Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Irwan Muryanto; Pembimbing: Robiana Modjo
S-3098
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Muryanto; Pembimbing: Helda, Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sri Duryati Boedihardjo, Dien Sanyoto Besar
Abstrak:

Latar belakang: Inisiasi menyusu dini memberikan efek yang menentukan bagi kelanjutan pemberian ASI Eksklusif hingga 6 bulan pada bayi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa bayi yang berhasil menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir cenderung akan terus menyusu lebih lama. Satu jam pertama merupakan periode emas yang akan menentukan keberhasilan seorang ibu untuk dapat menyusui bayinya secara optimal. Keberhasilan memberikan ASI Eksklusif yang diawali oleh keberhasilan dalam memberikan kesempatan dalam satu jam pertama ini berkaitan dengan refleks menghisap (suckling reflex) pada bayi. Dimana pada jam-jam pertama setelah lahir refleks menghidap bayi sangat kuat dan setelah itu bayi akan tertidur (Sidi et al, 2007). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh antara inisiasi menyusu dini terhadap kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada baya berusia 6 - 12 bulan di Kabupaten Kuantan Singingi. Metodologi: Penelitian merupakan studi observasional yang menggunakan desain kros seksional. Namun dalam penelitian ini terdapat variabel waktu yang merupakan periode follow up yang peroleh melalui recall (ingatan) responden. Temporal ambiguity dapat dihindari, karena event terjadi setelah exposure. Analisis dilakukan dengan life fable, uji log rank dan Kaplan Meier serta cox proportional hazard. Hasil dan Pembahasan: Inisiasi menyusu dini di Kabupaten Kuantan Singingi dilakukan bervariasi dengan waktu tercepat 15 menit setelah bayi lahir. Sebagian besar (73,1 %) bayi di Kabupaten Kuantan Singingi baru diberikan kesempatan untuk inisiasi menyusu dini > 1 jam setelah lahir, sedangkan bayi yang diberikan kesempatan menyusu pada < 1 jam pertama setelah lahir 26,9%. Ini jauh lebih besar dari angka nasional yang baru mencapai 3,7%. Ini dimungkinkan terjadi karena tingkat pandidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang relatif lebih baik serta low birth weight yang sangat kecil. Rata - rata pemberian ASI Eksklusif bayi usia 6-12 di Kabupaten Kuantan Singingi 6,23 minggu (1,51 bulan). Jika merujuk pada standar yang ditetapkan Depkes RI (6 bulan), maka pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Kuantan Singingi 4,49 bulan jauh dibawah yang diharuskan. Bayi yang inisiasi menyusu dini < 1 jam cenderung lebih lama menyusu secara eksklusif dibandingkan >1 jam (p=O,OOO). Dari pengujian hazard ralio bayi yang inisiasi menyusu dini 1 jam (HRcrude 5,17 dan HRadjusted 4,98). Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Fikawati dan Syafiq tahun 2003 menyebutkan bahwa bayi yang diberikan kesempatan untuk menyusu dini delapan kali akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif. Kesimpupan: Inisiasi menyusu dini merupakan faktor yang mempengaruhi kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6 - 12 bulan dengan HRadjusted 4,98 (95% CI 3,74-6,64). Hanya 11,50% bayi di Kabupaten Kuantan Singingi diberikan ASI Eksklusif hingga 26 minggu (6 bulan), pemberian ASI eksklusif menurun drastis pada akhir 4 bulan.


Background: Early Innitiation of Breastfeeding have a significant effect in determining the continuity of Exclusive Breastfeeding for 6 months period of the infant. A few study concluded that infant who succeed breastfeed for the first hour of birth tend to continue breastfeed for a long period. The first hour of birth is a golden period which will determine the succeed of mother in breastfed the infant optimally. The Succeed of Exclusive Breastfeeding is innitiate with succeed of giving the first hour of birth as a chance for the infant to suck the nippJe in order to develop the suckling reflex. In the first hour of birth the infant has a powerfull suckling reflex, and after that the infant will fall asleep (Sidi et al, 2007). This study is conduct to investigate the effect of early innitiation on the continuity of administering exclusive breatfeeding for the 6-12 months infant in Kuantan Singingi District. Metodology: This study is an observasional study which used cross-sectional design. However this study has a time variable which is follow up period taken through the recall of the respondents. Temporal Ambiguity can be reside, because the event is happened after the exposure. The analysis of the study is conduct through life table, log rank test, Kaplan Arfeir and Cox Proportional Hazard. Results and Discussion: EarJy innitiation of beastfeeding in Kuantan Singingi District is conduct varied with shortest time is 15 minutes after the infant is gavebirth. Most of the infant in Kuantan Singingi District (73,1%) is let to innitiate the breastfeed after 1 hour nf birth, meanwhie infant who let to have breastfeed before the first I hour of birth is 26,9%. This number is bigger than National number which reach 3.7%. This is possible because the education and socioeconomic level ofthe society is higher and the low birth weight infants is lower. The mean of exclusive breastfeeding upon the 6-12 months old baby in Kuantan Singingi Districts is 6,23 weeks (l,51 months). Referred to the standard setting by Department of health (6 months), the mean of Exclusive Breastfeeding in Kuantan Singingi is 4,49 months below the standard setting. The infant who innitiate the early breastfeed before 1 hour afterbirth is tend to have longer exclusive breasfeeding period compare with more than 1 hour after birth. Based on the Hazard test, the ratio of infant innitiating of early breastfeeding before and 1 hour of time breastfeed exclusively longer compared with more than 1 hour afterbirth. (BRerude 5.17 and HRacijusled 4.98). This result is similar with the study conducted by Pikawati and Syafiq in 2003 which showed that the infant let to have earJy breastfeed 8 times will more succeed in Exclusive breastfeed. Conclusions: Early innitiation of breastfeeding is a factor influencing a continuity of Exclusive breastfeeding on the 6-12 months old baby with HRadjusled 4,98 (95% CI 3.74-6.64). Only 11.50% infants Kuantan Singingi District is given exclusive beastfeading until 26 weeks old (6 months), Exclusive breasfeeding is decreasing dramatically in the end of 4 months.

Read More
T-2781
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Muryanto; Pembimbing: Helda; Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sri Duryati Boedihardjo, Dien Sanyoto Besar
Abstrak:

Latar belakang: Inisiasi menyusu dini memberikan efek yang menentukan bagi kelanjutan pemberian ASI Eksklusif hingga 6 bulan pada bayi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa bayi yang berhasil menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir cenderung akan terus menyusu lebih lama. Satu jam pertama merupakan periode emas yang akan menentukan keberhasilan seorang ibu untuk dapat menyusui bayinya secara optimal. Keberhasilan memberikan ASI Eksklusif yang diawali oleh keberhasilan dalam memberikan kesempatan dalam satu jam pertama ini berkaitan dengan refleks menghisap (suckling reflex) pada bayi. Dimana pada jam-jam pertama setelah lahir refleks menghidap bayi sangat kuat dan setelah itu bayi akan tertidur (Sidi et al, 2007). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh antara inisiasi menyusu dini terhadap kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada baya berusia 6 - 12 bulan di Kabupaten Kuantan Singingi. Metodologi: Penelitian merupakan studi observasional yang menggunakan desain kros seksional. Namun dalam penelitian ini terdapat variabel waktu yang merupakan periode follow up yang peroleh melalui recall (ingatan) responden. Temporal ambiguity dapat dihindari, karena event terjadi setelah exposure. Analisis dilakukan dengan life fable, uji log rank dan Kaplan Meier serta cox proportional hazard. Hasil dan Pembahasan: Inisiasi menyusu dini di Kabupaten Kuantan Singingi dilakukan bervariasi dengan waktu tercepat 15 menit setelah bayi lahir. Sebagian besar (73,1 %) bayi di Kabupaten Kuantan Singingi baru diberikan kesempatan untuk inisiasi menyusu dini > 1 jam setelah lahir, sedangkan bayi yang diberikan kesempatan menyusu pada < 1 jam pertama setelah lahir 26,9%. Ini jauh lebih besar dari angka nasional yang baru mencapai 3,7%. Ini dimungkinkan terjadi karena tingkat pandidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang relatif lebih baik serta low birth weight yang sangat kecil. Rata - rata pemberian ASI Eksklusif bayi usia 6-12 di Kabupaten Kuantan Singingi 6,23 minggu (1,51 bulan). Jika merujuk pada standar yang ditetapkan Depkes RI (6 bulan), maka pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Kuantan Singingi 4,49 bulan jauh dibawah yang diharuskan. Bayi yang inisiasi menyusu dini < 1 jam cenderung lebih lama menyusu secara eksklusif dibandingkan >1 jam (p=O,OOO). Dari pengujian hazard ralio bayi yang inisiasi menyusu dini 1 jam (HRcrude 5,17 dan HRadjusted 4,98). Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Fikawati dan Syafiq tahun 2003 menyebutkan bahwa bayi yang diberikan kesempatan untuk menyusu dini delapan kali akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif. Kesimpupan: Inisiasi menyusu dini merupakan faktor yang mempengaruhi kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6 - 12 bulan dengan HRadjusted 4,98 (95% CI 3,74-6,64). Hanya 11,50% bayi di Kabupaten Kuantan Singingi diberikan ASI Eksklusif hingga 26 minggu (6 bulan), pemberian ASI eksklusif menurun drastis pada akhir 4 bulan.


Background: Early Innitiation of Breastfeeding have a significant effect in determining the continuity of Exclusive Breastfeeding for 6 months period of the infant. A few study concluded that infant who succeed breastfeed for the first hour of birth tend to continue breastfeed for a long period. The first hour of birth is a golden period which will determine the succeed of mother in breastfed the infant optimally. The Succeed of Exclusive Breastfeeding is innitiate with succeed of giving the first hour of birth as a chance for the infant to suck the nippJe in order to develop the suckling reflex. In the first hour of birth the infant has a powerfull suckling reflex, and after that the infant will fall asleep (Sidi et al, 2007). This study is conduct to investigate the effect of early innitiation on the continuity of administering exclusive breatfeeding for the 6-12 months infant in Kuantan Singingi District. Metodology: This study is an observasional study which used cross-sectional design. However this study has a time variable which is follow up period taken through the recall of the respondents. Temporal Ambiguity can be reside, because the event is happened after the exposure. The analysis of the study is conduct through life table, log rank test, Kaplan Arfeir and Cox Proportional Hazard. Results and Discussion: EarJy innitiation of beastfeeding in Kuantan Singingi District is conduct varied with shortest time is 15 minutes after the infant is gavebirth. Most of the infant in Kuantan Singingi District (73,1%) is let to innitiate the breastfeed after 1 hour nf birth, meanwhie infant who let to have breastfeed before the first I hour of birth is 26,9%. This number is bigger than National number which reach 3.7%. This is possible because the education and socioeconomic level ofthe society is higher and the low birth weight infants is lower. The mean of exclusive breastfeeding upon the 6-12 months old baby in Kuantan Singingi Districts is 6,23 weeks (l,51 months). Referred to the standard setting by Department of health (6 months), the mean of Exclusive Breastfeeding in Kuantan Singingi is 4,49 months below the standard setting. The infant who innitiate the early breastfeed before 1 hour afterbirth is tend to have longer exclusive breasfeeding period compare with more than 1 hour after birth. Based on the Hazard test, the ratio of infant innitiating of early breastfeeding before and 1 hour of time breastfeed exclusively longer compared with more than 1 hour afterbirth. (BRerude 5.17 and HRacijusled 4.98). This result is similar with the study conducted by Pikawati and Syafiq in 2003 which showed that the infant let to have earJy breastfeed 8 times will more succeed in Exclusive breastfeed. Conclusions: Early innitiation of breastfeeding is a factor influencing a continuity of Exclusive breastfeeding on the 6-12 months old baby with HRadjusled 4,98 (95% CI 3.74-6.64). Only 11.50% infants Kuantan Singingi District is given exclusive beastfeading until 26 weeks old (6 months), Exclusive breasfeeding is decreasing dramatically in the end of 4 months.

Read More
T-2781
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Muryanto; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Sudijanto Kamso, Rini Sekartini; Penguji: Ratna Djuwita, Asri C. Adisasmita, Helda, Mei Neni Sitaresmi, Soewarta Kosen, Dwiana Ocviyanti
D-385
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ervira Dwiaprini As Syifa; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Trisari Anggondowati, Jasrida Yunita, Irwan Muryanto
Abstrak:
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 dan 2018, menunjukkan adanya peningkatan prevalensi gizi lebih dan obesitas di provinsi Riau yaitu dari 3,1% menjadi 11,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih/obesitas pada remaja siswa SMA Negeri di Kota Pekanbaru Tahun 2023. Jenis penelitian adalah kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2023. Sampel adalah siswa SMAN kelas X dan XI di tiga SMAN di Kota Pekanbaru, yaitu SMAN 4, SMAN 6, dan SMAN 12. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Variabel independen adalah jenis kelamin, pengetahuan remaja, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, uang saku, status kegemukan orang tua, aktivitas fisik, kualitas tidur, konsumsi makanan cepat saji dan konsumsi makanan manis. Variabel dependen adalah gizi lebih/obesitas. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang dominan berhubungan dengan gizi/obesitas adalah status kegemukan orang tua (OR=3,12; 95% CI: 1,25-7,83). Remaja dengan orang tua gemuk/obesitas lebih berisiko 3 kali mengalami gizi lebih/obesitas dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki orang tua gemuk/obesitas. Variabel lain yang berhubungan adalah pengetahuan siswa (OR=2,62; 95% CI: 1,27-5,39) dan kebiasaan makanan manis (OR=2,34; 95% CI:1,04-5,27). Untuk itu diharapkan pihak sekolah dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk menyelenggarakan penyuluhan atau seminar tentang gizi dan obesitas pada remaja, sekolah dapat menyediakan kantin sehat dengan membatasi ketersediaan makanan cepat saji dan minuman manis.

Based on the 2013 and 2018 Basic Health Research, there was an increase in the prevalence of overnutrition and obesity in Riau province from 3.1% to 11.6%. This study aimed to analyse the factors associated with the incidence of overeight/obesity in adolescent students of public high schools in Pekanbaru City in 2023. The type of research is quantitative analytic with a cross-sectional design. The research was conducted in May-June 2023. Samples were class X and XI students in three high schools in Pekanbaru City, namely SMAN 4, SMAN 6, and SMAN 12. Sampling was done by purposive sampling. Independent variables were gender, adolescent knowledge, parental education, parental occupation, pocket money, parental obesity status, physical activity, sleep quality, fast food consumption and sweet food consumption. The dependent variable was overweight/obesity. Data were analysed univariately, bivariate and multivariate. The results showed that the dominant variable associated with overweight/obesity was parental obesity status (OR=3.12; 95% CI: 1.25-7.83). Adolescents with obese parents were three times more likely to experience overweight/obesity compared to adolescents who did not have obese parents. Other associated variables were student knowledge (OR=2.62; 95% CI: 1.27-5.39) and sweet food habits (OR=2.34; 95% CI: 1.04-5.27). For this reason, schools are expected to work with the Health Office and Community Health Center to organise counselling or seminars on nutrition and obesity in adolescents; schools can provide healthy canteens by limiting the availability of fast food and sugary drinks.
Read More
T-6811
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive