Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 996 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Prasita Ayu Widyaningtyas; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Dumilah Ayuningtyas, Bahrul Fuad, Widha Dessy Ardiana
Abstrak: Perempuan disabilitas menjadi kelompok rentan yang dapat mengalami kekerasan seksual akibat kondisi disabilitas dan ketidaksetaraan gender yang saling beririsan. Pada tahun 2020, kekerasan pada perempuan disabilitas di Indonesia sebesar 77 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui help seeking behavior oleh perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual dengan menggunakan model perilaku pencarian bantuan dari Liang (2005) yang meliputi faktor individu, faktor interpersonal, faktor sosial budaya. Dimana faktor tersebut akan memengaruhi pengenalan masalah, pengambilan keputusan untuk mencari bantuan, dan pemilihan sumber dukungan. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus di lembaga X Yogyakarta dengan 4 perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual dan 7 informan kunci. Hasil wawancara mendalam pada mayoritas penyintas menggambarkan persepsi keliru mengenai pemahaman kekerasan seksual dimana kekerasan diartikan sebagai tindakan disertai pemukulan dan bukan pemaksaan. Penyintas memahami kekerasan seksual setelah bergabung ke komunitas disabilitas dan mengikuti pelatihan kekerasan. Semua penyintas awalnya diam dan tidak langsung memutuskan untuk mencari bantuan karena adanya budaya yang menyebutkan bahwa disabilitas adalah orang yang terpinggirkan, kekerasan dalam rumah tangga wajar, dan istri harus patuh pada suami. Sumber bantuan informal dipilih sebagai problem focused coping pada penyintas dibandingkan dengan sumber bantuan formal. Hanya sebagian penyintas yang lanjut mencari bantuan hingga ke sumber formal akibat keluarga yang mendukung atau karena dilakukan pasangan hidupnya. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pemerintah melakukan sosialisasi kepada lembaga yang menangani kasus kekerasan terkait kebijakan tentang penyandang disabilitas serta penyebaran informasi mengenai hak disabilitas, cara pelaporan, dan penanganan kasus. Bagi masyarakat, maka diperlukan sosialisasi terkait kekerasan seksual agar dapat melindungi perempuan disabilitas
Read More
T-6391
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Annisa Sayyidatul Ulfa; Pembimbing: Rita Damayanti, Evi Martha; Penguji: Hanny Handiyani, Sakri Sabatmadja, Pribudiarta Nur Sitepu
Abstrak: Indonesia merupakan peringkat ketiga negara dengan angka perokok tertinggi setelah China dan India. Indonesia juga mengalami kenaikan prevalensi perokok anak dari 7,2% (Riskesdas, 2013) menjadi 9,1% (Riskesdas, 2018) yang secara spesifik ditemukan pula adanya fenomena perokok balita. Munculnya fenomena perokok balita di Indonesia menunjukan adanya pola asuh pembiaran yang dilakukan oleh orang tua terhadap balita yang merokok. Hal tersebut terjadi karena perilaku merokok mendapat penerimaan sosial yang positif, dianggap sebuah kebiasaan yang lumrah di masyarakat, dan juga merupakan bagian dari warisan budaya serta daily life di Indonesia. Pengabaian menjadi bentuk pola asuh orang tua yang menyebabkan kejadian perilaku merokok balita, yang mana balita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sulit mengontrol diri, serta peniru yang baik. Lingkungan sosial yang memberikan rokok, mengolok-olok, dan menganggap lucu juga mendukung terhadap perilaku dan normalisasi merokok balita menjadikan balita dibiarkan merokok, mudah untuk memulai dan mencandu rokok. Diharapkan hal tersebut dapat menjadi landasan bagi pemerintah untuk dapat memperkuat kebijakan pengendalian tembakau khususnya menekan normalisasi perilaku merokok, juga agar melindungi balita dari ancaman adiksi rokok.
Read More
T-6429
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Imelda Sussanti Nailius; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Rudy Priyono, Tiurmasari E. Saragih
Abstrak: Tuberkulosis merupakan salah satu prioritas utama masalah kesehatan saat ini dengan jumlah kasus yang diobati dan dilaporkan di Indonesia masih dibawah target nasional pada tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis di Kota Kupang dilaporkan dalam empat tahun terakhir belum tercapai secara optimal. Salah satu faktor ketidakberhasilan minum obat disebabkan karena jangka waktu minum obat yang lama yang memungkinkan untuk terjadi ketidakpatuhan dalam minum obat. Ketidakpatuhan dalam minum obat dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan, pengobatan ulang maupun resisten terhadap obat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan determinan sosial dan literasi kesehatan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis di Kota Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di puskesmas di Kota Kupang. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner secara online (self administered survey) pada 126 penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di 11 puskesmas di Kota Kupang. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan 23,8 % penderita tuberkulosis tidak patuh dalam minum obat tuberkulosis. Variabel literasi kesehatan (p=0,008) dan umur responden (p=0,029) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis. Literasi kesehatan menjadi variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis setelah di kontrol oleh variabel umur, pendidikan dan pendapatan. Pentingnya kolaborasi terintegrasi antara berbagai lembaga terkait untuk melakukan edukasi terkait tuberkulosis lewat berbagai media dapat meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan kepatuhan minum obat tuberkulosis.
Tuberculosis is one of the most challenging public health issues at the moment, with the number of cases being treated and reported in Indonesia still falling short of the national objective for 2021. In the last four years, the success rate for tuberculosis treatment in Kupang City has not been optimal. One of the reasons people fail to take medication is because they have been taking it for a long time, which allows for non-compliance. Non-adherence in taking medication can lead to treatment failure, re-treatment or drug resistance. The purpose of this study was to determine the relationship between social determinants and health literacy with medication adherence for tuberculosis patients in Kupang City. This study is a cross-sectional quantitative study that was carried out on tuberculosis patients receiving care at a medical facility in Kupang City. Data were collected by filling out online questionnaires (self-administered survey) on 126 tuberculosis patients who were undergoing treatment at 11 health centers in Kupang City. Simple logistic regression and multiple logistic regression were used to analyze the data. According to the study's findings, 23.8 percent of tuberculosis patients did not take their tuberculosis medications. Health literacy variables (p=0.008) and respondent age (p=0.029) with p-value 0.05 were shown to be significantly related to tuberculosis patients' medication adherence. After adjusting for age, education, and income, health literacy emerged as the most influential variable in affecting medication adherence in tuberculosis patients. The significance of integrated collaboration among multiple associated entities to undertake tuberculosis education through various media can improve public health literacy and adherence to tuberculosis medications.
Read More
T-6470
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Shelly Shalihat; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Anhari Achadi, Dien Anshari, Evy Kurniawati, M. Mathla'il Fajri
Abstrak: Latar Belakang: Berdasarkan data per 20 September 2021 di 46.500 sekolah, ada 2,8 persen atau 1.296 sekolah yang melaporkan klaster COVID-19. Klaster COVID-19 paling banyak terjadi di SD/MI yaitu 2,78 persen. Per tanggal 18 Maret 2021 Angka kematian di Provinsi Lampung mencapai 5,32 persen atau berada di atas rata-rata nasional, yakni 2,71 persen. Berdasarkan SE Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bandar Lampung Nomor : 420/1254/IV.40/2022 tentang pembelajaran tatap muka pada masa pandemi COVID-19 dilaksanakan pada hari senin tanggal 14 Maret 2022. MIN 8 Bandar Lampung adalah MIN percontohan yang terletak sangat dekat dengan pemukiman padat penduduk, luas bangunan sekolah yang tidak terlalu besar memiliki jumlah siswa paling banyak serta memiliki interaksi dengan masyarakat luar yang sangat aktif. Berdasarkan dari studi pedahuluan yang sudah peneliti lakukan ternyata didapatkan hasil bahwa perilaku 3M siswa MIN 8 Bandar Lampung masih kurang disiplin.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan perilaku 3M pencegahan COVID-19 pada siswa MIN 8 Bandar Lampung Tahun 2022. Metode: Menggunakan desain penelitian cross sectional survey, subjek diukur dan diamati hanya satu kali dalam penelitian ini. Hasil: Siswa kelas 5 (62,9%) MIN 8 Bandar Lampung tahun 2022 menerapkan perilaku 3M. Variabel pengetahuan (56,7%), sikap (62,9%), pola asuh (58,8%), dukungan guru (70,1%), dukungan teman sebaya (62,9%), peraturan sekolah (50,5%) dan sarana prasarana (56,7). Variabel terpenting yang terkait dengan penggunaan perilaku 3M adalah kebiasaan orang tua, dengan OR 3.095 (95% CI: 1.315-7.284). Kesimpulan: Kebiasaan orang tua dan peraturan sekolah secara signifikan berhubungan dengan perilaku 3M. Variabel yang paling dominan terkait dengan perilaku 3M adalah kebiasaan orang tua dan peraturan sekolah setelah mengontrol dukungan teman sebaya.
Background: Based on data as of September 20, 2021 in 46,500 schools, there were 2.8 percent or 1,296 schools that reported COVID-19 clusters. Most of the COVID-19 clusters occurred in SD/MI, namely 2.78 percent. As of March 18, 2021, the death rate in Lampung Province reached 5.32 percent or was above the national average, which was 2.71 percent. Based on the SE Head of the Education and Culture Office of Bandar Lampung Number: 420/1254/IV.40/2022 regarding face-to-face learning during the COVID-19 pandemic, it was held on Monday, March 14, 2022. MIN 8 Bandar Lampung is a pilot MIN located very close to with densely populated settlements, the school building area is not too large and has the largest number of students and has very active interactions with the outside community. Based on the preliminary study that has been carried out by the researchers, it turns out that the 3M students of MIN 8 Bandar Lampung still lack discipline. Objective: To determine the factors related to the application of 3M behavior as a prevention of COVID-19 in students of MIN 8 Bandar Lampung in 2022. Methods: using a cross sectional study design where in this study the subject was only measured and observed once. Result: 5th grade students of MIN 8 Bandar Lampung in 2022 (62.9%) apply 3M behavior. Variables of knowledge (56.7%), attitudes (62.9%), parenting (58.8%), teacher support (70.1%), peer support (62.9%) school regulations (50.5%) and infrastructure (56.7). The most dominant variable related to the application of 3M behavior is the habituation of parents with OR 3,095 (95% CI: 1.315-7,284). Conclusion: There is a significant relationship between parental habits and school rules with 3M behavior. The most dominant variables related to 3M behavior are parental habits after controlling for peer support, and school rules.
Read More
T-6566
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Istaniya Sumantri; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tiara Amelia, Dewi Suhartini
Abstrak: Terdapat pergeseran usia pada penderita diabetes melitus di wilayah Puskesmas Bogor Timur. Pada tahun 2021 diagnosis untuk penderita diabetes melitus termuda yang ditemukan di Puskesmas Bogor Timur adalah pada usia 29 tahun. Sementara pada tahun 2022 sampai bulan Juli, usia penderita diabetes melitus termuda ditemukan pada usia 19 tahun. Penelitian dilakukan untuk mengetahui determinan yang mempengaruhi perilaku pencegahan diabetes melitus pada remaja. Sebuah studi cross-sectional yang dilakukan pada 110 siswa di SMAN 3 Kota bogor yang terpilih sebagai sampel acak. Penelitian ini dilakukan dari November hingga Desember 2022. Data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur melalui gform. Data dimasukan kedalam SPSS untuk dianalisis secara univariat dan bivariat. Pada analisis bivariat, variabel dengan nilai p=0,05 dianggap berhubungan secara signifikan. Nilai rata-rata yang diperoleh dari perilaku pencegahan diabetes melitus pada remaja sebesar 64,7 (skala 100). Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p=0,006), persepsi kerentanan (p=0,002), persepsi tingkat keparahan (p=0,018), persepsi manfaat (p=0,011), persepsi hambatan (p=0,001), dan sumber informasi (p=0,034) dengan perilaku pencegahan diabetes melitus pada remaja. Upaya dalam peningkatan kesadaran dalam melakukan pencegahan diabetes melitus perlu ditingkatkan untuk menghasilkan generasi yang terbebas dari penyakit katastropik khususnya diabetes melitus.
There is an age shift in patients with diabetes mellitus in the East Bogor Health Center area. In 2021 the diagnosis for the youngest person with diabetes mellitus found at the East Bogor Health Center was at the age of 29 years. Meanwhile, in 2022 until July, the age of the youngest patient with diabetes mellitus was found to be 19 years old. This research was conducted to determine the determinants that influence diabetes mellitus prevention behavior in adolescents. A cross-sectional study was conducted on 110 students at SMAN 3 Bogor City who were selected as a random sample. The study was conducted from November to December 2022. Data were collected using a structured questionnaire through gform. Data were entered into SPSS for univariate and bivariate analysis. In bivariate analysis, variables with p=0.05 were considered significantly associated. The mean value obtained from adolescent prevention behavior was 64.7 (scale 100). There are asignificant relationship between knowledge (p=0.006), perceived susceptibility (p=0.002), perceived severity (p=0.018), perceived benefits (p=0.011), perceived barriers (p=0.001), and sources of information (p=0.034) with diabetes mellitus prevention behavior in adolescents. Efforts to increase awareness in preventing diabetes mellitus need to be increased to produce a generation free from catastrophic diseases, especially diabetes mellitus.
Read More
S-11218
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Meita Ilyana; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Evi Martha, Hervita Diatri, Chandra Rudyanto
Abstrak: Sebagian besar kasus COVID -19 saat ini memiliki gejala ringan dan tidak bergejala serta adanya potensi reaktivasi pada pasien pasca rawat di rumah sakit mendasari pentingnya pemantauan kepatuhan keluarga dalam mengimplementasikan protokol perawatan pasien pasca rawat COVID-19 di rumah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kepatuhan keluarga terhadap protokol perawatan pasien pasca rawat COVID-19 di rumah dan mengidentifikasi faktor-faktor apa saja (usia, jenis kelamin, pendapatan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, dukungan petugas kesehatan, dukungan pelaku rawat pengganti) yang mempengaruhinya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada 72 pasien pasca rawat COVID-19 di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Pengumpulan data dilakukan melalui daring bersama tim COMIC RSCM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga memiliki kepatuhan cukup baik dalam menerapkan protokol perawatan pasien di rumah dengan rata-rata score 81 dari skala 100. Diketahui diantara faktor usia, jenis kelamin, pekerjaan, pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan pelaku rawat pengganti, faktor pengetahuan (p-value=0,004) dan ketersediaan fasilitas (pvalue=0,012) merupakan faktor dominan yang berhubungan signifikan dengan kepatuhan keluarga dalam menerapkan protokol perawatan pasien pasca rawat COVID19 di rumah. Responden yang memiliki pengetahuan baik berpotensi 5,312 kali untuk memiliki kepatuhan yang tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan kurang. Selain itu, responden yang memiliki ruangan khusus dengan ventilasi baik juga berpotensi 5,2 kali untuk dapat menerapkan pedoman pencegahan penularan COVID-19 selama merawat pasien di rumah, dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki ruangan khusus. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa secara umum kepatuhan keluarga dalam menerapkan protokol perawatan COVID-19 di rumah sudah baik dan faktor pengetahuan serta ketersediaan fasilitas memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi kepatuhan tersebut.
Read More
T-6028
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Wa Ode Sri Andriani; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Ahmad Syafiq, Ruslan Majid, Fikki Prasetya
Abstrak: Literasi gizi fungsional menjadi keterampilan dasar dan penting yang dibutuhkan seseorang dan promosi kesehatan di era penyakit akibat masalah gizi semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan determinan sosial dan literasi gizi fungsional pada mahasiswa S1 reguler tahun pertama di Universitas Halu Oleo. Disain penelitian menggunakan disain cross sectional, penelitian ini mengambil data dari Studi Literasi Kesehatan 2019 di Universitas Halu Oleo, Provinsi Sulawesi Tenggara (n=359). Pengukuran literasi gizi dilakukan menggunakan instrumen The Newest Vital Sign (NVS) berisi 6 pertanyaan mengenai label gizi yang telah diadaptasi. Analisis menggunakan regresi linier berganda dengan literasi gizi fungsional sebagai variabel dependen dan determinan sosial seperti jenis kelamin, suku, status tempat tinggal, uang saku, akses layanan kesehatan, dan akses informasi kesehatan sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi gizi fungsional mahasiswa kurang memadai (M=2,47; SD=1,285). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan hubungan signifikan antara skor literasi gizi fungsional dengan determinan sosial jenis kelamin (β=0,30, p=0,019). Hasil ini mengindikasikan hubungan yang lemah antara determinan sosial dan literasi gizi fungsional pada mahasiswa. Dan diperlukan upaya pengembangan edukasi terkait label gizi guna membantu mahasiswa dalam meningkatkan literasi gizi fungsional
Functional nutiriton literacy is a basic and important skill that a person needs and health promotion in an era of disease due to nutritional problems is increasing. This study aims to determine the associated between social determinants and functional nutrition literacy in first-year regular undergraduate students at Halu Oleo University. This research using cross-sectional, that takes data from Health Literacy Study 2019 at Halu Oleo University, Southeast Sulawesi Province (n=359). The measuremenet of nutritional literacy was carried out using The Newest Vital Sign (NVS), containing 6 questions regarding adapted nutrition labels. The analysis used multiple linier regressin, with functional nutrition literacy as the dependent variable and social determinants such as gender, ethnicity, residence status, pocket money, access to health services, and access to health information as independent variables. The results showed that the functional nutrition literacy level of the students was inadequate (M=2,47; SD=1,285). The results of multiple linear regression analysis showed a significant relationship between functional nutrition literacy scores and social determinantas, gender (β=0,30, p=0,019). These results indicate a weak relationship between social determinants and functional nutrition literacy. And efforts are needed to develop education related to nutrition labels to assist students to improve functional nutritional literacy
Read More
T-6032
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Muhammad Amin Arigo Saci; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Indri Hapsari Susilowati, Syahrul Effendi Panjaitan, Prio Ambardi
Abstrak: Pola hidup kurang aktifitas fisik, dan stress banyak dialami oleh pegawai perkantoran yang umumnya melakukan aktifitas mulai dari pagi hari hingga sore hari, bahkan sampai malam hari jika ada tugas tambahan.Kondisi ini tentu akan berdampak pada kesehatannya antara lain bisa memicu terjadinya Sindrom Metabolik (SM). Konsekuensi selanjutnya berpotensi menyebabkan terjadinya penyakit degenaritf. Akibat nya secara keseluruhandapat membuat perusahaan menjadi rugi. Menurut ILO diperkirakan kerugian yang dialami perusahaan sebagai dampak penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja setiap tahun lebih dari US$ 2,8 triliun atau sekitar 4% dari produk domestic bruto. Saat ini Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi ancaman yang sangat serius. Pada tahun 2008 World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa ada 57 Juta kematian terjadi di dunia, sebanyak dua pertiganya atau setara lebih kurang 36 juta disebabkan oleh PTM. Dalam menghadapi permasalahan kesehatan global, WHO membuat sebuah landasan dalam kerangka berpikir yang telah di adopsi oleh banyak negara yaitu Piagam Ottawa. Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat peranan promosi kesehatan di tempat kerja dalam mencegah SM pada karyawan di PT Angkasa Pura Kargo (APK) Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan design Rapid Assist Procedure (RAP). Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Informan dalam penelitian ini berjumlah 7 orang yang terdiri dari 5 informan utama dan 2 informan kunci. Dalam proses penelitian ini pengolahan dan analisis data dimulai dengan mendokumentasikan hasil wawancara dan catatan lapangan yang diperoleh selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan pada aspek health policy belum ada kebijakan yang secara khusus mengenai SM, dari aspek supportif environment yang terbagi menjadi fisik yang ditinjau dari fasilitas dan nonfisik berupa budaya kerja, secara lingkungan fisik PT APK telah menyediakan fasilitas sarana lingkungan kerja yang kondusif supaya pekerja dapat nyaman dalam melakukan pekerjaan nya dan sarana olahraga untuk melakukan aktifitas fisik, sedangkan aspek lingkungan nonfisik yakni budaya khusus untuk mencegah SM belum ada, meskipun demikian perusahaan telah membuat upaya budaya sehat dengan membuat media informasi ditiap meja agara karyawan mebiasakan posisi duduk yang ergonomi. Dari aspek community action yang terdiri dari internal dan eksternal. Secara internal telah ada kegiatan penggerakan aksi masa dalam upaya pencegahan SM yaitu olahraga bulutangkis. Namun bersifat sukarela. Aspek personal skill untuk mencegah SM ditempat kerja belum ada, karena informan tidak mngetahui SM. Namun, informan mempunyai cara yang berbeda dalam meningkatan nya, ada yang lewat media onlin dll. Dan aspek terakhir yaitu aspek reorient health menunjukan hasil bahwa perusahaan belum mempunyai klinik khusus. Meskipun begitu, terdapat upaya kesehatan yang diberikan induk perusahaan, yaitu dengan penyediaan klinik Sentra Medika sebagai fasilitas kesehatan pertama. Kesimpulan Berdasarkan kajian mengenai peranan promosi kesehatan ditempat kerja dalam mencegah SM pada karyawan PT APK Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang 2019 aspek yang paling mendekati pemenuhan nya adalah aspek supportive environment secara fisik. Hal ini dapat terlihat dari perusahaan yang telah menyediakan sarana olaharaga untuk dimanfaatkan dan lingkungan kerja yang kondusif untuk melakukan kegiatan bekerja
Read More
T-5814
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Ayu Amalia Rahmi; Pembimbing: Ella Nurllaella Hadi; Penguji: Hadi Pratomo, Dadan Erwandi, Dian Kristiani Irawanty, Lovely Daisy
Abstrak: Tingginya angka perilaku seksual pranikah pada remaja pria di Indonesia berisiko terhadap masalah kesehatan. Keluarga khususnya orangtua ikut berperan dalam upaya mencegah hubungan seksual pranikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran informasi kesehatan reproduksi (kespro) dari keluarga terhadap perilaku seksual pranikah remaja pria umur 15-24 tahun di Indonesia. Penelitian ini merupakananalisis lanjut data SDKI-KRR tahun 2017 yangmenggunakan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 7.030 remajapria yang memenuhi kriteria: remaja pria berumur 15-24 tahun dan belum kawin.Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 11% remaja pria pernah melakukan hubungan seksual pranikah, sedangkan yang pernah mendapatkan informasi kespro dari keluarga hanya sebesar 19,5%.Informasi kesprodari keluarga berperan terhadap perilaku seksual pranikah remaja pria di Indonesia setelah dikontrol oleh tingkat pendidikan dan diskusi kespro dengan guru. Remaja yang tidak mendapatkan informasi kespro dari keluarga dan berpendidikan rendah berpeluang hampir 4kali untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang mendapatkan informasi kespro dari keluarga, sedangkan remaja yang tidak mendapatkan informasi kespro dari keluarga dan berpendidikan tinggi berpeluang 3,5kali untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang mendapatkan informasi kespro dari keluarga. Remaja yang tidak mendapatkan informasi kespro dari keluarga dan tidak pernah berdiskusi dengan guru mengenai kesproberpeluang hampir 4 kali untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang mendapatkan informasi kespro dari keluarga, sedangkan remaja yang tidak mendapatkan informasi kespro dari keluarga dan pernah berdiskusi dengan guru mengenai kespro berpeluang 3,3 kaliuntuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang mendapatkan informasi kespro dari keluarga. Harapannya, BKKBN melalui program GenRe (PIK R/M, dan BKR) dapat lebih ditingkatkan pemanfaatannya oleh remaja pria dan orang tua remaja terutama ayah, sedangkan program PKPR, Kemenkes perlu lebih banyak menjangkau remaja pria di Indonesia sehingga dapat membantu penurunan angka perilaku seksual pada remaja pria di Indonesia.
The high rate of premarital sexual behavior in male adolescents in Indonesia at risk for health problems. Families, especially parents, play a role in preventing premarital sexual intercouse. This study aims to determine the role of reproductive health information from families on premarital sexual behavior of male adolescents aged 15-24 years in Indonesia. This study is a further analysis of the 2017 IDHS-KRR data using a cross sectional design with a sample of 7,030 male adolescents who meet the criteria: male adolescents aged 15-24 years and unmarried. The results showed that about 11% of male adolescents had premarital sexual intercourse, while only 19.5% had received information on health issues from their families. Reproductive health information from family contribute to adolescent premarital sexual intercouse of male adolescents in Indonesia after being controlled by the level of education and reproductive health discussions with teachers. Adolescents who do not get reproductive health information from their families and have low education are nearly 4 times more likely to have premarital sexual intercourse compared to adolescents who get reproductive health information from their families, while adolescents who do not get reproductive health information from their families and are highly educated are 3.5 times more likely to have premarital sexual intercouse compared adolescents who get reproductive health information from their families. Adolescents who do not get information on reproductive health from their families and have never discussed with the teacher about reproductive health are nearly 4 times more likely to have premarital sexual intercourse than adolescents who get information on health care from their families, while adolescents who do not get information on reproductive health from their families and have had discussions with teachers about reproductive health have the opportunity 3.3 times for having premarital sexual intercourse compared to adolescents who get reproductive health information from their families. The hope is that the BKKBN through the GenRe program (PIK R / M, and BKR) can be further utilized by young men and teenage parents, especially fathers, while the PKPR program, the Ministry of Health needs to reach more young men in Indonesia so that it can help reduce the number of sexual behavior young men in Indonesia.
Read More
T-6043
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
SemukasaPhilimon; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Ahmad Syafiq, Sabarinah B. Prasetyo, Evi Fatimah, Bayu Krisnamurthi
Abstrak:
Latar Belakang: Meskipun kerawanan pangan diidentifikasi pada akhir tahun 1970-an, hal tersebut masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Masalah tersebut menjadi beban bagi pelayanan kesehatan dan masyarakat karena para korban mengonsumsi makanan bergizi buruk sehingga mengakibatkan kekurangan gizi dan penyakit-penyakit kronis.
Tujuan: Untuk menentukan apakah ada hubungan antara panen kedelai dan ketahanan pangan di 25 desa di Uganda Utara.
Metode: studi eksperimen Kuasi One-Shot, berfokus pada 93 rumah tangga dari data sekunder proyek VODP 2016 - 2018. Digunakan uji T paired, Chi square, dan analisis multivariat. Variabel bebas utama panen kedelai (50,5% panen besar), ketahanan pangan tidak bebas (77,4% makanan aman)
Hasil: Ada perbedaan besar dalam rata-rata panen kedelai sebelum dan sesudah intervensi nilai P = 0,0005. Ada hubungan antara panen kedelai dan ketahanan pangan nilai P = 0,027 C.I (1,088 - 8,972) hasil chi square. Model multivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara panen kedelai dan ketahanan pangan. Namun demikian, biji kedelai memiliki pengaruh terhadap ketahanan pangan dengan nilai P 0,038, OR, 3,449 C.I (1,069-11.134) dan ukuran pertanian rumah tangga berpengaruh terhadap ketahanan pangan nilai P 0,041, OR, 2,668 C.I (1,0749 - 9,503).
Rekomendasi: Diperlukan kebijakan-kebijakan untuk melindungi masyarakat dari kerawanan pangan.

Background: Although food insecurity was identified in late 1970s, it’s still a major problem of public health. However, it’s a burden to health care and society since victims consume poor nutrient diets and outcomes of these poor nutrient diets are malnutrition and chronic diseases. *Aim: To determine if there is a relationship between soybean harvests and food security in 25 villages of Northern Uganda. Method: One Shoot Quasi experimental study, focusing on 93 households from secondary data of VODP project 2016 - 2018. A paired T test, Chi square and multivariate analysis was used. Main independent variable soybean harvest (50.5% high harvests), dependent food security. (77.4%food secure) Results: There was huge difference in mean of soybean harvests before and after intervention Pvlaue = 0.0005. There was a relationship between soybean harvest and food security P value = 0.027 C.I (1.088 – 8.972) chi square results. Multivariate model showed no relationship between soybean harvest and food security. Nevertheless, soybean seeds had an influence on food security with P value 0.038, OR, 3.449 C.I (1.069-11.134) and household farm size had an effect on food security P value 0.041, OR, 2.668 C.I (1.0749 – 9.503). Recommendation: Policies to protect people from food insecurity are needed.

Read More
T-5834
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive