhasil mengidentifikasi lead time pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro sebesar 5 jam 10 menit 54 detik dimana 69% merupakan kegiatan non value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 3 jam 14 menit 23 detik. Akar masalah dari memanjangnya waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap berada di fase III pada kegiatan menunggu pasien meninggalkan ruang rawat inap. Penerapan lean six sigma dalam proses pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro berhasil mengurangi lead time sebesar 16%, dari 5 jam 10 menit 54 detik menjadi 4 jam 21 menit 25 detik. Pengurangan lead time ini diikuti dengan penurunan waste di seluruh tahapan pemulangan pasien, dengan penurunan waste terbesar terjadi pada fase I, yaitu sebesar 44%, dari 1 jam 3 menit 27 detik menjadi 35 menit 46 detik.
Kesimpulan : Terdapat penurunan waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap di RS Mitra Keluarga Bintaro setelah penerapan lean six sigma. Penurunan waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap masih diatas target standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Kemenkes.


Background                : Waiting time is often used as an indicator to assess the quality of hospital services by patients. One aspect of concern is the waiting time for patient discharge. Data from Mitra Keluarga Bintaro Hospital in 2023 showed that the average patient waiting time was 87 minutes with a significant difference between patients with personal guarantees (66 minutes) and insurance guarantees (121 minutes). The average waiting time data is calculated from when the doctor gives instructions to go home until the patient makes the final billing. The data does not include until the patient leaves the inpatient room. The minimum service standard for inpatient discharge waiting time set by the Ministry of Health is less than 120 minutes. The achievement of waiting time for patients who leave within ≤ 2 hours was recorded at 88%, although it still does not meet the corporate target set at 100%. Method                : This study adopted an operational research design that integrates quantitative and qualitative methods. The sampling technique used was simple random sampling, with a total sample of 38 patients who returned home after undergoing inpatient care. Sample selection was based on the distribution of days, hours of discharge, and types of guarantee methods that had been determined. Hasil                        : The results of the study using the lean six sigma approach successfully identified the lead time for inpatient discharge at Mitra Keluarga Bintaro Hospital of 5 hours 10 minutes 54 seconds, where 69% were non-value added activities dominated by waiting type waste of 3 hours 14 minutes 23 seconds. The root of the problem of the long waiting time for inpatient discharge is in phase III in the activity of waiting for the patient to leave the inpatient room. The application of lean six sigma in the inpatient discharge process at Mitra Keluarga Bintaro Hospital successfully reduced the lead time by 16%, from 5 hours 10 minutes 54 seconds to 4 hours 21 minutes 25 seconds. This reduction in lead time was followed by a decrease in waste in all stages of patient discharge, with the largest decrease in waste occurring in phase I, which was 44%, from 1 hour 3 minutes 27 seconds to 35 minutes 46 seconds. Kesimpulan                : There is a decrease in the waiting time for discharge of inpatients at Mitra Keluarga Bintaro Hospital after the implementation of lean six sigma. The decrease in the waiting time for discharge of inpatients is still above the minimum service standard target set by the Ministry of Health.

Read More
B-2507
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive