Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Triana Srisantyorini, Fori Yumita Sumartin
JKK, Vol.1, No.2
Jakarta : Universitas Muhammadiyah, 2005
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Sapardiyah Santoso, Helper Sahat Parulian Manalu, Triana Srisantyorini
MJKI No.4, XXXII
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triana Srisantyorini; Pembimbing: Kamso Sudijanto
S-789
Depok : FKM UI, 1994
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siska Adriyani; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami, Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Sukanda, Triana Srisantyorini
Abstrak:

ABSTRAK Lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam terjadinya dan penyebaran penyakit chikungunya, baik lingkungan fisik maupun biologis. Perubahan iklim dapat berpengaruh terhadap pola penyakit infeksi dan akan meningkatkan risiko penularan. Penyebaran penyakit ini biasanya terjadi pada daerah endemis Demam Berdarah. Sekalipun tidak menimbulkan kematian, namun akibat yang ditimbulkan dari aspek kesehatan masyarakat cukup merugikan, apalagi jika sampai penderita mengalami kelumpuhan dan berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, produktivitas kerja dan akvititas sehari-hari praktis terhenti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim dengan kejadian penyakit chikungunya di wilayah Jawa Barat tahun 2002-2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi ekologi menurut waktu. Data yang digunakan adalah data sekunder dari hasil rekapitulasi jumlah penderita chikungunya perbulan selama 2002-2010 di Jawa Barat. Hasil penelitian hubungan prevalensi chikungunya dari tahun 2002-2010 dengan iklim di wilayah Jawa Barat ini menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kecepatan angin (p=0,018) dan tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan suhu udara (p=0,828), curah hujan (p=0,507) dan kelembaban udara (p=0,778). Saran yang dapat diberikan adalah diperlukan tindakan preventif dari semua lapisan masyarakat dalam mengantisipasi kejadian penyakit chikungunya tentang pentingnya menjaga kebersihan, terutama program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Upaya pencegahan dititikberatkan pada pemberantasan nyamuk penular, dengan membasmi jentik nyamuk penular di tempat perindukannya. Salah satu cara untuk memutus rantai penularan nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebar penyakit. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara kimiawi, biologis, fisik dan perlindungan diri.


 

Abstract Environment is one of the most important factor in occurance and distribution of chikungunya, both of phisycs and biologic environment. Climate change can influence to infection disease pattern and will increase spreading risk. The spread of this disease usually occurs in endemic areas of dengue fever. Even if no cause of death, but the impact of public health aspects quite detrimental, especially when it comes to people with paralysis and lasts for weeks to months, work productivity and daily activity practically stopped. The objective of this research is to know correlation chikungunya cases and climate factors in west java 2002-2010. This research uses the design of ecological time trend study. Data was used secondary data from result of summary of amount chikungunya patient during year 2002-2010 in west java. Number of chikungunya prevalance were used the results indicate that chikungunya prevalance have significant related to wind?s speed (p=0,018) and didn?t have significant related to temperature (p=0,828), precipitation (p=0,507) and humidity (p=0,778). Advice can be given preventive action is required from all walks of life in anticipation of the incidence of chikungunya disease on the importance of maintaining cleanliness, especially the mosquito nest eradication program (PSN). Prevention efforts focused on the eradication of mosquito-borne, to eradicate the mosquito-borne larvae in breeding. One way to break the chain of transmission of the mosquito Aedes aegypti as a spreader of disease. These efforts can be done by means of chemical, biological, physical and self-protection.

Read More
T-3669
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triana Srisantyorini; Pembimbing: Sumengen Sutomo; Penguji: Budi Haryanto, Ririn Arminisih Wulandari, Bambang Wahyudi, Agustine Sondakh
T-1337
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ernyasih; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Renti Mahkoto, Emma Hermawati, Triana Srisantyorini, Agus Handito
Abstrak:

Penelitian ini dilakukan di DKI Jakarta bulan April 2012 dengan menggunakan desain ekologi. Data yang digunakan adalah data sekunder dari hasil rekapitulasi jumlah penderita diare perbulan perwilayah selama tahun 2007 ? 2011 di DKI Jakarta. Data ditampilkan secara visualisasi trend berdasarkan tempat dan waktu serta dianalisis secara statistik untuk melihat hubungan antar variabel dependen dan independen. Kasus diare perbulan tertinggi di DKI Jakarta bulan Februari 2007 sebesar 33.511 penderita, kasus diare pertahun perwilayah tertinggi di wilayah IV (Wilayah Kotamadya Jakarta Selatan dan Jakarta Timur) 2010 sebesar 87.355 penderita. Rata-rata suhu udara perbulan tertinggi bulan April 2010 sebesar 29.20C, curah hujan tertinggi bulan Februari 2007 sebesar 673.5 mm, kelembaban tertinggi bulan Februari 2008 sebesar 86%, kecepatan angin bulan Maret sebesar 6.5 knot. Ada hubungan signifikan suhu udara dengan kasus diare (p value 0.0005) dan hubungan sedang (r = -0.319), berpola negatif, ada hubungan signifikan curah hujan dengan kasus diare (p value 0.0005) dan hubungan sedang (r = 0.273) berpola positif, Ada hubungan signifikan kelembaban dengan kasus diare (p value 0.0005) dan hubungan sedang (r = 0.340) berpola positif, Ada hubungan signifikan kecepatan angin dengan kasus diare (p value 0.0005) dan hubungan kuat (r = -0.569) berpola negatif. Faktor iklim yang paling dominan yaitu curah hujan. Saran penelitian yaitu menyediakan sumber air bersih untuk dikonsumsi baik pada saat musim hujan ataupun musim kemarau, Dinas Kebersihan DKI Jakarta harus mengelola sampah dengan baik, pembuatan taman kota atau penanaman kembali pohon-pohon di DKI Jakarta, perlu adanya kerjasama lintas program antara Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, BMKG, PAM, ormas, tokoh masyarakat, civitas akademika dalam memanfaatkan data variasi iklim untuk mencegah terjadinya ledakan kasus (KLB) diare di masa yang akan datang, menjaga Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), makan yang baik dan bersih, istirahat yang cukup serta senantiasa melakukan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), perlu dilakukan intervensi dalam aspek SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah) ataupun pembuangan sampah yang teratur, jangan membuang sampah sembarangan.


This study was conducted in DKI Jakarta on April 2012 by using ecology desain. Data was used secondary data from result of summary of diarrhoea patient of sub-district per-month during year 2007 - 2011 in DKI Jakarta. Data presented visualizinged trend pursuant to time and place and also analysed statistically to see correlated between variable dependent and independent. Highest Diarrhoea case per-month in DKI Jakarta on Februari 2007 is 33.511 patient, highest area per-year diarrhoea case in region IV ( Regional south of Jakarta and east of Jakarta ) 2010 is 87.355 patient. Highest mean Temperature on April 2010 is 29.20C, highest mean rainfall on Februari 2007 is 673.5 mm, highest mean humidity on Februari 2008 is 86%, wind?s on March month is to 6.5 knot. There is significant correlations of temperature with diarrhoea case (p value 0.0005) and medium correlations (r = - 0.319), have negative pattern, there is significant correlations rainfall with diarrhoea case (p value 0.0005) and medium correlations (r = 0.273) have positive pattern, There is significant correlations humidity with diarrhoea case (p value 0.0005) and medium correlations (r = 0.340) have positive pattern, There is significant correlations wind?s speed with diarrhoea case (p value 0.0005) and strong correlations (r = - 0.569) have negative pattern. the most dominant climate factor that is rainfall. Research suggestion that is providing the source of clean and hygiene water to be consumed at the rains and or dry season, sanitary department of state DKI Jakarta have to manage garbage better, making town garden or cultivation tree in DKI Jakarta, need the existence of cooperation program among Public Health Service Provinsi DKI Jakarta, BMKG, PAM, NGO, elite figure, civitas academica in exploiting climate variation data to prevent of diarrhoea case explosion (KLB) in the future, taking care of Healthy and Clean life Behavior (PHBS), eat non contaminated and good food, good and clean hand wash with Soap (CTPS), require to intervence in SPAL aspect (segregate system) and regular garbage disposal, good garbage management program.

Read More
T-3558
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive