Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Makara, Vol.5, No.1, Juni. 2001, hal. 1-8. ( ket. ada di bendel 2000 - 2009 ); ( dan ada di bendel 2000 - 2001 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Murni, Arman Nefi
R 361.3 MUR k
Depok : Universitas Indonesia, 2009
Referensi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Murni; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Luknis Sabri, James Danandjaja, Sudarti Kresno, Ismojowati
Abstrak:
Read More
Pengobatan beiiatnt sentiyu merupakan pengobatan alternatif dari sejumlah pengobatan yang dikenal oleh orang Dayak Benuaq. Pengobatan ini dilandasi oleh pengetahuan orang dayak Benuaq mengenai konsep sakit - sehat, penyebab dan klasifikasi penyakit. konsep betiatnt sentiyu, proses dan pelaku yang terlibat dalam pengobatan serta faktor predisposisi sehingga pengobatan ini masih dipraktekkan. Penelitian yang mengambil lokasi di Desa Tanjung Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dilakukan pada 25 Oktober - 4 November 1999. Pengumpulan data menggunakan pendekatan kualitatif melalui pengamatan, pengamatan terlibat, dan wawancara mendaiam. Penyakit yang diderita oleh seseorang bagi orang Dayak Benuaq adalah akibat perilaku individu tersebut dalam menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Penciptanya, manusia dengan alam lingkungan sekitar tempat tinggalnya, atau hubungan antara manusia dengan sesamanya. Ketidakharmonisan hubungan akan menyebabkan penyakit di derita oleh seseorang atau sekelompok orang. Oleh sebab itu, pelt' dilakukan pengobatan beliatnt sentiyu sebagai upaya penyembuhan penyakit tersebut Penyakit (illness) oleh orang Dayak Benuaq dibagi dalam dua klasifikasi yakni penyakit berat (rotate tahapt) dan penyakit ringan. (rotatn ele). Konsep pengobatan beliatnt sentiyu berawal dari kerasukan (sentiyu = kerasukan) mengenal sejumlah pelaku yakni : pemeliatnt (penyembuh tradisional), rotatn ("pasien"), penu'ung (pemusik), dan pengugu/pengegugu garu (orang yang membantu pemeliatnt menyiapkan segala perlengkapan upacara). Pengobatan beliatnt sentiyu erat terkait dengan sistem religi asli orang Dayak Benuaq. Tahapan dalam proses pengobatan beliatnt sentiyu diawali dengan pemeriksaan terhadap rotant oleh pemeliatnt dengan cara : (i) kakaap (meraba tubuh rotatn yang dirasakan sakit); (ii) nyegook (mengisap bagian kepala rotatn); (iii) nyentaau ("mendiagnosa" dengan menggunakan Jilin di dalam mangkuk untuk mengetahui penyakit rotatn); (iv) tafsir mimpi (menanyakan mimpi yang pernah dialami oleh rotatn atau keluarganya); (v) ngentaas (memanggil roh kelelungan para pengentaas ); (vi) melihat hati dan limpa babi. Ramuan-ramuan tumbuhan dan hewan digunakan bersamaan atau terpisah dari pengobatan beliatnt sentiyu. Pelaksanaan pengobatan beliatnt sentiyu dapat dilakukan pada pagi, slang, sore, maupun malam hari, balk di lou (rumah panjang) maupun di rumah rotatn. Lamanya waktu pengobatan tergantung pads tingkat keparahan suatu penyakit. Demikian pula, jumlah pemeliatnt yang terlibat dalam sebuah pengobatan beliatnt sentiyu. Biaya yang dikeluarkan untuk suatu penyelenggaraan pengobatan beliatnt sentiyu tergantung pada ringan atau beratnya penyakit den lamanya proses pengobatan. Beliatnt sentiyu merupakan fakta pengobatan tradisional yang masih dipraktekkan oleh orang Dayak Benuaq dengan segala segi positif mauptm negatifnya. Penelitian laboratorium terhadap sejumlah ramuan tumbuhan dan hewan yang digunakan dalam pengobatan nil perlu dilakukan, sehingga dapat diketahui manfaat atau bahayanya bagi kesehatan. Kerjasama lintas sektoral antara Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, dan Departemen Pendidikan Nasional perlu diupayakan agar pengobatan beliatnt sentiyu dapat dikembangkan sebagai aset pariwisata dengan retail melakukan pembinaan guna meningkatkan derajat kesehatan pada Orang Dayak Benuaq.
Beliatnt Sentiyu : Alternative Medicine of the Dayak Benuaq People (A Study of the Dayak Benuaq People at Tanjung Isuy village, Jempang Subdistrict, West Kutai District, East Kalimantan 1999) One of the healing systems among the Dayak Benuaq is beliatnt sentiyu. Concepts of illness and health, the classification of disease and their causes, the actors involved in the healing process and predisposition factors are elements of this healing system. The study was carried out at Tanjung Isuy village, Jempang subdistrict, East Kalimantan from 25 OCtober to 4 November 1999. Participant observation and in-depth interviews were used as data collection method. An illness is perceived as a result of a person's behavior in maintaining a hatsnonious relationship between said person and his/her's creator, the natural environment ar his/her fellow man. An inharmonious relationship will cause one or a group of people to suffer illness. Among the Dayak Benuaq, illness is divided into `severe' illness (rotatn tahapt) and `light' illness (rotatn ele).
T-873
Depok : PPS FKM-UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Legina Anggraeni; Promotor: Evi Martha; Kopromotor: Sabarinah, Sri Murni; Penguji: Asri C. Adisasmita, Budi Iman Santoso, Soedibyo Alimoesoe, Indra Supradewi, Maryuni, Nana Mulyana
Abstrak:
Read More
Latar belakang Perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi merupakan intervensi untuk mencegah kematian ibu, namun pelaksanaanya belum optimal dan masih berpusat difasilitas kesehatan. Opat sauyunan merupakan program pendampingan ibu hamil berbasis komunitas yang perlu ditingkatkan terutama dalam pendampingan perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menilai efek strategi pendampingan ibu hamil berbasis komunitas “JABAR IMAS” dalam meningkatkan perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi melalui opat sauyunan. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed methods exploratory sequential design. Pada penelitian kualitatif menggunakan desain etnografi sedangkan untuk penelitian kuantitatif menggunakan desain Quasi Eksperimen-Pre and Post Control Group Design. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu tahap penelitian pertama adalah studi kualitatif, tahap penelitian kedua adalah tahap pengembangan model strategi pendampingan ibu hamil dan tahap ketiga adalah intervensi opat sauyunan kepada ibu hamil. Waktu penelitian pada bulan Agustus 2024-November 2025 dengan lokasi penelitian berada di Kecamatan Bogor Selatan (daerah intervensi) dan Kecamatan Bogor Utara (daerah kontrol). Sampel penelitian berjumlah 78 ibu hamil (daerah intervensi) dan 80 ibu hamil (daerah kontrol). Analisa data yang digunakan adalah difference in difference dan Generalized Estimating Equations. Hasil penelitian menunjukan setelah dilakukannya intervensi strategi “JABAR IMAS” memiliki efek yang signifikan (p=0.0001) serta mampu meningkatkan skor perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi menjadi 10 dari 12 komponen. Pada akhir minggu ke-8 intervensi sebesar 81.3% ibu hamil pada kelompok intervensi berhasil mencapai status well birth planning. Kesimpulan dan saran. Model penguatan JABAR IMAS dapat memperkuat program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi melalui pendampingan secara holistik di komunitas. Perlu adanya keberlanjutan pendampingan ibu berbasis komunitas hingga masa nifas untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda bahaya masa nifas, pemberian ASI eksklusif, dan perencanaan pemakaian alat kontrasepsi setelah persalinan.
Background: Birth planning and complication prevention aim to reduce maternal mortality, but implementation remains suboptimal and centered in health facilities. Opat Sauyunan is a community-based program for pregnant women that needs improvement, especially in assistance with birth planning and complication prevention. This study aims to develop and assess the effectiveness of the "JABAR IMAS" community-based pregnancy support strategy in improving birth planning and complication prevention through Opat Sauyunan. The research used a mixed-methods exploratory sequential design. The qualitative study employed an ethnographic design, while the quantitative study used a quasi-experimental pre- and post-control group design. The study had three stages: a qualitative study, development of a pregnancy support strategy model, and Opat Sauyunan intervention for pregnant women. The study period was August 2024–November 2025, with locations in South Bogor District (intervention area) and North Bogor District (control area). The sample consisted of 78 pregnant women in the intervention area and 80 in the control area. The data analysis used was difference in difference and Generalized Estimating Equations. The results showed that after the intervention, the "JABAR IMAS" strategy had a significant effect (p = 0.0001) and was able to increase the score of birth planning and complication prevention in 10 out of 12 components. At the end of the 8th week of intervention, 81.3% of pregnant women in the intervention group successfully achieved a well birth planning status. Conclusions and suggestions: The “JABAR IMAS” strengthening model can strengthen birth planning and complication prevention programs through holistic assistance in the community. There is a need for continued community-based maternal assistance until the postpartum period to increase awareness of postpartum danger signs, exclusive breastfeeding, and planning for the use of contraceptives after delivery.
D-634
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
