Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Benedict Sulaiman; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Abdul Firman, Relia Sari
Abstrak:

Transformasi digital dalam sektor kesehatan semakin mengubah cara rumah sakit untuk memberikan dan mengelola pelayanan kesehatan. Penelitian ini menganalisis dampak transformasi sistem informasi digital yang diterapkan di RS Premier, dengan berfokuskan pada efektivitas inovasi yang dikembangkan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kebutuhan transformasi digital di rumah sakit dalam mencapai keunggulan kompetitif dan memenuhi ekspektasi pasien di era digital. Tujuan utama penelitian ini adalah mengevaluasi dampak inovasi terhadap alur kerja operasional, kepuasan pasien, dan kinerja keseluruhan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, dengan metode wawancara terhadap informan kunci, telaah dokumen, dan analisis komparatif data sebelum dan sesudah implementasi untuk inovasi seperti Sistem Patient Journey, Discharge Management Process dan Manajemen Insiden Real-Time (RootBin).

Hasil utama menunjukkan bahwa inovasi seperti Sistem Patient Journey secara signifikan mengurangi waktu tunggu dan memperbaiki alur layanan pada instalasi rawat jalan. Integrasi sistem manajemen discharge menghasilkan pengurangan waktu pemulangan pasien rawat inap, sementara inovasi digital rekam medis mempermudah dan mempercepat akses data untuk pasien dan juga menjaga kepatuhan terhadap regulasi kesehatan. Sistem RootBin bertujuan untuk mempercepat pelaporan dan pelacakan insiden secara real-time, mendorong budaya keselamatan dan perbaikan kualitas berkelanjutan. Meskipun telah menunjukkan keberhasilan, beberapa tantangan masih terus dihadapi, termasuk resistensi terhadap perubahan di kalangan staf, kesenjangan literasi teknologi, dan kebutuhan untuk optimalisasi sistem secara berkelanjutan. Pengembangan di masa depan perlu difokuskan pada peningkatan pelatihan pengguna, memperluas interoperabilitas sistem, dan mengeksplorasi analitik prediktif untuk secara proaktif menangani potensi ketidakefisienan. Hasil dari penelitian ini menyajikan wawasan tentang implikasi praktis dari transformasi digital di sektor kesehatan. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya investasi berkelanjutan dalam teknologi kesehatan digital untuk mencapai manfaat jangka Panjang bagi rumah sakit dan juga pasiennya.


Digital transformation in the healthcare sector is revolutionizing how hospitals deliver and manage services. This study analyzes the impact of digital information system innovations implemented at RS Premier, focusing on the effectiveness of innovation developed in enhancing operational efficiency and service quality. The study is motivated by the critical role of hospital digital transformation in achieving competitive advantages and meeting patient expectations in the digital era. The primary objective of this research is to evaluate the impact of these innovations on operational workflows, patient satisfaction, and overall hospital performance. A qualitative case study approach was employed, incorporating interviews with key informants, document reviews, and comparative data analysis before and after the implementation of innovations such as the Patient Journey System, Discharge Management System and Real-Time Incident Management (RootBin). Key findings indicate that innovations like the Patient Journey System significantly reduced waiting times and improved service flow in outpatient settings. The integration of discharge management systems led to shorter inpatient discharge times, while the digital innovstion developed for medical records facilitated patient data accessibility and maintained compliance with healthcare regulations. The RootBin system expedited real-time reporting and incidents tracking, fostering a culture of safety and continuous quality improvement. Despite these successes, challenges remain, including challenges and resistance to change among staff, gaps in technological literacy, and the need for ongoing system optimization. Future developments should focus on enhancing user training, expanding system interoperability, and exploring predictive analytics to proactively address potential inefficiencies. The results of this study provide valuable insights into the practical implications of digital transformation in the healthcare sector. It also underscores the importance of sustained investment in digital health technologies to achieve long-term benefits for hospitals and their patients.  

Read More
B-2495
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikhwan Rinaldi; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Tris Eryando, Panca Hadi Putra, Deasy Sugesty, Benedict Sulaiman
Abstrak:

Penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME) mempunyai tantangan tersendiri dalam praktiknya. Meski tak dipungkiri memiliki manfaat, namun masih ada inefisiensi dan inefektivitas dalam implementasinya dalam praktik klinis. Salah satunya gangguan komunikasi dan interaksi dokter-pasien sebagai akibat dari teralihkannya fokus dokter pada layar komputer acap kali terjadi terutama pada pasien rawat jalan baru. Dalam sistem RME penilaian efisiensi dan efektivitas ini dilakukan menggunakan SUS (System Usability Scale) dan UEQ (User Experience Questionnaire) yang berisikan sejumlah pertanyaan yang mewakili efisiensi dan efektivitas. Solusi dari masalah tersebut mungkin bisa terjawab dengan fitur speech-to-text sebagai bagian kecerdasan buatan serta pengintegrasian RME dalam kecerdasan buatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang. Dokter-dokter spesialis selaku responden melakukan penilaian terhadap dua sistem, yaitu RME dan prototipe sistem RME dengan fitur speech-to-text berbasis kecerdasan buatan, yaitu pengubahan percakapan menjadi tulisan dalam komputer RME yang kemudian diintegrasikan kecerdasan buatan yang sudah ada dalam dunia kecerdasan buatan (misal: gemini AI). Usability diukur menggunakan System Usability Scale (SUS), sedangkan user experience diukur menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa RME yang digunakan saat ini mendapat median skor SUS 57,5 (5-70) dengan kategori usability “marginal” (mendekati “not acceptable”) dan user experience mendapat skor Daya tarik: 0,401; Kejelasan: 0,648; Efisiensi: 0,234; Ketepatan: 0,508; Stimulasi: 0,352; Kebaruan: -0,07 dengan kategori "bad" pada seluruh komponennya. Sementara itu, prototipe sistem RME dengan fitur speech-to-text berbasis kecerdasan buatan memiliki rerata skor SUS 69 ± 14.3 dengan kategori “marginal” (mendekati “acceptable”) dan user experience dengan skor Daya tarik: 1,880; Kejelasan: 1,813; Efisiensi: 1,852; Ketepatan: 1,172; Stimulasi: 1,938; Kebaruan: 2,078 dan termasuk "excellent" pada kategori daya tarik, stimulasi, dan kebaruan, "good" pada kategori kejelasan dan efisiensi, atau "above average" pada kategori ketepatan. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua sistem RME, baik pada usability maupun user experience. Kesimpulannya skor SUS dan UEQ prototipe yang dibuat ini lebih dapat diterima daripada RME sebelumnya.


The use of Electronic Medical Records (EMRs) in clinical practice still faces several challenges. Even with numerous benefits, there are multiple inefficiencies and ineffectiveness in implementing through clinical practice. Doctor–patient communication is often disrupted and interaction may decline because physicians’ attention is frequently diverted to computer screens, especially towards newly admitted outpatients. In this EMR system, the evaluation of efficiency and effectiveness is conducted using System Usability Scale (SUS) and the User Experience Questionnaire (UEQ), which consists of a series of questions representing both efficiency and effectiveness. The proposed solution to these issues may be addressed through the implementation of speech-to-text features as part of artificial intelligence, as well as the integration of EMR systems with artificial intelligence. This study was a quantitative study with a cross-sectional design. Specialist physicians, as respondents, evaluated two systems: the existing EMR and an EMR prototype with an artificial intelligence–based speech-to-text feature, which converts spoken conversations into written text within the EMR system and is further integrated with existing artificial intelligence technologies (i.e., gemini artificial intelligence). Usability was measured using the System Usability Scale (SUS), while user experience was measured using the User Experience Questionnaire (UEQ). The results showed that the current EMR had a median SUS score of 57.5 (5–70), categorized as “marginal” usability and close to “not acceptable,” while its user experience scores were Attractiveness: 0.401; Perspicuity: 0.648; Efficiency: 0.234; Dependability: 0.508; Stimulation: 0.352; and Novelty: -0.07, all of which were categorized as “bad” in all of its components. Meanwhile, the EMR prototype with an artificial intelligence–based speech-to-text feature had a mean SUS score of 69 ± 14.3, categorized as “marginal” usability and close to “acceptable.” Its user experience scores were Attractiveness: 1.880; Perspicuity: 1.813; Efficiency: 1.852; Dependability: 1.172; Stimulation: 1.938; and Novelty: 2.078, which were categorized as “excellent” for attractiveness, stimulation, and novelty; “good” for perspicuity and efficiency; and “above average” for dependability. There were statistically significant differences between the two EMR systems in both usability and user experience. The conclusion is that the SUQ and UEQ scores in this prototype is more acceptable than the old EMR.

 

Read More
B-2582
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ngakan Putu Daksa Ganapati; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Rico Kurniawan, Panca Hadi Putra, Benedict Sulaiman, Ni Made Ayu Lestari
Abstrak:
Terapi radioterapi rawat jalan bersifat multidisiplin dan berlangsung lama melalui kunjungan berulang, sehingga kerap menimbulkan kebingungan pasien, menurunkan pemahaman dan kepatuhan terapi, serta mengganggu kesinambungan pelayanan; sementara itu sistem navigasi pasien yang terstruktur, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan edukasi serta kecerdasan buatan belum tersedia di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model sistem navigasi pasien rawat jalan radioterapi berbasis edukasi dan AI recording (NAVIRA) serta mengukur penerimaannya menggunakan Technology Acceptance Model (TAM). Penelitian menggunakan desain mixed methods dua tahap: tahap kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap lima pasien dan lima tenaga kesehatan dengan teknik purposive sampling hingga tercapai saturasi data untuk menggali kebutuhan dan merancang model, dilanjutkan tahap kuantitatif untuk menguji penerimaan model pada 80 responden melalui kuesioner daring yang dianalisis dengan statistik deskriptif dan regresi linear sederhana serta berganda. Model NAVIRA dikembangkan sebagai chatbot berbasis WhatsApp dengan arsitektur WAHA, n8n, basis data Supabase, dan Gemini API dengan pendekatan Retrieval-Augmented Generation, yang menyediakan informasi terpusat, edukasi terstruktur per fase terapi, pengingat jadwal, triase keluhan, serta dokumentasi layanan. Hasil menunjukkan penerimaan yang tinggi pada ketiga dimensi TAM, yakni Perceived Usefulness (rerata 4,16), Behavioral Intention (4,14), dan Perceived Ease of Use (3,98), dengan instrumen yang valid dan reliabel. Uji hipotesis membuktikan bahwa Perceived Ease of Use berpengaruh signifikan terhadap niat penggunaan (p=0,020), sedangkan Perceived Usefulness tidak signifikan baik secara parsial maupun simultan (p=0,614; p=0,630), dengan koefisien determinasi sebesar 6,9 persen. Penerimaan model relatif stabil lintas jenis kelamin, fase terapi, dan lama pemakaian. Penelitian menyimpulkan bahwa kemudahan penggunaan merupakan determinan utama penerimaan NAVIRA oleh pasien radioterapi, sehingga pengembangan selanjutnya perlu memprioritaskan penyederhanaan antarmuka dan pendampingan adopsi, memperluas model dengan variabel kepercayaan dan kondisi fasilitasi, serta mempersiapkan tata kelola sumber daya manusia, pengalaman pasien, dan kepatuhan regulasi data sebelum implementasi institusional.

Radiotherapy is multidisciplinary and prolonged, requiring repeated visits that often leave patients confused, reduce their understanding and treatment adherence, and disrupt continuity of care; meanwhile, a structured, continuous patient navigation system integrated with education and Artificial Intelligence is not yet available at RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. This study aimed to develop a radiotherapy patient navigation model based on education and AI recording (NAVIRA) and to measure its acceptance using the Technology Acceptance Model (TAM). A two-stage mixed methods design was applied: a qualitative stage involving in-depth interviews with five patients and five health workers selected through purposive sampling until data saturation to explore needs and design the model, followed by a quantitative stage assessing acceptance among 80 respondents through an online questionnaire analysed using descriptive statistics and simple and multiple linear regression. NAVIRA was developed as a WhatsApp-based chatbot with a WAHA, n8n, Supabase, and Gemini API architecture using a Retrieval-Augmented Generation approach, providing centralized information, structured phase-based education, schedule reminders, complaint triage, and service documentation. The results showed high acceptance across all three TAM dimensions, namely Perceived Usefulness (mean 4.16), Behavioural Intention (4.14), and Perceived Ease of Use (3.98), with a valid and reliable instrument. Hypothesis testing demonstrated that Perceived Ease of Use significantly influenced behavioural intention (p=0.020), whereas Perceived Usefulness was not significant either partially or simultaneously (p=0.614; p=0.630), with a coefficient of determination of 6.9 percent. Acceptance was relatively stable across sex, treatment phase, and duration of use. The study concludes that ease of use is the primary determinant of NAVIRA acceptance among radiotherapy patients, so future development should prioritize interface simplification and adoption assistance, expand the model with trust and facilitating-condition variables, and prepare human resource governance, patient experience, and data regulatory compliance prior to institutional implementation.
Read More
B-2595
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Willy; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Popy Yuniar, Antonius Yudianto, Benedict Sulaiman
Abstrak:
ABSTRAK Latar Belakang: Implementasi sistem antrean digital merupakan strategi transformasi digital kesehatan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan rawat jalan. Charitas Hospital Palembang telah mengimplementasikan sistem antrean multi-kanal sejak 2024, namun pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) waktu tunggu ≤60 menit masih belum konsisten, dengan rata-rata kepatuhan 78,64% pada periode Oktober 2025–Januari 2026. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi sistem antrean digital di instalasi rawat jalan Charitas hospital Palembang Metode: Penelitian kualitatif dilaksanakan di Instalasi Rawat Jalan Charitas Hospital Palembang pada periode April–Mei 2026. Pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, Focus Group Discussion, dan wawancara mendalam (n=20) dengan informan dari pasien, petugas front office, perawat, dan manajemen. Teori yang digunakan mengintegrasikan Model Donabedian (input, proses, output) dan Technology Acceptance Model (TAM) untuk menggali persepsi subjektif, pengalaman nyata, serta dinamika operasional pengguna sistem. Analisis data dilakukan secara tematik dengan triangulasi data untuk memastikan validitas temuan. Hasil: Penelitian mengidentifikasi empat komponen utama: (1) Komponen Input menunjukkan infrastruktur teknologi memadai namun ada kesenjangan integrasi dengan SIMRS dan BPJS; (2) Komponen Proses mengungkapkan sistem mengurangi waktu transaksi loket namun terjadi bottleneck shift dan variabilitas durasi konsultasi; (3) Persepsi Pengguna (TAM) menunjukkan Perceived Ease of Use moderat-mudah dengan variasi antar kelompok pengguna, sementara Perceived Usefulness dipengaruhi pengalaman aktual dengan sistem; (4) Output menunjukkan performa fluktuatif, menunjukkan potensi besar sistem dalam meningkatkan efisiensi pelayanan dan kepuasan pasien melalui pengurangan kepadatan fisik di lokasi pendaftaran. Kesimpulan: Keberhasilan sistem antrean digital bergantung pada interaksi kompleks antara penerimaan pengguna, kesiapan infrastruktur, dan optimalisasi proses operasional. Diperlukan strategi komprehensif mencakup peningkatan literasi digital pasien, optimalisasi integrasi sistem, pelatihan petugas, dan manajemen sumber daya manusia yang lebih efektif. Kata Kunci: Sistem Antrean Digital; Penerimaan Pengguna; Efisiensi Pelayanan; Technology Acceptance Model; Rawat Jalan; Evaluasi Kualitatif.

Background: The implementation of digital queuing systems is a health digital transformation strategy to improve outpatient service efficiency. Charitas Hospital Palembang has implemented a multi-channel queuing system since 2024; however, the achievement of the Minimum Service Standard (SPM) for waiting time of ≤60 minutes remains inconsistent, with average compliance of 78.64% during October 2025–January 2026. Objective: This study aims to evaluate the implementation of the digital queuing system in the outpatient installation of Charitas Hospital Palembang. Methods: A qualitative study was conducted in the Outpatient Installation of Charitas Hospital Palembang during April–May 2026. Data collection employed participatory observation, Focus Group Discussions, and in-depth interviews (n=20) with informants from patients, front office staff, nurses, and management. The theoretical framework integrated the Donabedian Model (input, process, output) and Technology Acceptance Model (TAM) to explore subjective perceptions, actual experiences, and operational dynamics of system users. Data analysis was performed thematically with data triangulation to ensure the validity of findings. Results: The study identified four main components: (1) Input Component shows adequate technological infrastructure but gaps in integration with Hospital Management Information System (SIMRS) and BPJS Health; (2) Process Component reveals the system reduces registration counter transaction time but experiences bottleneck shift and consultation duration variability; (3) User Perception (TAM) shows moderate-easy Perceived Ease of Use with variation across user groups, while Perceived Usefulness is influenced by actual system experience; (4) Output shows fluctuating performance, demonstrating the system's significant potential in improving service efficiency and patient satisfaction through reducing physical congestion at the registration location. Conclusion: The success of the digital queuing system depends on complex interactions between user acceptance, infrastructure readiness, and operational process optimization. A comprehensive strategy is needed including improving patient digital literacy, optimizing system integration, staff training, and more effective human resource management.  Keywords: Digital Queuing System; User Acceptance; Service Efficiency; Technology Acceptance Model; Outpatient; Qualitative Evaluation.
Read More
B-2606
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita Purnamasari; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ede Surya Darmawan, Rico Kurniawan, Akhdrisa Mura WIjaya, Benedict Sulaiman
Abstrak:
Latar Belakang: Perkembangan teknologi mendorong Rumah Sakit melakukan inovasi dalam pelayanan kesehatan, salah satunya dengan e-learning. RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau, sebagai rumah sakit tipe C di daerah dengan tantangan infrastruktur, telah menerapkan program e-learning, khususnya LMS Satu Sehat untuk peningkatan pembelajaran perawat. Namun, keberhasilan implementasi e-learning tidak hanya dari ketersediaan platform, tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor teknologi, organisasi, dan persepsi pengguna. Belum diketahui faktor mana yang paling dominan dalam menentukan adopsi aktual dan kepuasan pengguna sebagai indikator keberhasilan implementasi e-learning. Tujuan Penelitian: Menganalisis sejauh mana implementasi e-learning LMS Satu Sehat di RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau dan faktor-faktor yang berhubungan dengan adopsi aktual dan kepuasan pengguna e-learning menggunakan pendekatan terintegrasi Technology-Organization-Environment (TOE) framework dan Technology Acceptance Model (TAM). Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan analitik dengan desain cross-sectional. Populasi adalah perawat rawat inap RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau dengan teknik sampling menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dengan skala Likert 1-4. Analisis data meliputi analisis univariat untuk deskripsi karakteristik, analisis multivariat dengan uji korelasi, dan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (SEM) untuk menguji hubungan kausal antar variabel. Uji validitas menggunakan Confirmatory Factor Analysis (loading factor > 0,5) dan reliabilitas menggunakan Cronbach's Alpha (> 0,6). Hasil Penelitian: Responden penelitian mayoritas perawat perempuan, lulusan D3 Keperawatan, rentang usia 30–40 tahun, lama kerja 10–20 tahun. Faktor Organisasi memiliki kontribusi terbesar dalam mendorong PEOU (koefisien jalur 0.560) dan PU (koefisien jalur 0.751) menjadi Intensi Perilaku (koefisien jalur 0.690 didukung oleh PU), yang selanjutnya menjadi Adopsi Aktual (koefisien jalur 0.047) dan Kepuasan Pengguna (koefisien jalur 0.227) sebagai indikator keberhasilan implementasi e-learning di RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau. Kesimpulan: Faktor Teknologi dan Organisasi terbukti memiliki hubungan positif dengan Persepsi Kemanfaatan (PU) dan Kemudahan Penggunaan (PEOU) e-learning oleh perawat, dengan Faktor Organisasi tampil sebagai faktor dominan. Persepsi Kemanfaatan (PU) dan Kemudahan Penggunaan (PEOU) terbukti memiliki hubungan positif dengan Intensi Perilaku e-learning oleh perawat. Intensi Pengguna terbukti memiliki hubungan positif dengan Adopsi Aktual, begitupun Adopsi Aktual memiliki positif dengan Kepuasan Pengguna (KP) dengan koefisien jalur 0,227 (R² dari KP = 0,052). Dengan demikian, keberhasilan LMS tidak hanya ditentukan oleh kualitas aplikasi, tetapi oleh tata kelola organisasi yang mampu memasukkan LMS ke dalam sistem pelatihan, CPD, persiapan akreditasi, pengembangan  mutu dan SDM, dan transformasi digital rumah sakit. Namun, tidak semua niat pengguna berhasil diubah menjadi adopsi aktual perawat, yang menandakan perlunya integrasi LMS ke dalam jadwal kerja, indikator pelatihan, supervisi unit, dan monitoring berbasis data penggunaan. Kepuasan pengguna ditemukan hanya  sebagian kecil dijelaskan oleh adopsi aktual,  dimana masih ada faktor lain diluar model penelitian ini yang dapat memengaruhinya, yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini.

Background: Technological developments encourage hospitals to innovate in healthcare services, one of which is through e-learning. RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau, a type C hospital in an area with infrastructure challenges, has implemented an e-learning program, particularly the Satu Sehat LMS to enhance nurse learning. However, the success of e-learning implementation is not only determined by the availability of the platform but is greatly influenced by technological, organizational, and user perception factors. It is not yet known which factor is the most dominant in determining actual adoption and user satisfaction as indicators of successful e-learning implementation. Research Objective: To analyze the extent of the implementation of the Satu Sehat LMS e-learning at RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau and the factors influencing the actual adoption and user satisfaction of e-learning using an integrated Technology-Organization-Environment (TOE) framework and Technology Acceptance Model (TAM). Research Method: This study uses a descriptive and analytical quantitative approach with a cross-sectional design. The population consists of inpatient nurses at RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau, with purposive sampling technique. Data were collected through structured questionnaires with a 4-point Likert scale. Data analysis includes univariate analysis for describing characteristics, multivariate analysis with correlation tests, and Partial Least Squares Structural Equation Modelling  (SEM) to test the causal relationship between variables. Validity testing was conducted using Confirmatory Factor Analysis (loading factor > 0.5) and reliability using Cronbach's Alpha (> 0.6).  Research Results: Majority of research’s respondents were female nurses, graduates of D3 Nursing, aged 30–40 years, with 10–20 years of work experience. The Organizational Factor had the largest contribution in driving PEOU (path coefficient 0.560) and PU (0.751) into Behavioral Intention (path coefficient 0.690 supported by PU), which then becomes Actual Adoption (path coefficient 0.047) and User Satisfaction (0.227) as indicators of successful e-learning implementation at RSUD Siti Aisyah Lubuklinggau.  Conclusion: Technology and Organizational factors have been shown to have a positive relationship with the Perceived Usefulness (PU) and Perceived Ease of Use (PEOU) of e-learning by nurses, with Organizational Factors emerging as the dominant factor. Perceived Usefulness (PU) and Perceived Ease of Use (PEOU) have been proven to have a positive relationship with nurses’ Behavioral Intention to use e-learning. User Intention has been shown to have a positive relationship with Actual Adoption, and Actual Adoption also has a positive impact on User Satisfaction (US) with a path coefficient of 0.227 (R² for US = 0.052). Thus, the success of an LMS is not only determined by the quality of the application but also by organizational governance that can integrate the LMS into training systems, CPD, accreditation preparation, quality and HR development, and hospital digital transformation. However, not all user intentions successfully translate into actual adoption by nurses, indicating the need to integrate LMS into work schedules, training indicators, unit supervision, and data-driven usage monitoring. User satisfaction was found to be explained only in a small part by actual adoption, as there are still other factors outside of this research model that could influence it, which is a limitation of this study.
Read More
B-2618
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive