Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yogi Puji Rachmawan; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Helda, Bambang Budi Siswanto; Penguji: Ratna Djuwita, Sabarinah, Habibie Arifianto, Anggoro Budi Hartopo
Abstrak:
Gagal jantung adalah sindroma yang terjadi akibat kegagalan jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi sel tubuh. Prevalensi dan angka kematian gagal jantung di Indonesia cukup tinggi bila dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Gagal jantung pada usia muda akan meningkatkan risiko kematian, menyebabkan rehospitalisasi berulang, menurunkan kualitas hidup, serta meningkatkan beban sistem layanan kesehatan. Obesitas, (diabetes melitus tipe 2) DMT2, hipertensi, merokok, dislipidemia, riwayat keluarga dengan (prematurce coronary artery disease) PCAD, dan jenis kelamin diketahui berhubungan dengan terjadinya gagal jantung. Diperlukan sebuah model prediksi untuk menjelaskan faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya gagal jantung pada usia muda, sehingga model prediksi tersebut dapat menjadi dasar upaya pencegahan terjadinya gagal jantung pada usia muda. Penelitian ini menggunakan desain fixed kohort-retrospektif yaitu pasien usia 18-54 tahun yang berobat di poliklinik jantung atau dirawat inap di 4 rumah sakit (RS) di Indonesia yaitu RS Harapan Kita Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dan RS Adam Malik Medan pada tahun 2021 dan tidak terdiagnosis gagal jantung kemudian diambil data faktor risikonya sesuai variabel yang diteliti. Status pasien terdiagnosis gagal jantung atau tidak akan diikuti setiap bulannya sejak tahun 2021 hingga akhir pengamatan 2024. Kemudian dilakukan analisis deskriptif, bivariabel, dan multivariabel menggunakan Generalized Linear Model (GLM) Poisson untuk mendapatkan nilai koefisien, IRR (interval kepercayaan 95%), dan menyusun model prediksi yang paling tepat. Berdasarkan model, akan dibuat sistem skor dan nilai probabilitas terjadinya gagal jantung. Total 321 sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan median usia 51 tahun (P25-P75: 46-52 tahun). Pada observasi tahun ke-4, probabilitas kumulatif sebesar 0,713 (95% CI 0,661 – 0,760). Hasil analisis menunjukan 3 variabel utama yang signifikan berkaitan dengan risiko terjadinya gagal jantung di usia muda, yaitu obesitas (IRR 1,87; 95% CI 1,31 – 2,68), dislipidemia (IRR 2,58; 95% CI 1,87 – 3,56), dan DMT2 (IRR 2,79; 95% CI 2,01 – 3,87). Skor IMT-Dislipidemia-DMT2 (IDD) disusun sebagai sistem skor prediksi gagal jantung pada usia muda dengan total skor 13 (probabilitas 76,8%). Obesitas, dislipidemia, dan DMT2 merupakan faktor risiko yang berpengaruh signifikan, dan penggunaan sistem Skor IDD memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup baik dalam prediktor terjadinya gagal jantung pada usia muda.

Heart failure is a clinical syndrome that occurs when the heart fails to meet the body’s demand for oxygen and nutrients. The prevalence and mortality rate of heart failure in Indonesia are relatively high compared to other Southeast Asian countries. The occurrence of heart failure in young adults increases the risk of premature death, recurrent rehospitalization, reduced quality of life, and a greater burden on the healthcare system. Several factors such as obesity, type 2 diabetes mellitus (T2DM), hypertension, smoking, dyslipidemia, family history of premature coronary artery disease (PCAD), and sex have been identified as being associated with heart failure. Developing a predictive model to identify the most influential risk factors for heart failure in young adults is crucial for preventive strategies and early interventions. This study employed a fixed retrospective cohort design involving patients aged 18–54 years who visited the cardiology outpatient clinic or were hospitalized at four tertiary hospitals in Indonesia (National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta; Hasan Sadikin Hospital, Bandung; Sebelas Maret University Hospital, Solo; and Adam Malik Hospital, Medan) in 2021. Patients without an initial diagnosis of heart failure were included, and their risk factors were recorded according to the study variables. The patients were followed monthly from 2021 until the end of observation in 2024 to determine whether they developed heart failure. Descriptive, bivariate, and multivariable analyses were conducted using the Poisson Generalized Linear Model (GLM) to estimate coefficients, incidence rate ratios (IRR) with 95% confidence intervals, and to construct the most accurate predictive model. Based on the model, a scoring system and probability value for the occurrence of heart failure were developed. A total of 321 participants met the inclusion and exclusion criteria, with a median age of 51 years (P25–P75: 46–52 years). After four years of observation, the cumulative probability of developing heart failure was 0.713 (95% CI: 0.661–0.760). The analysis identified three significant predictors for heart failure in young adults: obesity (IRR 1.87; 95% CI 1.31–2.68), dyslipidemia (IRR 2.58; 95% CI 1.87–3.56), and T2DM (IRR 2.79; 95% CI 2.01–3.87). The IDD Score (Body Mass Index–Dyslipidemia–Diabetes) was developed as a predictive scoring system for heart failure in young adults, with a total score of 13 corresponding to a 76.8% probability. Obesity, dyslipidemia, and T2DM were found to be significant risk factors for heart failure in young adults. The proposed IDD Score demonstrated good sensitivity and specificity in predicting the occurrence of heart failure within this population.

Read More
D-600
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Putri; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Yogi Puji Rachmawan
Abstrak:
Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD) merupakan komplikasi utama pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas pada populasi ini. Namun, bukti mengenai hubungan ASCVD dengan kematian pasien DMT2 di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan ASCVD dengan kematian pasien DMT2 di Indonesia menggunakan Data Sampel Kontekstual DM BPJS Kesehatan periode 2015–2022. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif terhadap 6.189 pasien DMT2 yang pertama kali terdiagnosis pada tahun 2015 dan diikuti hingga tahun 2022. Analisis survival dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji log-rank. Hubungan ASCVD dengan kematian dianalisis menggunakan regresi Cox proportional hazards. Interaksi antara ASCVD dan status gagal jantung dievaluasi untuk menilai adanya modifikasi efek. Karena ditemukan interaksi yang signifikan, analisis lanjutan dilakukan secara terpisah pada kelompok dengan dan tanpa gagal jantung serta dikontrol oleh penyakit ginjal kronis (CKD) dan wilayah tempat tinggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 710 pasien (11,47%) memiliki ASCVD. Proporsi kematian pada kelompok ASCVD lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa ASCVD (14,79% vs 11,53%). Terdapat perbedaan cumulative survival probability yang bermakna antara pasien DMT2 dengan ASCVD dan tanpa ASCVD (77,65% vs 80,36%; p=0,0407). Pada pasien tanpa gagal jantung, ASCVD berhubungan dengan peningkatan hazard kematian sebesar 1,36 kali dibandingkan pasien tanpa ASCVD (aHR=1,36; 95% CI: 1,00–1,86). Sementara itu, pada pasien dengan gagal jantung diperoleh aHR sebesar 0,76 (95% CI: 0,58–1,01). Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan ASCVD dengan kematian pasien DMT2 berbeda menurut status gagal jantung. Diperlukan penguatan deteksi dini dan pengelolaan ASCVD secara komprehensif pada pasien DMT2 untuk meningkatkan ketahanan hidup dan menurunkan risiko kematian.

Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD) is a major complication among patients with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) and a leading cause of morbidity and mortality in this population. However, evidence regarding the association between ASCVD and mortality among patients with T2DM in Indonesia remains limited. This study aimed to analyze the association between ASCVD and mortality among patients with T2DM in Indonesia using the BPJS Kesehatan Diabetes Mellitus Contextual Sample Data from 2015–2022. A retrospective cohort study was conducted involving 6,189 patients with T2DM who were newly diagnosed in 2015 and followed until 2022. Survival analysis was performed using the Kaplan–Meier method and log-rank test. The association between ASCVD and mortality was assessed using Cox proportional hazards regression. The interaction between ASCVD and heart failure status was evaluated to assess effect modification. Because a significant interaction was identified, subsequent analyses were conducted separately among patients with and without heart failure, while adjusting for chronic kidney disease (CKD) and residential area. The results showed that 710 patients (11.47%) had ASCVD. The proportion of deaths was higher among patients with ASCVD than among those without ASCVD (14.79% vs. 11.53%). A significant difference in cumulative survival probability was observed between patients with and without ASCVD (77.65% vs. 80.36%; p=0.0407). Among patients without heart failure, ASCVD was associated with a 1.36-fold higher hazard of mortality compared with those without ASCVD (aHR=1.36; 95% CI: 1.00–1.86). In contrast, among patients with heart failure, the adjusted hazard ratio was 0.76 (95% CI: 0.58–1.01). These findings indicate that the association between ASCVD and mortality among patients with T2DM differs according to heart failure status. Strengthening early detection and comprehensive management of ASCVD in patients with T2DM is needed to improve survival and reduce mortality risk.
Read More
T-7560
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive