Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 94 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Puteri Inandin Nabiha; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Ema Hermawati, Budi Hartono, Didik Supriyono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Kelainan kongenital didefinisikan sebagai kelainan struktural atau fungsional termasuk kelainan metabolisme yang muncul sebelum atau saat kelahiran dan mengakibatkan kecacatan pada anak bahkan kematian. Kelainan ini dipengaruhi faktor seperti genetik, sosioekonomi demografi dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor yang berhubungan dengan kejadian kelainan kongenital pada anak di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Studi kasus kontrol dengan pendekatan retrospektif dilakukan terhadap wanita yang memiliki anak dengan kelainan kongenital dan yang tidak, yang telah tinggal di Kecamatan Tembalang selama minimal 5 tahun serta mengonsumsi air tanah setempat. Hasil penelitian memperoleh 22 kasus dan 48 kontrol. Cerebral palsy merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan (36%) diikuti autisme (18%), sisanya buta sejak lahir, tuli kongenital, sindrom Down, hidrosefalus dan glukoma kongenital (46%). Riwayat konsanguinitas, riawayat kelainan genetik keluarga, konsumsi obat selama kehamilan, dan infeksi TORCH berhubungan signifikan dengan kelainan kongenital anak, dengan OR 95% CI masing-masing 10,44 (1,0999,86); 4,04 (1,38-11,84); 4,17 (1,34-12,91); 3,67 (2,47-5,44). Tidak ada hubungan faktor sosioekonomi-demografi seperti umur ibu ketika hamil, pendidikan, status ekonomi dan kadar timbal air tanah dengan kelainan kongenital pada anak. Riwayat konsanguinitas adalah yang paling dominan terhadap kejadian kelainan kngenital anak di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang
Congenital abnormalities are defined as structural or functional disorders including metabolic disorders that appear prior or during birth and resulted in disability in children, or death. This known risk factors are genetic, socioeconomic-demographic and environmental factor. This study aims to find factors related to the prevalence of congenital abnormalities in children in Tembalang District, Semarang City. A retrospective case control study was conducted to women who have children with congenital abnormalities and those with normal children, who have lived in Tembalang for at least 5 years and consuming local groundwater. The results obtained in 22 cases and 48 controls. Cerebral palsy is the most common disorder (36%) followed by autism (18%), the rest were congenital blindness, congenital deafness, Down syndrome, hydrocephalus and congenital glaucoma (46%). Consanguinity, family history of genetic abnormalities, drug consumption during pregnancy, and TORCH infection were significantly associated with congenital abnormalities, with OR of 95% CI were 10.44 (1.09-99.86); 4.04 (1.38-11.84); 4.17 (1.34-12.91); 3.67 (2.47-5.44) respectively. There is no correlation between socioeconomic-demographic for maternal pregnancy age, maternal education, economy statuss and ground water lead levels with congenital abnormalities in children. In conclusion, consanguinity is the most dominant factors for the prevalence of congenital abnormalities in children in Tembalang District, Semarang City.
Read More
T-5998
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Nurina Vidya Ayuningtyas; Pembimbing: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum, Tutut Indra Wahyuni
Abstrak: Menjaga kesehatan siswa sekolah dasar merupakan hal yang penting dilakukan karena siswa merupakan aset pada masa mendatang. Salah satu cara yang dapat kita lakukan antara lain, menjaga kualitas jajanan yang dijual di kantin sekolah. Bahaya biologi berupa kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada jajanan perlu mendapat perhatian karena terdapat strain E. coli patogen yang dapat memberikan dampak kesehatan. Salah satu strain E. coli patogen adalah Escherichia coli O157:H7 (E. coli O157:H7) yang dapat menyebabkan diare berdarah hingga gangguan ginjal terutama pada anak-anak. Sumber kontaminasi bakteri tersebut dapat berasal dari praktik higiene sanitasi yang tidak memenuhi syarat dan kontaminasi silang dari lingkungan seperti keberadaan hewan pembawa penyakit serta suhu dan waktu penyimpanan makanan matang yang tidak memenuhi syarat. Berlatarbelakang dari permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan higiene sanitasi dengan kontaminasi E. coli O157:H7 pada jajanan anak sekolah dasar di Kota Depok. Selain itu, peneliti juga melihat faktor lingkungan dan karakteristik individu pedagang kantin dalam mempengaruhi kejadian kontaminasi E. coli O157:H7 pada jajanan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada November 2018 sampai dengan Maret 2019 dengan melibatkan 424 responden pedagang dan 424 sampel jajanan. Penelitian ini menggunakan pengolahan data chi square pada uji bivariat dan regresi logistik pada uji multivariat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar pedagang kantin SD (91,3%) belum menerapkan praktik higiene sanitasi. Data mengenai kontaminasi jajanan diketahui sebanyak 51,7% terkontaminasi Coliform, 11,8% terkontaminasi E. coli, dan 9% terkontaminasi E. coli O157:H7. Jenis jajanan yang terkontaminasi bakteri Coliform dan E. coli sebagian besar merupakan jajanan yang menggunakan komposisi es, sedangkan jajanan yang terkontaminasi E. coli O157:H7 sebagian besar merupakan jajanan yang menggunakan komposisi telur dalam penyajian kepada konsumen (siswa). Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa higiene sanitasi yang tidak memenuhi syarat meningkatkan risiko kontaminasi E. coli O157:H7 sebesar 3,89 kali pada jajanan setelah dikontrol dengan faktor lingkungan (kepadatan lalat dan waktu penyimpanan makanan matang). Upaya perbaikan kondisi sanitasi di kantin Sekolah Dasar dan kualitas jajanan sekolah dapat dilakukan dengan menyediakan fasilitas penunjang dan melakukan pengawasan rutin terhadap praktik higiene sanitasi pedagang kantin. Selain itu, koordinasi dan kerja sama lintas sektor antara Sekolah dengan Dinas Kesehatan setempat dan pihak lainnya harus dijalankan untuk mengawasi praktik higiene sanitasi dan pemantauan kualitas jajanan sekolah secara rutin agar kualitas jajanan terjaga dengan baik.
Read More
T-5674
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Tania Varera; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Zakianis, Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum, Nailul Hikmi
Abstrak: Warung Tegal merupakan jenis warung yang seringkali makanannya terkontaminasi oleh bakteri E. coli. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan waktu penyajian pangan yang lebih dari 6-8 jam dengan kontaminasi E. coli pada makanan di 51 Warung Tegal di Kecamatan Beji, Cimanggis, Sukmajaya Kota Depok tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional, dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Jumlah sampel sebanyak 51 makanan (usus ayam) di Warung Tegal, dan responden penelitian adalah seluruh penjamah makanan sebanyak 99 orang penjamah. Hasil pemeriksaan menunjukkan 36 (70.6%) sampel makanan terkontaminasi bakteri E. coli. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara waktu penyajian (p-value 0.006), penyimpanan bahan makanan (p-value 0.006), dan pengetahuan penjamah (p-value 0.031) dengan kontaminasi E. coli. Peran penjamah makanan sangat penting dalam meningkatkan kualitas makanan di Warung Tegal. Perlu adanya penyuluhan dan pelatihan praktik higiene sanitasi pengelolaan pangan untuk pemilik, pengelola, dan penjamah sebagai upaya pencegahan kontaminasi pada makanan di Warung Tegal.
Warung Tegal is a type of stall that is often contaminated with E. coli bacteria. This study aimed to determine the relationship between food serving time of more than 6-8 hours with E. coli contamination in food at 51 Warung Tegal in Beji, Cimanggis, Sukmajaya, Depok City in 2024. This study used a cross sectional study design, conducted in June 2024. The number of samples was 51 food (chicken intestine) in Warung Tegal, and the respondents were all food handlers as many as 99 handlers. The results showed 36 (70.6%) food samples were contaminated with E. coli bacteria. The results showed a relationship between serving time (p-value 0.006), food storage (p-value 0.006), and food handler knowledge (p-value 0.031) with E. coli contamination. The role of food handlers is very important in improving the quality of food in Tegal Warung. There is a need for counselling and training on food hygiene and sanitation practices for owners, managers, and food handlers as an effort to prevent contamination of food in Warung Tegal.
Read More
T-7121
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Rabiatul Adawiah; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Bambang Wispriyono, Zakianis, Yulia Fitria Ningrum, Aria Kusuma
Abstrak:

Penyakit diare menjadi salah satu gangguan gastrointestinal yang sering terjadi pada anak usia balita dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Provinsi Papua Pegunungan memiliki capaian sanitasi rendah dan prevalensi diare balita tertinggi di Indonesia pada tahun 2023. Faktor lingkungan dan faktor ibu merupakan faktor yang saling berkaitan dengan kejadian diare pada anak balita. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor risiko kejadian diare pada anak balita di Provinsi Papua Pegunungan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan sumber data diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan jumlah sampel yang dianalisis sebesar 266 anak usia 0-59 bulan di Provinsi Papua Pegunungan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan multivariat menggunakan regresi logistik model determinan. Hasil menunjukkan ada hubungan antara sumber air minum, akses sanitasi, jenis lantai dan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita. Pendidikan ibu rendah merupakan faktor paling dominan berpengaruh terhadap kejadian diare. Anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan rendah akan berisiko 2,832 kali lebih besar untuk mengalami diare dibandingkan anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan tinggi. Diperlukan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat dalam peningkatan akses pendidikan yang merata disetiap wilayah serta kolaborasi penyelenggara kesehatan untuk meningkatkan pendidikan kesehatan melalui promosi kesehatan terpadu terkait perilaku hidup bersih dan sehat dalam lingkungan rumah tangga.


Diarrhea is one of the most common gastrointestinal disorders in children under five years of age and is a major cause of morbidity and mortality. Papua Pegunungan Province has the lowest sanitation achievement and the highest prevalence of under five years of diarrhea in Indonesia by 2023. Environmental factors and maternal factors are interrelated with the incidence of diarrhea in children under five years. The purpose of this study was to analyze the risk factors for the incidence of diarrhea in children under five years in Papua Pegunungan Province. This study used a cross sectional design and the data source from the Indonesian Health Survey in 2023 with a total sample of  266 children aged 0-59 months in Papua Pegunungan Province. Data were analyzed univariate, bivariate with Chi- Square test and multivariate with logistic regression of determinant models. Results showed an association between drinking water source, sanitation access, floor type and mother's education with the incidence of diarrhea in children under five. Low maternal education is the most dominant factor affecting the incidence of diarrhea. Children under five who come from mothers with low education will be at risk 2,832 times greater to experience diarrhea than children under five who come from mothers with high education. Cooperation is needed from the government and the community to increasing access to education that is evenly distributed in each region and collaboration of health providers to improve health education through integrated health promotion related to clean and healthy living behaviors in the household environment.

 

Read More
T-7240
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Dahlia Kristina Silalahi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Didik Supriyono
Abstrak:
Penyakit menular berbasis lingkungan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global yaitu diare. Diare berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa dan kematian yang terjadi pada semua umur. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi kejadian diare pada semua umur berdasarkan diagnosa/gejala adalah 4,3%, dengan provinsi yang paling tinggi yaitu Provinsi Papua Tengah (16,1%). Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis faktor (karakteristik individu dan lingkungan) yang berhubungan dengan kejadian diare di Provinsi Papua Tengah. Penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 dan jumlah sampel yaitu 5.408 responden. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik model prediksi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan tempat tinggal (5,36; 3,01-9,54), perilaku cuci tangan (2,84; 1,49-5,42), sumber air minum (3,43; 1,13-10,37), kualitas fisik air minum (3,26; 1,17-9,07), pengelolaan sampah (3,41; 1,21-9,59), fasilitas sanitasi (15,43; 4,25-56,03), pembuangan limbah (2,98; 1,42-6,19), dan fasilitas cuci tangan (6,97; 3,94-12,33) dengan kejadian diare. Kualitas fisik air minum (3,26; 1,14-9,28) merupakan variabel yang paling dominan terhadap kejadian diare di Provinsi Papua Tengah.

An environmentally-based infectious disease that remains a global public health problem is diarrhea. Diarrhea has the potential to cause extraordinary events and deaths that occur at all ages. Based on data from the Indonesian Health Survey in 2023, the prevalence of diarrhea incidence at all ages based on diagnoses/symptoms was 4.3%, with the highest province being Central Papua Province (16.1%). The purpose of this study was to analyze factors (individual and environmental characteristics) associated with the incidence of diarrhea in Central Papua Province. The study used a cross sectional research design using the Indonesian Health Survey data in 2023 and the sample size was 5,408 respondents. Data analysis used chi square test and predictive model logistic regression. The results showed that there was a relationship between residence (5,36; 3,01-9,54), hand washing behavior (2,84; 1,49-5,42), drinking water source (3,43; 1,13-10,37), physical quality of drinking water (3,26; 1,17-9,07), waste management (3,41; 1,21-9,59), sanitation facilities (15,43; 4,25-56,03), waste disposal (2,98; 1,42-6,19), and hand washing facilities (6,97; 3,94-12,33) with the incidence of diarrhea. Physical quality of drinking water (3,26; 1,14-9,28) is the most dominant variable for the incidence of diarrhea in Central Papua Province.
Read More
T-7234
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Relita Maizara; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Lusi Nurbaiti Badri
Abstrak:

ABSTRAK Pendahuluan: Limbah makanan menjadi isu global di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kelaparan di beberapa negara. Indonesia termasuk ke dalam 5 negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia dan merupakan negara penghasil sampah terbanyak di Asia Tenggara. Sampah makanan menimbulkan banyak kerugian dari sektor ekonomi, lingkungan dan kesehatan. Dibutuhkan upaya untuk mencegah timbulnya sampah makanan tersebut. Upaya yang paling utama yaitu mencegah pada sumbernya dengan membatasi produksi makanan berlebih dan ketika terjadi surplus makanan, upaya terbaik yang dapat dilakukan adalah mendistribusikan kembali makanan tersebut untuk dikonsumsi. Praktik untuk mendistribusikan kembali makanan berlebih ini disebut praktik food sahring. Tujuan: Praktik food sharing ini belum banyak diterapkan di Indonesia, salah satunya kota Depok. Sehingga dibutuhkan penelitian untuk menggali informasi terkait potensi penerapan praktik Food Sharing di Kota Depok. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil: Informan belum mengetahui terkait konsep food sharing namun memiliki sikap yang positif terhadap konsep ini. Fasilitas Restoran dan Panti asuhan memadai sedangkan fasilitas mediator tidak memadai. Kemudian kerja sama lintas sektor juga belum terlaksana untuk penerapan food sharing. Kebijakan dari Pemerintah daerah untuk pengelolaan makanan berlebih belum ada di Kota Depok. Hal-hal inilah yang melatarbelakangi belum terlaksananya praktik food sharing secara melembaga di Kota Depok. Kesimpulan: Praktik food sharing secara melembaga belum diterapkan di Kota Depok. Namun, praktik food sharing telah diterapkan yaitu apabila ada makanan yang berlebih diberikan kepada Karyawan. Faktor pengetahuan, ketersediaan dan kelayakan makanan merupakan hambatan utama untuk potensi pelaksanaan praktik food sharing di Kota Depok. Kata kunci: Limbah makanan, Food sharing, Penelitian kualitatif


ABSTRACT Introduction: Food waste is becoming a global issue amidst growing hunger concerns in several countries. Indonesia is one of the top 5 food waste generating countries in the world and the top waste generating country in Southeast Asia. The negative impacts of food waste are felt economically, environmentally, and in terms of health. Consequently, efforts are necessary to prevent food waste. The main focus should be on preventing it at the source by reducing the production of excess food, and when surplus occurs, the distribution of food for the next consumption becomes crucial. Objectives: This redistribution practice is known as food sharing. Unfortunately, the practice of food sharing has not been widely adopted in Indonesia, including in Depok city. Therefore research is needed to explore information related to the potential application of Food Sharing practices in Depok City. Methods: This study was a qualitative study with a descriptive design. Results: Informants were unfamiliar with the concept of food sharing but had a positive attitude towards this concept. Restaurant and orphanage facilities showed readiness in implementing the Food Sharing practices while mediator facilities showed unreadiness. There were no cross-sectoral cooperation available for further implementation of Food Sharing. Furthermore, there was a lack of local government policy for surplus food management in Depok City, caused none Food Sharing practices have been implemented in this area. Conclusion: In Depok City, there has been no adoption of institutionalized food sharing practices. However, the practice of food sharing has been implemented, if there is surplus food, it is distributed to the employees. The main barriers to the potential implementation of food sharing practices in Depok City were the lack of awareness, accessibility, and suitability of the food. Keywords: Food waste, Food Sharing, Qualitative Research

Read More
T-7005
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Rahmi Lisdeni; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Darwel
Abstrak:
Salah satu fokus program pembangunan kesehatan di Indonesia saat sekarang merupakan stunting. Stunting adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan karena multifaktor diantaranya sanitasi lingkungan yang buruk, asupan gizi kurang, penyakit infeksi, dll yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan umurnya (TB/U20%). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita yang dikaitkan dengan sanitasi lingkungan dan asupan gizi pada Balita 6-59 bulan di Wilayah Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 189 sampel. Analisis data dilakukan dengan SPSS yaitu analisis univariat Distribusi Frekuensi, Analisis bivariate (Chi-square) dan analisis multivariat (regresi logistik). Terdapat hubungan yang bermakna antara variabel-variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi dengan kejadian stunting pada balita yaitu variabel perilaku BABS, variabel perilaku CTPS, variabel Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), variabel sarana dan kepemilikan jamban dan variabel asupan zat gizi. Semua variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi yang diteliti merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita karena memiliki OR>1 Sedangkan variabel yang paling besar pengaruhnya yaitu variabel CTPS. Terdapat faktor risiko sanitasi lingkungan dan asupan gizi terhadap kejadian stunting pada balita. Dan disarankan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemberantasan stunting dengan pemicuan STBM dan peningkatan asupan memberikan edukasi kepada ibu balita serta ibu hamil untuk memakan makanan beragam, bergizi dan seimbang serta meningkatkan pemberian PMT pada balita terutama PMT lokal bernilai gizi yang banyak di wilayah tersebut seperti Ikan. Perlu peningkatan kerjasama lintas sektor untuk memberantas faktor risiko sanitasi lingkungan yang buruk dan asupan gizi yang kurang pemicu stunting. Kata kunci: Stunting, balita 6-59 bulan, sanitasi lingkungan, asupan gizi, Batangkapas .

One of the current focuses of health development programs in Indonesia is stunting. Stunting is failure of growth and development due to multiple factors including the poor environmental sanitation, the inadequate nutritional intake, the infectious diseases, etc. which is characterized by height or body length that is not appropriate for age (TB/U 20%). The goal of the research is ttg=termine the risk factors for stunting in toddlers which are associated with environmental sanitation and nutritional intake in toddlers 6-59 months . The design of this research is cross sectional with a total sample of 189 samples. Data analysis was carried out using SPSS, namely Frequency Distribution univariate analysis, bivariate analysis (Chi-square) and multivariate analysis (logistic regression). There is a significant relationship between environmental sanitation variables and nutritional intake and the incidence of stunting in toddlers, namely the behavioral variable of ODF, the behavioral variable of CTPS, home food and drink processing (PAM-RT) variable, latrine ownership variable and nutrient intake variable. All environmental sanitation and nutritional intake variables studied are risk factors for stunting in toddlers because they have OR> 1. Meanwhile, the variable with the greatest influence is the CTPS variable. There are risk factors for environmental sanitation and nutritional intake in the incidence of stunting among toddlers. And it is recommended that the Community Health Center and Health Service eradicate stunting by triggering STBM and increasing intake. education for mothers of toddlers and pregnant mothers to eat diverse, nutritious and balanced food and increase the provision of PMT to toddlers, especially local PMT with nutritional value which is abundant in the region, such as fish. There is a need to increase cross-sector collaboration to eradicate the risk factors of poor environmental sanitation and inadequate nutritional intake that trigger stunting.
Read More
T-6884
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Annisa Melianriza; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Yoerdi Agusmal Saputra, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Kehadiran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di suatu wilayah dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi penduduk sekitar. Manajemen yang tidak baik dapat mengakibatkan pencemaran air, udara, dan tanah oleh tumpukan sampah. Pencemaran ini berpotensi menyebabkan penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, Diare, DBD, dan masalah kulit. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan permukiman, personal hygiene, dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan di sekitar TPA Sungai Andok Padang Panjang. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan data primer dari wawancara dan observasi. Analisis yang digunakan yaitu bivariat dengan Chi Square dan analisis multivariat dengan Binary Regresi logistic model prediksi. Sampel sebanyak 103 responden dipilih melalui metode convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa variabel lingkungan permukiman seperti luas ventilasi, penerangan alami, kelembaban rumah, dan kebersihan rumah berhubungan signifikan dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan (p<0,05). Variabel personal hygiene seperti kebersihan kulit dan kebersihan tangan juga memiliki hubungan signifikan dengan penyakit tersebut (p<0,05). Umur, lama bermukim, kelembaban rumah, dan kebersihan kulit diidentifikasi sebagai variabel yang paling dominan berhubungan kejadian penyakit berbasis lingkungan di masyarakat sekitar TPA Sungai Andok. Kesimpulan Penelitian ini menemukan hubungan signifikan faktor lingkungan permukiman dan personal hygiene dengan penyakit berbasis lingkungan di sekitar TPA Sungai Andok. Umur, lama bermukim, kelembaban rumah, dan kebersihan kulit menjadi variabel paling dominan. Temuan ini dapat membantu pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat dan program intervensi untuk mengurangi prevalensi penyakit berbasis lingkungan.

The presence of a landfill (Tempat Pembuangan Akhir or TPA) in a certain area can pose health risks tothe surrounding population. Poor management can result in water, air, and soil pollution from waste piles. This pollution has the potential to cause Environmentally Based Diseases such as Acute Respiratory Infections (ISPA), Diarrhea, Dengue Fever (DBD), and skin problems. This research aims to analyze the relationship between settlement environmental conditions, personal hygiene, and the occurrence of Environmentally Based Diseases around TPA Sungai Andok in Padang Panjang. The research methodology uses a cross-sectional approach with primary data obtained from interviews and observations. The analysis includes bivariate Chi Square and multivariate analysis using Binary Logistic Regression model prediction. A sample of 103 respondents was selected through Convenience sampling. The research results indicate that several settlement environmental variables such as ventilation area, natural lighting, house humidity, and house cleanliness are significantly associated with the occurrence of Environmentally Based Diseases (p<0.05). Personal hygiene variables such as skin cleanliness and hand hygiene also show a significant association with these diseases (p<0.05). Age, length of residence, house humidity, and skin cleanliness are identified as the most dominant variables associated with the occurrence of Environmentally Based Diseases in the community around TPA Sungai Andok. The conclusion of this research identifies a significant relationship between environmental factors in settlements and personal hygiene with environmentally based diseases around the TPA Sungai Andok area. Age, length of residence, humidity in the house, and skin hygiene emerge as the most dominant variables. These findings can contribute to the development of public health policies and intervention programs to reduce the prevalence of environmentally based diseases.
Read More
T-6871
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Henny Arida Purba; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Rita Damayanti, Desniwati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Berdasarkan data pengukuran kebugaran pegawai dengan metode rockport dari program Kesehatan Olahraga Puskesmas Rawat Inap Permata Sukarame Tahun 2020, didapatkan hasil Vo2Max pegawai dengan 34% kategori cukup dan 66% kategori kurang dan tidak ditemukan hasil Vo2Max kategori baik. Kondisi jasmani yang bugar memberikan dampak positif pada tenaga kerja. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan penelitian kualitatif desain fenomenologi . Hasil penelitian ini adalah ditemukan adanya motivasi intrinsik informan melakukan pengukuran kebugaran jasmani yaitu adanya ketertarikan pada kegiatan tersebut yang memberikan efek positif untuk kesehatan. Informan juga merasa mendapatkan penyegaran di luar dari rutinitas sehari-hari, serta perlunya kesadaran diri pegawai tentang arti pentingnya kebugaran jasmani. Untuk motivasi ektrinsik pegawai yaitu: penghargaan, pengawasan, tanggung jawab, hubungan pribadi, kondisi kerja serta kebijakan dan administrasi tempat kerja. Kondisi tubuh tidak fit, cuaca, kurangnya waktu dan keluarga menjadi hambatan dalam pengukuran kebugaran jasmani. Dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan hasil pengukuran kebugaran jasmani yang optimal, diperlukan minat berupa hobi dan ketertarikan, tantangan serta tanggung jawab yang berupa kesadaran diri yang berasal dari motivasi intrinsik. Untuk motivasi ekstrinsik, diperlukan penghargaan, pengawasan, hubungan antar pribadi, kondisi tempat kerja serta kebijakan dan administrasi. Terdapat juga hambatan lingkungan sosial dan lingkungan fisik yang menghalangi pegawai melakukan pengukuran kebugaran jasmani.

Based on employee fitness measurement data using the rockport method from the 2020 Permata Sukarame Inpatient Health Center Sports Health program, employee Vo2Max results were obtained with 34% in the sufficient category and 66% in the insufficient category and no Vo2Max results were found in the good category. A fit physical condition has a positive impact on the workforce, including creating optimal work productivity and vice versa. This study was designed with a qualitative research approach to case study design. The results of this study found that there was an intrinsic motivation of the informants to measure physical fitness, namely an interest in these activities which had a positive effect on health. Informants also felt that they got refreshment outside of their daily routine, as well as the need for self-awareness by employees about the importance of physical fitness. For extrinsic motivation of employees, namely: appreciation, supervision, responsibility, personal relationships, working conditions and workplace policies and administration. Unfit body condition, weather, lack of time and family become barriers in measuring physical fitness. It can be concluded that in order to obtain optimal physical fitness measurement results, interest in the form of hobbies and interests, challenges and responsibilities in the form of self-awareness is needed which comes from intrinsic motivation. For extrinsic motivation, respect, supervision, interpersonal relationships, working conditions and policies and administration are needed. There are also social environmental and physical environmental barriers that prevent employees from measuring physical fitness.
Read More
T-6707
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Shoaib Shafqat; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Fitri Kurniasari, Suhardi, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Akses terhadap air minum yang bersih dan aman merupakan aspek penting dalam kesehatan masyarakat. Namun, banyak warga di Jagakarsa, Jakarta Selatan, masih mengandalkan sumber air yang terkontaminasi akibat pencemaran, infrastruktur yang kurang memadai, dan rendahnya kesadaran masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai persepsi dan kesadaran masyarakat terhadap kualitas air minum. Studi ini menggunakan desain kuantitatif potong lintang dan melibatkan 108 responden dewasa dari enam kelurahan di Jagakarsa dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil menunjukkan bahwa 55,6% responden menggunakan air tanah sebagai sumber utama air minum, dan hanya 14,8% yang menggunakan air perpipaan. Meskipun 57,4% menilai air mereka jernih, 42,6% menganggapnya tidak aman untuk diminum, dan 31,5% mencium bau yang tidak sedap. Dalam hal perlakuan air, 41,7% responden merebus air, 25% menggunakan penyaringan, dan 15,7% tidak melakukan perlakuan apa pun. Tingkat kesadaran terhadap isu-isu terkait air tergolong sedang (56,5%), namun hanya 38,9% yang pernah menerima informasi melalui kampanye publik. Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan kesadaran (p < 0,05), serta antara sumber air utama dengan perilaku perlakuan air (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara persepsi dan kenyataan terkait keamanan air, serta pentingnya edukasi masyarakat, perbaikan perlakuan air, dan pengembangan infrastruktur untuk mendorong praktik konsumsi air minum yang aman di Jagakarsa.

Access to clean and safe drinking water is a fundamental aspect of public health. However, many residents in Jagakarsa, South Jakarta, continue to rely on contaminated water sources due to pollution, inadequate infrastructure, and limited public awareness. This study aimed to assess public perceptions and awareness regarding drinking water quality. A cross-sectional quantitative study was conducted among 108 adult residents across six subdistricts in Jagakarsa using a structured questionnaire. The results showed that 55.6% of respondents relied on groundwater, while only 14.8% used piped water. Although 57.4% perceived their water as clear, 42.6% believed it was unsafe to drink, and 31.5% reported unpleasant odors. In terms of treatment practices, 41.7% boiled their water, 25% used filtration, and 15.7% did not treat their water at all. Awareness of waterborne issues was moderate (56.5%), and only 38.9% had received information through public campaigns. Chi-square analysis revealed significant associations between education level and awareness (p < 0.05), as well as between the main water source and treatment behavior (p < 0.05). These findings highlight a gap between perception and actual water safety and underscore the importance of public education, improved treatment practices, and infrastructure development to promote safe drinking water use in Jagakarsa.

Read More
T-7341
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive