Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29649 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diah Anjarini; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Beti Ernawati Dewi
Abstrak:

ABSTRAK

Pengembangan diagnosis DBD dengan pendekatan deteksi antigen saat iniadalah deteksi IgM/IgG antibodi dan circulating dengue virus non-structuralprotein 1 yang bersirkulasi dalam serum atau plasma penderita. Nonstructaralprotein I (NS1) merupakan glikoprotein yang diperlukan dalam proses replikasivirus. Pada infeksi akut NSI disekresikan dari sel yang terinfeksi dan akanbersirkulasi dalam darah penderita DBD baik pada infeksi primer maupuninfeksi sekunder. NSI dapat dideteksi pada penderita terinfeksi virus dengueserotipe 1, 2, 3 maupun 4. NSI disekresi pada hari 1 sampai hari 9 saat onsetdemarn, sehingga dengan deteksi NSI diharapkan diagnosis DBD dapatditegakkan lebih dini, atau secepatnya pada hari 1 onset demam. Saat ini sudahtersedia secara komersial Diagnostik Kit SD Dengue Duo (Dengue NS1 Ag+AbCombo). Penelitian ini bertuiuan untuk mendapatkan alternatif diagnosis infeksivirus dengue dengan melakukan uii validasi produk tersebut terhadap IgM, IgGdan NS1 pada tersangka penderita DBD di Rumah sakit Imanuel BandarLampung. Uji validasi meliputi sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif, nilaiduga negatif, rasio kecenderungan positif, rasio kecenderungan negatif danakurasi. Hasil uji dibandingkan dengan RT-'PCR sebagai baku emas (goldstandard). Hasilnya menunjukkan Dengue NSI Ag menunjukkan sensitivitas(sebesar 100%), spesifisitas sebesar 92%, nilai duga positif (NDP) sebesar 58%,nilai duga negatif (NDN) sebesar 100% dan akurasi sebesar 92,5%, nilai ROCsebesar 95.8% menunjukkan bahwa NS-1 dapat mendiagnosis Dengue dengan baiksekali.Disimpulkan bahwa Diagnostik Kit SD Dengue Duo (Dengue NS1 Ag+Ab Combo )layak dan memadai sebagai perangkat diagnosis DBD.


 

ABSTRACT

New approach of dengue diagnosis is detecting of circulating denguenonstructural protein 1 (NS1) IgM/IgG antibodies, antigen in patient sera orplasma. NSI is a glycoprotein essential use for virus replication process. It issecreted from infected cells and detectable in blood from the lst day aftertheonset of fever up to day 9. This protein could be detected in dengue virusinfection either serotype 1,2,3 and 4 by NS1 detection and IgM/IgG. Promptdiagnosis could be made as soon as on day 1 onset of fever. The NS I antigen assayhas been developed for commercial use Diagnostik Kit SD Dengue Duo (DengueNS1 Ag+Ab Combo). To find out an alternative dengue diagnostic tool DengueNS1. Ag was validated for early diagnosis of febrile stage in patients withsuspect dengue infection as a gold standard of the test was rely on RT-PCR.The diagnostik Kit SD Dengue Duo (Dengue NS1 Ag+Ab Combo) showssensitivity 100%, spesificity 92%, positive predictive value (PPV) 58%, negatifpredictive value (NPV) 100% and accuracy 94,5% respectively, ROC 95.8%the agreement between both tests were good. It was concluded that DiagnostikKit SD Dengue Duo (Dengue NS1 Ag+Ab Combo) and NSI Ag good and could beused for early diagnosis of dengue virus infection.

Read More
T-3992
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Hartoyo; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, Erliana Setiani, Subangkit
T-4789
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ivana Yulian Hendarsin; pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Hadianti Adlani, Herman Kosasih
Abstrak:

Latar Belakang Indonesia merupakan daerah hyper-endemic dengue dengan siklus epidemik yang rutin terjadi. Kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 mendefinisikan kumpulan gejala, tanda dan hasil laboratorium yang dapat mendeteksi mayoritas kasus dengue namun untuk konfirmasinya membutuhkan tambahan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan NS1 maupun Immunoglobulin M.
Metode Penelitian Penelitian cross-sectional dengan data sekunder dari pasien demam akut di tiga lokasi Kabupaten Tangerang yaitu RSUD Kabupaten Tangerang, Puskesmas Kelapa Dua dan Puskesmas Bojong Nangka. Reference test berupa pemeriksaan RT-PCR, sedangkan index test adalah kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 dan pemeriksaan RDT NS1. Analisis data dilakukan dengan uji diagnostik berupa uji reabilitas dan validitas.
Hasil Penelitian Kekuatan tingkat kesepakatan pada kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 terhadap pemeriksaan RT-PCR maupun RDT NS1 adalah fair sedangkan pemeriksaan RDT NS1 terhadap RT-PCR didapatkan tingkat kesepakatan substantial. Sensitivitas kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 didapatkan sebesar 72% (95%CI 65-78.2) lebih tinggi daripada pemeriksaan RDT NS1 65.6% (95%CI 58.4-72.4), namun spesifisitasnya sangat rendah (52.4% vs 97.6%). Kombinasi kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 dan RDT NS1 secara serial memiliki sensitivitas 50.8% dan spesifisitas 98.1% dibandingkan kombinasi paralel menunjukkan hasil sensitivitas 86.8% dan spesifisitas 51.9%.
Kesimpulan Berdasarkan uji reabilitas hanya pemeriksaan RDT NS1 yang memiliki tingkat kesepakatan substantial. Berdasarkan uji validitas sensitivitas kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 tidak cukup baik dalam skrining kasus dengue sehingga penggunaannya sebaiknya digantikan kombinasi paralel agar kasus dengue yang tidak terdiagnosis dapat berkurang.


Background Dengue is hyperendemic with frequent epidemic cycles in Indonesia. Tangerang district is among the regions with a high dengue burden. The 2009 WHO dengue case classification has a set of symptoms, signs, and laboratory findings that can identify most dengue cases; however, dengue cases need to be confirmed by additional laboratory diagnostic tests, such as NS1 and Immunoglobulin M testing. Method A cross-sectional study using secondary data from acute fever patients in three different locations in Tangerang District: Bojong Nangka PHC, Kelapa Dua PHC, and Tangerang District Hospital. The 2009 WHO dengue case classification and the NS1 RDT as index test, whereas the reference test is RT-PCR. Validity and reliability tests are used to analyze data. Results The observed agreement on the 2009 WHO dengue case classification for RT-PCR and NS1 RDT examinations was fair, although among NS1 RDT and RT-PCR was substantial. The sensitivity of the 2009 WHO dengue case classification was 72% (95%CI 65-78.2) higher than the NS1 RDT 65.6% (95%CI 58.4-72.4), but the specificity was considerably lower (52.4% vs 97.6%). The serial combination of the 2009 WHO dengue case classification and NS1 RDT in this study had a sensitivity of 50.8% and a specificity of 98.1%, while the parallel combination showed a sensitivity of 86.8% and a specificity of 51.9%. Conclusion Based on the reliability test, only the NS1 RDT has a substantial level of agreement. Based on the validity test, the sensitivity of the 2009 WHO dengue case classification is insufficient for screening dengue cases; therefore, a parallel combination can be used instead to lower the number of undiagnosed dengue cases.

Read More
T-7359
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Thamrin; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Tris Eryando; Penguji: Laila Fitria, Priagung AB; Titi Sari Renowati
T-3132
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekplin Sekeon; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Mondastri Korib Sudaryo, Aida C. Tantri; Penguji: Dessy R. Emril, Soewarta Kosen, Syahrizal Syarif, Tiara Aninditha
Abstrak: Latar belakang: Upaya mengenal nyeri sentral pada pasien pascastroke dapat dilakukan dengan menyediakan alat bantu diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem skoring diagnostik nyeri sentral pascastroke (NSPS) di rumah sakit, dan menganalisis akurasi dan reliabilitas penggunaan sistem skoring tersebut di puskesmas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan potong-lintang dan merupakan studi diagnostik pada 166 pasien di rumah sakit dan 303 pasien di puskesmas se-wilayah Kota Manado dan sekitarnya. Hasil: Terdapat tiga variabel utama yang dominan sebagai determinan NSPS berdasarkan uji regresi cox yakni keparahan stroke, defisit nyeri tajam dan defisit raba halus. Prevalensi NPSP di rumah sakit berdasarkan baku emas didapatkan sebesar 30,1%. Dengan titik potong skor ≥2 maka didapatkan nilai sensitifitas 82,0% dan sensitifitas 78,45%. Berdasarkan perhitungan menurut teorema Bayes maka didapatkan probabilitas NSPS di RS dengan skor ≥2 sebesar 62,12%, dan <2 sebesar 8,98%. Berdasarkan hasil pemeriksaan spesialis neurologik di puskesmas maka didapatkan prevalensi NSPS di puskesmas berdasarkan skor Sasmita adalah sebesar 40,9%. Hasil uji akurasi menunjukkan sensitivitas skor Sasmita oleh spesialis neurologi dan dokter umum di puskesmas adalah 71,61% dan sensitivitas 76,35%. Perhitungan dengan teorema Bayes didapatkan probabilitas NSPS di puskesmas dengan skor skor ≥2 sebesar 67,69%, dan <2 sebesar 20,42%. Uji reliabilitas antar dokter umum di puskesmas adalah sebesar 0,576. Kesimpulan: Terdapat tiga variabel utama yang dominan sebagai determinan NSPS yakni keparahan stroke, defisit nyeri tajam dan defisit raba halus. Secara deskriptif didapatkan bahwa kualitas hidup pasien stroke dengan NSPS adalah lebih rendah dibandingkan tanpa NSPS. Pada keseluruhan pasien dengan NSPS, domain yang paling sering mengalami gangguan adalah energi. Saran: Skor Sasmita dapat digunakan sebagai dalam penelitan selanjutnya terkait epidemiologi klinik nyeri pascastroke.
Introduction: The identification of central poststroke pain (CPSP) can be facilitated by the provision of diagnostic tools. This study aimed to develop a diagnostic scoring system for CPSP in hospital settings and to analyze the accuracy and reliability of its use in Puskesmas. Method: This cross-sectional diagnostic study was conducted on 166 hospital and 303 stroke survivors from Puskesmas in Manado City and its outskirts area. Result: Based on cox regression, three key variables were identified as dominant determinants of CPSP: stroke severity, pin-prick deficit, and light-touch deficit. The prevalence of CPSP in hospitals, determined using the gold standard, was 30.1%. With a cut-off score of ≥2, the sensitivity and specificity were 82.0% and 78.45%, respectively. Using Bayes' theorem, the probability of CPSP in hospitals with a score ≥2 was 62.12%, and <2 was 8.98%.  At the primary health centers, neurological specialist examinations revealed a CPSP prevalence of 40.9% based on the Sasmita scoring system. The accuracy test showed that the sensitivity of the Sasmita score assessed by neurologists and general practitioners was 71.61% and 76.35%, respectively. Bayes' theorem calculations indicated a CPSP probability at the Puskesmas of 67.69% with a score ≥2 and 20.42% with a score <2. Inter-rater reliability testing among general practitioners yielded a value of 0.576. Descriptively, stroke patients with CPSP had lower quality of life compared to those without CPSP, with the most commonly affected domain being energy. Conclusion: Three key variables were identified as dominant determinants of CPSP: stroke severity, pin-prick deficit, and light-touch deficit. The prevalence of CPSP in this study is relatively high both at hospital and Puskesmas settting. Sasmita score has good accuracy and moderately reliable in detecting CPSP at primary and tertiary care level. Suggestion: The Sasmita scoring system can be utilized in future studies related to the clinical epidemiology of poststroke pain. Serial assessment is encouraged to be conducted for high risk poststroke patients.
Read More
D-549
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amrul Hasan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Dian Ayubi, Cicilia Widiyaningsih, Ismen
Abstrak:

Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat hingga saat ini di Kota Bandar Lampung dengan jumlah penderita yang terus meningkat. Pada tahun 2001 Incidence rate sebesar 13,56 per 100.000 penduduk, meningkat menjadi 109,8/100.000 penduduk pada tahun 2006 dan akhir Februari 2007 Kota Bandar Lampung dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam berdarah dengue lokal. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kebiasaan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pencegahan gigitan nyamuk dengan kejadian demam berdarah dengue di Kota Bandar Lampung, menggunakan desain kasus kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 406 individu terdiri dari 203 kasus dan 203 kontrol. Kasus adalah individu yang menderita DBD yang pernah dirawat di rumah sakit dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dari tanggal 1 Maret 2007 sampai 15 Mei 2007, sedangkan kontrol dipilih dari tetangga kasus yang bertempat tinggal dalam radius 100 meter dari tempat tinggal kasus. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei 2007. Pengumpulan data dilakukan dengan mengunjungi rumah kasus dan dan kontrol kemudian diwawancarai dan observasi lingkungan rumah. Hasil penelitian diketahui ada hubungan kebiasaan melakukan PSN dengan kejadian demam berdarah dengue, individu yang tidak melakukan PSN berisiko 5,85 (95% CI : 2,86 - 11,99) kali terkena DBD, sedangkan individu yang melakukan 1 jenis PSN (menguras atau menutup atau mengubur) berisiko 2,22 (95% CI : 1,32-3,72) kali untuk terkena DBD dibandingkan dengan individu yang melakukan PSN setelah dikontrol dengan variabel riwayat tetangga yang pemah sakit DBD, keberadaan benda yang dapat penampung air di sekitar rumah dan kebiasaan melakukan pencegahan gigitan nyamuk. Ada hubungan antara kebiasaan melakukan pencegahan gigitan nyamuk dengan kejadian DBD, Individu yang tidak pernah melakukan pencegahan gigitan nyamuk berisiko 7,82 (95% CI : 4,12-14,86) kali untuk terkena DBD, sedangkan individu yang melakukan 1 pencegahan (mengunakan penolak nyamuk di oles di kulit repellent atau anti nyamuk bakar atau menyemprot ruangan dengan pembasmi serangga) berisiko 4,21 (95% CI : 2,31 - 7,65) kali untuk terkena DBD dibandingkan dengan individu yang melakukan 3 pencegahan gigitan nyamuk setelah dikontrol dengan variabel umur, riwayal tetangga pernah sakit DBD, keberadaan benda yang dapat menampung air di sekitar rumah dan kebiasaan melakukan PSN. Untuk menanggulangi DBD kegiatan PSN perlu dilakukan secara teratur minimal satu minggu sekali. Untuk mencegah terjadi terkena DBD dapat dilakukan melindungi diri agar tidak digigit nyamuk terutama 2 jam sebelum matahari terbit dan terbenam dengan menggunakan anti nyamuk yang di oles di kulit, anti nyamuk semprot ataupun electrik/bakar.


Dengue haemorrhagic fever most important public health problem in Bandar Lampung today. Increasing case occure from 2001 to 2006, if 2001 incidence rate 13,56/ 100.000 became 109,8/ 100.00 at 2006 and the end of February 2007 stated Bandar Lampung local outbreak dengue haemorrhagic fever. A case-control study was conducted to explore correlation the risk factor of dengue infection in Bandar Lampung from 20 April to 30 May 2007. 230 case and 230 control were included for statisyical analysis. After further adjusting the confounder there are strong correlation between habitual Eliminating Mosquitos Breeding Sites and use personal protective (eg; use repellent, mosquito coil and use insecticide hand sprayer) with dengue case. Individual has one PSN estimated to be 2,22 (95% Cl : 1,32-3,72) times as great for individual has 3 PSN and individual did not PSN estimates to be 5,85 (95% CI : 2,86 - 11,99) times as great has dengue fever for individual has 3 PSN after controlled by history neightborhood DHF, water container around house, use mosquitoes prevention bites. Individual use one mosquitoes prevention bites estimated to be 4,21 (95% Cl : 2,31-7,65) times as great for individual use three mosquitoes prevention bites and individual did not use mosquitoes prevention bites estimated to be 7,82 (95% CI : 4,12- 14,86) times as great for individual use three mosquitoes prevention bites. Dengue fever is a mosquitoes-bome disease and the risk of person contracting the disease is determined by individu behaviour in eliminating mosquitos breeding sites and use mosquitoes prevention bites in Bandar Lampung.

Read More
T-2524
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rohani Simanjuntak; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Suhendro, Cicilia Windiyaningsih
T-2383
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ita Perwira; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Wahyono, Helda, Endang Burni
Abstrak:

Infeksi virus dengue masih merupakan masalah kesehatan dunia saat ini termasuk di Indonesia. Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2009 dilaporkan 158.912 kasus dengan jumlah kematian 1.420 orang (CFR 0,89%). Tingginya jumlah rawat inap di rumah sakit ini juga menjadi beban yang cukup besar. Tujuan: untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi lama rawat inap pada pasien yang terinfeksi virus dengue di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur. Metode: Menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Hasil: Jumlah kasus infeksi dengue di RSUP Persahabatan tahun 2010 adalah 2168. Didapatkan subjek 450 orang dari total 633 subjek yang tercatat selama 1 Januari - 31 Juni 2010. Berdasarkan hasil analisis multivariat diperoleh 4 variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan lama rawat inap pasien yang terinfeksi virus dengue yaitu lama sakit sebelum masuk RS (p=0.000, OR=0.229, 95% CI 0.134-0.392), penyulit (p=0.003, OR = 2.050, CI 95% : 1.276 ? 3.293),jumlah trombosit (p=0.013, OR=2.585, 95% CI 1.220-5.478) dan jumlah leukosit (p=0.024, OR=1.624, 95% CI 1.065-2.475). Variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan lama rawat inap adalah jumlah trombosit. Dari hasil tersebut disarankan agar klinisi dan akademisi perlu meningkatkan standar pelayanan penyakit yang lebih efektif dan efisien pada pasien yang terinfeksi virus dengue.


 

Background: Dengue fever remains as health problem in the world, especially in tropic and sub-tropic zone include Indonesia. DKI Jakarta province in 2009 was reported 158.912 cases with mortality rate 1.420 cases (CFR 0,89%). Very high of hospitalization rate in the hospital due to dengue infection increase the burden for the government and community. Objective: to find out factors affect to the hospitalization days in patients with dengue virus infection in Persahabatan Hospital, East Jakarta Method: This study was implemented using cross-sectional design. Result: There was 450 subject from total 633 cases reported during 1 January - 31 June 2010. Based on bivariate analysis there is 4 variable which has significant correlation with hospitalization days in patients with dengue virus infection in Persahabatan Hospital. They are days of sick before hospitalized (p=0.000, OR=0.229, 95% CI 0.134-0.392), complication (p=0.003, OR = 2.050, CI 95% : 1.276 ? 3.293), trombocyte (p=0.013, OR=2.585, 95% CI 1.220-5.478), leucocyte (p=0.024, OR=1.624, 95% CI 1.065-2.475). Dominant variable which has significant correlation with hospitalization days is trombocyte. From those result, suggestion for clinician and academician are to increase services standart to be more effective and efficient for patients with dengue virus infection.

Read More
T-3458
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.55, No.2, Febr. 2005: hal. 79-85
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helmi Suryani Nasution; Pemb. Nurhayati A. Prihartono: Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Cicilia Windyaningsih
S-5104
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive