Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 1226 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Agus Sudarman; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Abdul Rahman, Laila Fitria, Ali Isha Whardana, Carolina Rusdy Akib
T-4529
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), XXV, No.7, 1997, hal. 440-442. ( ket. ada di bendel 1994-2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), XXV, No.7, 1997, hal. 443-444 ( ket. ada di bendel 1994-2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), XXV, No.8, Sept. 1997, hal. 505-509. ( ket. ada di bendel 1994-2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budiyono; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sri Tjahjani Budi Utami, Esrom Hamonangan, Kodrat Pramudho
T-4569
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pranatiwi Nur Tsani; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahkani Budi Utami, Rahman, Ika Lastyaningrum, Sumiati
T-4703
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haeranah Ahmad; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Zakianis, Didik Supriyono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Konsentrasi PM2,5 di udara dapat mempengaruhi kesehatan apabila terhirup olehmanusia karena akan terdeposit ke dalam alveoli yang akan menimbulkan reaksiradang yang mengakibatkan daya kembang paru menjadi terbatas danmenurunkan fungsi paru pada manusia. Pekerja yang bekerja di industri kerajinanbatu ukir mempunyai risiko tinggi terpajan oleh PM2,5 yang dihasilkan dari prosespemotongan, pembentukan dan penghalusan menggunakan gerinda. Penelitian inibertujuan mengetahui hubungan pajanan debu PM2,5 terhadap gangguan fungsiparu pada pekerja dengan desain studi cross sectional yang dilakukan padaseluruh pekerja industri kerajinan batu ukir yang memenuhi kriteria inklusi daneksklusi di desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrapsebanyak 100 orang. Pemeriksaan faal paru menggunakan spirometri sedangkanpengukuran konsentrasi PM2,5 di ruang kerja menggunakan Haz dust EPAM 5000.Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil analisismenunjukkan hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengangangguan fungsi paru (4,17 ;1,68- 10,38). Faktor lain yang mempengaruhi adalahmasa kerja (2,41; 1,05-5,52) dan kecepatan angin (4,77 ;1,93-11,77). Pada analisismultivariat menunjukkan bahwa pekerja yang bekerja pada lingkungan kerjadengan konsentrasi PM2,5 yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko 6,86 kalimenderita gangguan fungsi paru setelah dikontrol dengan variabel kecepatanangin, kelembaban, suhu, masa kerja dan penggunaan APD. Penelitian inimenyimpulkan didapatkan hubungan bermakna antara tingkat pajanan debu batudengan gangguan fungsi paru. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalianterhadap pajanan debu batu dan hasil penelitian ini diharapkan dapatdipergunakan sebagai acuan pelaksanaan program kesehatan dan keselamatanpada pekerja serta pelaksanaan monitoring lingkungan kerja serta surveilanskesehatan kerja.
Kata kunci : Gangguan fungsi paru, Industri pemotongan batu, PM2,5
PM2,5 concentration on the air can affect health when inhaled by human. It will bedeposited in the alveoli that could inflict an inflammatory reaction that causereduce lung volume and decreasing the lung function in human. Workers whowork in stone carving craft industry had a high risk of PM2,5 exposure that resultedfrom the process of cutting, forming and refining by using grinder. This crosssectional study purposed to assess the relationship between exposure of PM2,5 dustand impaired lung function among 100 workers who had fulfilled the inclusionand exclusion criteria in the Allakuang village, Maritengngae subdistrict, SidrapDistrict, South Sulawesi Province. Lung function was assessed by spirometry.PM2,5 concentration in the workspace was assessed by Haz dust EPAM 5000.Logistic regression analysis was carried out and showed a significant correlationbetween the PM2,5 concentration with impaired lung function (4,2; 1,68- 10.38).Another determinant factor was the work duration (2.4; 1,05-5,52) and wind speed(4,8; 1.93-11.77). Multivariate analysis showed that worker who work on thework space with high concentration of PM2,5 tend to have 6.86 times higher risk ofsuffering from impaired lung function after adjusted by wind speed, humidity,temperature, work duration and using PPE (Personal protective equipment). Therewas significant association between the level of dust exposure with impaired lungfunction. Hence, it is necessary to control the dust exposure.The finding of thisstudy could be used as a consideration of health and safety programsimplementation among workers and monitoring the implementation of work spaceand also the surveillance of occupational health.
Key words: impaired lung function, Stone cutting industry, PM2,5
Read More
T-4713
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nila Puspita Sari; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Budi Hartono, Suyud Warno Utomo, Setyadi, Carolina, Rusdy Akib
Abstrak: Kromium merupakan salah satu di dalam 129 polutan prioritas di dalam catatanThe Environmental Protection Agency (EPA). Pada penelitian sebelumnyakromium memiliki risiko (RQ) paling tinggi sebesar 3,371 pada air minum(konsentrasi 0,29 mg/l). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi risikopajanan kromium dari sumber air minum dan bahan pangan terpilih. MetodePublic Health Assessment (PHA) digunakan untuk melihat evaluasi pemajanandan evaluasi efek kesehatan, serta kepedulian masyarakat. Sampel penelitian iniadalah 60 rumah tangga dengan menguji 12 sampel air, 12 sampel beras, 4 sampellabu siam, dan 4 sampel buah pisang dengan laju konsumsi tertinggi. Dataantropometri, pola konsumsi, dan pola aktivitas penduduk dikumpulkan denganwawancara kuesioner untuk mengetahui intake pajanan kromium penduduk.Proporsi gangguan gastrointestinal dan gangguan kulit dilihat sebagai efek kritisdari pajanan kromium (VI) secara ingesti. Hasil penelitian menunjukkan rata-ratakonsentrasi kromium (VI) pada beras sebesar 0,093 mg/kg, pada labu siam 0,048mg/kg, dan 0,268 mg/kg pada pisang. Sampel makanan diukur berdasarkan nilailimit batas alat ukur 0,035 mg/kg. Sedangkan untuk air, nilai kandungan kromium(VI) tidak terdeteksi, nilai ini masih di bawah nilai baku mutu PeraturanPemerintah No. 8 Tahun 2001 yaitu 0,05 mg/liter di dalam kromium total. Tingkatrisiko pajanan kromium pada air yang dikonsumsi bernilai kecil dari 1 yangberarti tidak berisiko, sedangkan untuk semua bahan makanan pada kelompokusia dewasa nilai risiko nya adalah lebih dari 1. Proporsi kejadian diare adalahsebanyak 13,33% dan 30% mengalami gangguan kulit.
Kata Kunci : Kromium, Public Health Assessment, Desa Bantar Karet, RiskQuotient
Chromium is one of 129 pollutants priority in the Environmental ProtectionAgency listed. Previous studies show that chromium have the highest risk 3,371indrinking water with 0,29 mg/l concentration. This research aims to know theestimated risk exposure of chromium from drinking water and food elected. Themethods of Public Health Assessment (PHA)is used to evaluated exposure andhealth effect, and the community concern. Research sample are 60 householdswith 12 samples of water, 12 rice, 4 chayote, and 4 bananas (food with the highestconsumption). Anthropometry data, consumption and activity patterns of residentsgathered with questionnaires to know the exposure intake of chromium in thepopulation. The proportion of gastrointestinal and skin disorders are seen as thecritical effects of chromium (VI) exposure. The results showed an average ofchromium (VI) in rice 0,093 mg/kg, in chayote 0,048 mg/kg, and 0,268 inbananas. All food samples are measured by limit of detection 0,035 mg/kg. Theresults for chromium (VI) in the sample of water is not detected and still safebelow the Government Regulation No.8/2001(0,05 mg/l in chromium total). Therisk exposure of chromium in the water consumed worth less than 1 which meansno risk, while for all foods in adult age was greater than 1. The proportion ofdiarrhea is 13,33% and 30% have skin disorders.
Keywords : Chromium, Public Health Assessment, Bantar Karet Village, RiskQuotient
Read More
T-4735
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Putri Lan Lubis; Pembimbing: Laila Fitria, Bambang Wispriyono; Penguji: Abdur Rahman, Sonny P. Warouw, Didi Purnama
Abstrak: Merkuri merupakan polutan global yang banyak ditemukan baik alam maupunhasil kegiatan manusia. Salah satu sumber pencemaran terbesar merkuri berasaldari pertambangan emas skala kecil (PESK) yang dilakukan oleh masyarakat.Mekanisme yang tepat dari efek toksik Hg masih belum jelas, namunmalondialdehide (MDA) merupakan salah satu biomarker utama yang digunakanuntuk mengetahui kejadian stres oksidatif akibat pajanan merkuri. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis kejadian stres oksidatif melalui pengukuran MDAplasma darah pada masyarakat yang terpajan merkuri. Metode penelitian inimenggunakan desain cross sectional, pemilihan sampel menggunakan sistemrandom sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 69 responden yangterdiri dari 18 laki-laki dan 51 perempuan. Pengukuran kadar total merkuri darahmenggunakan alat ICP-MS dan pemeriksaan kadar Malondialdehide denganmenggunakan TBARS. Usia, jenis kelamin, pekerjaan, status merokok danaktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar merkuri dalam darah masyarakat adalah 11,09 μg/L dan kadar MDAadalah 0,419±0,130 nmol/ml. Berdasarkan uji statistik, kadar merkuri dalam darahmanunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan terhadap peningkatan kadarMDA setelah dikontrol dengan usia, jenis kelamin, pekerjaan, status merokok danaktivitas fisik. Namun, orang dengan kadar merkuri dalam darah >5,8 μg/Lmemiliki risiko 1,27 kali lebih tinggi untuk mengalami stres oksidatif (dengankadar MDA >0,419 nmol/ml) dibanding orang dengan kadar merkuri darah < 5,8μg/L. Untuk penelitian berikutnya disarankan dengan mengukur biomarker stresoksidatif lainnya seperti Superoxyde dismutase (SOD) dan 8-hydroxy-2-deoxyguanosine (8-OHDG).
Read More
T-4774
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sifa Fauzia; Pembimbing: Laila Fitria, Bambang Wispriyono; Penguji: Abdur Rahman, Sonny P. Warouw, Didi Purnama
Abstrak: Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di Indonesia menjadi salah satu usahamemperbaiki situasi ekonomi masyarakat di beberapa daerah. Namun, merkuri(Hg) yang digunakan untuk mengekstrak emas langsung dibuang ke lingkungan,sehingga menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Banyak penelitian menunjukkanpajanan Hg mengurangi tingkat antioksidan tubuh. Glutathione (GSH) adalahsalah satu antioksidan alami tubuh yang penting karena bertindak sebagai salahsatu faktor detoksifikasi Hg.Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan antara kadar merkuri dan totalGSH dengan karakteristik individu masyarakat di wilayah PESK Desa Lebaksitu.Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional. Kadar merkuri dan totalGSH diukur dalam darah. Hubungan antara merkuri, total GSH, dan karakteristikindividu (usia, jenis kelamin, status merokok, aktivitas fisik, dan indeks massatubuh) diuji menggunakan model regresi, korelasi, dan independen t-Test.Rata-rata merkuri darah 11,09 ± 10,6 μg/L, lebih tinggi dari batas US EPA. Rata-rata total GSH 0,874 ± 0.123 μg/mL. Di antara hubungan total GSH dengankarakteristik individu, hanya aktivitas fisik yang memiliki hubungan signifikan (p= 0,021; 95% CI -0127 - 0,01). Responden dengan kadar merkuri darah >5,8 μg/Lmemiliki risiko 2,431 kali lebih tinggi untuk memiliki total GSH <0,874 μg/mLdibandingkan responden dengan kadar merkuri darah <5,8 μg/L. Setiap kenaikankadar merkuri darah sebesar 1 μg/L dapat menurunkan total GSH sebanyak 0,002μg/mL setelah dikontrol usia, IMT, dan aktivitas fisik.Diperlukan upaya menyeluruh dari instansi lintas sektor untuk mengurangipenggunaan merkuri dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat di sekitarPESK.Kata kunci: PESK, merkuri, GSH, karakteristik individu, analisis multivariat.
Read More
T-4775
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive