Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tindakan sebagian dari penanggung jawab pasien Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru yang sudah sembuh untuk tetap membiarkan pasien tinggal dirumah sakit jiwa sangat tidak menguntungkan. Ini dapat mengurangi daya tampung rumah sakit dan kualitas pelayanan pada pasien. Untuk pasien yang sudah boleh pulang dapat dilakukan perawatan lanjutan di masyarakat untuk mengurangi "nosokomial gangguan jiwa". Sistem pemulangan pasien yang dilakukan rumah sakit jiwa pada umumnya sama dengan sistem pemulangan pasien di rumah sakit umum. Sistem pemulangan pasien di rumah sakit jiwa ini sangat efektif bagi keluarga yang peduli terhadap pasien, nainun tidak efektif bagi pasien yang tidak mempunyai keluarga seperti gelandangan psikotik yang diantar oleh Dinas Sosial dan bagi pasien yang keluarganya tidak peduli. Penulangan pasien merupakan suatu keharusan bagi pasien rawat limp lama yang sembuh, kalau tidak ingin pasien menumpuk di rumah sakit jiwa. Tujuan penulisan ini untuk mendapatkan pengembangan sistem pemulangan pasien rawat map lama yang sembuh di Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru, sehingga tak membebani Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru dan memenuhi harapan masyarukat. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, tidak menguji teori tetapi merupakan penelitian terapan yang bersifat merman altematif pemulangan pasien yang sembuh. Informasi penelitian ini diperoleh dari pasien rawat map lama yang sembuh di Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru melalui Diskusi Kelompok Terarah sedangkan informasi dari keluarga pasien, pejabat struktural Rumah Sakit Jiwa _Pekanbaru, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, DPRD Propinsi Riau diperoleh melalui Wawancara Mendalam. Dari basil Diskusi Kelompok Terarah didapatkan pada umumnya motivasi pasien terhadap pulang cukup kuat, motivasi beberapa pasien tidak begitu kuat karena merasa dihuaiig oleh keluarga. Pasien umumnya menolak untuk ditempatkan di Panti, namun ada juga pasien yang ingin mencoba dengan alasan teman. Keluarga pada urnumnya tidak tahu cara merawat pasien, bosan karena pasien sering kambuh. Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru menginginkan pemulangan pasin rawat imp lama sembuh dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru berikut dengan pengalokasian dananya. Dinas Sosial mengkategorikan pasien rawat inap lama sembuh tersebut sebagai orang terlantar dan dalam memulangkan pasien ke daerah asalnya tidak memberikan dana pendamping untuk pemulangan pasien. Dari Legislatif akan membantu dalam bentuk kebijakan dan anggaran khusus. Secara umum dapat ditarik kesiinpulan bahwa penyebab pasien rawat Map lama yaitu trauma masa lalu dengan pasien, jarak yang jauh ke rumah sakit jiwa Pekanbaru, ketidaktahuan keluarga dalam merawat pasien dirumah. Pasien dari Dinas Sosial disamping jarak yang jauh juga disebabkan karena tidak adanya tempat penyaluran pasien. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru untuk pemulangan pasien hanya bersifat jangka pendek. Pemulangan pasien lebih diutamakan pada keluarga, penampungan pada rumah singgah cacat mental dan penyaluran magang kerja pada industri barang/jasa. Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru dapat inelakukan kerjasama dengan Dinas Sosial untuk penyaluran pasien kemasyarakat. DPRD dapat membantu pasien dengan membuat kebijakan dan anggaran khusus untuk pasien rawat inap lama yang sembuh.
Some of patient underwriter's action in Mental Hospital of Pekanbaru, which has recovered to keep letting patient stay in mental hospital, is not advantage. This can decrease hospital accommodation and patient service quality. For patient which have may go home can he done by a continue treatment in society to decrease "nosokomia' mental disorder". Discharging of patient system, which is done in mental hospital generally, is similar with discharging of patient system in public hospital. This discharging of patient system in public hospital is very effective for family who care of patient, but it is not effective for patient who does not have family like loiterer of psychotic who is sent by a social service and it is not effective for patient who his family does not care. Discharging of patient is a compulsion for long time care patient who recover, if not patient heap in mental hospital. This writing purpose to get a system development by discharging of long time care patient who recover in Mental Hospital of Pekanbaru, so it does not encumber in mental hospital and fulfill society expectation. This is a qualitative research, it does not use a theory test, but it is an operational research, which has a character of looking for alternative discharge of patient who recovers. This research informant is long time care patients who recover in Mental I-Iospital of Pekanbaru by focus group discussion, while information from patient family, structural functionary at Mental Hospital of Pekanbani, Local Health Department, Local Social Service Department, and DPRD Province of Riau in depth interview. From focus group discussion result is informed that most of patients have strong motivation for going home, and many patients have less motivation because they feel cast away by their family. Generally, patient of refuse to be placed in center of rehabilitation, but there are many patient who want to try it because of their friends. Generally, family does not know how to take-care of patient and boring because patient often recurrence. Mental Hospital of Pekanbaru wish for discharging of long time care patient who recover to be done by themselves following with his fund allocation. Local Social Service Department categorizes this patient as neglected and returns them into their area, but there is no fund for volunteer who deliver of them. Legislative will help in the form of policy and special budget. Generally can be pulled by a conclusion that the reasons of long time care patient are their traumatic in the past, long distance to Mental Hospital of Pekanbaru, less knowledge of family to take care of patient at home. Patient from Local Social Service Department, beside long distance and it is also caused by there no place for channeling of patients. The Efforts have been done by Mental Hospital of Pekabaru for discharging of patient only a short-range. Discharging of patient is especially for their family, relocation in center of rehabilitation and them channeling as freelance work at goods industry or service. Local Social Service Department helps actively in community. DPRD can assist patients by making policy and special budget for long time care patient who recover.
Menurut Departemen Kesehatan RI untuk angka kejadian seksio sesarea bagi rumah sakit tidak Iebih dari 20% dari total persalinan per tahun. Tindakan seksio sesarea merupakan peringkat pertama dari semua operasi yang terdapat di RS. Karya Husada. Angka kejadian seksio sesarea di RS. Karya Husada pada tahun 2005 mengalami peningkatan 17.1% dari tahun 2004. Pelayanan kesehatan dinilai dari rekam medis yang dipergunakan. Semua catatan yang terdapat dalam rekam medis dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan oleh rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelengkapan pengisian status rekam medik pasien seksio sesarea dalam pelaksanaan standar operasional prosedurnya di RS. Katya Husada, Cikampek Tahun 2005 berdasarkan data rekam medik pasien seksio sesarea dan hubungannya dari variabel umur, kelas perawatan, lama hari rawat, status pasien masuk, status pasien keluar, penyakit penyulit, dan status kepegawaian dokter spesialis kebidanan, Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei, pendekatan eksploratif dan evaluatif, deskriptif retrospektif Berdasarkan hasil analisa kuantitatif, peneliti melakukan wawancara lanjutan sebagai pendukung penelitian ini. Hasil penelitian yang didapatkan berhubungan bermakna antara kelengkapan pengisian status rekam medik pasien seksio sesarea dari SPM profesi dan SOP RS. Karya Husada tindakan seksio sesarea dengan beberapa variabel pasien seksio sesarea. Dominasi penulisan tidak lengkap pada status rekam medik pasien seksio sesarea oleh dokter spesialis kebidanan berstatus dokter tamu mempunyai hubungan yang bermakna (p value < 0-05) dengan SPM profesi tindakan seksio sesarea, yaitu anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, persetujuan tindakan medik, menentukan jenis seksio sesarea, pencegahan infeksi dan persiapan operasi, tindakan operasi, perawatan pasca bedah, nasehat dan konseling pasca operasi. Dari sejumlah variabel SOP RS. Karya Husada tindakan seksio sesarea yang diuji, ternyata keberadaan dokter spesialis kebidanan (dokter tamu) berpengaruh dengan tingkat bermakna < 0.05 dengan persiapan pasien, persiapan anestesi, persiapan dokter anak, penatalaksanaan (teknik transperitoneal profunda), namun untuk variabel umur tidak berpengamh pada variabel yang terdapat terdapat dalam SPM profesi dan SOP untuk kelengkapan pengisian status rekam medik tersebut. Menurut hasil wawancara, pengisian status rekam medik merupakan rutinitas dokter dan pengesahan SOP RS. Karya Husada bulan April 2006. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa karakter dokter spesialis kebidanan yang berstatus tamu kurang patuh dalam mengisi lengkap status rekam medik, sementara dokumen tersebut sangat diperlukan sebagai pelaporan tindakan seorang tenaga medis. Oleh karena itu peran dokter mengisi status rekam medik sesuai prosedurnya perlu dievaluasi, walaupun dalam melakukan tindakan tersebut dokter sudah mengikuti prosedurnya tapi tidak tertulis di dalam dokumen rekam medik yang sangat diperlukan sebagai bukti pelaksanaan tindakan medis tersebut. Saran yang dapat diberikan kepada manajemen rumah sakit dan profesi kedokteran adalah revisi dan evaluasi SPO RS. Karya Husada tindakan seksio sesarea sesuai praktek yang terjadi di lapangan; sosialisasi SPO RS. Katya Husada yang telah diresmikan Direktur RS. Karya Husada, disertai bukti sosialisasinya; audit medis status rekam medik secara rutin 3 (tiga) bulan sekali; pembinaan dokter-dokter daiam mengisi status rekam medik yang lengkap dalam suatu forum komite medik; manajemen rumah sakit harus dapat menugaskan pegawai rumah sakit untuk memonitor kelengkapan pengisian status rekam medik oleh tenaga medis; manajemen rumah sakit dapat memberikan konsekwensi yang diperketat berupa pemotongan honor dokter dalam pengisian status rekam medik pasien seksio sesarea yang tidak lengkap.
