Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27276 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lies Ani Tambunan; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: Firman F. Wirakusumah, Syahrizal Syarif; Penguji: Ratna Djuwita, Farid Anfasa Moloek, Herri Sastramihardja, Betty S. Hernowo, Soetarmo Setiadji
D-287
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Juliana Omposunggu; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Yovsyah, Trihono, Toni Wandra
T-3254
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veli Sungono; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Korpomotor: Tri Edhi Budhi Soesilo, Hori Hariyanto; Penguji: Asri C. Adisasmita, Syahrizal, Antonia Lukito; Allen Widysanto; Vivien Puspitasari
D-595
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Fajar Meirawan; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Tri Yunis Miko Wahyono, Agnes Kurniawan; Penguji: Besral, Ede Surya Darmawan, Mondastri Korib Sudaryo, Budi Haryanto, Evy Yunihastuti, Umi Cahyaningsih,
Abstrak:

Pendahuluan : Serologi positif IgG mengindikasikan infeksi kronis dari Toxoplasma gondii. Perilaku seksual dianggap sebagai faktor risiko infeksi Toxoplasma gondii, karena adanya temuan keberadaan parasit ini pada cairan semen dan ejakulasi. Hal ini menjadi landasan dalam menjelaskan hubungan infeksi T. gondii dengan hubungan seks oral. Selain itu, infeksi parasit ini berhubungan dengan konsumsi bahan pangan asal hewan, khususnya daging ternak ruminansia yang dimasak dengan tidak matang. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko dan merancang model prediksi serologi positif IgG Toxoplasma gondii pada pasien HIV/AIDS yang menjalani terapi ARV di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi yang mendapatkan pendampingan dari yayasan pendamping pasien HIV/AIDS. Metode Penelitian : Desain studi penelitian menggunakan desain potong lintang. Subyek Penelitian adalah 197 pasien HIV. Status serologi IgG positif Toxoplasma gondii diukur menggunakan pemeriksaan ELISA. Hubungan seks oral, hubungan seks anal, konsumsi bahan pangan asal hewan yang dimasak tidak matang (daging ternak ruminansia, daging unggas, ikan dan udang, seafood), konsumsi sayuran mentah, pemeriksaan Toxoplasma gondii pada kucing peliharaan, keberadaan feses kucing di sekitar rumah, kebiasaan tidak mencuci tangan setelah kontak dengan tanah, dan kepemilikan tato merupakan perilaku dan kondisi lingkungan yang diduga menjadi faktor risiko serologi positif IgG Toxoplasma gondii. Hasil Penelitian: Prevalensi serologi positif IgG Toxoplasma gondii pada pasien HIV yang menjalani terapi ARV di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi yang mendapatkan pendampingan dari 4 yayasan pendamping pasien HIV/AIDS adalah 65,48%. Hubungan seks oral (aPR:1,56; β:0,446; 95%CI:1,05-2,31;p<0,026) dan konsumsi daging ternak ruminansia bakar (aPR:4,89; β:1,585; 95%CI:2,51-9,50;p<0,001) merupakan faktor risiko serologi positif IgG Toxoplasma gondii. Analisis permodelan menghasilkan model Prediksi Serologi IgG Toxoplasma gondii pada pasien HIV yang menjalani terapi ARV dan mendapatkan pendampingan dari 4 yayasan pendamping pasien HIV di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Status serologi tersebut dapat diukur menggunakan pengamatan hubungan seks oral dan konsumsi daging ruminansia bakar. Model ini memiliki tingkat akurasi, sensitivitas, dan spesifisitas model prediksi ini mencapai 87,31%, 97,67%, dan 67,65%. Kesimpulan : Hubungan seks oral dan konsumsi daging ruminansia bakar merupakan faktor risiko serologi positif IgG Toxoplasma gondii pada pasien HIV/AIDS. Proses penapisan (screening) untuk memperkirakan status serologi IgG Toxoplasma gondii, dapat dilakukan dengan mengukur hubungan seks oral dan konsumsi daging ruminansia bakar, bersamaan dengan pemeriksaan HIV. Rujukan pemeriksaan serologi Toxoplasma gondii direkomendasikan untuk diberikan kepada pasien HIV/AIDS yang berhubungan seks oral dan mengonsumsi daging ruminansia bakar. Keywords : Toxoplasma gondii; hiv; sexual behaviour; risk factor; prediction model


 

Introduction: IgG-positive serology indicates Toxoplasma gondii chronic infection. Sexual behaviour is considered a risk factor for Toxoplasma gondii infection, due to the presence of this parasite in semen and ejaculate fluids. This finding explains the relationship between T. gondii infection and oral sex. Several studies stated that parasitic infection is related to the consumption of food of animal origin, especially ruminant livestock meat that is undercooked. Research Objectives: This study aims to determine risk factors and design a positive Serology Prediction Model for IgG Toxoplasma gondii in HIV/AIDS patients undergoing ARV therapy in the Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi areas who receive assistance from HIV/AIDS foundations. Research Method: The design of this study uses a cross-section design. The research subjects were 197 HIV patients. The Serological Status of IgG positive for Toxoplasma gondii was measured using an ELISA methods. Oral sex, anal sex, consumption of food from undercooked animals (ruminant meat, poultry, fish and shrimp, seafood), consumption of raw vegetables, health monitoring in pet cats, the presence of cat faces around the house, the habit of not washing hands after contact with the ground, and the possession of tattoos are behaviours and environmental conditions that are suspected to be risk factors for positive serology IgG Toxoplasma gondii. Results: The prevalence of IgG Toxoplasma gondii positive serology in HIV patients undergoing ARV therapy in the Jakarta, Bogor, Depok, and Bekasi areas who received assistance from 4 HIV/AIDS patient companion foundations was 65.48%. Oral sex (aPR: 1.56; β: 0.446; 95%CI: 1.05-2.31; p<0.026) and consumption of grilled ruminant livestock (aPR: 4.89; β: 1.585; 95%CI: 2.51-9.50; p<0.001) is a positive serological risk factor for IgG Toxoplasma gondii. The modelling analysis produced a Serological Prediction model of IgG Toxoplasma gondii in HIV patients undergoing ARV therapy and received assistance from 4 HIV patient assistance foundations in the Jakarta, Bogor, Depok, and Bekasi areas. The serologic status can be measured using observation of oral sex and consumption of grilled ruminant meat. This model has the level of accuracy, sensitivity, and specificity of this prediction model reaching 87.31%, 97.67%, and 67.65%. Conclusion: Oral sex and consumption of grilled ruminant meat are risk factors for IgG Toxoplasma gondii positive serology in HIV/AIDS patients. The screening process to estimate the serological status of IgG Toxoplasma gondii can be done by measuring oral sex and consumption of grilled ruminant meat, along with HIV screening. Toxoplasma gondii serology test is recommended to be given to HIV/AIDS patients who have oral sex and consume grilled ruminant meat. Keywords : Toxoplasma gondii; HIV; sexual behaviour; risk factor; prediction model

Read More
D-571
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lukman Shebubakar; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: Errol Hutagalung, Subroto Sapardan; Penguji: Fahry Ambia Tanjung, Muhamad Hidayat, Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo
D-234
Depok : FKM UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Igo Cahya Negara; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Helwiah Umniyati, Junita Rosa Tiurma
Abstrak:
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada pengguna narkotika suntik (penasun) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan prevalensi tertimbang yang meningkat dari 14,3% (2018–2019) menjadi 17,1% pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi HIV pada penasun di Indonesia menggunakan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Desain penelitian adalah potong lintang (cross-sectional) dengan sampel 2.128 penasun yang direkrut melalui metode Respondent-Driven Sampling (RDS) dan memiliki status HIV terkonfirmasi laboratorium. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi Cox dengan asumsi waktu konstan untuk mengestimasi Prevalence Ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%, dengan pemodelan akhir melalui backward elimination. Proporsi HIV positif sebesar 17,06%. Model akhir multivariat mengidentifikasi tujuh variabel yang berhubungan bermakna, yaitu konsistensi penggunaan kondom sebagai faktor risiko terkuat (aPR=6,18; 95% CI: 5,11–7,48), layanan testing HIV (aPR=2,03; 95% CI: 1,53–2,67), usia (aPR=1,99; 95% CI: 1,57–2,52), pemahaman efektivitas kondom (aPR=1,46; 95% CI: 1,14–1,87), lama menjadi penasun (aPR=1,32; 95% CI: 1,04–1,67), perilaku berbagi jarum suntik (aPR=1,27; 95% CI: 1,03–1,55), serta persepsi diri merasa berisiko tertular HIV (PR=0,47; 95% CI: 0,36–0,62). Temuan ini menunjukkan bahwa jalur penularan seksual menjadi faktor dominan infeksi HIV pada penasun di Indonesia saat ini. Desain potong lintang membatasi temuan ini pada hubungan asosiasi, bukan kausal. Program penanggulangan HIV pada penasun perlu memperluas akses kondom beserta edukasi efektivitasnya, memperkuat rujukan aktif untuk layanan testing HIV, dan menyasar penasun usia lebih tua serta dengan masa pajanan napza suntik panjang sebagai kelompok prioritas dalam strategi harm reduction.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection among people who inject drugs (PWID) remains a major public health concern in Indonesia, with weighted prevalence rising from 14.3% (2018–2019) to 17.1% in 2023. This study aimed to analyze factors associated with HIV infection among PWID in Indonesia using secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). A cross-sectional design was employed with a sample of 2,128 PWID recruited through Respondent-Driven Sampling (RDS), with HIV status confirmed by laboratory testing. Data were analyzed in stages through univariate, bivariate, and multivariate analyses using Cox regression with a constant-time approach to estimate Prevalence Ratios (PR) and 95% confidence intervals, with the final model derived through backward elimination. The proportion of HIV-positive PWID was 17.06%. The final multivariate model identified seven variables significantly associated with HIV infection: condom use consistency as the strongest risk factor (aPR=6.18; 95% CI: 5.11–7.48), HIV testing service (aPR=2.03; 95% CI: 1.53–2.67), age (aPR=1.99; 95% CI: 1.57–2.52), condom effectiveness knowledge (aPR=1.46; 95% CI: 1.14–1.87), duration of injecting drug use (aPR=1.32; 95% CI: 1.04–1.67), needle-sharing behavior (aPR=1.27; 95% CI: 1.03–1.55), and self-perceived HIV risk (aPR=0.47; 95% CI: 0.36–0.62). These findings indicate that sexual transmission is the dominant factor of HIV infection among PWID in Indonesia. The cross-sectional design limits these findings to associational rather than causal inferences. HIV prevention programs for PWID should expand condom access alongside effectiveness education, strengthen active referral pathways to HIV testing services, and prioritize older PWID and those with longer injecting histories within harm reduction strategies.
Read More
T-7612
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggie Hardiyanti; Pembimbing: Helda; Penguji: Trisari Anggondowati, Sulistyo, Budi Setiawan
Abstrak:
Loss to follow up (LTFU) menjadi kontributor utama ketidakberhasilan pengobatan tuberkulosis sensitif obat (TB SO) di Provinsi DKI Jakarta, dengan proporsi 14,2–14,4% pada periode 2023–2025, jauh di atas rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu kejadian LTFU, mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan, dan membangun model prediksi risiko LTFU pada pasien TB SO di DKI Jakarta. Desain yang digunakan adalah kohort retrospektif berbasis data sekunder Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta periode 1 Januari 2023–31 Desember 2025. Sampel akhir terdiri dari 110.493 pasien. Analisis waktu kejadian dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier, regresi Cox Proportional Hazards, dan Extended Cox Regression. Dari total sampel, 18.928 pasien (17,13%) mengalami LTFU, dengan median waktu kejadian LTFU pada hari ke-64 (IQR: 30–113). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan meningkatkan risiko LTFU adalah jenis kelamin laki-laki (aHR=1,403; 95%CI=1,359–1,449), riwayat pengobatan TB sebelumnya (aHR=1,301; 95%CI=1,232–1,374), status diabetes melitus (aHR=1,232; 95%CI=1,170–1,297), diagnosis klinis (aHR=1,093; 95%CI=1,058–1,128), regimen tidak sesuai standar (aHR=1,151; 95%CI=1,070–1,239), dan usia ≥45 tahun (aHR=1,056; 95%CI=1,024–1,088). Sebaliknya, status bekerja (aHR=0,833), pelajar (aHR=0,712), dan rujukan dari fasilitas lain (aHR=0,905) bersifat protektif. Pengobatan di puskesmas menunjukkan risiko LTFU lebih rendah dibandingkan rumah sakit pada 120 hari pertama (aHR=0,316). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa LTFU dipengaruhi oleh interaksi faktor sosiodemografi, klinis, dan layanan kesehatan. Periode 64–120 hari pertama merupakan waktu kritis yang memerlukan penguatan pemantauan dan intervensi berbasis risiko.

Loss to follow up (LTFU) remains the primary contributor to treatment failure in drug-susceptible tuberculosis (DS-TB) in DKI Jakarta, with a proportion of 14.2–14.4% during 2023–2025, substantially exceeding the national average. This study aimed to analyze the time-to-event of LTFU, identify associated risk factors, and develop an LTFU risk prediction model among DS-TB patients in DKI Jakarta. A retrospective cohort design was employed using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB) of the DKI Jakarta Provincial Health Office, covering January 1, 2023 to December 31, 2025. The final sample consisted of 110,493 patients. Time-to-event analyses were conducted using the Kaplan-Meier method, Cox Proportional Hazards regression, and Extended Cox Regression. Of the total sample, 18,928 patients (17.13%) experienced LTFU, with a median time-to-LTFU of day 64 (IQR: 30–113). Multivariate analysis identified the following significant predictors of LTFU: male sex (aHR=1.403; 95%CI=1.359–1.449), prior TB treatment history (aHR=1.301; 95%CI=1.232–1.374), diabetes mellitus comorbidity (aHR=1.232; 95%CI=1.170–1.297), clinical diagnosis (aHR=1.093; 95%CI=1.058–1.128), non-standard treatment regimen (aHR=1.151; 95%CI=1.070–1.239), and age ≥45 years (aHR=1.056; 95%CI=1.024–1.088). Conversely, employment (aHR=0.833), student status (aHR=0.712), and referral from another facility (aHR=0.905) were protective factors. Patients treated at primary health centers (puskesmas) had significantly lower LTFU risk compared to hospitals during the first 120 days (aHR=0.316). These findings confirm that LTFU is determined by the interaction of sociodemographic, clinical, and healthcare service factors. The first 64–120 days of treatment represent a critical window requiring intensified monitoring and risk-stratified intervention.
Read More
T-7669
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imam Rasjidi; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-promotor: M. Farid Aziz, Akmal Taher; Penguji: Syahrizal Syarif, Soewarta Kosen, Laila Nuranna, Chaidir A Mocthar, Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Bambang Sutrisna, Farid Aziz, Akmal Taher
D-223
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elvieda Sariwati; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Hari Santoso, Arifin Nawas
T-3329
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luthfi Gatam; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: Subroto Supardan; Penguji: Respati Suryanto Drajat, Errol Untung Hutagalung, Ratna Djuwita, Agus Hadian Rahim, Angelia Bibiana Maria Tulaar
D-232
Depok : FKM UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive