Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Meilina Farikha; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Asri C. Adisasimita, Laila Nurmala, Niken Wastu Palupi, Renti Mahkota
Abstrak:
Riwayat alamiah Lesi Prakanker Serviks menjadi kanker invasif berlangsung bertahun-tahun,sehingga memiliki banyak kesempatan untuk dideteksi dini. Metode Inspeksi Visualwith AcetatAcid (IVA) cukup cost efektif dan mampu laksana di Indonesia. Kejadian lesi prakankerdiyakini disebabkan HPV dan dipengaruhi faktor risiko. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui hubungan karakteristik demografi serta riwayat kesehatan reproduksi dengankejadian lesi prakanker serviks pada perempuan yang diskrining menggunakan metoda IVA diDKI tahun 2016-2017. Cross sectional data Female Cancer Program FKUI-RSCM yangberasal dari deteksi dini di beberapa puskesmas dan kantor di Jakarta. Logistik regresiondigunakan untuk mendapatkan faktor yang memprediksi lesi prakanker serviks. Hasil : Umur≤ 30 tahun (POR 4,9; CI: 1,3-18,2), umur 31-40 tahun (POR 3,5; CI: 1-12), dan umur 41-50tahun (POR 2,1; CI: 0,6-7,5) merupakan faktor prediktor meningkatkan lesi prakanker serviksdibandingkan umur > 50 tahun. Kawin lebih dari 1 kali berisiko lesi prakanker serviks (POR6; 95% CI: 3,2-10,8) dibandingkan kawin 1 kali. KB pil (POR 2,3; CI: 1-5), KB susuk (POR1,8; 95% CI: 0,4-8,7) dan KB suntik (POR 1,5; CI: 0,7-2,8) merupakan faktor prediktormeningkatkan lesi prakanker servik dibandingkan KB non hormonal. Kesimpulan : umur,jumlah perkawinan, dan riwayat KB merupakan prediktor independen lesi prakanker serviksdalam penelitian ini. Dianjurkan deteksi dini pada perempuan yang telah melakukan kontakseksual dan membatasi jumlah pasangan, KB non hormonal sebagai pilihan KB untukpemakaian jangka panjang.Kata kunci:Lesi Prakanker Serviks, IVA, faktor risiko.
Read More
T-5117
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suciati Marlianasyam; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Trisari Anggondowati, Meilina Farikha
Abstrak:
Tuberculosis (TBC)merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC terdiri dari 2 jenis yaitu TBC Sensitif Obat (SO) dan TBC Resisten Obat (RO). jumlah penemuan kasus tuberkulosis tahun 2022 724,309; 711,778 kasus TB sensitif obat (TB SO) dan 12.531 kasus TB resistan obat (TB RO). TB MDR merupakan salah satu jenis TB RO yang memiliki jumlah kasus baru yang meningkat setiap tahunnya diperkirakan 12 % dari kasus TB MDR. Depresi merupakan permasalahan kesehatan dimana menurut WHO depresi berada di urutan no 4 penyakit di dunia. Prevalensi depresi pada pasien TB 43,4% dan TB MDR (AOR, 10,8; 95% CI, 2,8–41,5). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan klasifikasi TBC dengan kejadian depresi dengan desain studi kohort retrospektif. Hasil penelitian proporsi pasien TBC yang mengalami depresi selama pengobatan lebih tinggi pada kelompok TB MDR 93,1% dibandingkan Kelompok TB SO 17,0%. Hasil multivariat Pasien TB MDR TBC MDR berisiko 4,88 kali lebih besar untuk mengalami depresi selama pengobatan dibandingkan dengan pasien TBC SO setelah dikontrol oleh variabel komorbid. Nilai p-value <0,001. Angka ini lebih kecil dari alfa 0,05 sehingga klasifikasi kasus TBC MDR secara statistik berhubungan signifikan dengan kejadian depresi selama pengobatan. Saran Melaksanakan Integrasi layanan kesehatan jiwa pada program penanggulangan TBC sehingga akan mudah dilakukan jika model layanan terpadu yang efektif dan berbiaya rendah tersedia. Program dan perluasan layanan TB dengan adanya panduan layanan pengobatan TB RO dan TB SO melalui skrining jiwa sebagai salah satu metode dalam pengobatan TB untuk meminimalisir adanya depresi pada pasien TB.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis. TB consists of 2 types, namely Drug Sensitive TB (SO) and Drug Resistant TB (RO). number of tuberculosis case discoveries in 2022 724,309; 711,778 cases of drug-sensitive TB (TB SO) and 12,531 cases of drug-resistant TB (TB RO). MDR TB is a type of RO TB which has an increasing number of new cases every year, estimated at 12% of MDR TB cases. Depression is a health problem where according to WHO depression is number 4 disease in the world. The prevalence of depression in TB and MDR TB patients was 43.4% (AOR, 10.8; 95% CI, 2.8–41.5). This study aims to analyze the relationship between TB classification and the incidence of depression using a retrospective cohort study design. The research results showed that the proportion of TB patients who experienced depression during treatment was higher in the MDR TB group, 93.1%, compared to the SO TB group, 17.0%. Multivariate results: MDR TB patients with MDR TB were 4.88 times more likely to experience depression during treatment compared to SO TB patients after controlling for comorbid variables. The p-value <0.001. This figure is smaller than alpha 0.05 so that the classification of MDR TB cases is statistically significantly related to the incidence of depression during treatment. Suggestions for implementing integration of mental health services in TB control programs so that it will be easy to do if an effective and low-cost integrated service model is available. Program and expansion of TB services with a guide to TB RO and TB SO treatment services through mental screening as one of the methods in TB treatment to minimize depression in TB patients.
Read More
Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis. TB consists of 2 types, namely Drug Sensitive TB (SO) and Drug Resistant TB (RO). number of tuberculosis case discoveries in 2022 724,309; 711,778 cases of drug-sensitive TB (TB SO) and 12,531 cases of drug-resistant TB (TB RO). MDR TB is a type of RO TB which has an increasing number of new cases every year, estimated at 12% of MDR TB cases. Depression is a health problem where according to WHO depression is number 4 disease in the world. The prevalence of depression in TB and MDR TB patients was 43.4% (AOR, 10.8; 95% CI, 2.8–41.5). This study aims to analyze the relationship between TB classification and the incidence of depression using a retrospective cohort study design. The research results showed that the proportion of TB patients who experienced depression during treatment was higher in the MDR TB group, 93.1%, compared to the SO TB group, 17.0%. Multivariate results: MDR TB patients with MDR TB were 4.88 times more likely to experience depression during treatment compared to SO TB patients after controlling for comorbid variables. The p-value <0.001. This figure is smaller than alpha 0.05 so that the classification of MDR TB cases is statistically significantly related to the incidence of depression during treatment. Suggestions for implementing integration of mental health services in TB control programs so that it will be easy to do if an effective and low-cost integrated service model is available. Program and expansion of TB services with a guide to TB RO and TB SO treatment services through mental screening as one of the methods in TB treatment to minimize depression in TB patients.
T-7083
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Atikah Salsabila; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Soewarta Kosen, Meilina Farikha
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis Paru merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan insidens yang meningkat. Merokok diketahui menjadi faktor risiko signifikan dalam perkembangan TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status merokok dengan kejadian TB Paru pada laki-laki usia > 18 tahun di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan analisis multivariat untuk mengontrol variabel kovariat seperti usia, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, status gizi, tempat tinggal, dan diabetes mellitus. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status merokok dan TB paru, individu yang merokok memiliki hubungan protektif terhadap TB dibandingkan yang tidak merokok dengan POR sebesar 0,68 (95% CI: 0,58–0,75). Konsumsi rokok 1–11 batang per hari memiliki POR sebesar 0,92 (95% CI: 0,76–1,12), sedangkan konsumsi lebih dari 11 batang per hari memiliki POR sebesar 0,70 (95% CI: 0,53–0,93). Penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki yang merokok selama 1–25 tahun memiliki POR sebesar 0,49 (95% CI: 0,39–0,61) dengan p-value = 0,000. Pada perokok dengan durasi lebih dari 25 tahun, hubungan tidak signifikan secara statistik (p-value = 0,593) dengan POR sebesar 1,07 (95% CI: 0,82–1,40), yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam peluang kejadian TB Paru dibandingkan yang tidak merokok. Analisis menunjukkan hubungan tidak biasa antara merokok dan TB paru, berbeda dari literatur yang umumnya melaporkan peningkatan risiko pada perokok. Hasil ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti populasi, kualitas data, dan bias informasi, sehingga perlu kehati-hatian dalam interpretasi. Merokok tetap diketahui meningkatkan risiko dan memperburuk progresi TB.
Pulmonary tuberculosis (TB) remains a public health concern in Indonesia, with an increasing incidence rate. Smoking is recognized as a significant risk factor in the development of pulmonary TB. This study aimed to analyze the relationship between smoking status and the incidence of pulmonary TB among males aged >18 years in Indonesia, using data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study employed a cross-sectional design with multivariate analysis to control for covariates such as age, education, occupation, socioeconomic status, nutritional status, residence, and diabetes mellitus. The findings revealed a significant association between smoking status and pulmonary TB. Smokers exhibited a protective relationship against TB compared to non-smokers, with an Adjusted Prevalence Odds Ratio (POR) of 0.68 (95% CI: 0.58–0.75). Smoking 1–11 cigarettes per day had a POR of 0.92 (95% CI: 0.76–1.12), while smoking more than 11 cigarettes per day showed a POR of 0.70 (95% CI: 0.53–0.93). The study also found that males who had smoked for 1–25 years had a POR of 0.49 (95% CI: 0.39–0.61) with a p-value of 0.000. However, for smokers with a duration of more than 25 years, the association was not statistically significant (p-value = 0.593), with a POR of 1.07 (95% CI: 0.82–1.40), indicating no meaningful difference in the likelihood of developing pulmonary TB compared to non-smokers.The analysis revealed an unusual relationship between smoking and pulmonary TB, differing from existing literature, which generally reports an increased risk among smokers. These findings may be influenced by factors such as the study population, data quality, and information bias, warranting caution in interpretation. Despite this, smoking remains a known factor that increases the risk and worsens the progression of TB.
T-7169
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ririn Ayudiasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Meilina Farikha
Abstrak:
Read More
Tren angka putus berobat pada pasien TBC RO cenderung fluktuatif. Angka putus berobat TBC RO pada tahun 2020 sebesar 19%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 22% dan 2018 sebesar 27%. Angka putus berobat ini memberikan dampak yang besar bagi indikator program tuberkulosis nasional yang secara tidak langsung memengaruhi keberhasilan pengobatan TBC RO yang belum mencapai target 80%. Penelitian terdahulu menyebutkan kejadian putus berobat ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Akan tetapi, penyebab pasti dari kejadian putus berobat pasien TBC RO di Indonesia belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia Tahun 2022-2023. Sampel penelitian ini adalah semua kasus pasien TBC RO di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2022-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan dinyatakan sembuh, pengobatan lengkap, dan putus berobat pada Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, jenis kelamin, status HIV, status DM, jenis resistansi, kategori panduan OAT, dan jenis fasyankes terhadap kejadian putus berobat pada pasien TBC RO. Sedangkan faktor riwayat pengobatan dan wilayah fasyankes tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian putus berobat. Perluasan fasyankes pelaksana layanan TBC RO dan kolaborasi antara fasyankes dan komunitas TB dalam melakukan pendampingan dan memberikan dukungan psikososial dapat membantu mencegah terjadinya kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia.
The trend of treatment loss to follow up (LTFU) rates in DR-TB patients tends to fluctuate. The DR-TB treatment LTFU 2020 was 19%, this number decreased compared to 2019 of 22% and 2018 of 27%. LTFU have a major impact on national TB programme indicators, which indirectly affect the success of DR-TB treatment, which has not yet reached the 80% target. Previous studies have found that LTFU is influenced by individual characteristics, behavioural factors, and environmental factors. However, the exact causes of LTFU among DR-TB patients in Indonesia are still unknown. This study aims to find out what factors are associated with the incidence of LTFU in patients with DR-TB in Indonesia in 2022-2023. The sample of this study was all DR-TB patients in Indonesia who started treatment in 2022-2023 and had the final results of treatment declared cured, complete treatment, and LTFU in May 2024. The results showed that there was an association between age, gender, HIV status, DM status, type of resistance, OAT guideline category, and type of health facility with LTFU in patients with DR-TB. Meanwhile, the treatment history and health facility region did not show a significant association with LTFU. Expansion of health facilities providing DR-TB treatment and collaboration between health facilities and TB communities in assisting and providing psychosocial support can help prevent LTFU among patients with DR-TB in Indonesia.
S-11668
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andini Ayu Lestari; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Sudijanto Kamso, Tri Yunis Miko Wahyono, Meilina Farikha, Natalie Laurencia
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Diperkirakan pada tahun 2021 terdapat 10,6 juta orang yang terinfeksi tuberkulosis. Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk dalam 20 negara dengan beban TB, TB MDR/RR, dan TB HIV tertinggi di dunia berdasarkan estimasi jumlah kasus hasil modelling yang dilakukan WHO. Angka inisiasi pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat meningkat dari tahun 2020-2022, namun pasien yang terdiagnosis tuberkulosis resistan obat tidak dapat segera mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui durasi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat, serta pengaruh faktor sistem kesehatan dan faktor pasien terhadap keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat di Indonesia tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel pasien tuberkulosis resistan obat yang memulai pengobatan tahun 2020-2022 dan dilaporkan ke sistem informasi tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan metode regresi logistik multilevel dengan sumber data dari Sistem Informasi Tuberkulosis dan Profil Kesehatan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan rerata durasi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat meningkat dari tahun 2020-2022; faktor sistem kesehatan yang mempengaruhi keterlambatan pengobatan tuberkulosis resistan obat antara lain rasio rumah sakit, metode diagnosis baseline, dan wilayah pendampingan komunitas; sedangkan faktor pasien yang mempengaruhi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat yaitu jenis kelamin, domisili pasien, riwayat pengobatan OAT suntik, jenis fasilitas kesehatan pertama yang dikunjungi, dan jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan. Perluasan penggunaan cartridge XDR pada alat TCM diperlukan untuk mengetahui resistansi fluorokuinolon sehingga pasien yang terdiagnosis resistan obat dapat segera diobati dan perlunya penguatan kolaborasi antara fasilitas kesehatan, dinas kesehatan, dan organisasi komunitas dalam mendukung pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat.
Tuberculosis is still a health problem in the world. It is estimated that in 2021 there will be 10.6 million people infected with tuberculosis. Indonesia is one of the 20 countries with the highest burden of TB, MDR/RR TB and HIV TB in the world based on the estimated number of cases resulting from modeling conducted by WHO. The rate of initiation of treatment for drug-resistant tuberculosis patients increased from 2020-2022, however, patients diagnosed with drug-resistant tuberculosis cannot immediately receive treatment at health facilities. This study aims to determine the duration of delays in treatment of drug-resistant tuberculosis patients, as well as the influence of health system factors and patient factors on delays in treatment of drug-resistant tuberculosis patients in Indonesia in 2020-2022. This study used a cross-sectional design with a sample of drug-resistant tuberculosis patients who started treatment in 2020-2022 and reported to the tuberculosis information system. This research uses a multilevel logistic regression method with secondary data sources from the Tuberculosis Information System and the Indonesian Health Profile. The results of the study show that the average duration of delay in treatment for drug-resistant tuberculosis patients increased from 2020-2022; health system factors that influence delays in treatment of drug-resistant tuberculosis include hospital ratios, baseline diagnosis methods, and community assistance areas; Meanwhile, patient factors that influence delays in treatment for drug-resistant tuberculosis patients are gender, patient domicile, history of injectable drugs, type of first health facility visited, and number of visits to health facilities. Expanding the use of XDR cartridges in GenExpert is needed to determine fluoroquinolone resistance so that patients diagnosed with drug resistance can be treated immediately and there is a need to strengthen collaboration between health facilities, health services and community organizations in supporting the treatment of drug-resistant tuberculosis patients.
T-6878
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Miptah Farid Thariqulhaq; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Neni Sawitri, Meilina Farikha
Abstrak:
Read More
Penyakit TB MDR merupakan salah satu penyakit infeksi yang prevalensinya semakin meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia dengan angka keberhasilan pengobatan 45%. Konversi kultur sputum merupakan suatu prediktor kuat dari awal keberhasilan terapi. Waktu konversi yang lambat akan memperpanjang periode penularan dan memprediksi tingkat kegagalan pengobatan yang tinggi. Terdapat beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan konversi kultur sputum pasien TB MDR. Penelitian terkait faktor risiko kadar albumin dengan waktu konversi kultur sputum masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar albumin dengan waktu konversi kultur sputum di poli MDR terpadu RS Paru Dr M Goenawan Partowidigdo tahun 2022. Penelitian ini menggunakan studi cohort retrospektif dengan sampel yang diambil dari catatan rekam medis dan SITB pasien poli MDR. Variabel yang diteliti adalah kadar albumin < 3,5 gram/dl dan ≥ 3,5 gram/dl dengan variabel covariat usia, jenis kelamin, pendidikan, index masa tubuh, status merokok, gradasi sputum bta, komorbid, regimen pengobatan, dan kepatuhan minum obat . Hasil penelitian berdasarkan analisis multivariat menunjukkan kadar albumin < 3,5 mg/dl memiliki kecepatan waktu konversi 41,8% lebih lambat dengan (HR=0,582, 95% CI 0.344-0.984) untuk mengalami konversi dibanding dengan pasien TB MDR dengan kadar albumin ≥ 3,5 mg/dl setelah memperhitungkan status merokok dan kepatuhan minum obat. Perlunya memperbaiki kadar albumin yang rendah pada pasien TB MDR di rumah sakit dan memberikan penyuluhan kepada keluarga pasien agar turut berpartisipasi memantau asupan makan pasien yaitu makanan yang mengandung tinggi protein seperti ikan gabus serta ekstra putih telur untuk membantu meningkatkan kadar albumin pasien yang dapat berguna untuk terjadinya konversi kultur sputum.
MDR TB disease is an infectious disease whose prevalence is increasing from year to year in Indonesia with a treatment success rate of 45%. Sputum culture conversion is a strong predictor of initial therapeutic success. Slow conversion time will prolong the period of transmission and predict a high rate of treatment failure. There are several risk factors associated with sputum culture conversion in MDR TB patients. Research related to risk factors for albumin levels and sputum culture conversion time is still very limited. The aim of this study was to determine the relationship between albumin levels and sputum culture conversion time at the integrated MDR polyclinic at Dr M Goenawan Partowidigdo Pulmonary Hospital in 2022. This study used a retrospective cohort study with samples taken from medical records and SITB patients at poly MDR. The variables studied were albumin levels < 3.5 mg/dl and ≥ 3.5 mg/dl with the covariate variables age, sex, education, body mass index, smoking status, sputum gradation, co-morbidities, medication regimens, and drinking adherence drug . The results of the study based on multivariate analysis showed that albumin levels < 3.5 mg/dl had a 41.8% slower conversion time (HR=0.582, 95% CI 0.344-0.984) to experience conversion compared to MDR TB patients with albumin levels ≥ 3.5 mg/dl after taking into account smoking status and medication adherence. It is necessary to improve low albumin levels in MDR TB patients at the hospital and provide counseling to the patient's family to participate in monitoring the patient's food intake, namely foods that contain high protein such as snakehead fish and extra egg whites to help increase the patient's albumin levels which can be useful for the occurrence of sputum culture conversion.
T-6801
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shena Masyita Deviernur; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Trisari Anggondowati, Sulistyo dan Meilina Farikha
Abstrak:
Read More
Proporsi pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO) yang memiliki hasil akhir pengobatan meninggal meningkat di tahun 2021 menjadi 19%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TB RO yang memulai pengobatan tahun 2020-2021 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan hingga Mei 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat dengan menggunakan cox regression. Jumlah sampel penelitian adalah 7.515. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 19,39% pasien meninggal dengan laju kejadian keseluruhan adalah 6 per 10.000 orang hari dan probabilitas kumulatif survival sebesar 73%. Analisis multivariat menunjukkan Faktor – faktor yang mempengaruhi kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia adalah kelompok umur 45-65 (HR 1,519; 95% CI 1,275-1,809) tahun dan 65+ (HR 3,170; 95% CI 2,512-4,001), wilayah fasyankes Jawa-Bali (HR 1,474; 95% CI 1,267-1,714), koinfeksi HIV (HR 3,493; 95% CI 2,785-4,379), tidak mengetahui status HIV (HR 1,655; 95% CI 1,474-1,858) memiliki riwayat pengobatan (HR 1,244; 95% CI 1,117-1,385), tidak konversi ≤3 bulan (HR 4,435; 95% CI 3,920-5,017), paduan pengobatan LTR (1,759; 95% CI 1,559-1,985), kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat 1-30 hari (HR 0,844; 95% CI 0,748-0,953) dan kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat >30 hari (HR 0,318; 95% CI 0,273-0,370).
The proportion of drug-resistant tuberculosis (RO-TB) patients who have the final outcome of treatment will die in 2021 to 19%. The purpose of this study was to determine the risk factors for death of TB RO patients during the treatment period in Indonesia. The design of this study was a retrospective cohort using data on TB RO cases that started treatment in 2020-2021 and had final treatment results until May 2023 and were recorded in the Tuberculosis Information System. The analysis used in this study is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using cox regression. The number of research samples is 7,515. The results of this study showed that 19.39% of patients died with an overall incidence rate of 6 per 10,000 person days and a cumulative probability of survival of 73%. Multivariate analysis shows that the factors that influence the death of TB RO patients during the period of treatment in Indonesia are the age group 45-65 (HR 1.519; 95% CI 1.275-1.809) years and 65+ (HR 3.170; 95% CI 2.512-4.001), health facilities area Java-Bali (HR 1.474; 95% CI 1.267-1.714), HIV coinfection (HR 3.493; 95% CI 2.785-4.379), do not know HIV status (HR 1.655; 95% CI 1.474-1.858) have a history of treatment ( HR 1.244; 95% CI 1.117-1.385), no conversion ≤3 months (HR 4.435; 95% CI 3.920-5.017), mixed treatment LTR (1.759; 95% CI 1.559-1.985), treatment adherence in non-medication group 1 -30 days (HR 0.844; 95% CI 0.748-0.953) and medication adherence in the non-medication group >30 days (HR 0.318; 95% CI 0.273-0.370).
T-6699
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wahyu Manggala Putra; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda; Meilina Farikha, Murni Luciana Naibaho
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular dari percikan droplet melalui transmisi udara. TB menjadi salah satu penyakit infeksius agent penyebab kematian utama di dunia. Pengobatan menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian TB. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran masalah serta determinan yang memengaruhi keberhasilan pengobatan pada pasien TB SO di Provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Desain studi penelitian menggunakan cross-sectional deskriptif dengan total sampling yaitu seluruh kasus terkonfirmasi positif TB SO (24.001 kasus) di provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Data merupakan data sekunder laporan TB 03 SO dari SITB. Analisis data yang digunakan ialah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif statistik. Hasil menunjukkan bahwa angka keberhasilan pengobatan pasien TB SO adalah 82%. Diketahui bahwa sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (55,3%), termasuk dalam kelompok lansia (34%), dengan klasifikasi anatomi TB paru (90%), tidak bekerja (42,4%), menjalani pengobatan di rumah sakit (55,9%) di wilayah Jakarta Timur (28,6%), dan menggunakan paduan OAT kategori 1 (85,8%). Usia dan jenis fasilitas kesehatan berobat merupakan faktor yang paling memengaruhi keberhasilan pengobatan pasien TB SO. Pasien dengan usia44 tahun (aOR = 2,281; 95% CI 2,074-2,509). Serta pada pasien yang menjalani pengobatan di puskesmas memiliki peluang 2 kali lebih besar untuk keberhasilan pengobatan TB SO dibandingkan pasien yang menjalani pengobatan di rumah sakit (aOR= 2,272; 95% CI 2,101-2,457). Diharapkan fasilitas kesehatan dapat memaksimalkan pengobatan TB sesuai standar, serta memaksimalkan peran pengawas menelan obat (PMO), selain itu perlu meningkatkan peran Puskesmas sebagai tempat yang aman dan terpercaya dalam pengobatan TB SO. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta diharapkan terus meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pencegahan dan pengobatan TB SO melalui penyuluhan dan promosi kesehatan yang berfokus pada usia dengan tingkat keberhasilan pengobatan TB yang rendah.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease transmitted from droplet splashes through airborne transmission. TB is one of the infectious agents causing death in the world. Treatment is one of the main keys in TB control. The objective of this research was to describe the issues and determinants that influenced treatment success for drug sensitive (DS) TB patients in DKI Jakarta province in 2021. The descriptive cross-sectional study design with total sampling was used, which included all confirmed cases of DS TB (24,001 cases) in DKI Jakarta province in 2021. The data is secondary data from SITB's TB 03 SO report. The data was analyzed using descriptive analytic techniques with a statistical quantitative approach. According to the findings, 82% of DS TB patients are successfully treated. The majority of patients were male (55.3%), elderly (34%), had pulmonary tuberculosis (90%), were unemployed (42.4%), were receiving treatment at a hospital (55.9%), lived in the East Jakarta area (28.6%), and used category 1anti-tuberculosis drugs (85.8%). The factors that most influence the success of treating DS TB patients are age and type of health care facility. Patients 44 years old (aOR = 2.281; 95% CI 2.074-2.509). Furthermore, patients treated at the public health center (puskesmas) have a twofold higher chance of completing DS TB treatment than patients treated at the hospital (aOR = 2.272; 95% CI 2.101-2.457). It is hoped that health facilities will be able to maximize DS TB treatment in accordance with standards, as well as the role of Drug Swallowing Control (PMO). Furthermore, the Puskesmas' role as a safe and trusted facilities for DS TB treatment must be expanded. It is hoped that the DKI Jakarta Provincial Health Office will continue to raise public awareness of tuberculosis prevention and treatment through counselling and health promotion aimed at the age group with the lowest DS TB treatment success rate.
T-6544
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wenty Prihantinah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Sabarinah, Wachyu Sulistiadi, Kristina R.L.Nadeak, Meilina Farikha
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat global, dengan Indonesia menempati peringkat kedua beban TB tertinggi di dunia. Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) adalah strategi kunci untuk menekan progresi infeksi laten menjadi TB aktif, namun cakupan TPT di Kota Bekasi masih sangat rendah, yakni hanya mencapai 14,11%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis mutu pelaksanaan program TPT di Puskesmas Kota Bekasi berdasarkan kerangka Donabedian (struktur, proses, dan hasil) serta mengidentifikasi adanya kesenjangan persepsi layanan (Gap 1) antara tenaga kesehatan dan pasien. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus, dilakukan di empat puskesmas terpilih berdasarkan capaian TPT. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil: Dari aspek struktur, program menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM), sarana diagnostik (foto thoraks), dan perbedaan kemandirian anggaran antar-puskesmas. Dalam proses, ditemukan suboptimalitas pada investigasi kontak, edukasi yang terbatas, pemantauan yang tidak berkesinambungan, serta pemanfaatan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) yang belum maksimal . Analisis Gap 1 menemukan adanya kesesuaian persepsi pada layanan individual, tetapi terdapat potensi kesenjangan pada aspek non-klinis karena pasien mengharapkan edukasi yang lebih luas pada tingkat komunitas untuk mengurangi stigma. Kesimpulan: Mutu program TPT di Puskesmas Kota Bekasi sudah berjalan, tetapi masih menghadapi hambatan struktural, proses, dan potensi kesenjangan persepsi. Diperlukan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pemenuhan logistik dan sarana diagnostik, optimalisasi SITB, serta peningkatan edukasi berbasis komunitas untuk memperbaiki mutu program dan meningkatkan cakupan TPT di masa mendatang. Kata Kunci: Tuberkulosis, Terapi Pencegahan Tuberkulosis, Mutu Layanan, Donabedian, Puskesmas.
Background: Tuberculosis (TB) remains a global public health challenge, with Indonesia ranking second in the world for the highest TB burden. Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) is a key strategy to suppress the progression of latent infection to active TB, but TPT coverage in Bekasi City is still very low, reaching only 14.11%. Objective: This study aims to analyze the quality of TPT program implementation in Bekasi City Puskesmas based on the Donabedian framework (structure, process, and outcome) and to identify the presence of a service perception gap (Gap 1) between health workers and patients. Method: A qualitative study with a case study design was conducted in four selected Puskesmas based on their TPT achievement. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document review, and then analyzed thematically. Results: Regarding the structure aspect, the program faces limitations in human resources (HR), diagnostic facilities (chest X-ray), and differences in budget independence among Puskesmas. In the process, suboptimal performance was found in contact investigation, limited education, inconsistent monitoring, and underutilization of the Tuberculosis Information System (SITB). The Gap 1 analysis found a correspondence of perception in individual services, but a potential gap exists in non-clinical aspects, as patients expect broader community-level education to reduce stigma. Conclusion: The quality of the TPT program in Bekasi City Puskesmas is running, but still faces structural and process barriers, as well as a potential perception gap. Strengthening health worker capacity, fulfilling logistics and diagnostic facilities, optimizing SITB, and increasing community-based education are needed to improve program quality and increase TPT coverage in the future. Keywords: Tuberculosis, Tuberculosis Preventive Therapy, Service Quality, Donabedian, Puskesmas.
T-7463
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
