Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Latar Belakang : Remaja rentan terhadap perilaku berisiko yang bisa membawa kepada HIV/AIDS. Perilaku berisiko adalah perilaku remaja yang melakukan hubungan seks dan menggunakan narkoba suntik. Secara global, 40% dari semua kasus infeksi HIV terjadi pada kaum muda usia 15-24 tahun. Perkiraan terakhir adalah sebanyak 7000 remaja terinfeksi HIV setiap harinya. Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS adalah komponen untuk memperbaiki perilaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS dengan perilaku berisiko di Indonesia.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian obeservasi dengan desain studi crosssectional, menggunakan data Surveilans Terpadu Biologi dan Perilaku tahun 2011. Jumlah keseluruhan responden adalah 6.991 orang remaja. Analisis data dilakukan dengan menggunakan cox regression.
Hasil : Prevalensi perilaku berisiko pada remaja adalah 15,8% sedangkan prevalensi pengetahuan komprehensif 22,3%. Analisis multivariate menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS dengan Perilaku beresiko remaja dengan nilai p=0,153 dan PR= 1,11 (95% CI:0,962-1,283) setelah dikontrol dengan variable kovariat yaitu jenis kelamin, pendidikan orang tua dan pengaruh teman sebaya.
Kesimpulan : Secara statistik, pada penelitian ini pengetahuan komprehensif tidak berhubungan dengan perilaku berisiko. Saran untuk para ilmuwan agar menelaah ulang indikator yang digunakan untuk mengukur Pengetahuan komprehensif tentang HIV, serta untuk pemerintah melalui lembaga pendidikan adalah agar memasukkan pendidikan HIV/AIDS kedalam kurikulum sekolah, sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan komprehensif dan mencegah perilaku beresiko.
Background : Adolescent are susceptible to a variety of risky behavior that can lead towards HIV/AIDS. Risky behavior is adolescent behavior that having sexual intercourse or using drug-injection. Globally, about 40% of all cases of HIV infections occur in young people aged 15-24 years. Latest estimate was as much as 7000 teens are infected by HIV every day. Comprehensive knowledge about HIV/AIDS is the component to make up behavior.The aim of the study is to know the relationship between comprehensive knowledge about HIV/AIDS with sexual behavior in Indonesia.
Methods: This study is observational study with cross-sectional design, using the Integrated Biological and Behavioural Surveillance data in 2011. Total respondents are 6.991 adolescents. Data analysis was performed by cox regression multivariate analysis.
Result: Prevalence of risky behaviorin adolescent was 15,8% while the prevalence of comprehensive knowledge was 22,3%. Multivariate analysis showed no statistically significant relationship between comprehensive knowledge about HIV/AIDS with risky behavior. P value=0,153, PR=1,11( 95% CI 0,962-1,283) after adjusted by covariates, included: sex, parents education and peer-grouped influence.
Conclusion: Statistically, in this study comprehensive knowledge is not associated with risky behavior. Recommendation for the scientist to review the indicators used to measure the comprehensive knowledge about HIV/AIDS, and recommendation for the government through educational institutions is to include education about HIV / AIDS into the school curriculum, in an effort to improve the comprehensive knowledge and prevent risky behavior.
Stroke merupakan penyakit penyebab kematian tertinggi kedua dan penyumbang kecatatan ketiga terbanyak di dunia. Riset Kesehatan Dasar menyebutkan bahwa prevalensi stroke di Indonesia pada tahun 2018 sangat tinggi yaitu 10,8‰ penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh resiliensi keluarga terhadap kualitas hidup penderita stroke iskemik selama tiga bulan di Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian gabungan kuantitatif dan kualitatif dengan strategi eksplanatoris sekuensial. Jenis studi kuantitatif yang digunakan adalah studi longitudinal sedangkan penelitian kualitatif menggunakan rancangan Rapid Assessment Procedure (RAP). Sebanyak 206 sampel dianalisis secara kuantitatif. Informan yang dilibatkan dalam studi kualitatif melalui wawancara mendalam adalah keluarga dari penderita stroke iskemik sebanyak tujuh orang, tokoh adat Minangkabau sebanyak empat orang. Informan dari tenaga medis yang diikutkan dalam penelitian ini adalah kelompok terapis dan perawat masing-masing enam orang melalui metode Diskusi Kelompok Terarah. Uji yang digunakan pada analisis multivariat adalah Generalized Estimating Equations (GEE), dan analisis data kualitatif menggunakan model analisis editing. Hasil penelitian menemukan bahwa pengaruh resiliensi keluarga terhadap kualitas hidup penderita stroke iskemik paling signifikan terjadi pada bulan pertama pasca stroke (OR=3,5; 95%CI:1,7-7,2) setelah dikontrol faktor usia, suku, dan ketekunan latihan. Untuk meningkatkan kualitas hidup penderita stroke dapat dilakukan dengan meningkatkan resiliensi keluarga melalui komunikasi terapeutik saat discharge planning di rumah sakit. Selain itu, rekomendasi pengajuan kebutuhan tenaga Pekerja Sosial Medis di rumah sakit juga dinilai penting dalam rangka menangani masalah sosial pasien dan keluarga di komunitas. Diseminasi informasi juga disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi untuk dapat menjadi input edukasi kepada keluarga penderita stroke, populasi berisiko stroke, dan masyarakat umum.
Stroke is the second highest cause of death and the third largest contributor to disability in the world. Basic Health Research states that the prevalence of stroke in Indonesia in 2018 was very high, namely 10.8‰ population. The purpose of this study was to determine the effect of family resilience on the quality of life of ischemic stroke sufferers for three months at dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi Brain Hospital. This type of research is a combined quantitative and qualitative research with sequential explanatory strategy. The type of quantitative study used is a longitudinal study while qualitative research uses a Rapid Assessment Procedure (RAP) design. A total of 206 samples were quantitatively analyzed. The informants involved in the qualitative study through in-depth interviews were the families of seven ischemic stroke sufferers, four Minangkabau traditional figures. The informants from the medical personnel included in this study were a group of therapists and nurses of six people each through the Focus Group Discussion method. The tests used in multivariate analysis are General Estimation of Equation (GEE), and qualitative data analysis using editing analysis models. The results of the study found that there is an influence of family resilience on the quality of life of ischemic stroke sufferers (OR=3,5; 95%CI:1,7-7,2) after controlling the age, ethnicity, and perseverance of exercise factors. The effect of family resilience on the quality of life of ischemic stroke sufferers is greatest in the first month post – stroke. To improve the quality of life of stroke patients, it can be done by increasing family resilience through therapeutic communication during discharge planning in the hospital. In addition, recommendations for filing the need for Medical Social Workers in hospitals are also considered important in order to deal with social problems of patients and families in the community. Information dissemination was also conveyed to the Bukittinggi City Health Office to be an input for education to families of stroke sufferers, populations at risk of stroke, and the general public.
