Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ririn Febriana Anggraeni; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Muhammad Noor Farid, Ratna Djuwita, Nurhalina Afriana
Abstrak: Latar belakang: Hubungan seks yang berisiko menularkan HIV adalah hubunganseks dengan banyak pasangan dan berganti-ganti pasangan yang sebagian besardidominasi dengan hubungan seks komersial, baik pada kelompok heteroseksualmaupun pada kelompok homoseksual atau sejenis. Kelompok yang palingberisiko tertular HIV adalah kelompok homoseksual dan biseksual yang biasadikategorikan sebagai lelaki seks lelaki atau disebut LSL. Di banyak bagianwilayah, HIV di kalangan LSL muncul dengan penularan HIV yang sangat cepat.

Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tahu status HIVterhadap penggunaan kondom konsisten pada LSL di Yogyakarta dan Makassardan melihat adakah perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan non RDS terhadap indikator program. Penelitian ini menggunakan data STBP2013.

Hasil: Dari hasil analisis diperoleh bahwa di Yogyakarta ada pengaruh tahu statusHIV terhadap penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 6,6 dan 95% CI2,1-20,9, sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIVdengan penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 1,6 dan 95% CI 0,6 -4,4. Ada perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan nonRDS terhadap indikator program.

Kesimpulan: Terdapat pengaruh tahu status HIV dengan penggunaan kondomkonsisten pada lelaki yang seks dengan lelaki di Yogyakarta sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIV dengan penggunaankondom konsisten. Terdapat perbedaan hasil analisis dengan menggunakanmetode RDS dan non RDS terhadap indikator program

Kata kunci: LSL, status HIV, kondom konsisten
Introduction : Sex which higher risk of spreading HIV is sex with multiplepartners and change partners that is largely dominated by commercial sex, eitheron the heterosexual and homosexual group, or similar sexual behaviour. Groupsmost at risk of contracting HIV is a group of homosexual and bisexual men arecommonly categorized as men sex with men, or so-called MSM. In many parts ofthe region, HIV among MSM appears with HIV infection very quickly.

Methods: This study aimed to determine the effect knowing their HIV statustoward consistency condom use in MSM in Yogyakarta and Makassar and to seethe differences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.This study uses data IBBS 2013.

Summary: From the results of the analysis showed that in Yogyakarta there wasan effect Yogyakarta of knowing HIV status toward consistency condom use withan OR of 6,6 and 95%CI 2,1-20,9. while in Makassar unclear knowing HIV statustoward consistent condom use with an OR of 1.6 and 95% CI 0,6 - 4,1. There isdifferences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.

Conclusion: There is Influence of knowing HIV Status to consistent Condom usein Yogyakarta while in Makassar unclear knowing HIV status toward consistentcondom use. There is differences between analysis using RDS and non RDS toindicator of program.

Kata kunci: MSM, HIV status, condom consistent
Read More
T-4406
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zita Atzmardina; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Caroline Endah Wuryanigsih, Nurhalina Afriana
Abstrak: Waria sering mendapatkan diskriminasi. Perilaku waria yang berisiko perlutindakan pendeteksian dini sehingga tidak menjadi sumber penularan. Penelitianbertujuan untuk melihat model perilaku waria dalam memutuskan pemeriksaanHIV/AIDS di Palembang, Pontianak, Samarinda, dan Makasar tahun 2013. Desainpenelitian yang digunakan adalah cross sectional, menggunakan data STBP tahun2013. Hasil analisis GSEM memperlihatkan faktor predisposing mempengaruhikeputusan pemeriksaan HIV/AIDS pada waria (koef. path=0,61). Peran petugasberpengaruh terhadap pengetahuan waria (koef. path=1,1) dan mempunyaipengaruh yang besar dalam pengambilan keputusan pemeriksaan HIV/AIDS padawaria (koef. path=3,5). Oleh sebab itu, penyuluhan melalui petugas kesehatanatau petugas lapangan sangat penting dalam pengambilan keputusan pemeriksaanHIV/AIDS.
Kata kunci: GSEM, waria, pemeriksaan HIV/AIDS
Transvestites often get discrimination. The risk behavior of transvestites needs anearly detection so as not to be a source of transmission. This study examined thebehavior of transvestites in deciding of HIV/AIDS test in Palembang, Pontianak,Samarinda and Makassar in 2013. The study design is cross sectional, using dataIntegrated Biological and Behavioral Survey (IBBS) 2013. The results of GSEManalysis showed predisposing factors affect the decision of HIV/AIDS test amongtransvestites (path coef. = 0.61). Health workers affect the knowledge oftransvestites (path coef.= 1.1) and has a great influence on decision HIV/AIDStest in transvestites (path coef. = 3.5). Therefore, counseling via health workers isvery important in the decision for HIV/AIDS test.
Key word: GSEM, Transvestites, HIV/AIDS test
Read More
T-4397
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
S-9008
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yati Nurhayati; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Besral, Tri Krianto, Maya Trisiswati, Nurhalina Afriana
Abstrak: Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) adalah laki-laki yangterlibat dalam hubungan seksual dengan laki-laki lain. LSL dilaporkan melakukanseks komersial yang mana diketahui memiliki risiko tinggi terhadap HIV danInfeksi Menular Seks (IMS). Seks komersial merupakan perilaku yang berisikokarena pada perilaku ini kedua pihak baik yang membayar dan menerima bayaranberganti-ganti pasangan tidak tetap, memiliki banyak pasangan seks danmelakukan seks yang tidak aman. Prevalensi seks komersial yang meningkat padaLSL diduga sebagai salah satu penyebab tingginya kejadian HIV/IMS. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui hubungan seks komersial dengan kejadianHIV/IMS di Yogyakarta dan Makassar. Penelitian ini menggunakan desainpotong-lintang dengan jumlah responden 170 LSL di Yogyakarta dan 240 LSL diMakassar yang direkrut oleh Kementerian Kesehatan pada Survei TerpaduBiologis dan Perilaku tahun 2013 dengan metode pengambilan samplingResponden Driven Sampling. LSL yang melakukan seks komersial di Yogyakartadan Makassar sebesar 30.3% dan 54.8% dengan kejadian HIV/IMS 56.6% diYogyakarta dan 5.06% di Makassar. LSL yang melakukan seks komersial diYogyakarta memiliki kemungkinan 11 kali lebih tinggi (95%CI 0.8-140.5) untukmengalami HIV/IMS dibandingkan LSL yang non komersial sedangkan hasil diMakassar tidak dapat disimpulkan karena jumlah kejadian HIV/IMS positif diMakassar sangat kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seks komersialmerupakan faktor risiko kejadian HIV/IMS dan menjadi penyebab tingginyakejadian HIV/IMS di Yogyakarta.
Kata kunci: Seks komersial, HIV, LSL,IMS
Men who have sex with men (MSM) are men who engage in sexual relations withother men. MSM reported commercial sex are known to be at higher risk for HIVand Sexually Transmitted Infections (STIs). Commersial sex is risky behaviorbecause this behavior MSM who paid and get paid having casual partners, mutiplesex partners and unprotected sex. The prevalence of commercial sex increased inMSM were suspected as one of the reason for the increased of incidence ofHIV/STIs. This study aims to determine the commercial sex with the incidence ofHIV/STIs in Yogyakarata and Makassar. A cross-sectional study conduct among170 MSM in Yogyakarta and 240 MSM in Makassar recruited by the Ministry ofHealth on Integrated Biological and Behavioral Survey in 2013 with RespondentDriven Sampling. Commercial sex among MSM in Yogyakarta and Makassar was30.3% and 54.8% with the incidence of HIV/STI 56.6% in Yogyakarta and 5:06%in Makassar. Commercial sex among MSM are 11 times more likely to beinfected HIV/STI (95% CI 0.8-140.5) than noncommercial sex whereas the resultin Makassar are inconclusive because the incidence of HIV/STIs positive inMakassar very low. The study showed that commercial sex is a risk factor for theincidence of HIV/STIs and the cause of the high incidence of HIV/STIs inYogyakarta.
Keywords: Commersial sex, HIV, MSM, STIs
Read More
T-4761
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sonda Nur Assyaidah; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Toha Mohaimin, Ahmad Syafiq, Nurhalina Afriana, Ovi Norfiana
Abstrak: Industri jasa layanan seks ada di Indonesia dan dikenal sebagai sumber penularan HIV dan IMS. Upaya pencegahan penularan HIV salah satunya melalui tes HIV. Tes HIV dapat memperluas layanan HIV yang meliputi perawatan, dukungan, dan pengobatan pada waktu yang tepat. Akan tetapi, masih banyak WPS yang belum bersedia memanfaatkan pelayanan tes HIV padahal tes ini sudah disediakan gratis begitu pula dengan pengobatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan komprehensif HIV/AIDS dan persepsi berisiko terkena HIV terhadap pemanfaatan layanan tes HIV pada WPS baik WPSL maupun WPSTL di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian mix method (kuantitatif dan kualitatif) dengan desain Sequential Explanatory. Sampel pada penelitian ini adalah WPS berjumlah 447 orang dan 12 informan. Terdapat variasi pengaruh pengetahuan dan persepsi terhadap pemanfaatan layanan tes. Pengetahuan komprehensif mempunyai faktor proteksi 0,50 kali untuk memanfaatkan layanan tes HIV. Artinya, WPS yang tidak memiliki pengetahuan komprehensif lebih berpeluang untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV, dibandingkan dengan WPS yang memiliki pengetahuan komprehenshif. Sedangkan persepsi berisiko terkena HIV mempunyai faktor proteksi 0,48 kali untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV. Artinya, WPS yang tidak memiliki persepsi berisiko terkena HIV lebih berpeluang untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV, dibandingkan dengan WPS yang memiliki persepsi berisiko terkena HIV.
Kata kunci : Pemanfaatan Layanan, Tes HIV, Wanita Pekerja Seks

Sex services industry is in Indonesia and known as a source of HIV and STI transmission.Prevention of HIV transmission one of them is HIV testing. HIV testing can expand HIV services that include care, support, and treatment in a timely manner. However, there are still many FSWs who are not willing to take advantage of HIV testing services, whereas this test has been provided free of charge as well as the treatment. This study aims to determine relationship between comprehensive knowledge of HIV/AIDS and risk perceptions of HIV to the use HIV testing services in WPS both WPSL and WPSTL in DKI Jakarta. This research is mix method (quantitative and qualitative) with Sequential Explanatory design. Samples in this study were WPS amounted to 447 people and 12 informants. There are variations in the influence of knowledge and perceptions on the utilization of test services. Comprehensive knowledge of HIV/AIDS has a protection factor of 0.50 times to take advantage of HIV testing services. That is, WPS who do not have comprehensive knowledge of HIV/AIDS more likely to make use of HIV testing services, compared with WPS with comprehensive knowledge of HIV/AIDS. While risk perceptions of HIV have a protection factor of 0.48 times to make use of HIV testing services. That is, WPS who do not have perceptions at risk of HIV are more likely to utilize HIV testing services, compared to female sex workers who have a risk perception of HIV.
Keywords: Service Utilization, HIV Test, Female Sex Worker
Read More
T-5423
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zulfa Kevaladandra; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tri Krianto, Kemal N. Siregar, Nurhalina Afriana, Akbar Prayuda
Abstrak: Kepatuhan ODHA terhadap terapi antiretroviral (ART) cenderung menurun pada tahun 2020 karena adanya kekhawatiran dan ketakutan ODHA untuk mengambil obat ARV di pelayanan kesehatan pada masa pandemi COVID 19 nformasi yang baik terkait HIV dan COVID 19.ingginya motivasi informan untuk retensi layanan PDP, dan keterampilan perilaku informan yang baik agar dapat mengakses layanan PDP meningkatkan retensi layanan PDP ODHA yang baik pula. Hasil penelitian menyarankan agar yayasan X bekerja sama dengan layanan kesehatan yang menyediakan layanan PDP untuk mengoptimalkan pemanfaatan telekonsultasi sebagai alternatif pelayanan HIV serta Dinas Kesehatan Kota Surabaya dapat bekerja sama dengan mitra untuk meningkatkan retensi layanan ODHA di masa pandemi COVID 19
Read More
T-6160
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arindi Vindi Cahyani; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Nurhalina Afriana
Abstrak: Latar belakang: Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh pada orang yang terinfeksi. HIV masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang dihadapi Indonesia khususnya provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2020 jumlah kasus baru HIV mencapai 5.666 kasus jauh dibandingkan rata-rata kasus baru Indonesia. Transmisi HIV sangat berbeda tergantung pada konteks sosial dan karakteristik spesifik wilayah. Tujuan: Mengetahui faktor demografi dan sosial ekonomi yang berhubungan dengan prevalensi HIV di Jawa Barat pada tahun 2020. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi deskriptif dengan menggunakan studi ekologi korelasi perbandingan wilayah, dengan populasi 27 Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor demografi kepadatan penduduk memiliki hubungan yang signifikan dengan prevalensi HIV (P=0,038) kekuatan hubungan sedang dengan arah positif (r=0,4). Faktor sosial ekonomi Indeks Pembangunana Manusia memiliki hubungan signifikan dengan prevalensi HIV (P=0,035) kekuatan hubungan sedang dengan arah positif (0,407). Sementara, faktor demografi jenis kelamin dan faktor sosial ekonomi PDRB per Kapita memiliki hubungan yang tidak signifikan dengan prevalensi HIV. Kesimpulan: Penanganan HIV dapat memperhatikan karakteristik spesifik wilayah sesuai dengan kondisi sosial ekonomi dan demografi.
Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus which attacks the immune system of an infected person. HIV become a serious problem being faced in Indonesia especially West Java province. In 2020 the number of new HIV infection in West Java reach 5.666 cases, higher than an average new cases in Indonesia. The spread of HIV depend on social context and region-specific characteristic. Goal: This study aims to analyze demographic and socioeconomic factors associated with HIV prevalence in West Java Province in 2020. Methods: Epidemiology descriptive using ecological correlation study with multiple-group study. Populations in this study are all 27 regencies and municipalities in West Java Province. Results: The result of this study showed that population density part of demographic factor has a significant relation with HIV prevalence (P=0,038), with a moderate relationship and positive pattern (r=0,4). Human Development Index part of socioeconomic factor has a significant relation with HIV prevalence (P=0,035), with a moderate relationship and positive pattern (r=0,407). Meanwhile, for sex ratio and GRDP per Capita showed an insignificant relationship with HIV prevalence. Conclusion: Considering characteristic specific areas based on socioeconomic and demographic can be a good way for HIV prevention.
Read More
S-10971
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musa Rapang; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Besral, Sudijanto Kamso, Adria Rusli, Nurhalin Afriana
Abstrak:

ABSTRAK Retensi ARV Pada Pasien HIV Berdasarkan CD4 Awal Terapi ARV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta Dari Tahun 2011 – 2014 Musa Rapang Perbedaan tingkatan imunodefesiensi memberikan kondisi klinis yang berbeda. Dampak perbedaan imunodefesiensi akan diperoleh retensi ARV yang berbeda pada tingkat imunodefesiensi berat dan sedang. Pasien dengan sistem imun yang baik (CD4 tinggi) kemungkinan akan memiliki retensi yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah perbedaan retensi ARV pada pasien HIV AIDS berdasarkan CD4 saat terapi ARV di RSPI Sulianti Saroso Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif  menggunakan 223 sampel yang diambil dari data rekam medik rumah sakit dari tahun 2011 – 2014 dengan waktu pengamatan selama satu tahun. Pasien yang retensi ada 70.85% dengan insident rate lost to follow up 2.9 per 100 orang bulan. Retensi ARV pada pasien dengan CD4 200-350 sel/mm lebih baik dengan HRadj lost to follow up sebesar 0.27 (CI 95% : 0.1 – 0.8) kali lebih rendah dibandingkan pasien dengan CD4 <200 sel/mm 3 . Selain itu pasien memiliki CD4 200350 sel/mm 3 pada stadium awal memiliki risiko lost to follow up yang lebih tinggi dengan HRadj 1.10 (CI 95% : 0.5 – 2.4) kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang memiliki CD4 < 200 sel/mm 3 pada stadium awal. Perlu dilakukan monitoring klinis, eduksi dan dukungan kepada pasien tentang manfaat ARV khususnya pada pasien dengan CD4 <200 sel/mm 3 . Kata kunci : Retensi ARV, CD4 Awal, lost to follow up


ABSTRACT ARV Retention HIV Patients Based On Early CD4 Therapy In Hospital Infection Disease of Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta From Years 2011 - 2014 Musa Rapang The difference in the level of imunodefesiensi provide different clinical conditions. The impact will be acquired at different ARV retention rate of severe and moderate imunodefesiensi. HIV Patients with a good immune system (CD4 high) possibility have poor retention on antiretroviral drugs, so that the patient will tend to experience a lost to follow up. The purpose of this study was to see whether the difference in retention of antiretroviral drugs in HIV-AIDS patients by CD4 time ARV therapy in hospital Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta. This research using retrospective cohort design using 223 samples taken from hospital medical records from the years 20112014 with the observation time for one year. The number of patients there was 70.85% retention with number incidents of lost to follow-up rate of 2.9 per 100 person-months. Retention ARV based on baseline CD4 200-350 cells / mm better with HRadj of lost to follow-up at 0.27 (CI 95% :0.1 – 0.8) times slower compared to patients with CD4 <200 cells / mm 3 in the early stages having lost to follow-up speed faster with HRadj 1.10 (CI 95% :0.5 – 2.4) times faster compared with patients with CD4 <200 cells/mm 3 . In addition patients had CD4 200-350 cells / mm 3 early stage. Needed to monitoring, education and supporting to patient for benfit to use ARV especially to patient with CD4  <200 cells/mm 3 . Keywords: Retention ARV, CD4 Earlier, Lost to follow up

Read More
T-4772
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Istiqomah Nur Ocnisari; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Nurhalina Afriana
Abstrak: Penasun merupakan populasi kunci yang memiliki risiko ganda untuk penularan HIV, yaitu melalui perilaku menyuntik dan perilaku seksualnya. Upaya yang dilakukan untuk mencegah penularan HIV dan infeksi lainnya yang terjadi melalui penggunaan napza dengan jarum suntik dan perlengkapannya adalah dengan melalui program pengurangan dampak buruk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan program pengurangan dampak buruk HIV-AIDS dengan perilaku menyuntik. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan data STBP Tahun 2013. Sampel dalam penelitian ini adalah penasun yang pernah bertemu dengan petugas penjangkau sebanyak 430 responden di kota Yogyakarta, Tangerang, Pontianak dan Makassar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penasun yang menyuntik berisiko dalam seminggu terakhir adalah sebesar 43% dan 45,4% penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk. penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk berisiko 1,2 kali lebih tinggi untuk menyuntik berisiko dibandingkan dengan penasun yang mengakses program pengurangan dampak buruk setelah dikontrol oleh faktor usia, tempat menyuntik, penggunaan kondom, lama menjadi penasun, dan jumlah teman menyuntik. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan program pengurangan dampak buruk secara komprehensif untuk mengurangi perilaku menyuntik berisiko, sehingga penularan HIV-AIDS pada penasun dapat dicegah.

Kata Kunci : penasun, perilaku menyuntik, pengurangan dampak buruk
Injection Drug Users (IDUs) are key population that have double risk of HIV transmission, through injecting behaviors and sexual behaviors. The effort to reduce HIV transmission and other infection among IDUs is by implementing harm reduction program. This study was conducted to identify the association between harm reduction program of HIV-AIDS among IDUs with injecting behaviors. This study used cross sectional design and used data of IBBS 2013. The respondents are IDUs who ever met with the outreach workers as many as 430 respondents in Yogyakarta, Tangerang, Pontianak, and Makassar.

The result showed that the prevalence of IDUs who inject risky in the past week is 44,3% and 54,1% of IDUs do not access harm reduction program. IDUs who do not accsess harm reduction program has 1,3 time higher chance to inject risky than IDU who accsess harm reduction program after controlled by age, place of injection, condom use, duration of injecting drugs and total number of injecting partner. Therefore, optimalization of comprehensive harm reduction program is needed to decrease injection risk behavior in order to prevent HIV-AIDS transmission among IDUs,

Keywords : people who inject drugs, injection behaviors, harm reducion
Read More
S-9072
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vella Ovelia; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Nurhalina Afriana
S-9222
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive