Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.48, No.5, Mei. 1998, hal. (?)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.48, No.7, Juli. 1998, hal. (?)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lisawati Susanto, Taniawati Supali, Srisasi Gandahusada
MSK Vol.5, No.1
Depok : LP UI, 2001
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lisawati Susanto, Taniawati Supali, Srisasi Gandahusada
MSK Vol.6, No.2
Depok : LP UI, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikrimah Nafilata; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Tri Yunis Miko Wahyono, Taniawati Supali; Penguji: Besral, Dewi Susanna, Evi Martha, Syahrizal Syarif, Christiana Rialine Titaley
Abstrak:
Latar Belakang: Saat ini terdapat 1,3 miliar penduduk di dunia berisiko tertular filariasis pada lebih dari 83 negara dan 50% orang terinfeksi tinggal di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Indikator keberhasilan pengendalian filariasis yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan berdasarkan pedoman WHO yaitu kabupaten/kota endemis yang berhasil menurunkan angka mikrofilaria menjadi < 1% dengan menerapkan Mass Drug Administration (MDA) minimal cakupan pengobatan >65% populasi. Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dengan Diethylcarbamazine citrate dan Albendazole telah dilakukan di Kota Pekalongan sejak tahun 2011-2015 dengan cakupan pengobatan sebesar >65%, namun hasil evaluasi mini TAS tahun 2019 prevalensi antigen masih > 2%. Berdasarkan pedoman WHO, program POPM Kota Pekalongan harus diperpanjang selama 2 tahun dengan obat Ivermectin, Diethylcarbamazine citrate dan Albendazole (IDA), namun cakupan pengobatan IDA putaran pertama <65%. Perlu dilakukan penelitian untuk membuat model evaluasi POPM filariasis agar dapat dilakukan perbaikan dalam program serta meningkatkan cakupan pengobatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain mixed methods sekuensial eksplanatori dengan jumlah sampel sebanyak 646 sampel untuk data kuantitatif (pengambilan darah jari sebanyak 300µl untuk pemeriksaan antigen dan wawancara terstruktur kuesioner) dan 9 informan dari petugas kesehatan dan penduduk untuk data kualitatif (input, proses, out, outcome program, serta perilaku minum obat penduduk). Penelitian dilakukan pada total 10 kelurahan di daerah endemik Kota Pekalongan dengan teknik sampling menggunakan sistem cluster (40 cluster RW) dipilih secara consecutive sampling. Hasil: Didapatkan model evaluasi pada aspek input yang memerlukan perbaikan berupa evaluasi pendanaan, pada evaluasi aspek proses didapatkan evaluasi pendampingan petugas kesehatan pada masyarakat dengan kriteria tertentu dengan perbaikan komunikasi untuk sosialisasi pengobatan, didapatkan juga model evaluasi pada aspek output dan outcome. Kesimpulan: Model evaluasi program POPM yang tepat yaitu model evaluasi komprehensif (input, proses, ouput, outcome), pada bagian proses harus dioptimalkan pada evaluasi pendampingan petugas kesehatan pada praktik minum obat untuk masyarakat dengan kriteria tertentu dan perbaikan komunikasi untuk sosialisasi melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, untuk dapat meningkatan cakupan pengobatan dan sosialisasi yang merata. Saran : Model evaluasi program Pemberian Obat Pencegahan Massal yang komprehensif (input, proses, output, outcome) perlu dilakukan agar dapat memperbaiki pendampingan petugas kesehatan dalam praktik minum obat dan perbaikan komuniasi sosialisasi pengobatan pada masyarakat dengan kriteria tertentu untuk dapat meningkatkan cakupan pengobatan di daerah endemik tipe perkotaan.

Background: Currently, there are 1.3 billion people in the world at risk of contracting filariasis in more than 83 countries and 50% of infected people live in Southeast Asia, including Indonesia. The indicators for the success of filariasis control that have been determined by the Ministry of Health based on WHO guidelines are endemic districts/cities that have succeeded in reducing the number of microfilariae to <1% by implementing Mass Drug Administration (MDA) with a minimum treatment coverage of >65% of the population. Mass Preventive Drug Administration (POPM) with Diethylcarbamazine citrate and Albendazole have been carried out in Pekalongan City since 2011-2015 with a treatment coverage of >65%. However, the 2019 TAS mini-evaluation results showed that antigen prevalence was still >2%. Based on WHO guidelines, the Pekalongan City POPM program should be extended for 2 years with Ivermectin, Diethylcarbamazine citrate, and Albendazole (IDA) drugs, but the coverage of the first round of IDA treatment was <65%. Research needs to be conducted to create an evaluation model for POPM filariasis so that improvements can be made to the program and treatment coverage can be increased. Method: This study used a mixed methods sequential explanatory design with a sample size of 646 samples for quantitative data (taking 300µl of finger blood for antigen examination and structured questionnaire interviews) and 9 informants from health workers and residents for qualitative data (input, process, output, program outcome, and residents' medication-taking behavior). The research was conducted in 10 sub-districts in the endemic area of Pekalongan City using a sampling technique using a cluster system (40 RW clusters) selected using consecutive sampling. Results: An evaluation model was obtained for the input aspect that required improvement in the form of funding evaluation, in the process aspect evaluation an evaluation of health worker assistance was obtained for the community with certain criteria with improved communication for treatment socialization, an evaluation model was also obtained for the output and outcome aspects. Conclusion: The appropriate evaluation model for the POPM program is comprehensive (input, process, output, outcome). The process section must be optimized in the evaluation of health worker assistance in the practice of taking medication for the community with certain criteria and improving communication for socialization through quantitative and qualitative approaches, to increase the coverage of treatment and socialization evenly. Suggestion: A comprehensive evaluation model for the Mass Preventive Drug Administration program (input, process, output, outcome) needs to be carried out to improve the assistance of health workers in the practice of taking medication and improve communication and socialization of treatment in the community with certain criteria to be able to increase treatment coverage in endemic urban areas.
Read More
D-551
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurlila; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Abdul Rahman, Dewi Susana, M. Sudomo, Taniawati Supali
Abstrak:

Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia balk di pedesaan maupun di daerah kumuh di perkotaan dengan prevalensi sekitar 60%-80% pada murid-murid SD dan 40%-60% untuk semua umur (Direktorat Jenderal PPM dan PLP, 1998). Walaupun tidak berakibat fatal, penyakit kecacingan berdampak cukup luas pada anak-anak antara lain malnutrisi, anemia, gangguan fungsi kognitif serta menurunkan prestasi belajar dan produktivitas pada pekerja.Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor karakteristik anak, karakteristik ibu dan faktor kondisi sanitasi lingkungan terhadap infeksi kecacingan pada murid SDN RawaBadak Utara 23 dan 24, Jakarta Utara. Penelitian ini merupakan suatu studi epidemiologi " kasus kontrol " dengan jumlah sampel sebanyak 100 kasus dan 100 kontrol. Kasus adalah siswa yang menderita infeksi kecacingan, sedangkan kontrol adalah siswa yang tidak menderita kecacingan. Diagnosis untuk kasus dan kontrol dilakukan dengan cara pemeriksaan telur cacing pada tinja menggunakan metode Kato.Hipotesis yang diajukan adalah adanya pengaruh faktor karakteristik anak, karakteristik ibu dan kondisi sanitasi lingkungan terhadap infeksi kecacingan.Dari hasil analisis bivariat didapatkan hubungan yang bermakna antara variabel higiene perorangan, kebiasaan cuci tangan ,kebiasaan main yang kontak dengan tanah, pendidikan ibu, pengetahuan ibu, kondisi ekonomi orang tua dan kepemilikan jamban serta sarana air bersih dengan infeksi kecacingan pada siswa pada tingkat kemaknaan P<0,05. Sedangkan dari hasil analisis multivariat diperoleh faktor yang secara bersama-sama mempengaruhi infeksi kecacingan pada anak adalah higiene perorangan, kebiasaan cuci tangan, pengetahuan ibu, interaksi kebiasaan cuci tangan dengan higiene perorangan dan interaksi antara kebiasaan cuci tangan dengan pengetahuan ibu.Mengingat variabel yang mempengaruhi infeksi kecacingan pada anak sangat berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat yang berkaitan dengan pengetahuan kesehatan, maka diperlukan upaya untuk meningkatkan higiene perorangan pada murid dengan cara penyuluhan kesehatan disertai dengan pemeriksaan kebersihan diri murid secara berkala di sekolah. Juga dilakukan upaya peningkatan kebersihan lingkungan dengan cara diadakan kerja bakti secara rutin dan lomba kebersihan antar RT/RW.Daftar bacaan : 50 (1979-2000)


 

Factors Which Influence Soil Transmitted Helminth Infection among Primary School Children in North Rawabadak 23 & 24, North Jakarta, 2002Soil transmitted helminths infection is still public health problems in Indonesia especially in rural areas and in slum areas of big cities with prevalence of about 60%-80% among primary school childrens and 40%-60% at all ages (Directorate General of PPM &PLP, 1998). Although harmless, helminth infection could have serious impact to children such as malnutrition, anemia, defect in cognitive function, decreasing of learning achievement and decreasing of productivity of workers.In general the aimed of this study is to detect the impact of children's characteristic factor, mother's characteristic factor and environment sanitation towards helminth infection among students from state primary school of North RawaBadak 23 & 24, North Jakarta. This research is the case control epidemiologist study with 100 cases and 100 controls. Case is a student who is infected by soil transmitted helminth, and control is a student who is not infected. The diagnose for cases and controls is done by examining worm's eggs in feces using Kato method. The assumed hypothesis is the existence of children's characteristic influence, mother's characteristic influence and environment's sanitation condition to helminth infection.From bivariat analysis resulting significant relation among personal hygiene variable, hand washing habit, playing habit with soil contact, mother's education level, mother's knowledge, parent's economical condition and possession of latrine and source of clean water with helminth infection among students with level of significant P < 0,05.While from multivariate analysis resulting factors that altogether influence helminth infection e.i : personal hygiene, hand washing habit, mother's knowledge, interaction between hand washing habit and personal hygiene, and interaction between hand washing habit and mother's knowledge.Based on the variables that influence helminth infection in children are closely related to clean and healthy life style related with knowledge about health, efforts to increase personal hygiene are necessary through health education and individual cleanliness control at school. Efforts are also done to improve the environment's cleanliness by cleanliness competitions among Rukun Tetangga's or Rukun Warp's.References : 50 (1979 - 2000)

Read More
T-1407
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive