Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 57 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
616.959 BIB b (LP)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.53, No.6, Juni. 2003: hal. 228-231
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.55, No.1, Jan. 2005: hal. 9-15
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Daradjat Zakiah
297.07 DAR d
Jakarta : Bulan Bintang, 1984
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zakiah Tulwahdah; Pembimbing: Titte A. Kabul
M-1968
Depok : FKM UI, 2004
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisya Amalia Putri; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguij: Besral, Zakiah
Abstrak:
Kualitas data SPM KIA yang baik diperlukan untuk dapat digunakan sebagai dasar perencanaan. Salah satu model penilaian data yang telah dikembangkan adalah model Penilaian Kualitas Data Rutin (PKDR), yang merupakan adaptasi model WHO yang diadopsi oleh Pusdatin. Hingga saat ini belum pernah dilakukan penelitian pada Kota Depok. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk menilai data SPM Kesehatan Ibu, khususnya indikator K4 dan Linakes, di Kota Depok. Penilaian dilakukan dengan memperhatikan indikator kelengkapan, ketepatan waktu, konsistensi internal, dan konsistensi eksternal, akurasi serta faktor-faktor organisasi yang mempengaruhinya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelengkapan data di Kota Depok tergolong baik, ketepatan waktu belum dapat dianalisis secara optimal, konsistensi internal relatif baik meski terdapat beberapa puskesmas yang tidak konsisten, serta konsistensi eksternal bagus, terakhir ketidakakuratan ditemukan di salah satu puskesmas di Kota Depok. Selain itu, penelitian ini juga menemukan masalah-masalah organisasi seputar pengumpulan data yang berpotensi mempengaruhi kualitas data.


Data of good quality on Minimum Service Standard of Maternal and Child Health (MSS MCH) is required to be utilized as a basis for planning. One of the data assessment models that has been developed is the Routine Data Quality Assessment (RDQA) model, which is an adaptation of the WHO model adopted by Pusdatin. No research has been conducted in Depok City until recently. Therefore, this study aimed to assess SPM data on maternal health, specifically indicators such as the K4 and Linakes, in Depok City. The assessment was conducted by considering the indicators of completeness, timeliness, internal consistency, external consistency, and accuracy as well as the organizational factors that influence them. The results showed that data completeness in Depok City was good, timeliness could not be optimally analyzed, internal consistency was relatively good although there was some inconsistent data in some puskesmas, external consistency was good, and lastly, inaccuracy was found in one of the health centers in Depok City.. In addition, this study also found organizational issues surrounding data collection that could potentially affect data quality.
Read More
S-12086
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kuuni Ulfah Naila El Muna; Pembimbing: Helda; Penguji: Krisnawati Bantas, Bai Kusnadi, Zakiah
Abstrak: NewEmerging Disease COVID-19 di akhir tahun 2019 menyebabkan KLB hingga pandemi di seluruh belahan dunia secara cepat.Secara global berdasarkan data 8 April 2020, total sebanyak 22.073 petugas kesehatanterinfeksi COVID-19 di 52 Negara. Kota Depok merupakan Kota pelapor kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020. Masih terbatasnya publikasi terkait petugas kesehatan berisiko terkena COVID-19 dan hanya meneliti pada kelompok nakes saja menjadi dasar peneliti untuk mengetahui hubungan status sebagai petugas kesehatan terhadap kejadian kasus konfirmasi COVID-19 di Kota Depok. Studi crossectional dilakukan menggunakan data sekunder hasil wawancara Form Penyelidikan Epidemiologi berdasarkan Pedoman Kementerian Kesehatan RI. Studi ini menggunakan data Maret- Juni 2020, yang melibatkan 925 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status sebagai petugas kesehatan tidak bisa berdiri sendiri dalam hubungannya dengan kejadian kasus konfirmasi COVID-19. Diketahui bahwa kombinasi antara riwayat kontak suspek COVID-19 dan mengunjungi fasilitas kesehatan diantara responden yang berstatus petugas kesehatan, meningkatkan risiko sebesar 2,13 kali (95% CI 1,33-3,41) untuk menjadi kasus konfirmasi COVID-19. Selain itu juga secara signifikan berhubungan dengan kasus konfirmasi COVID-19 di Kota Depok (p=0,002)
In the last 2019, COVID-19 as New Emerging Disease causing a pandemic rapidly.The numbers of health care workers infected COVID-19 worldwide until 8 th April 2020 in 52 countries were 22.073. 2 nd March 2020, Depok city report the first case confirmed COVID-19 also the first case in Indonesia. Limited research about risk of healthcare worker infected COVID-19 and some of the research only examine in healthcare worker group became this research base to assess the association of healthcare worker and confirmed case in Depok City. A crossectional study has been done using secondary data obtained from Epidemiological Investigation Form from MOH Guidelines in Health District Office in Depok. This study using data obtained inMarch- June 2020 involving 925 respondents.The results show that status of healthcare worker cannot stand alone in the association with confirmed case COVID-19. Noted combinationbetween history of contact with suspect COVID-19 and visiting health care facility among respondentas health care worker elevated risk 2,13 times become confirmation cases of COVID-19 (95% CI 1,33-3,41) also significantly related to confirmation case of COVID-19 in Depok City (p= 0,002)
Read More
T-6118
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhihram Tenrisau; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal Syarif, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli, Zakiah
Abstrak:
Telah ada jutaan kasus dan ratusan ribu kematian karena COVID-19 di seluruh dunia. Kota Depok merupakan kota pertama tempat kasus COVID-19 ditemukan juga menjadi kota yang vital dalam penyebaran kasus COVID-19 di Indonesia. Penggunaan analisis spasial dan pembacaan pola epidemiologi adalah metode yang efektif untuk memahami dan mengendalikan penyakit menular. Penggunaan analisis tersebut adalah analisis kriteria epidemiologi WHO, analisis SNA (Social Network Analysis), analisis spasial (Index Moran dan LISA), dan analisis Reproduksi Efektif (Rt). Tujuannya untuk mendorong adanya kebijakan tepat serta mengantisipasi penyebaran kasus dan mortalitas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional dan ekologi, berdasarkan data surveilans terpadu Kota Depok, Picodep, dari Maret 2020 hingga Juni 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data di Picodep Depok yang merupakan pasien positif COVID-19 di Kota Depok pada periode Maret 2020 hingga Juni 2021. Sebanyak 59020 pasien tersebut kemudian dibagi menurut tahun yaitu 2020 dan 2021. Sebanyak 19.314 pasien di tahun 2020, sedangkan sebanyak 39.706 didapatkan di tahun 2021. Sejumlah itu dipergunakan untuk analisis spasial. Selanjutnya untuk analisis SNA, diperiksa data surveilans dari sejumlah data di atas, 3.118 pasien untuk tahun 2020, sedangkan 3.405 pasien didapatkan untuk tahun 2021. Seluruh kriteria epidemiologi WHO di Kota Depok di pertengahan 2020 dan sepanjang 2021, mengindikasikan insiden yang sangat tinggi (CT-4). Perhitungan Rt untuk tahun 2020, hampir mayoritas di atas 1, dan secara rerata di atas 1, yang berarti pandemi tidak terkendali. Terdapat autokorelasi tahun 2020 adalah sebesar 0,215 dan kemudian menurun menjadi 0,196 di tahun 2021. Rerata degree, dari kasus di Kota Depok adalah 0,703 dan 0,693, sedangkan dari distribusi klaster didapatkan kemungkinan mayoritas satu kasus dalam klaster dapat menularkan ke satu orang lainnya. Kriteria epidemiologi (insiden kasus, mortalitas, dan hospitalzation) selain positivity rate tahun 2020 dan 2021 memiliki perbedaan signifikan. Rerata Rt tahun 2020 dan 2021 memiliki perbedaan signifikan. Rerata degree tahun 2020 dan 2021 tidak memiliki perbedaan signifikan.

There have been millions of cases and hundreds of thousands of death caused by COVID-19. Depok City was the first city in Indonesia where COVID-19 cases were found. Depok City later became a vital city in the transmission of COVID-19 cases in Indonesia. The utilization of spatial analysis and analysis of epidemiological patterns are effective methods for understanding and controlling infectious diseases. This analysis included: the analysis of WHO epidemiological criteria, SNA analysis (Social Network Analysis), spatial analysis (Moran Index and LISA), and analysis of Effective Reproduction (Rt). The aim was to encourage appropriate policies and anticipate the spread of cases and mortality. This research was an analytical study using a cross-sectional design and ecological study, based on integrated surveillance data from Depok City, Picodep, from March 2020 to June 2021. A total of 19,314 patients in 2020, meanwhile a total of 39,706 were reached in 2021. That total was used for spatial analysis and the SNA analysis, we examined surveillance data from the data above, 3,118 patients were for 2020, while 3,405 patients were obtained in 2021. The population in this study was all of the positive COVID-19 patients from Picodep, in Depok City between March 2020 to June 2021. All of WHO epidemiological criteria in Depok City in mid-2020 and throughout 2021, indicated a very high incidence (CT-4). The Rt estimation for 2020, where almost the majority is above 1 with an average above 1, meant the pandemic was uncontrolled. There was the autocorrelation in 2020, which was 0.215 and then decreased to 0.196 in 2021. The average degree of cases in Depok City was 0.703 and 0.693, while from the cluster distribution, it was possible that the majority of one case, could infect one healthy person. The Epidemiological criteria (incidence, mortality, and hospitalization) besides the positivity rate in 2020 and 2021, had significant differences. The average Rt in 2020 and 2021 had a significant difference. The average degree in 2020 and 2021 had not a significant difference.

Read More
T-7496
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nidya Eka Putri; Pembimbing: Nidya Eka Darmawan; Penguji: Ascobat Gani, Dumilah Ayuningtyas, Zakiah, Ajeng Tias Endarti
Abstrak: Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci penting penanganan masalah kesehatan masyarakat, khususnya saat pandemi. Besarnya upaya yang dilakukan oleh pemerintah perlu diimbangi dengan partisipasi aktif masyarakat dalam respon krisis penanganan pandemi COVID-19 agar tertangani dengan cepat. Praktik baik di beberapa negara dengan kesadaran masyarakat tinggi guna terlibat aktif dalam mendukung penanganan COVID-19, tingkat keberhasilan mengatasi dampak COVID-19 cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara dengan warga yang terbilang cukup pasif atau bahkan tidak mau terlibat sama sekali (apatis). Pemerintah memiliki keterbatasan yaitu tidak mampu menjangkau seluruh komponen kehidupan masyarakat. Dengan demikian, keterlibatan dan partisipasi masyarakat akan memudahkan tugas pemerintah dalam menjalankan kebijakan yang telah dibuat. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode cross sectional untuk menilai korelasi antara kinerja kader Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) dengan variabel independen yang dilakukan di 11 Puskesmas di Kota Depok. Guna memperkaya hasil pembahasan dan implementasi peran instansi terkait, peneliti menambahkan informasi yang bersumber dari wawancara mendalam pada informan kunci. Hasil menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan penemuan dan pelaporan COVID 19 secara dini oleh kader, antara lain status pernikahan (p value = 0,0001), lama waktu menjadi kader (p value = 0,038), status pelatihan (p value = 0,002), dan perilaku professional p value = 0,033). Selain itu, faktor-faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja kader dalam penemuan dan pelaporan COVID 19 secara dini ialah status pernikahan setelah dikontrol oleh variabel lain. Variabel confounding dalam penelitian ini ialah lama menjadi kader. Status pernikahan memiliki OR 15,34 artinya status menikah meningkatkan 15 kali kinerja kader dalam penemuan dan pelaporan COVID-19 secara dini (95%CI=1,9-118,8) setelah dikontrol oleh variabel lain dengan p-value 0,009. Selanjutnya adanya pelatihan surveilans berbasis masyarakat meningkatkan 3 kali kinerja kader dalam penemuan dan pelaporan COVID-19 secara dini (95%CI=1,3-5,05). Namun, jika dilihat dari p value, maka status pelatihan mendapatkan angka yang paling kecil yakni 0,006, sehingga dapat dikatakan bahwa pelatihan menjadi variabel paling berpengaruh pada kinerja kader SBM dalam penemuan dan pelaporan kasus COVID-19 di Kota Depok.
Community involvement is one of the important keys to handling public health problems, especially during a pandemic. The magnitude of the efforts made by the government needs to be balanced with the active participation of the community in the crisis response to the handling of the COVID-19 pandemic so that it can be handled quickly. Good practice in several countries with high public awareness to be actively involved in supporting the handling of COVID-19, the success rate in overcoming the impact of COVID-19 is quite high when compared to countries with citizens who are quite passive or even do not want to be involved at all (apathetic). The government has limitations, namely not being able to reach all components of people's lives. Thus, community involvement and participation will facilitate the government's task in carrying out the policies that have been made. The design of this study was quantitative with a cross sectional method to assess the correlation between the performance of Community-Based Surveillance (SBM) cadres and independent variables conducted at 11 Puskesmas in Depok City. In order to enrich the results of the discussion and implementation of the role of relevant agencies, the researcher added information sourced from in-depth interviews with key informants. The results showed that variables related to the early detection and reporting of COVID 19 by cadres, including marital status (p value = 0.0001), length of time being a cadre (p value = 0.038), training status (p value = 0.002), and professional behavior p value = 0.033). In addition, the most dominant factors influencing the performance of cadres in the early detection and reporting of COVID-19 is marital status after being controlled by other variables. The confounding variable in this study is the length of time being a cadre. Marital status had an OR of 15.34, meaning that marital status increased 15 times the performance of cadres in early detection and reporting of COVID-19 (95%CI=1.9-118.8) after being controlled by other variables with a p-value of 0.009. Furthermore, community-based surveillance training increased cadres' performance 3 times in early detection and reporting of COVID-19 (95%CI=1.3-5.05). However, when viewed from the p value, the training status gets the smallest number, namely 0.006, so it can be said that training is the most influential variable on the performance of SBM cadres in finding and reporting COVID-19 cases in Depok City.
Read More
T-6471
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veronika Maria Yulianti Bara Bai; Pembimbing: Ede Surya Darmawan, Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Zakiah, Elin Herliana
Abstrak: Pemerintah telah berupaya mencegah dan mengurangi angka kejadian penyakit dengan Inpres No.1 Tahun 2017 tentang GERMAS. GERMAS adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Kota Depok tahun 2019. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dan data dikumpulkan dari 30 Puskesmas di Kota Depok. Analisis data statistik univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan chi-square dan analisis multivariat dengan korelasi logistik Hasil penelitian menunjukkan 83,3% Puskesmas melaksanakan sosialisasi GERMAS dan edukasi sehat, 100% Puskesmas melakukan penyuluhan ASI ekslusif, 83.3 % Puskesmas melakukan kegiatan deteksi dini penyakit, IVA dan Ca mammae dan 80% Puskesmas melakukan kegiatan sosialisasi gemar aktivitas fisik. Ketersediaan sumber daya manusia, dana, sarana dan prasarana dalam pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Kota depok memadai, namun belum adanya petunjuk pelaksana/SK dari Dinas Kesehatan maupun SK Kepala Puskesmas untuk pelaksanaan GERMAS di Puskesmas. Saat ini petunjuk pelaksana yang dipakai sebagai pedoman kegiatan GERMAS masih mengikuti Perwal yang ada. Perencanaan dan pengorganisasiannya belum mempunyai roadmap pelaksanaan GERMAS di Puskesmas dan 70 % Puskesmas pengawasannya baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara sarana dan prasarana terhadap kegiatan GERMAS (p-value<0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan terhadap kegiatan GERMAS (p-value >0,05) dan terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan dengan pelaksanaan GERMAS . Analisis multivariat menunjukkan faktor yang dominan mempengaruhi kegiatan GERMAS adalah pengawasan. Puskesmas diharapkan meningkatkan sosialiasi dan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan GERMAS.
Read More
T-5826
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive