Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 94 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anastasia Rouli Alodia; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: R. Budi Haryanto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH) merupakan salah satu dari Neglected Tropical Disease (NTD) yang menginfeksi sekitar 1,5 miliar orang di dunia, termasuk wilayah Asia Tenggara. Spesies yang paling umum menginfeksi manusia adalah Ascaris lumbricoides. Anak usia pra-sekolah dan anak usia sekolah merupakan kelompok usia yang rentan terinfeksi STH karena tinggal pada wilayah penyebaran STH. Infeksi STH, khususnya Ascaris lumbricoides, pada anak dapat menyebabkan gangguan perkembangan fisik dan kognitif serta obstruksi usus halus pada infeksi berat. Penyebaran infeksi Ascaris lumbricoides pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor kebiasaan higiene. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan higiene dengan kejadian infeksi Ascaris lumbricoides pada anak. Desain studi yang digunakan adalah kajian sistematis. Penelusuran artikel dilakukan pada empat database, yaitu PubMed, EMBASE, Scopus, dan ProQuest, kemudian artikel diseleksi sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Sebanyak lima artikel didapatkan dari hasil penelusuran. Dari kelima artikel tersebut, didapatkan bahwa kebiasaan mencuci tangan, penggunaan jamban, dan kebiasaan mencuci buah sebelum dikonsumsi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian infeksi Ascaris lumbricoides. Sebaliknya, kebiasaan mencuci sayur sebelum dikonsumsi dan memotong kuku tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian infeksi Ascaris lumbricoides pada anak.

Soil-Transmitted Helminth (STH) infection is one of the Neglected Tropical Diseases (NTDs) that affects around 1.5 billion people worldwide, including regions like Southeast Asia. The most common species infecting humans is Ascaris lumbricoides. Preschool-age and school-age children are particularly vulnerable to STH infection due to their living environments in areas where STH is prevalent. Infection of STH, especially Ascaris lumbricoides, can hinder physical and cognitive development and, in severe cases, cause obstruction of the small intestine. Various factors, such as hygiene practices, can influence the transmission of Ascaris lumbricoides infection in children. This study aims to explore the association between hygiene practices and the occurrence of Ascaris lumbricoides infection in children. A systematic review was carried out, and articles were searched in four databases: PubMed, EMBASE, Scopus, and ProQuest. Subsequently, the articles were selected based on specific criteria. Five articles were identified during the search. These articles revealed a significant association between handwashing habits, jamban usage, and washing fruits before consumption with the occurrence of Ascaris lumbricoides infection. On the other hand, there was no significant association found between washing vegetables before consumption and trimming nails and the occurrence of Ascaris lumbricoides infection in children.
Read More
S-11405
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Baby Putri Adria; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare merupakan masalah kesehatan global yang banyak menyebabkan kesakitan dan kematian pada seluruh kelompok usia. Diare ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui transmisi fekal-oral. Kota Depok menjadi salah satu kota dengan kasus diare fluktuatif selama tahun 2013-2021. Kota Depok juga menduduki peringkat kedua sebagai kota/kabupaten dengan angka Kejadian Luar Biasa (KLB) diare tertinggi di Indonesia pada tahun 2018. Terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi diare, di antaranya faktor perilaku pemajanan seperti Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan kepadatan penduduk serta faktor lingkungan seperti cakupan air minum layak dan cakupan jamban sehat. Penelitian ini bertujuan untuk hubungan antara faktor perilaku pemajanan (cakupan rumah tangga ber-PHBS dan kepadatan penduduk) da faktor lingkungan (cakupan air minum layak dan cakupan jamban sehat) terhadap kejadian diare di Kota Depok tahun 2013-2021. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi ekologi dan analisis spasial dengan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor cakupan air minum layak (p=0,004; r=-0,289) dan cakupan jamban sehat (p=0,020; r=-0,233) dengan kejadian diare. Sementara itu, faktor cakupan rumah tangga ber-PHBS dan kepadatan penduduk tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian diare. Peta analisis spasial juga memperlihatkan pola persebaran kejadian diare di Kota Depok selama tahun 2013-2021 cenderung lebih banyak ditemukan pada wilayah kecamatan dengan cakupan air minum layak yang rendah.

Diarrhea is a global health problem that causes morbidity and death in all age groups. Diarrhea is transmitted from one person to another through fecal-oral transmission. Depok City became one of the cities with fluctuating diarrhea cases during 2013-2021. Depok City also ranked second as a city/regency with the highest number of diarrhea outbreaks in Indonesia in 2018. There are various factors that can affect diarrhea, including behavioral exposure factors such as clean and healthy living behavior (PHBS) and population density as well as environmental factors such as adequate drinking water coverage and healthy latrine coverage. This study aims to analyze the relationship between behavioral exposure factors (household with clean and healthy living behavior (PHBS) coverage and population density) and environmental factors (drinking water coverage and healthy latrine coverage) to the occurrence of diarrhea in Depok City in 2013-2021. The research type is quantitative study using several methods such as ecological study and spatial analysis with secondary data from the Depok City Health Office. The results showed a significant relationship between adequate drinking water cover (p=0,004; r=-0,289) and healthy latrine coverage (p=0,020; r=-0,233) with the occurrence of diarrhea. Meanwhile, households with clean and healthy living behavior (PHBS) coverage and population density showed no significant association with the occurrence of diarrhea. Spatial analysis maps also showed the distribution pattern of diarrhea in Depok City during 2013-2021 tends to be more common in areas with low coverage of adequate drinking water.
Read More
S-11259
[s.l.] : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Azzah Farah Fadiyah; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum, Didi Purnama
Abstrak:
Fenomena underreporting diare di Indonesia menyebabkan stakeholder kekurangan informasi untuk pengembangan kebijakan dan program. Surveilans penyakit bawaan pangan perlu dilengkapi dengan surveilans faktor Risiko. Sistem informasi dapat mempermudah pencatatan, pelaporan, dan analisis data untuk menunjang pengembangan program penyehatan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Sistem Informasi Inspeksi Kesehatan Lingkungan yang sudah ada di Kota Depok agar dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk pemantauan patogen pencemar pangan. Metodologi yang digunakan adalah riset operasional untuk mengembangkan sistem informasi menggunakan metode prototyping. Tahapan pengembangan sistem pada penelitian ini terdiri dari analisis kebutuhan, perancangan dan pengembangan prototipe sistem informasi, uji coba oleh pengguna, dan perbaikan prototipe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam pengumpulan data yang digunakan pada tahap analisis kebutuhan. Penentuan informan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling, dengan kriteria tenaga sanitasi lingkungan Puskesmas dan Tim Kerja Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Depok yang masih atau pernah bertugas pada bidang terkait minimal 1 tahun terakhir, pernah menggunakan sistem informasi inspeksi kesehatan lingkungan minimal 1 bulan terakhir, dan terlibat dalam proses administrasi pengawasan keamanan pangan di Kota Depok. Sistem informasi dikembangkan untuk memanfaatkan data yang dikumpulkan oleh TSL pada kegiatan inspeksi kesehatan lingkungan. Sistem informasi dapat mengolah data dan menyajikan hasilnya dalam bentuk grafik potensi faktor risiko, grafik sampel pangan tercemar E.coli, dan grafik perbandingan wilayah yang ditemukan cemaran E.coli. Informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program penyehatan lingkungan maupun keamanan pangan.

The phenomenon of underreporting of diarrhea in Indonesia causes stakeholders to lack information for policy and program development. Foodborne disease surveillance needs to be complemented with risk factor surveillance. Information systems can facilitate data recording, reporting, and analysis to support the development of environmental health programs. This study aims to develop the existing Environmental Health Inspection Information System in Depok City to provide the information needed for monitoring food contaminant pathogens. The methodology used is operational research to develop the information system using the prototyping method. The system development stages in this study consist of needs analysis, design and development of an information system prototype, user trials, and prototype improvements. This study uses a qualitative approach in collecting data used in the needs analysis stage. The determination of informants in this study used purposive sampling, with the criteria of environmental sanitation workers from Community Health Centers and Environmental Health Work Teams of the Depok City Health Office who are currently or have worked in related fields for at least the past 1 year, have used the environmental health inspection information system for at least the past 1 month, and are involved in the administrative process of food safety supervision in Depok City. An information system was developed to utilize data collected by TSL during environmental health inspections. The information system can process the data and present the results in the form of graphs of potential risk factors, graphs of E. coli-contaminated food samples, and comparison graphs of areas where E. coli contamination was found. The information generated by this information system is expected to be used in the development of environmental health and food safety programs.
Read More
T-7628
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Erze Vazela; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Permasalahan sampah menjadi isu yang terjadi secara global, nasional, hingga tingkat kota, termasuk di Kota Bogor yang sebagian besar timbulan sampahnya berasal dari sampah rumah tangga. TPS 3R hadir sebagai upaya pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui kegiatan pemilahan, pengolahan, dan daur ulang, yang efektivitasnya bergantung pada keterkaitan komponen input, proses, dan output. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengelolaan sampah di TPS 3R KSM Tamansari Persada Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, Kota Bogor berdasarkan ketiga komponen tersebut beserta keterkaitannya. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif yang didukung data kuantitatif sekunder, dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam kepada empat informan, yaitu pengurus KSM, petugas lapangan, masyarakat pengguna, dan pihak kelurahan, serta data pencatatan harian pengelolaan sampah selama empat belas bulan (2025-2026). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen input tersedia secara jumlah dan kelengkapan awal, tetapi belum dikelola secara optimal, terutama karena petugas lapangan masih berada di bawah kewenangan RT, bukan KSM, sehingga memengaruhi pemanfaatan sarana prasarana, pengelolaan pendanaan, keberlanjutan partisipasi masyarakat, dan pembinaan kelembagaan. Proses operasional menunjukkan penyempitan cakupan kegiatan 3R, di mana pemilahan bergeser dari masyarakat ke petugas dan pengolahan hanya terbatas pada pengomposan sederhana. Dari total 147.690 kg sampah yang tercatat, sampah organik yang diolah sebesar 32.086 kg (21,7%), anorganik 32.258 kg (21,9%), sedangkan residu masih mendominasi sebesar 83.346 kg (56,4%). Ketiga komponen tersebut saling berkaitan membentuk satu kesatuan sistem, di mana kelemahan pada komponen input berdampak pada proses dan output, serta output yang belum optimal kembali menurunkan partisipasi masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan perbaikan tata kelola sumber daya manusia dan penguatan pembinaan kelembagaan secara berkelanjutan agar sistem pengelolaan sampah TPS 3R dapat berjalan lebih optimal.

Waste management has become a global, national, and city-level issue, including in Bogor City, where most of the generated waste originates from households. The 3R Waste Reduction Facility (TPS 3R) was established as a community-based waste management effort through sorting, processing, and recycling activities, the effectiveness of which depends on the interrelation between input, process, and output components. This study aims to analyze the waste management system at TPS 3R KSM Tamansari Persada, Cibadak Village, Tanah Sareal, Bogor City, based on these three components and their interrelation. This research used a descriptive qualitative design supported by secondary quantitative data, with data collected through observation and in-depth interviews with four informants, namely the KSM management, field officers, community members, and the local sub-district (kelurahan) representative, as well as fourteen months (2025-2026) of daily waste record data. The results show that the input component was available in terms of quantity and initial completeness, but had not been managed optimally, mainly because field officers remained under the authority of the neighborhood unit (RT) rather than the KSM, which affected the utilization of facilities and infrastructure, financial management, the sustainability of community participation, and institutional support. The process component showed a narrowing of 3R activities, in which waste sorting shifted from the community to the officers, and processing was limited to simple composting. Of the total 147,690 kg of recorded waste, 32,086 kg (21.7%) of organic waste and 32,258 kg (21.9%) of inorganic waste were processed, while residual waste remained dominant at 83,346 kg (56.4%). The three components were found to be interrelated as a single system, in which weaknesses in the input component affected the process and output, and the suboptimal output, in turn, further reduced community participation. This study recommends improving human resource governance and strengthening continuous institutional support so that the TPS 3R waste management system can function more optimally.
Read More
S-12472
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Ryan Warjito; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare merupakan penyakit menular yang sangat banyak ditemukan khusus nya pada negara berkembang, Diare menyebabkan kondisi individu yang terinfeksi mengalami perubahan peningkatan frekuensi buang air besar dengan kekentalan yang sangat cair. Penyakit diare di kota depok menjadi 10 penyakit dengan angka terbanyak berjumlah 17,985 kasus dan merupakan penyakit menular berbasis lingkungan yang cukup sering dijumpai di kota Depok. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penerapan program sanitasi lingkungan berbasis masyarakat ( stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan makanan dan minuman rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair serta kasus diare berdasarkan kategori umur dengan jumlah kasus diare di kota depok pada tahun 2022-2024. Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan menganalisis menggunakan uji korelasi antar variabel. Pada hasil penelitian ini didapatkan terdapat hubungan yang bermakna pada variabel CTPS (r=-0,948), PAMMRT (r=-0,404), PSRT (r=-0,436), PLCRT (r=-0,307) dan terdapat hubungan yang kuat dan bermakna pada variabel semua umur (r=0,704) dan balita (r=0,599), Sedangkan pada variabel STOP BABS memiliki angka yang konstan karna tidak ada variasi dalam data tersebut. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa CTPS,PAMMRT,PSRT,PCLRT memiliki hubungan yang tidak searah,pada kategori umur dan balita memiliki hubungan yang searah namun pada variabel STOP BABS tidak ditemukan adanya hubungan yang berkesinambungan dengan jumlah kejadian diare.

Diarrhea is a highly prevalent infectious disease, particularly in developing countries. It causes an increase in the frequency of bowel movements and a very watery consistency in infected individuals. Diarrhea is among the 10 most prevalent diseases in Depok, with 17,985 cases. It is a highly prevalent environmental infectious disease in the city. This study aims to analyze the relationship between the implementation of community-based environmental sanitation programs (stop open defecation, washing hands with soap, household food and beverage management, household waste management, liquid waste management and diarrhea cases based on age categories with the number of diarrhea cases in Depok City in 2022-2024. This study uses an ecological study by analyzing using a correlation test between variables. The results of this study found that there was a significant relationship in the CTPS variable (r = -0.948), PAMMRT (r = -0.404), PSRT (r = -0.436), PLCRT (r = -0.307) and there was a strong and significant relationship in the variables of all ages (r = 0.704) and toddlers (r = 0.599), while the STOP BABS variable had a constant number because there was no variation in the data. The conclusion of this study is that CTPS, PAMMRT, PSRT, PCLRT have a non-unidirectional relationship, in the age category and toddlers have a unidirectional relationship but in the STOP BABS variable there was no significant relationship. continuous with the number of diarrhea incidents.
Read More
S-12169
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Haeranah Ahmad; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Zakianis, Didik Supriyono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Konsentrasi PM2,5 di udara dapat mempengaruhi kesehatan apabila terhirup olehmanusia karena akan terdeposit ke dalam alveoli yang akan menimbulkan reaksiradang yang mengakibatkan daya kembang paru menjadi terbatas danmenurunkan fungsi paru pada manusia. Pekerja yang bekerja di industri kerajinanbatu ukir mempunyai risiko tinggi terpajan oleh PM2,5 yang dihasilkan dari prosespemotongan, pembentukan dan penghalusan menggunakan gerinda. Penelitian inibertujuan mengetahui hubungan pajanan debu PM2,5 terhadap gangguan fungsiparu pada pekerja dengan desain studi cross sectional yang dilakukan padaseluruh pekerja industri kerajinan batu ukir yang memenuhi kriteria inklusi daneksklusi di desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrapsebanyak 100 orang. Pemeriksaan faal paru menggunakan spirometri sedangkanpengukuran konsentrasi PM2,5 di ruang kerja menggunakan Haz dust EPAM 5000.Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil analisismenunjukkan hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengangangguan fungsi paru (4,17 ;1,68- 10,38). Faktor lain yang mempengaruhi adalahmasa kerja (2,41; 1,05-5,52) dan kecepatan angin (4,77 ;1,93-11,77). Pada analisismultivariat menunjukkan bahwa pekerja yang bekerja pada lingkungan kerjadengan konsentrasi PM2,5 yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko 6,86 kalimenderita gangguan fungsi paru setelah dikontrol dengan variabel kecepatanangin, kelembaban, suhu, masa kerja dan penggunaan APD. Penelitian inimenyimpulkan didapatkan hubungan bermakna antara tingkat pajanan debu batudengan gangguan fungsi paru. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalianterhadap pajanan debu batu dan hasil penelitian ini diharapkan dapatdipergunakan sebagai acuan pelaksanaan program kesehatan dan keselamatanpada pekerja serta pelaksanaan monitoring lingkungan kerja serta surveilanskesehatan kerja.
Kata kunci : Gangguan fungsi paru, Industri pemotongan batu, PM2,5
PM2,5 concentration on the air can affect health when inhaled by human. It will bedeposited in the alveoli that could inflict an inflammatory reaction that causereduce lung volume and decreasing the lung function in human. Workers whowork in stone carving craft industry had a high risk of PM2,5 exposure that resultedfrom the process of cutting, forming and refining by using grinder. This crosssectional study purposed to assess the relationship between exposure of PM2,5 dustand impaired lung function among 100 workers who had fulfilled the inclusionand exclusion criteria in the Allakuang village, Maritengngae subdistrict, SidrapDistrict, South Sulawesi Province. Lung function was assessed by spirometry.PM2,5 concentration in the workspace was assessed by Haz dust EPAM 5000.Logistic regression analysis was carried out and showed a significant correlationbetween the PM2,5 concentration with impaired lung function (4,2; 1,68- 10.38).Another determinant factor was the work duration (2.4; 1,05-5,52) and wind speed(4,8; 1.93-11.77). Multivariate analysis showed that worker who work on thework space with high concentration of PM2,5 tend to have 6.86 times higher risk ofsuffering from impaired lung function after adjusted by wind speed, humidity,temperature, work duration and using PPE (Personal protective equipment). Therewas significant association between the level of dust exposure with impaired lungfunction. Hence, it is necessary to control the dust exposure.The finding of thisstudy could be used as a consideration of health and safety programsimplementation among workers and monitoring the implementation of work spaceand also the surveillance of occupational health.
Key words: impaired lung function, Stone cutting industry, PM2,5
Read More
T-4713
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Iman Surahman; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Ema Hermawati, Inne Nutfiliana, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian analisis kadar merkuri dalam rambut dengan gangguan fungsi sistem saraf pusat bagi pekerja pertambangan emas, dilakukan untuk dapat memberikan referensi terkait dampak penggunaan merkuri dan penanggulangannya bagi kesehatan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan menganalisis data sekunder dari Kementerian Kesehatan terhadap 119 sampel. Hasil pengukuran kadar merkuri dalam rambut pekerja, didapatkan 77,9% berada diatas normal, angka Nilai Indeks Pajanan Biologi yang dipersyarakatkan ≤ 3μg/g (ACGIH, 2005). Analisis kadar merkuri dalam rambut dengan gangguan fungsi sistem saraf pusat, secara perhitungan statistik menunjukan tidak ada hubungan signifikan, namun pekerja dengan kadar merkuri tinggi berisiko 3,12 kali,CI 95% (0,67 - 14,36) terhadap gangguan fungsi sistem saraf pusat. Analisis berbagai faktor konfounding, yaitu: Lama paparan, konsumsi sayur-buah, konsumsi ikan, penggunaan pestisida dan atau insektisida dan kebiasaan merokok, berdasarkan perhitungan statistik, hanya penggunaan pestisida secara konstan mempunyai hubungan diantara keduanya dan berisiko 3,97 kali, CI 95% (1,51 - 10,43) terhadap gangguan fungsi sistem saraf pusat. Hasil analisis multivariat, didapatkan responden dengan kadar merkuri dalam rambut tinggi, mempunyai risiko 2,82 kali lebih besar dengan CI 95% (0,595-13,379) untuk mengalami gangguan fungsi sistem saraf pusat setelah dikontrol variabel penggunaan pestisida. Pencegahan dan pengendalian dampak kesehatan akibat penggunaan merkuri perlu melibatkan berbagai pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat, melalui program eliminasi, subtitusi, pengendalian teknis dan administrasi.
Kata kunci: Merkuri, Gangguan Saraf, Pekerja

Research into the analysis of mercury levels in hair with impaired central nervous system function for gold mining workers, was conducted to provide a reference to the impact of mercury use and its prevention for public health. The method in this research use cross sectional design. This research used secondary data from Ministry of Health, with 119 miners as samples. The results of the measurement of mercury in the hair of workers, obtained 77.9% above normal, Biology Exposure Index value ≤ 3μg / g (ACGIH, 2005). Analysis of mercury levels in the hair with impaired function of the central nervous system, the statistical calculation showed no significant relationship, but workers with high mercury levels risked 3.12 times, 95% CI (0.67 - 14.36) against impaired functioning of the nervous system center. Analysis of various confounding factors, namely: Length of exposure, consumption of fruits, fish consumption, pesticide and or insecticide use and smoking habits, based on statistical calculations, only the use of pesticides has a constant relationship between them and 3.97 times risk, 95% (1.51 - 10.43) against impaired functioning of the central nervous system. The result of multivariate analysis, obtained by respondent with high mercury in hair, had 2.82 times greater risk with 95% CI (0,595-13,379) for impaired function of central nervous system after controlled variable of pesticide usage. Prevention and control of health impacts due to the use of mercury should involve various parties, government, private and public, through elimination, substitution, technical and administrative control programs.
Keywords: Mercury, Neurological Disorders, Workers
Read More
T-4889
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Nanda Labado; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Lora Agustina, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: ISPA merupakan salah satu penyakit penyebab kematian pada anak-anak di dunia khususnya Negara berkembang seperti di Indonesia. Faktor penyebab ISPA adalah kondisi lingkungan rumah serta PHBS yang buruk. Tingginya insiden ISPA di Kabupaten Gorontalo khususnya balita dan belum tercapainya target RPJMN rumah sehat di Provinsi Gorontalo melatarbelakangi dilakukannya penelitian terkait kondisi lingkungan rumah dan perilaku dengan Kejadian ISPA pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tilango. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor terkait kondisi lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian ISPA di kecamatan Tilango. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross sectional dengan analisis multivariate Binary Regresi logistic model prediksi. Populasi pada penelitian ini adalah anak balita usia 0-59 bulan yang berkunjung ke Puskesmas Tilango. Pemilihan sampel penelitian ini dilakukan secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 92 responden. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa yang paling dominan secara signifikan terhadap Kejadian ISPA pada balita di Kecamatan Tilango yaitu Pendapatan (OR=13,9, 95% CI 3,395-57,668), Pendidikan (OR=11,3, 95%CI 2,498-51.650), Status Imunisasi (OR=9,8, 95%CI 1,019-95.346), Luas Ventilasi (OR= 8,9, 95%CI= 2,204-35,956), Kebiasaan Buka Jendela (OR=0,05, 95%CI 0,007-0,447). kesimpulan pada penelitian ini adalah banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA pada balita yaitu karakteristik balita, karakteristik orangtua, perilaku dan lingkungan rumah
Read More
T-6425
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Magdalena Gultom; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum, Didi Supriyono
Abstrak: Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi penyebab utama banyaknya angka kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun diantara penyakit lainnya seperti AIDS, malaria dan campak disebut juga. Pneumonia pada balita dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor karakteristik balita, ibu responden dan lingkungan tempat tinggal di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang paling berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian menggunakan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017 Provinsi Jawa Barat dengan populasi penelitian sebanyak 196 balita yang mengalami pneumonia. Hasil analisis menunjukkan sebanyak 69,9% persen balita mengalami pneumonia di Provinsi Jawa Barat. Riwayat berat lahir balita dan bahan bakar tidak memenuhi syarat yang digunakan untuk memasak berhubungan secara signifikan terhadap pneumonia pada balita dengan nilai OR 95%CI masing-masing 1,105 (1,0471,166), 9,915 (1,298-75,708). Bahan bakar tidak memenuhi syarat yang digunakan untuk memasak merupakan variabel yang paling dominan terhadap kejadian pneumonia pada balita di Provinsi Jawa Barat
Pneumonia is a disease that is the main cause of the number of deaths in children under the age of five years among other diseases such as AIDS, malaria and measles are also mentioned. Pneumonia in children under five is influenced by several factors such as the characteristics of children under five, the respondent's mother and the environment in which they live in West Java Province. The research method used is cross-sectional using secondary data from the Indonesian Demographic and Health Survey, 2017 West Java Province with populatiof 196 children who had pneumonia. The analysis showed that 69.9% percent of children under five had pneumonia in West Java Province. History of birth weight, where children live and fuel used for cooking were significantly associated with pneumonia in children under five with OR 95% CI values of 1.105 (1.047-1.166), 0.557 (0.212-1.464), 9.915 (1.298-75.708), respectively. ). Age children, exclusive breastfeeding, history of vitamin A administration, completeness of vitamin DPT, and maternal knowledge had no significant relationship. Fuel used for cooking is the most dominant variable on the incidence of pneumonia in children under five in West Java Province.
Read More
T-6047
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Redi Yudha Irianto; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Al Asyrary, Bambang Wispriyono, Miko Hananto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Polusi udara merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kematian. NO2 adalah salah satu gas yang berkontribusi meningkatkan polusi udara yang dihasilkan dari kegiatan industri. Salah satu Industri yang menghasilkan emisi gas NO2 adalah Industri baja khususnya dari peralatan boiler dan furnace. Di Cikarang Barat terdapat industri baja yang berpotensi mengeluarkan emisi NO2 dan menyebabkan risiko kesehatan masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besar risiko lingkungan akibat pajanan NO2 dan menganalisis pengaruh karakteristik individu terhadap gangguan pernapasan pada masyarakat disekitar industri baja. Desain penelitian ini adalah Cross Sectional dengan pendekatan ARKL.

Air pollution is a health problem that can cause death. NO 2 is a gas that contributes to increase air pollution resulting from industrial activities. One industry that produces NO 2 gas emissions is the steel industry, especially from boiler and furnace equipment. In West Cikarang there is a steel industry that has the potential to emit NO 2 emissions and cause health risks to the surrounding community. This study aims to look at the large environmental risks due to NO 2 exposure and analyze the effect of individual characteristics on respiratory disorders in the community around the steel industry. The design of this research is Cross Sectional with ARKL approach. The results show that there are 3 respondents living in a radius of <500 meters around the steel industry with a real time RQ> 1. And in the estimated 30 years (life span) there are 6 respondents who have an RQ> 1. The variable that is significantly related is the disease history variable with OR 3.86 95% CI (1,593 -9,351) after being controlled with nutritional status variables. In this study, it is necessary to control the risk of respondents who have a distance of <500 meters from the steel industry.
Read More
T-5873
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive