Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 94 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Arzumar Afzaal Ghiffari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Atik Nurwahyuni, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi beban kesehatan masyarakat di Indonesia. Meskipun prevalensinya menurun menjadi 2% pada tahun 2023, jumlah kunjungan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) akibat diare tetap tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor kesehatan lingkungan dan faktor sosial demografi terhadap kunjungan peserta JKN akibat diare ke FKTP metode kapitasi. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan analisis regresi logistik multilevel. Data berasal dari 2.425.370 peserta JKN dan 392 kabupaten/kota di Indonesia tahun 2023 yang memiliki data lingkungan lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin (laki-laki) (1,21; 1,03-1,43), usia (balita) (1,59; 1,19-2,12), kelas rawat (kelas 3) (0,83; 0,68-1) dan segmentasi peserta (Penerima Bantuan Iuran) (0,74; 0,61-0,9) berpengaruh signifikan terhadap frekuensi kunjungan. Selain itu, timbulan sampah (tinggi) (1,23; 1,04-1,45) dan jenis sumber air minum (0,82; 0,68-0,99) juga berpengaruh terhadap kunjungan berulang. Faktor lingkungan lain seperti jenis sumber air minum tidak signifikan secara statistik. Dapat disimpulkan bahwa faktor individu lebih berperan dibandingkan faktor lingkungan dalam memengaruhi kunjungan peserta JKN akibat diare. Hasil ini dapat menjadi masukan untuk penguatan kebijakan sanitasi dan pelayanan kesehatan primer di Indonesia.

Diarrhea remains a significant public health burden in Indonesia. Although its prevalence decreased to 2% in 2023, the number of visits by National Health Insurance (JKN) participants to Primary Healthcare Facilities (FKTP) due to diarrhea remains high. This study aims to analyze the relationship between environmental health factors and sociodemographic factors with JKN participants’ visits to FKTP under the capitation scheme. The study employed a cross-sectional design with a quantitative approach and multilevel logistic regression analysis. Data were obtained from 2,425,370 JKN participants across 392 districts/cities in Indonesia in 2023 with complete environmental data. The results showed that sex (male) (1.21; 1.03–1.43), age (under-five children) (1.59; 1.19–2.12), treatment class (class 3) (0.83; 0.68–1), and participant segmentation (Subsidized Beneficiaries) (0.74; 0.61–0.9) had a significant influence on visit frequency. In addition, high waste generation (1.23; 1.04–1.45) and type of drinking water source (0.82; 0.68–0.99) were also associated with repeat visits. Other environmental factors, such as the type of drinking water source, were not statistically significant. It can be concluded that individual factors play a greater role than environmental factors in influencing JKN participants’ visits due to diarrhea. These findings may serve as input for strengthening sanitation policies and primary healthcare services in Indonesia.
Read More
S-11986
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Balqis Ramandha Dewi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurniasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat sebesar 4,9%, mendekati prevalensi nasional sebesar 5,8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita usia 0–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data SKI 2023, yang mencakup karakteristik balita, karakteristik keluarga, dan kondisi lingkungan rumah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 2.969 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kejadian ISPA pada balita dengan status imunisasi dasar (p=0,02; OR=0,55; 95% CI=0,33–0,93) dan pendidikan terakhir ibu (p=0,04; OR=0,62; 95% CI=0,39–0,98). Sementara variabel usia balita, jenis kelamin, riwayat BBLR, pemberian vitamin A, perilaku merokok anggota keluarga, jenis atap, jenis dinding, dan jenis lantai tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian ISPA. Faktor dominan yang paling mempengaruhi kejadian ISPA pada balita adalah status imunisasi dasar.

Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major public health concern and a leading cause of morbidity among children under five in Indonesia. According to the 2023 Indonesian Health Survey (IHS), the prevalence of ARI among children under five in West Java Province was 4,9%, approaching the national prevalence of 5,8%. This study aimed to analyze the determinants of ARI incidence in children aged 0–59 months in West Java Province using 2023 SKI data, focusing on child characteristics, family characteristics, and household environmental conditions. A cross-sectional design was employed involving 2,969 children who met the inclusion criteria. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using chi-square tests, and multivariate analysis through multiple logistic regression. Results revealed significant relationships between ARI incidence and basic immunization status (p=0.02; OR=0.55; 95% CI=0.33–0.93) and maternal education level (p=0.04; OR=0.62; 95% CI=0.39–0.98). Meanwhile, child’s age, gender, history of low birth weight, vitamin A supplementation, household smoking behavior, roof type, wall type, and floor type did not show significant associations with ARI incidence. Basic immunization status was identified as the most dominant determinant of ARI incidence in under-five children.
Read More
S-11947
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Syifa Aulia Hudriah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Skabies adalah penyakit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Penyakit ini dapat menular baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Skabies masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada individu yang hidup dalam kelompok, seperti di pondok pesantren. Penularan skabies dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan Personal Hygiene. Selain mengganggu kesehatan santri, skabies juga dapat memengaruhi aktivitas mereka sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan dan Personal Hygiene yang berhubungan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren X, Kota Bogor pada tahun 2024. Desain penelitian ini adalah studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 90 orang yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran lingkungan, serta dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik faktor prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47 orang menderita skabies dan 43 orang tidak mengalami skabies. Faktor Personal Hygiene  yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian skabies antara lain kebersihan tangan (OR 4,67; 1,85-11,75), kebersihan kuku (OR 3,60; 1,50-8,64), kebersihan pakaian (OR 4,96; 1,82-13,53), kebersihan handuk (OR 4,03; 1,57-10,32), dan kebersihan tempat tidur (OR 31,27; 9,11-107,25). Sedangkan faktor lingkungan seperti suhu dan kelembapan tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian skabies. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian skabies pada santri adalah kebersihan tempat tidur (OR 90,72; 14,83-554,9), kebersihan tangan (OR 6,64; 0,93-47,48), dan kebersihan pakaian (OR 4,31; 0,63-29,34).

Scabies is an infectious disease caused by the mite Sarcoptes scabiei var. hominis. This disease can be transmitted either through direct or indirect contact. Scabies is still a public health problem in Indonesia, especially in individuals who live in groups, such as in Pondok Pesantren. Scabies transmission is influenced by environmental factors and personal hygiene. Apart from disrupting the health of students, scabies can also affect their daily activities. This study aims to analyze environmental factors and personal hygiene that are associated with the incidence of scabies at Pondok Pesantren Data was collected through interviews using questionnaires and environmental measurements, and analyzed using the chi-square test and logistic regression of predictive factors. The results showed that 47 people suffered from scabies and 43 people did not. Personal hygiene factors that have a significant relationship with the incidence of scabies include hand hygiene (OR 4.67; 1.85-11.75), nail hygiene (OR 3.60; 1.50-8.64), clothing hygiene (OR 4.96; 1.82-13.53), towel hygiene (OR 4.03; 1.57-10.32), and bed hygiene (OR 31.27; 9.11-107.25). Meanwhile, environmental factors such as temperature and humidity do not show a significant relationship with the incidence of scabies. The variables that most influence the incidence of scabies in students are bed hygiene (OR 90.72; 14.83-554.9), hand hygiene (OR 6.64; 0.93-47.48), and clothing hygiene (OR 4.31; 0.63-29.34).
Read More
S-11859
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Heleyna Oktavia Siregar; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi kuantitas dan kualitasnya. Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus keracunan pangan tertinggi di Indonesia dengan 1.679 kasus keracunan pangan dan 19 KLB di tahun 2023. Kota Depok dan Kota Bogor merupakan kota dengan jumlah Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) terdaftar terbanyak di Jawa Barat. Namun banyak dari TPP yang tidak memenuhi syarat higiene dan sanitasi sehingga berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan pada masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kontaminasi E.coli dan praktik higiene sanitasi di Rumah Makan/Restoran dan Gerai Pangan Jajanan Keliling di Kota Depok dan Kota Bogor. Penelitian dilakukan bulan Juni sampai Agustus 2024 menggunakan desain studi cross sectional. Sebanyak 117 sampel TPP dipilih menggunakan purposive sampling dari data pengawasan TPP oleh Dinas Kesehatan Kota Depok dan Kota Bogor. Data dianalisis secara univariat dan bivariat (Chi-square). Hasil analisis menunjukkan tidak adanya hubungan antara fasilitas sanitasi, sanitasi peralatan, higiene penjamah pangan, pemilihan/penerimaan bahan pangan, penyimpanan pangan matang, pengangkutan pangan matang, dan status laik HSP dengan kontaminasi E.coli. Namun nilai Odd Ratio (OR) menunjukkan adanya potensi hubungan positif antara variabel sanitasi peralatan (OR=1,738) dan status laik HSP (OR=2,512) dengan kontaminasi E.coli.

Food is a fundamental necessity that must be met in terms of both quantity and quality. West Java Province has recorded the highest incidence of food poisoning in Indonesia, with 1,679 reported cases and 19 outbreaks in 2023. Depok and Bogor City are notable for having the highest number of registered Food Management Places (TPP) in West Java. However, many TPPs fail to meet hygiene and sanitation standards, posing significant health risks to the community. This study aims to identify E.coli contamination and assess hygiene and sanitation practices in restaurants and mobile food stalls in Depok and Bogor City. The research was conducted from June to August 2024 using cross-sectional. A total of 117 TPP samples were selected through purposive sampling based on data collected by the Health Office of Depok and Bogor Cities. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis (Chi-square). The results indicate no significant relationship between sanitation facilities, equipment sanitation, food handler hygiene, selection/receipt of food ingredients, storage of cooked food, transportation of cooked food, and HSP eligibility status with E.coli contamination. However, the Odd Ratio (OR) values suggest a potential positive relationship between the variable of equipment sanitation (OR=1.738) and HSP eligibility status (OR=2.512) with E.coli contamination.
Read More
S-11799
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Qonita Anis Zain; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Agustin Kusumayati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang tersebar lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Di Kelurahan Beji, Kota Depok, kasus DBD telah menunjukkan tren yang tinggi selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, wilayah ini mencatat jumlah kasus tertinggi di Kota Depok, dengan total 177 kasus dan incidence rate (IR) sebesar 370,73 per 100.000 penduduk. Analisis awal mengindikasikan bahwa faktor lingkungan rumah dan partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang belum optimal dapat menjadi faktor tingginya kasus DBD di Kelurahan Beji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh kondisi lingkungan rumah dan praktik PSN terhadap kejadian DBD di Kelurahan Beji tahun 2024. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Beji, Kota Depok selama periode Mei-Juni 2024 dengan menggunakan desain studi kasus kontrol. Sampel terdiri dari 35 orang kasus dan 35 orang kontrol. Sampel kasus dipilih menggunakan simple random sampling dari laporan kasus DBD yang tercatat di Puskesmas Depok Utara, sementara sampel kontrol dipilih dari tetangga terdekat dari rumah kasus. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini meliputi laporan kasus DBD dari Puskesmas Depok Utara, kuesioner, dan lembar observasi keberadaan jentik nyamuk. Analisis data meliputi univariat dan bivariat (uji Chi Square). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian DBD pada penelitian ini adalah keberadaan jentik (p-value = 0,026 ; OR = 4,58), container index (CI) (p-value = 0,014 ; OR = 7,56), sumber air bersih (p-value = 0,036 ; OR = 0,205), dan kebiasaan menggantung pakaian kotor (p-value = 0,046 ; OR = 0,31). Puskesmas Depok Utara dan Dinas Kesehatan Kota Depok disarankan untuk meningkatkan upaya edukasi dan penyuluhan terkait praktik PSN yang efektif kepada masyarakat dan menggiatkan gerakan 1 rumah 1 jumantik. Masyarakat Kelurahan Beji juga harus meningkatkan partisipasi aktif dalam gerakan 1 rumah 1 jumantik, meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan dalam melaksanakan praktik PSN, serta menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko DBD.

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a viral infection transmitted through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes. In Beji Subdistrict, Depok City, DHF cases have shown a high trend over the past few years. In 2022, this area recorded the highest number of cases in Depok City, with a total of 177 cases and an incidence rate (IR) of 370,73 per 100.000 population. Initial analysis indicates that household environmental factors and suboptimal community participation in mosquito nest eradication may contribute to the high number of DHF cases in Beji Subdistrict. This study aims to identify the influence of household environmental conditions and mosquito nest eradication practices on the incidence of DHF in Beji Subdistrict in 2024. The research was conducted in Beji Subdistrict, Depok City, from May to June 2024 using a case-control study design. The sample consisted of 35 cases and 35 controls. Case samples were selected using simple random sampling from DHF case reports recorded at Depok Utara Public Health Center, while control samples were selected from the nearest neighbors of the case households. The instruments used in this study included DHF case reports from Depok Utara Public Health Center, questionnaires, and observation sheets for mosquito larvae presence. Data analysis included univariate and bivariate analysis (Chi-Square test). Bivariate analysis showed that the variables associated with the incidence of DHF in this study were the presence of larvae (p-value = 0,026 ; OR = 4,58), container index (CI) (p-value = 0,014 ; OR = 7,56), clean water source (p-value = 0,036 ; OR = 0,205), and the habit of hanging dirty clothes (p-value = 0,046 ; OR = 0,31). Depok Utara Public Health Center and the Depok City Health Office are advised to enhance education and counseling efforts regarding effective mosquito nest eradication practices in the community and to intensify the “1 House 1 Jumantik” movement. The community in Beji Subdistrict should also increase active participation in the “1 House 1 Jumantik” movement, improve awareness and discipline in implementing mosquito nest eradication practices, and avoid habits that can increase the risk of DHF.
Read More
S-11792
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Nurcholiza Hayati; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Latar belakang: Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan kondisi kadar gula darah yang tinggi. Riskesdas (2018), Jakarta menjadi wilayah dengan prevalensi tertinggi sebesar 2,6%. Tujuan: menganalisis hubungan antara ruang terbuka hijau serta faktor sosio-ekonomi, demografi, dan penduduk aktif berolahraga terhadap prevalensi diabetes melitus. Metode: Desain studi ekologi dengan unit analisis kecamatan dan populasi 44 kecamatan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022. Variabel dependen adalah prevalensi diabetes melitus, serta variabel independen meliputi pendidikan, status pekerjaan, kepadatan penduduk, jenis kelamin, usia, penduduk yang aktif berolahraga, luas ruang terbuka hijau dan jenisnya (taman kota, hutan kota, jalur hijau, dan TPU). Analisis statistik menggunakan uji korelasi statistik dan spasial. Hasil: Proporsi luas ruang terbuka hijau adalah 28,73m2/1000m2 dan rata-rata prevalensi kasus diabetes melitus adalah 24.97kasus/1000orang, tertinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional. Faktor yang signifikan terhadap prevalensi Diabetes Melitus adalah usia produktif (p= 0,032;r=0,324); usia tidak produktif (p=0,032; r=-0,324), dan proporsi luas hutan kota (p=0,049;r= -0,298). Kesimpulan: Proporsi luas ruang terbuka hijau belum memenuhi standar 20%, dengan jenis ruang terbuka hijau terbanyak adalah taman dan yang paling sedikit adalah hutan kota. Secara statistik, terdapat hubungan proporsi hutan kota dengan prevalensi diabetes melitus di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022.

Background: Diabetes Mellitus is a metabolic disease characterized by high blood sugar levels. According to Riskesdas (2018), Jakarta has the highest prevalence rate at 2.6%. Objective: To analyze the relationship between green open spaces, socio-economic factors, demographics, and physically active residents with the prevalence of diabetes mellitus. Method: An ecological study design with the unit of analysis is districts and the population consisting of 44 districts in DKI Jakarta Province in 2022. The dependent variable is the prevalence of diabetes mellitus, and the independent variables include education, employment status, population density, gender, age, physically active residents, the area of green open spaces and their types (urban parks, urban forests, green lanes, and cemeteries). Statistical analysis uses correlation tests and spatial analysis. Results: The proportion of green open space area is 28.73m²/1000m² and the average prevalence of diabetes mellitus cases is 24.97 cases/1000 people. Significant factors affecting the prevalence of Diabetes Mellitus are productive age (p=0.032; r=0.324); non-productive age (p=0.032; r=-0.324), and the proportion of urban forest area (p=0.049; r=-0.298). Conclusion: The proportion of green open space area below the recommended standard of 20% public open space, with the most common type of green open space is urban parks and the least common is urban forests. Statistically, there is a relationship between the proportion of urban forest area and the prevalence of diabetes mellitus in DKI Jakarta Province in 2022.
Read More
S-11774
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Deanie Afifah Utami; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Kejadian Gejala Gangguan Pernapasan adalah salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami oleh pekerja di gedung perkantoran. Gejala Gangguan Pernapasan dapat disebabkan oleh kualitas udara dalam ruang yang buruk dan karakteristik individu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui hubungan antara jumlah total koloni bakteri dan kapang dengan kejadian Gejala Gangguan Pernapasan pada teanag akependidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan desain cross sectional. Variabel independennya adalah jumlah total koloni bakteri dan kapang dalam ruang, variable confounding berupa suhu, kelembaban relatif, intensitas cahaya usia, jenis kelamin, masa bakti kerja, kebiasaan merokok, dan riwayat alergi. Hasil proporsi kejadian Gejala Gangguan Pernapasan dari analisis statistik yang dilakukan pada tenaga kependidikan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sebesar 32,4% (47 responden). Dari 10 variabel yang diuji, hanya usia dan masa bakti kerja yang menunjukkan hubungan signifikan.

Respiratory Distress Symptoms is one of the health problems often experienced by workers in office buildings. Respiratory Distress Symptoms can be caused by poor indoor air quality and individual characteristics. This study was conducted with the aim of determining the relationship between the total number of bacterial and mold colonies and the occurrence of Respiratory Disturbance Symptoms in educational staff at the Faculty of Public Health, University of Indonesia with a cross sectional design. The independent variable is the total number of bacterial and mold colonies in the room, the confounding variables include temperature, relative humidity, light intensity, age, gender, length of service, smoking habits, and allergy history. The proportion of the occurrence of Respiratory Disturbance Symptoms from the statistical analysis carried out on the educational staff of the Faculty of Public Health, University of Indonesia is 32.4% (47 respondents). Of the 10 variables tested, only age and length of service showed a significant relationship.
Read More
S-11765
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Yosifia Abigail; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare merupakan penyebab kematian terbesar kedua pada anak usia di bawah lima tahun, dimana 1 dari 9 balita di dunia meninggal diakibatkan oleh diare. WHO menyebutkan bahwa sekitar 80% kematian diare disebabkan oleh air yang tidak aman, sanitasi yang tidak memadai dan kebersihan yang tidak memadai, terutama di negara berkembang. Diare tetap menjadi masalah utama tetapi sebagian besar dapat dicegah. Air, sanitasi, dan kebersihan yang lebih baik dapat mencegah kematian 297.000 anak di bawah 5 tahun setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan faktor WASH (sumber air bersih, air minum, fasilitas sanitasi, pembuangan tinja anak, dan fasilitas cuci tangan) dan faktor host (ASI eksklusif dan imunisasi campak) terhadap kejadian diare pada balita di wilayah pedesaan dan perkotaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian potong lintang (cross-sectional). Data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data SDKI 2017. Hubungan antara variabel independen dengan dependen akan dilihat menggunakan uji statistik kai kuadrat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor WASH dan host yang memiliki hubungan signifikan dengan diare balita di Indonesia, yaitu sumber air bersih (OR = 1,41), air minum (OR = 1,37), fasilitas sanitasi (OR = 1,39), pembuangan tinja anak (OR = 1,26), ASI eksklusif (OR = 1,68) dan imunisasi campak (OR = 1,19). Pada wilayah pedesaan, yaitu air minum (OR = 1,39), fasilitas sanitasi (OR = 1,19), dan ASI eksklusif (OR = 1,72) serta di wilayah perkotaan, yaitu sumber air bersih (OR = 1,69), fasilitas sanitasi (OR = 1,65), pembuangan tinja anak (OR = 1,30), dan ASI eksklusif (OR = 1,64). Diharapkan pemerintah untuk memperluas pedoman terkait diare balita yang disebabkan karena faktor WASH dan faktor host balita, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Diarrhea is the second leading cause of death in children under five years old, account for 1 in 9 child deaths worlwide. WHO states around 80% deaths from diarrhea are caused by unsafe water, inadequate sanitation, and inadequate hygiene, especially in developing countries. Diarrhea remains a major problem but is largely preventable. Better water, sanitation, and hygiene could prevent the deaths of 297,000 children under five each year. This research aims to analyze the association between WASH risk factors (clean water sources, drinking water, sanitation facilities, disposal of children's feces, and hand washing facilities) and host factors (exclusive breastfeeding and measles immunization) on the prevalence of diarrhea among children under five in rural and urban areas in Indonesia. This research is a quantitative study using a cross-sectional research design. The data used is secondary data, SDKI 2017. The association between independent and dependent variables will be test using the chi-square statistical test. The research results show, clean water sources (OR = 1.41), drinking water (OR = 1.37), sanitation facilities (OR = 1.39), disposal of child feces (OR = 1.26), exclusive breastfeeding (OR = 1.68) and measles immunization (OR = 1.19), were significantly associated with children under five diarrhea. In rural areas, drinking water (OR = 1.39), sanitation facilities (OR = 1.19), and exclusive breastfeeding (OR = 1.72), were significantly associated with children under five diarrhea, and in urban areas, clean water sources (OR = 1.69 ), sanitation facilities (OR = 1.65), disposal of children's feces (OR = 1.30), and exclusive breastfeeding (OR = 1.64), were significantly associated with children under five diarrhea. The knowledge findings from this study suggest government to expands guidelines regarding children under five diarrhea caused by WASH factor and host factors, to increase public awareness.
Read More
S-11711
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Maghfira Nadya Salsabila; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Dewi Susanna, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
TPA Cipayung Depok kini sudah mencapai masa overload karena sudah melebihi kapasitas untuk menampung sampah. Timbunan sampah yang terus meningkat di TPA dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan berisiko terhadap kesehatan manusia. Dampak dari pencemaran yang ditimbulkan dari TPA salah satunya adalah penyakit bawaan udara atau airborne disease. Penyakit tersebut disebabkan oleh adanya sampah organik yang membusuk oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan gas hidrogen sulfida (H2S) dan gas metana (CH4) yang memiliki sifat toksik bagi tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh pajanan gas hidrogen sulfida terhadap anak-anak yang tinggal di sekitar TPA Cipayung, Kota Depok. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi H2S dilakukan pada pagi hingga sore hari pada 3 titik lokasi dalam radius kurang dari 1 km dan pengambilan data antropometri serta riwayat kesehatan anak dilakukan dengan wawancara dan kuesioner. Konsentrasi gas H2S tertinggi diperoleh sebesar 0,005 ppm dan terendah sebesar 0,004 ppm. Tingkat risiko untuk pajanan berdasarkan pola aktivitas (aktivitas istirahat, aktivitas ringan, aktivitas sedang, dan aktivitas berat) dan pajanan realtime diperoleh nilai RQ < 1 yang berarti belum memiliki risiko kesehatan terhadap anak-anak. Namun, pada pajanan lifespan diperoleh nilai RQ > 1, yaitu sebesar 1,028 yang berarti anak-anak memiliki risiko terkena efek kesehatan nonkarsinogenik sehingga diperlukan adanya manajemen risiko untuk mengurangi pajanan gas H2S. Riwayat gejala gangguan kesehatan yang berhubungan dengan efek kesehatan akibat pajanan H2S, yaitu ISPA dan iritasi mata diperoleh sebanyak 74 anak (82,2%) mengalami gejala ISPA dan 48 anak (53,3%) mengalami gejala iritasi mata. Hasil analisis Uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata asupan realtime anak-anak yang mengalami gejala ISPA dan gejala iritasi mata dengan anak yang tidak mengalami gejala tersebut. Meskipun paparan H2S belum berisiko dalam jangka pendek, diperlukan manajemen risiko untuk mengurangi paparan H2S di masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pengelolaan TPA, seperti pengolahan sampah secara modern, serta menanam pohon atau tanaman yang dapat menyerap H2S.

Cipayung Landfill in Depok has now reached an overload period because it has exceeded its capacity to accommodate waste. The ever-increasing accumulation of waste in landfills can cause environmental pollution and pose a risk to human health. One of the impacts of pollution resulting from landfills is airborne disease. This disease is caused by organic waste rotting by microorganisms, producing hydrogen sulfide gas (H2S) and methane gas (CH4) which are toxic to the human body. This study aims to determine the level of health risks posed by exposure to hydrogen sulfide gas in children living around the Cipayung TPA, Depok City. This research uses a quantitative method, Environmental Health Risk Analysis (EHRA) approach. H2S concentration measurements were carried out from morning to evening at 3 location points within a radius of less than 1 km and anthropometric data and the child's health history were collected using interviews and questionnaires. The highest concentration of H2S gas was 0.005 ppm and the lowest was 0.004 ppm. The risk level for exposure based on activity patterns (rest activity, light activity, moderate activity and heavy activity) and real-time exposure obtained an RQ value < 1, which means there is no health risk to children. However, for lifespan exposure, an RQ value > 1 of 1.028 was obtained, which means that children are at risk of developing non-carcinogenic health effects, so risk management is needed to reduce exposure to H2S gas. A history of symptoms of health problems related to health effects due to H2S exposure, acute respiratory infections (ARI) and eye irritation, was obtained from 74 children (82.2%) experiencing symptoms of ARI and 48 children (53.3%) experiencing symptoms of eye irritation. The results of the Mann-Whitney Test analysis showed that there was no significant difference between the average real-time intake value of children who experienced ARI symptoms and eye irritation symptoms and children who did not experience these symptoms. Although exposure to H2S is not yet a risk in the short term, risk management is needed to reduce exposure to H2S in the future. This can be done by improving landfill management, such as modern waste processing, as well as planting trees or plants that can absorb H2S.
Read More
S-11706
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Mayla Sifa Zahrie; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Haryanto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Cakupan vaksinasi polio di Indonesia belum merata di seluruh Provinsi. Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017, cakupan vaksinasi oral polio lengkap pada bayi di Indonesia mencapai 91,7% dan vaksinasi suntik polio hanya 46,8%. DKI Jakarta merupakan salah satu wilayah dengan cakupan vaksinasi tinggi, sedangkan DI Yogyakarta merupakan salah satu wilayah dengan cakupan vaksinasi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemberian vaksinasi polio pada balita di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta tahun 2017 dengan menggunakan data SDKI tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan jumlah total sampel sebanyak 426 ibu, Variabel dependen dalam penelitian ini adalah vaksinasi polio pada balita sementara variabel independennya yaitu usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, indeks kekayaan, tempat persalinan, dan aksesibilitas ke pelayanan kesehatan. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa cakupan vaksinasi polio di DKI Jakarta adalah 52,8% sedangkan di DI Yogyakarta hanya 18,3%. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan pemberian vaksinasi polio pada anak usia 0 – 59 bulan di DKI Jakarta (p-value = 0,009) dan terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan pemberian vaksinasi polio pada anak usia 0 – 59 bulan di DI Yogyakarta (p-value = 0,03). Pemerintah disarankan untuk tetap melakukan monitoring dan evaluasi di wilayah cakupan vaksinasi tinggi supaya kekebalan kelompok di wilayah tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Untuk di wilayah cakupan vaksinasi rendah perlu adanya upaya peningkatan cakupan vaksinasi yang lebih optimal.

Polio vaccination coverage in Indonesia was uneven across provinces. Based on data from the 2017 Indonesian Health Profile, the coverage of complete oral polio vaccination for infants in Indonesia reached 91.7%, while polio injection vaccination reached only 46.8%. DKI Jakarta was one of the regions with high vaccination coverage, whereas DI Yogyakarta was one of the regions with low vaccination coverage. This study aimed to determine the factors associated with polio vaccination among children under five years old in DKI Jakarta and DI Yogyakarta in 2017 using IDHS data from 2017. The study used a quantitative method with a cross-sectional study design with a total sample size of 426 mothers. The dependent variable in this study was polio vaccination in toddlers, while the independent variables were maternal age, maternal education, maternal employment, wealth index, place of delivery, and accessibility to health services. The analysis used was univariate, bivariate, and multivariate. The results of this study showed that polio vaccination coverage in DKI Jakarta was 52.8%, while in DI Yogyakarta it was only 18.3%. There was a significant association between maternal age and polio vaccination among children aged 0 - 59 months in DKI Jakarta (p-value = 0.009) and a significant association between maternal occupation and polio vaccination among children aged 0 - 59 months in DI Yogyakarta (p-value = 0.03). The government was advised to continue monitoring and evaluation in high vaccination coverage areas so that group immunity in these areas could be maintained and improved. For low vaccination coverage areas, efforts to increase vaccination coverage needed to be optimized.
 
Read More
S-11683
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive