Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Medika, No.8, Agt. 1991, hal. 659-662
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Medika, No. 5, th.16, Mei 1990, hal. 412-416
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sulistiyawati Murdiningsih Surono; Pembimbing: Tris Eryando
S-1998
Depok : FKM UI, 2000
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
F.G. Winarno, Surono
664.02 WIN g
Bogor : M-BRIO Press, 2004
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
F.G. Winarno, Anato Kusuma Seta, Surono
641.302 WIN p
Bogor : M-BRIO Press, 2002
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
F.G. Winarno, Surono
664.07 WIN h
Bogor : M-BRIO Press, 2004
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Husaini ... [et al.]
Bulitkes Vol.44, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Silvia Gozali Surono; Pembimbing: Wiku B. Adisasmito; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Ede Surya Dermawan, Antonius Konseng, Mohamad Firas Bahwal
Abstrak:
Masalah kesehatan yang terjadi secara global saat ini adalah resistensi antimikroba. Resistensi ini menyebabkan meningkatnya mortalitas penyakit, memanjangnya lama hari rawat dan meningkatkan biaya perawatan. Salah satu strategi yang diusung untuk menanggulangi resistensi ini adalah dengan menerapkan pola kuman sebagai acuan dalam perumusan panduan penggunaan antibiotika yang rasional. Pola kuman berguna bagi para klinisi untuk membantu memberikan petunjuk dalam pemberian terapi empiris. Pola kuman juga berfungsi untuk menunjukkan tren sensitivitas jenis kuman terhadap suatu jenis antibiotika. Indonesia menunjukkan kepeduliaannya dengan membuat suatu peraturan tentang Program Pengendalian Resistensi Antibiotika (PPRA). Rumah sakit Santa Maria merupakan rumah sakit swsata yang sudah menerapkan pola kuman dalam panduan penggunaan antibiotika. Penelitian yang dilakukan terhadap kasus infeks jaringan lunak di RS Santa Maria mendapatkan bahwa Staphylococcus aureus merupakan jenis kuman yang paling banyak ditemukan di kasus infeksi jaringan lunak dan pada uji sensitivitas antibiotika masih mempunyai derajat sensitivitas yang cukup baik terhadap golongan cephalosporin generasi ketiga. Pola kuman ini juga mendorong para klinisi agar memberi pengobatan sesuai dengan panduan antibiotika yang diberlakukan di RS Santa Maria. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa dengan penerapan pola kuman terhadap panduan penggunaan antibiotika, pasien mempunyai outcome sembuh dengan lama hari rawat yang lebih pendek (5.45 hari vs 4.3 hari dengan P<0.001), biaya belanja obat antibiotika berkuurang (Rp.79.982.730 vs Rp.41.020.622) dan rata-rata total biaya yang lebih efisien (Rp.13.854.266 vs Rp.11.930.250). Hal ini dikarenakan jumlah penggunaan antibiotika yang berkurang setelah PPRA. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan dalam ere PPRA di RS Santa Maria adalah mengoptimalkan pemakaian penggunaan jenis antibiotika spektrum sempit dan peningkata kualitas pengumpulan data pola kuman dengan teknik yang benar, alat yang menunjang dan sumber daya manusia yang berkompetensi di bidangnya . Beberapa hal yang harus diperhitungkan oleh rumah sakit terkait pola kuman ini adalah manfaat yang didapat haruslah lebih besar nilainya daripada biaya investasi, biaya operasional, dan biaya pemeliharaan yang harus dikeluarkan baik terhadap pasien, klinisi dan rumah sakit.
Read More
B-2088
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hannah Silvia; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, ingrid S. Surono
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan konsumsi pangan probiotik pada mahasiswi Program Studi Gizi FakultasKesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2011. Penelitian ini adalahpenelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional danpengambilan sampel dilakukan dengan cara sampel jenuh pada mahasiswiProgram Studi Gizi seluruh angkatan. Hasil penelitian menunjukkan konsumsiterakhir pangan probiotik pada > 4 minggu lalu sebesar 37,4%, disusul olehresponden yang mengonsumsi pangan probiotik pada < 2 minggu lalu yakni34,6%, konsumsi 2-4 minggu lalu sebesar 27,9%. Pihak yang menganjurkankonsumsi adalah inisiatif sendiri yakni 86,3%, sebagian besar mengakumerasakan manfaat dari konsumsi probiotik yakni 56,9%, tidak melihatsaran/petunjuk pemakaian produk yakni sebesar 72,1%, dan respondenmengkonsumsi dua merek produk pangan probiotik sebesar 50,3%. Rata-rata skorpengetahuan responden mengenai probiotik adalah 38,84 poin dari skor maksimal80 poin. Sebanyak 44,7% memiliki uang saku Rp.0-Rp 500.000, memiliki skoraktivitas fisik 0,7184, tidak memiliki riwayat konstipasi dalam satu bulan terakhirsebesar 83,1%, dan memiliki rata-rata frekuensi keterpaparan media promosimengenai probiotik sebanyak 29,15 kali dalam satu bulan.Hubungan yang bermakna hanya ditemui pada variabel aktivitas fisik(p=0,016), sedangkan variabel lainnya tidak memiliki hubungan yang signifikanyakni hubungan konsumsi pangan probiotik sebagai variabel dependent denganpengetahuan (p=0,173), besar uang saku (p=0,695), riwayat konstipasi dalam satubulan terakhir (p=0,915), dan media promosi probiotik (p=0,833) sebagai variabelindependen. Dibutuhkan penelitian lanjutan pada kelompok usia yang berbedadengan penambahan variabel penelitian seperti kebiasaan makan.Kata kunci: pangan probiotik
This study aims to determine the factors associated with the consumptionof probiotic foods in female students of Nutrition Program of Public HealthFaculty at the University of Indonesia in 2011. This study is a quantitative studyusing cross-sectional study design and sampling is done by saturated sampling ofstudents at Nutrition Program Study throughout the year. The result showed finalconsumption of probiotic foods in > 4 weeks ago are 37,4%, followed byrespondents who consumed probiotic foods at < 2 weeks ago are 34,6%,consumption of 2-4 weeks ago are 27,9%. Students that promote the consumptiontheir own initiative are 86,3%, most claim to feel the benefits of probiotic foodsconsumption are 56,9%, did not see a suggestion/user of products are 72,1%, andthe respondents consume two brands of probiotic food products are 50,3%. Anaverage score of knowledge about probiotics is 38,84 points from 80 maximumpoints. A total of 44,7% had an allowance (per month) of Rp.0-Rp.500.000, anaverage score of physical activity are is 0,7184, no history of constipation in thepast month are 83,1%, and has an average 29,15 time in a month of exposure tomedia promotion of probiotics.A significant association was only found on the variable of physicalactivity (p=0,016), whereas other variables had no significant relationship whichis the relationship of food consumption of probiotic foods as a dependent variablewith knowledge, (p=0,173), large pocket money (p=0,695), history of constipationin the past month (p=0,915), and media promotion (p=0,833) as independentvariables. Further research is needed in different age groups with the addition ofthe study variables such as eating habit.Key words: probiotic foods
Read More
This study aims to determine the factors associated with the consumptionof probiotic foods in female students of Nutrition Program of Public HealthFaculty at the University of Indonesia in 2011. This study is a quantitative studyusing cross-sectional study design and sampling is done by saturated sampling ofstudents at Nutrition Program Study throughout the year. The result showed finalconsumption of probiotic foods in > 4 weeks ago are 37,4%, followed byrespondents who consumed probiotic foods at < 2 weeks ago are 34,6%,consumption of 2-4 weeks ago are 27,9%. Students that promote the consumptiontheir own initiative are 86,3%, most claim to feel the benefits of probiotic foodsconsumption are 56,9%, did not see a suggestion/user of products are 72,1%, andthe respondents consume two brands of probiotic food products are 50,3%. Anaverage score of knowledge about probiotics is 38,84 points from 80 maximumpoints. A total of 44,7% had an allowance (per month) of Rp.0-Rp.500.000, anaverage score of physical activity are is 0,7184, no history of constipation in thepast month are 83,1%, and has an average 29,15 time in a month of exposure tomedia promotion of probiotics.A significant association was only found on the variable of physicalactivity (p=0,016), whereas other variables had no significant relationship whichis the relationship of food consumption of probiotic foods as a dependent variablewith knowledge, (p=0,173), large pocket money (p=0,695), history of constipationin the past month (p=0,915), and media promotion (p=0,833) as independentvariables. Further research is needed in different age groups with the addition ofthe study variables such as eating habit.Key words: probiotic foods
S-7664
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
