Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Transformasi digital dalam sektor kesehatan semakin mengubah cara rumah sakit untuk memberikan dan mengelola pelayanan kesehatan. Penelitian ini menganalisis dampak transformasi sistem informasi digital yang diterapkan di RS Premier, dengan berfokuskan pada efektivitas inovasi yang dikembangkan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kebutuhan transformasi digital di rumah sakit dalam mencapai keunggulan kompetitif dan memenuhi ekspektasi pasien di era digital. Tujuan utama penelitian ini adalah mengevaluasi dampak inovasi terhadap alur kerja operasional, kepuasan pasien, dan kinerja keseluruhan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, dengan metode wawancara terhadap informan kunci, telaah dokumen, dan analisis komparatif data sebelum dan sesudah implementasi untuk inovasi seperti Sistem Patient Journey, Discharge Management Process dan Manajemen Insiden Real-Time (RootBin).
Hasil utama menunjukkan bahwa inovasi seperti Sistem Patient Journey secara signifikan mengurangi waktu tunggu dan memperbaiki alur layanan pada instalasi rawat jalan. Integrasi sistem manajemen discharge menghasilkan pengurangan waktu pemulangan pasien rawat inap, sementara inovasi digital rekam medis mempermudah dan mempercepat akses data untuk pasien dan juga menjaga kepatuhan terhadap regulasi kesehatan. Sistem RootBin bertujuan untuk mempercepat pelaporan dan pelacakan insiden secara real-time, mendorong budaya keselamatan dan perbaikan kualitas berkelanjutan. Meskipun telah menunjukkan keberhasilan, beberapa tantangan masih terus dihadapi, termasuk resistensi terhadap perubahan di kalangan staf, kesenjangan literasi teknologi, dan kebutuhan untuk optimalisasi sistem secara berkelanjutan. Pengembangan di masa depan perlu difokuskan pada peningkatan pelatihan pengguna, memperluas interoperabilitas sistem, dan mengeksplorasi analitik prediktif untuk secara proaktif menangani potensi ketidakefisienan. Hasil dari penelitian ini menyajikan wawasan tentang implikasi praktis dari transformasi digital di sektor kesehatan. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya investasi berkelanjutan dalam teknologi kesehatan digital untuk mencapai manfaat jangka Panjang bagi rumah sakit dan juga pasiennya.
Digital transformation in the healthcare sector is revolutionizing how hospitals deliver and manage services. This study analyzes the impact of digital information system innovations implemented at RS Premier, focusing on the effectiveness of innovation developed in enhancing operational efficiency and service quality. The study is motivated by the critical role of hospital digital transformation in achieving competitive advantages and meeting patient expectations in the digital era. The primary objective of this research is to evaluate the impact of these innovations on operational workflows, patient satisfaction, and overall hospital performance. A qualitative case study approach was employed, incorporating interviews with key informants, document reviews, and comparative data analysis before and after the implementation of innovations such as the Patient Journey System, Discharge Management System and Real-Time Incident Management (RootBin). Key findings indicate that innovations like the Patient Journey System significantly reduced waiting times and improved service flow in outpatient settings. The integration of discharge management systems led to shorter inpatient discharge times, while the digital innovstion developed for medical records facilitated patient data accessibility and maintained compliance with healthcare regulations. The RootBin system expedited real-time reporting and incidents tracking, fostering a culture of safety and continuous quality improvement. Despite these successes, challenges remain, including challenges and resistance to change among staff, gaps in technological literacy, and the need for ongoing system optimization. Future developments should focus on enhancing user training, expanding system interoperability, and exploring predictive analytics to proactively address potential inefficiencies. The results of this study provide valuable insights into the practical implications of digital transformation in the healthcare sector. It also underscores the importance of sustained investment in digital health technologies to achieve long-term benefits for hospitals and their patients.
Penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME) mempunyai tantangan tersendiri dalam praktiknya. Meski tak dipungkiri memiliki manfaat, namun masih ada inefisiensi dan inefektivitas dalam implementasinya dalam praktik klinis. Salah satunya gangguan komunikasi dan interaksi dokter-pasien sebagai akibat dari teralihkannya fokus dokter pada layar komputer acap kali terjadi terutama pada pasien rawat jalan baru. Dalam sistem RME penilaian efisiensi dan efektivitas ini dilakukan menggunakan SUS (System Usability Scale) dan UEQ (User Experience Questionnaire) yang berisikan sejumlah pertanyaan yang mewakili efisiensi dan efektivitas. Solusi dari masalah tersebut mungkin bisa terjawab dengan fitur speech-to-text sebagai bagian kecerdasan buatan serta pengintegrasian RME dalam kecerdasan buatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang. Dokter-dokter spesialis selaku responden melakukan penilaian terhadap dua sistem, yaitu RME dan prototipe sistem RME dengan fitur speech-to-text berbasis kecerdasan buatan, yaitu pengubahan percakapan menjadi tulisan dalam komputer RME yang kemudian diintegrasikan kecerdasan buatan yang sudah ada dalam dunia kecerdasan buatan (misal: gemini AI). Usability diukur menggunakan System Usability Scale (SUS), sedangkan user experience diukur menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa RME yang digunakan saat ini mendapat median skor SUS 57,5 (5-70) dengan kategori usability “marginal” (mendekati “not acceptable”) dan user experience mendapat skor Daya tarik: 0,401; Kejelasan: 0,648; Efisiensi: 0,234; Ketepatan: 0,508; Stimulasi: 0,352; Kebaruan: -0,07 dengan kategori "bad" pada seluruh komponennya. Sementara itu, prototipe sistem RME dengan fitur speech-to-text berbasis kecerdasan buatan memiliki rerata skor SUS 69 ± 14.3 dengan kategori “marginal” (mendekati “acceptable”) dan user experience dengan skor Daya tarik: 1,880; Kejelasan: 1,813; Efisiensi: 1,852; Ketepatan: 1,172; Stimulasi: 1,938; Kebaruan: 2,078 dan termasuk "excellent" pada kategori daya tarik, stimulasi, dan kebaruan, "good" pada kategori kejelasan dan efisiensi, atau "above average" pada kategori ketepatan. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua sistem RME, baik pada usability maupun user experience. Kesimpulannya skor SUS dan UEQ prototipe yang dibuat ini lebih dapat diterima daripada RME sebelumnya.
The use of Electronic Medical Records (EMRs) in clinical practice still faces several challenges. Even with numerous benefits, there are multiple inefficiencies and ineffectiveness in implementing through clinical practice. Doctor–patient communication is often disrupted and interaction may decline because physicians’ attention is frequently diverted to computer screens, especially towards newly admitted outpatients. In this EMR system, the evaluation of efficiency and effectiveness is conducted using System Usability Scale (SUS) and the User Experience Questionnaire (UEQ), which consists of a series of questions representing both efficiency and effectiveness. The proposed solution to these issues may be addressed through the implementation of speech-to-text features as part of artificial intelligence, as well as the integration of EMR systems with artificial intelligence. This study was a quantitative study with a cross-sectional design. Specialist physicians, as respondents, evaluated two systems: the existing EMR and an EMR prototype with an artificial intelligence–based speech-to-text feature, which converts spoken conversations into written text within the EMR system and is further integrated with existing artificial intelligence technologies (i.e., gemini artificial intelligence). Usability was measured using the System Usability Scale (SUS), while user experience was measured using the User Experience Questionnaire (UEQ). The results showed that the current EMR had a median SUS score of 57.5 (5–70), categorized as “marginal” usability and close to “not acceptable,” while its user experience scores were Attractiveness: 0.401; Perspicuity: 0.648; Efficiency: 0.234; Dependability: 0.508; Stimulation: 0.352; and Novelty: -0.07, all of which were categorized as “bad” in all of its components. Meanwhile, the EMR prototype with an artificial intelligence–based speech-to-text feature had a mean SUS score of 69 ± 14.3, categorized as “marginal” usability and close to “acceptable.” Its user experience scores were Attractiveness: 1.880; Perspicuity: 1.813; Efficiency: 1.852; Dependability: 1.172; Stimulation: 1.938; and Novelty: 2.078, which were categorized as “excellent” for attractiveness, stimulation, and novelty; “good” for perspicuity and efficiency; and “above average” for dependability. There were statistically significant differences between the two EMR systems in both usability and user experience. The conclusion is that the SUQ and UEQ scores in this prototype is more acceptable than the old EMR.
