Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Arrohman Prajitno; Promotor: Kusumanto Setyonegoro, Didi Bachtiar Lubis
D-43
Jakarta : FK UI, 1984
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Promotor: Arjono D. Pusponegoro; Kopromotor: Syoekri Erfan Kusuma, Adang Bachtiar; Penguji: Usman Chatib Warsa, Agus Firmansyah, H. Loeby Loqman, Amal Chalik Sjaaf, Endang Susalit, Djaja Suryaatmadja
D-229
Depok : FK UI, 2005
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tengku Siti Hajar Haryuna; Promotor: Nyilo Purnami; Ko-Promotor: Suprapto Ma'at; Penguji: Ramsi Lutan, Nyilo Purnami, Ma'at, Soeprapto Purnami, Delfitri Munir, Askaroellah Aboet, Sumadio Hadisahputra, Adang Bachtiar
D-293
Medan : USU, 2013
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
AG. Soemantri; Promotor: Sudjono D. Pusponegoro; Kopromotor: Sutrisno Hadi, A.H. Markum
D-33
Jakarta : FK UI, 1978
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Farid Anfasa Moeloek; Pembimbing: Hanifa Wiknjosastro; Kopromotor: Ratna Suprapti Samil
Abstrak:
ABSTRAK Latar Belakang Dan Permasalahan Dewasa ini, dengan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas hidup dan kehidupannya, membawa masalah tersendiri terhadap penanganan infertilitas dalam menangani masalah fertilitas secara menyeluruh. Sesungguhnya kehadiran berbagai disiplin ilmu baik dari dalam dunia kedokteran, maupun dari luar dunia kedokteran seperti psikologi, ilmu sosial, ilmu pendidikan, ilmu hukum, dan bahkan agama sekali pun diperlukan dalam mengatasi masalah ini, karena sedemikian majemuknya permasalahan yang dihadapi. Ini berarti dituntut tanggung jawab yang merupakan tantangan bagi terlaksananya pusat pengkajian ilmu bagi masalah-masalah kesehatan reproduksi di Indonesia. Sampai saat ini di dalam dunia kedokteran sendiri, pemeriksaan klinik infertilitas yang bermaksud untuk memperoleh sejauh mungkin keterangan mengenai sebab infertilnya pasangan, agar dapat dibuat kebijaksanaan bagi pengobatannya yang tepat dan terarah, masih tetap merupakan masalah yang menarik perhatian. Kenyataan ini dihadapkan dengan masih berlangsungnya hingga kini suatu penelitian bersama dari WHO dalam Investigation and diagnosis of the infertile couple, Special Programme of Research Development and Research Training in Human Reproduction (study number 78923). Dengan demikian dapat dimaklumi, bahwa keberhasilan pengobatannya pun sampai saat ini masih banyak membawa kekecewaan, meskipun ada kalanya memberi kepuasan tersendiri baik bagi dokter pemeriksa dan pasiennya sendiri. Adalah kenyataan dalam 10 tahun terakhir ini, bahwa banyak kelainan genitalia interna pada wanita dengan perkawinan infertil yang masih sulit dikenal melalui pemeriksaan-pemeriksaan klinik infertilitas lazimnya yang terdiri dari pemeriksaan dalam (ginekologik), suhu basah badan, sitologi vagina atau biopsi endometrium, uji pasca sanggama dan histerosalpingografi saja. Pasangan infertil yang dianggap "normal", yang masih belum dapat dibuktikan dengan pemeriksaan - pemeriksaan kiinik tersebut masih cukup tinggi, berkisar 10-20%. Sedangkan pemeriksaan klinik infertilitas wanita yang dilakukan di klinik ini masih meliputi pemeriksaan-pemeriksaan itu; pemeriksaan imuno-hormonologik lanjut yang mungkin dapat membantu menerangkan hal-hal lainnya masih belum sempurna dapat dilaksanakan di sini karena masih langkanya pemeriksaan tersebut. Selain daripada itu, masalah lain yang dihadapkan dan dirasakan perlu mendapat perhatian pada pemeriksaan klinik infertilitas wanita adalah lamanya waktu pemeriksaan dengan segala macam halangannya. Masih dirasakan sampai saat ini, terutama bagi pihak istri, perlunya waktu yang relatif lama untuk mencari faktor penyebabnya itu; sedangkan mereka telah dihadapkan pada waktu yang cukup lama pula untuk menantikan datangnya keturunan. Behrman dan Kistner, dan Jain, 17 ;pernah mengutarakan 'bahwa'lamanya usaha ingin anak atau lamanya perkawinan berlangsung 'merupakan faktor yang turut pula bertanggung jawab terhadap kesuburan pasangan. Kemajuan ilmu ,dan teknologi .kontemporer di dalam bidang kedokteran saat ini, ternyata banyak mengundang harapan baru bagi terciptanya cara pemeriksaan klinik dan pengobatan, yang lebih maju. Kemajuan dalam bidang penelitian teknologi kontrasepsi dan sumber cahaya dingin (fiber optik), ternyata membuka era baru pula bagi cara-cara pemeriksaan klinik dan pengobatan pada infertilitas wanita. Dari sekian banyak teknologi alat kontrasepsi yang sedang dikembangkan dan kini mulai banyak digunakan untuk maksud pemeriksaan, klinik genitalia interna dan pengobatan pada wanita dengan perkawinan infertil adalah endoskopi (laparoskopi dan kuldoskopi). Endoskopi (laparoskopi ,atau kuldoskopi) yang merupakan pemeriksaan langsung genitalia interna, yang dapat dilaksanakan dalam waktu tidak lebih dari satu jam saja, membuat kelainan-kelainan genitalia interna yang sulit dikenal dengan pemeriksaan-pemeriksaan klinik infertilitas lainnya dengan mudah, cepat, dan tepat dapat diketahui. Berdasarkan pandangan dari beberapa penulis tampaknya endoskopi dapat memperkecil masalah pemeriksaan klinik infertilitas wanita. Bahkan Frangenheim dan Lindemann lebih tegas menyatakan bahwa kini pemeriksaan genitalia interna belum sempurna dilaksanakan apabila pemeriksaan endoskopi belum dilakukan.
Read More
D-41
Jakarta : FK UI, 1983
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Haryanto Reksodiputro; Promotor: Utoyo Sukaton; Kopromotor: Judith A. Graeff
Abstrak:
ABSTRAK Limfoma malignum ialah suatu penyakit keganasan primer daripada jaringan limfoid yang bersifat padat. Penyakit ini dibagi dalam dua golongan besar, yaitu penyakit Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin (LNH). Sel ganas pada penyakit Hodgkin berasal dart sel retikulum. Limfosit-limfosit yang merupakan bagian integral proliferasi sel pada penyakit ini diduga merupakan manifestasi reaksi kekebalan seluler terhadap sel-sel ganas tadi. Limfoma non-Hodgkin pada dasarnya merupakan keganasan sel limfosit. Pada penyakit Hodgkin telah dicapai kesepakatan mengenai prosedur diagnostik yang harus dilakukan untuk menetapkan diagnosis, tingkat penyakit dan mengenai pengobatan penderita. Pada LNH keadaannya amat berbeda. Hal ini tercermin pada usaha terus menerus selama seperempat abad ini untuk mengajukan penggolongan-penggolongan dan nomenklatur-nomenklatur yang baru. Di samping itu skema yang tetap untuk menilai tingkat penyakit maupun pengobatan belum ada. 1. Gambaran umum penderita-penderita INH di Jakarta Selama lima tahun terakhir, yaitu antara tanggal 1 Oktober 1978 hingga 1 Oktober 1983, 583 penderita baru limfoma malignum dijumpai di Subbagian Hematologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penilaian histologis jaringan tumor penderita-penderita tersebut dibuat oleh ahli Patologi Anatomik berbagai laboratorium di Jakarta dan di luar Jakarta, 88,5% di antaranya didiagnosis sebagai LNH. Duaratus tujuh puluh lima di antara 583 penderita baru tersebut datang antara tanggal 1 Oktober 1978 hingga I April 1981 dan diteliti lebih lanjut. Diagnosis histologis pada 250 penderita dibuat oleh ahli Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Duabelas kasus telah diperiksa di rumah sakit lain, namun diagnosis histologisnya diteliti kembali oleh bagian Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pada tigabelas kasus lainnya, diagnosis dibuat oleh ahli Patologi Anatomik dari laboratorium lain. Di antara 275 penderita ini, hanya 30 orang (10,9(1o) yang menderita penyakit Hodgkin sedangkan 245 orang menderita penyakit LNH (89,1 %). Angka kejadian penyaldt Hodgkin yang rendah telah dilaporkan oleh Soeripto (211) yang menemukan hanya dua orang penderita (2,607o) penyakit Hodgkin di antara 75 penderita limfoma malignum yang ditelitinya. Angka-angka yang rendah juga ditemukan di Irian Timur (Papua New Guinea) dan Jepang (tabel 1). Penyebab variasi geografis ini tidak diketahui walaupun bukti-bukti yang ada pada waktu ini menunjukkan bahwa berbagai faktor yang berhubungan dengan "tuan rumah" dan lingkungan turut berperan. 2. Tujan penelitian LNH ialah suatu penyakit yang heterogen. Bergantung pada gambaran his tologis tumomya, perjalanan penyaldt penderita dapat bermacam-macam mulai dari yang perkembangannya amat lambat dan dapat disandang dengan baik sampai pada yang cepat berkembang menjadi fatal. Penderita-penderita penyakit LNH derajat keganasan rendah acapkali tidak memerlukan pengobatan selama bertahun-tahun, namun penyembuhan yang sempuma jarang terjadi. Sebaliknya beberapa kelompok dengan penyakit yang cepat menjadi fatal bila tidak diobati, mempunyai harapan untuk sembuh jika mendapat pengobatan yang tepat. Selain bergantung pada gambaran histologis tumor, pengobatan LNH bergantung juga pada tingkat penyakit penderita. Hingga saat ini belum ada keseragaman mengenai pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan dalam penatalaksanaan penderita penyakit LNH. Di negaranegara maju acapkali dilakukan berbagai pemeriksaan yang rumit dan mahal untuk dapat memperoleh keterangan yang lengkap mengenai penyakit penderita. Selain biaya pemeriksaannya, biaya pengobatan penyakit LNH juga sangat mahal, sedangkan hasil yang dicapai acapkali mengecewakan. Memperpanjang masa harapan hidup penderita dengan beberapa bulan mungkin penting artinya dalam rangkaian up coba klinis untuk perbaikan pengobatan penderita di masa depan, tetapi agaknya tidak relevan untuk negara yang mempunyai keterbatasan dana seperti di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengenal pola penyakit LNH di Indonesia (meliputi aspek histologis, sitologis, imunologis dan klinis) serta menentukan strategi yang paling berdaya guna dan tepat guna dalam menetapkan diagnosis, tingkat penyaldt dan pengobatan penyakit LNH di negara ini, dengan mempertimbangkan hambatan segi kedokteran maupun ekonomi yang terdapat di sini.
Read More
D-44
Jakarta : FK UI, 1984
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Su'mamur Prawira Kusumah; Promotor: Asri Rasad; Kopromotor: Nur Asikin
Abstrak:
ABSTRAK Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Batas Sehat Pemaparan Kerja (BSPK) dan standar operasional Batas Pemaparan Kerja Operasional (BPKO) merupakan konsep yang terakhir dalam perlindungan kesehatan tenaga kerja. Penelitian ini menguji penerapan BSPK sebagai suatu standar praktek higene perusahaan dan kesehatan kerja (Hiperkes). Pengujian penerapan BSPK kepada timbal (Pb) pada pabrik aki bertujuan menentukan besarnya BSPK untuk timbal, menilai standar yang sekarang berlaku yaitu kadar timbal udara sebesar 150 pg/m3 dan menyusun BPKO untuk timbal atas dasar nilai BSPK tersebut. Untuk pengujian penerapan BSPK timbal dipergunakan kelompok kelola yang terdiri atas 97 dan 44 orang laki-laki dan wanita yang sehat, tidak mengalami pemaparan timbal dan berusia lebih dari 20 dan kurang dari 55 tahun, dan tenaga kerja pria yang mengalami pemaparan timbal pada pabrik aki nomor 1, 2, 3, dan 4 dengan masing-masing 153, 112, 41 dan 111 orang serta 43, 20 dan 38 tenaga kerja wanita pada pabrik aki nomor I, 2 dan 4. Kadar timbal darah atau larutan sampel debu timbal udara ditentukan dengan metoda spektrofotometri absorpsi atom tanpa nyala api. Kadar seng-protoporfirin sel darah merah diukur secara flu orometri menurut metoda ekstraksi dengan etanol. Pengambilan sampel debu dari udara dilaksanakan dengan mempergunakan alat pengambil sampel debu perorangan. Selain itu, diperiksa pula kesehatan, kadar Hb, hematokrit, dan adanya sel darah merah bernoktah basofil. Hasil dan Kesimpulan: Pada kelompok kelola pria dan wanita yang berusia rata-rata 33,1 (DS = 8,3) dan 27,6 (DS = 5,4) tahun, rata-rata kadar timbal darah adalah 117,3 (DS = 61,0) dan 102,2 (DS = 49,4) pg/l masing-masing untuk pria dan wanita. Adapun rata-rata kadar sengprotoporfirin sel darah merah pada kelompok kelola adalah 534,2 (DS = 174,2) dan 571,5 (DS = 173,6) pg/l masing-masing untuk pria dan wanita. Kadar seng-protoporfirin sel darah merah yang dipakai untuk menetapkan BSPK timbal darah dan didapat dari rumus nilai rata-rata kadar normal + 2 deviasi standar dengan ditambah 50 % dan nilai jumlah tersebut adalah 1324 dan 1378 pig/1 masing-masing bagi pria dan wanita. Nilai BSPK timbal darah untuk pria ditemukan sebesar 376,8 gel dengan batas nilai dari 331,2 sampai dengan 422,4 pg/l (p 0,05). Nilai BSPK timbal darah bagi pria ini diperoleh dengan menggunakan persamaan-persamaan garis regresi dari masing-masing, pecahan atau gabungan tenaga kerja pabrik aid nomor 2, 3 dan 4. Koefisien korelasi antara kadar seng-protoporfirin sel darah merah dan kadar timbal darah pada tenaga kerja terse but secara statistik adalah bermakna atau sangat bermakna ( p adalah < 0,05, <0,01 atau <0,001 ). Nilai BSPK ini adalah nilai rata-rata dari seluruh nilai BSPK yang dihasilkan oleh delapan persamaan garis regresi. Nilai BSPK timbal darah untuk wanita adalah 306,9 pg/l dengan batas nilai dari 269,7 sampai dengan 344,0 pg/1 (p = 0,05). Nilai BSPK timbal darah untuk wanita ini ditetapkan dengan menggunakan nilai BSPK timbal darah untuk pria setelah diadakan penyesuaian atas dasar data kadar timbal darah dan kadar seng-protoporfirin set darah merah pada kelompok kelola pria dan wanita. Nilai BSPK tersebut dapat dikatakan sama dengan nilai yang ditetapkan oleh Kelompok Studi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) yaitu 400 pg/l dan 300 pbf l masing-masing untuk pria dan wanita (masing-masing p > 0,05). Kadar timbal udara ternyata tidak berkorelasi secara statistik bermakna dengan kadar timbal darah (masing-masing p > 0,05). Sebagai standar BPKO, kadar tertinggi timbal darah yang tidak boleh dilewati guna melindungi kesehatan tenaga kerja adalah 700 pgf 1 bagi pria dan 600 pg/l bagi wanita. Se-lain itu, pada kadar timbal darah 500-599 pg/l terjadi kenaikan secara kentara reaksi dalam bentuk kadar seng-protoporfirin sel darah nierah yang sama atau lebih besar dari 3000 pg/l. Selanjutnya, kadar timbal udara yang tidak boleh dilewati sebagai standar operasional higene dan lingkungan dianjurkan sebesar 70 pgjm3 debu timbal yang respirabel dalam udara. Kadar timbal udara ini tidak boleh dipakai untuk pemantauan dan pengendalian tingkat pemaparan timbal kepada tenaga kerja, melainkan hanya petunjuk bagi aplikasi dan penilaian ketepatan teknologi pengendaiian kadar timbal dalam udara tempat kerja. Dengan demikian, maka standar NAB sebesar 150 pgfm3 timbal dalam udara perlu ditinjau kembali serta disesuaikan dengan standar BPKO untuk timbal sebagai hasil penelitian ini.
Read More
D-46
Jakarta : FK UI, 1986
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Teguh Santoso Sukamto; Promotor: Utoyo Sukaton; Copromotor: Hugenholtz, P. G
Abstrak:
ABSTRACT Atrial septal defect is one of the most common forms of congenital heart disease. Although various M-mode and two-dimensional echocardiographic characteristics of atrial septal defect have been described, these criteria lack sensitivity and specificity. By allowing visualization of blood flow, the demonstration of right-toleft or left-to-right shunting is possible with contrast echocardiography(11-16). The purpose of the first part of this study was to verify the utility of this technique for evaluating patients with atrial septal defect. We observed that contrast echocardiographic shunts may persist long after closure of an atrial septal defect. The aim of the second part of' this study was to determine whether this indicates unsuccessful repair or a hemodynamically important residual shunt. Peripheral venous injection of echocardiographic contrast allows the visualization of blood flow through the right sided cardiac cavities. The purpose of the third part of the study was to determine whether the technique may aid to the diagnosis of some right heart abnormalities by the demonstration of specific blood flow patterns. The patterns of echo contrast appearance in the inferior vena cava after upper extremity injection may be related to right heart hemodynamics(17,18). The purpose of the fourth part of the study was to determine the utility of contrast echocardiography of the inferior vena cava for the assessment of right heart hemodynamics. Since the technique can be used to detect tricuspid regurgitation( 9-21), we also studied whether estimation of its severity is possible,. because this would have important therapeutic and prognostic implications. An intriguing potential .future application of contrast echocardiography is the study of myocardial perfusion. The technique would offer many advantages over the other imaging modalities such as radionuclide techniques, contrast-enhanced computerized transmission tomography, positron emission tomography and nuclear magnetic resonance. Contrast echocardiographic. myocardial perfusion imaging would have a good spatial and temporal resolution and allows direct and simultaneous assessment of both the perfusion and function of the myocardium. It is also much less expensive. However, a good and safe echocardiographic contrast agent for such application in humans is not yet available.
Read More
D-48
Jakarta : FKUI, 1986
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Teuku Zulkifli Jacoeb; Pembimbing: Ratna Suprapti Samil
Abstrak:
Fertililas pada seorang wanita selain dipengaruhi oleh usia, juga bergantung pada keseimbangan dan keserasian kerja aneka faktor intrinsik di dalam organ tubuhnya. Gangguan pada salah satu atau beberapa faktor tersebut dapat menjadi penyebab timbulnya infertilitas. Sebagian besar faktor telah dapat dijelaskan sebagai penyebab dari infertilitas pada wanita. Secara khusus, faktor peritoneum menunjukkan angka yang cukup tinggi (35-60%). Sedangkan sekitar 10-25%,meski dengan usaha pemeriksaan yang intensif dan penanganan yang sungguh-sungguh, masih merupakan faktor penyebab yang belum dikelahui (idiopalik) dan perlu digali lebih jauh. Seringkali dijumpai bahwa seorang wanita tidak berhasil hamil padahal faktor peritoneumnya normal dan bagian-bagian lain genitalia secara fungsional juga normal. Namun sebaliknya meski faktor peritoneumnya abnormal, tetapi fertilisasi dan kehamilan normal dapat terjadi. Dipikirkan bahwa dalam hal ini sesungguhnya ada faktor lain yang berperan, antara lain faktor lingkungan-mikro di dalam rongga peritoneum yang diwakili oleh zalir peritoneal. Faktor peritoneum dalam infertilitas wanita mencakup infeksi, perlekatan, dan endometriosis, baik secara tersendiri maupun dalam bentuk kombinasi. Keadaan patologis tersebut dapat mcngganggu suasana yang serasi di dalam zalir peritoneal. Pada keadaan dengan faktor-faktor untuk terjadinya fertilisasi itu normal, termasuk faktor ovulasi dan juga faktor suami, maka gangguan oleh faktor peritoneum ini dapat menjadi salah satu atau bahkan satu-satunya penyebab gagalnya fertilisasi. Kegagalan dan keberhasilan fertilisasi mungkin berhubungan dengan beberapa faktor, seperti perubahan-perubahan tertentu pada fase dini dari endometriosis, gangguan ovulasi, dan infeksi pelvik subklinis. Hasil pemeriksaan dasar infertilitas, analisis hormonal serum dan bahkan endoskopi pelvik yang normal sekalipun belum seluruhnya dapat menyingkirkan kemungkinan adanya patologi pada fase dini tersebut. Sehingga tetap disalah-tafsirkan sebagai infertilitas idiopatik. Pada dasarnya setiap penyebab infertilitas memang harus dicari dan ditemukan, karena faktor-faktor yang sudah nyata itu akan memberikan arahan penanganan dan pengobatan yang lebih jelas. Untuk itu berbagai cara pendekatan perlu dipilih guna mempelajari faktor-faktor yang terlibat. Teknik diagnostik terhadap faktor peritoneum dahulu digunakan histerosalpingografi (HSG), tetapi ternyata nilainya masih terbatas. Kini laparoskopi telah lebih menambah fungsi diagnostik makroskopik terhadap faktor peritoneum itu. Namun keunggulan diagnostik yang dimiliki oleh laparoskopi inipun ternyata masih mempunyai keterbatasan karena masih dijumpai kesenjangan antara temuan laparoskopik dan kemungkinan fertilisasi. Menjadi pemikiran bahwa dengan mengikutsertakan penilaian lingkungan-mikro zalir peritoneal dalam pemeriksaan infertilitas wanita, nilai diagnostik klinis dari pemeriksaan itu akan ditingkatkan. Dengan demikian ketimpangan yang ditemukan itu akan dapat diterangkan. Perubahan di dalam lingkungan-mikro zalir peritoneal tidak dapat diketahui dengan teknik pemeriksaan yang sederhana. Dengan demikian diperlukan beberapa cara pendekatan objektif yang lebih maju dan telah ditunjukkan bermanfaat oleh para peneliti, seperti teknik teraradioimunologik (TRI), teraimunoenzimatik (TIE), dan pemeriksaan sitologis. 2. Perubahan Berbagai Komponen Biokimiawi, Imunologis Dan Seluler Di Dalam Lingkungan-Mikro Zalir Peritoneal Berhubungan Dengan Gangguan Ovulasi, Endometrlosis Dan Infeksi Subklinis Sehingga Berpengaruh Terhadap Fisioiogi Reproduksi. Fertilisasi alamiah memerlukan suasana, lingkungan-mikro serta medium yang sesuai dan normal pula. Medium tersebut merupakan hasil sekresi alamiah zalir tubuh dari saluran maupun organ reproduksi wanita, terutama ovarium (folikel matang), tuba, dan peritoneum. Tetapi tak semua zalir itu sesuai sebagai medium fertilisasi maupun untuk perkembangan dini embrio. Untuk itu perlu dipenuhi syarat-syarat tertentu, seperti pH, viskositas, unsur-unsur nutrien, suhu, bebas kuman, dan tak mengandung zat-zat yang bersifat toksik terhadap garnet maupun embrio dini. Keunggulan zalir peritoneal dibandingkan dengan zalir tubuh lainnya ialah mengandung unsur hormon yang cukup besar. Unsur ini dibutuhkan untuk memelihara maturasi ovum segera setelah ovulasi eksternal. Hingga kini sebagian besar ahli masih beranggapan bahwa fertilisasi in vivo yang normal terjadi di ampula tuba Falloppii. Tetapi akhir-akhir ini, dipertanyakan di manakah tempat yang sebenarnya dari proses fertilisasi itu : di ampula tuba, di bagian distal tuba, ataukah di rongga/zalir peritoneal. Hal ini didasarkan pada kenyataan-kenyataan klinis dari kehamilan yang terjadi maupun pada bukti-bukti laboratoris pada hewan percobaan. Percobaan fertilisasi dan biakan embrio di dalam kamar mikrodifusi yang dilakukan oleh Jewgenow pada tahun 1984 misalnya, telah membuktikan bahwa zalir peritoneal berperan sebagai medium yang penting untuk fertilisasi. Beberapa peneliti lain telah mengungkapkan pula betapa pentingnya peran zalir peritoneal dalam fertililas dan proses fertilisasi. Di sini sekurang-kurangnya lingkungan-mikro zalir peritoneal berfungsi sebagai medium hantaran awal gamet maupun sebagai medium fertilisasi dan pembelahan, baik ketika di rongga peritoneal (kavum Douglas) maupun ketika telah terisap ke dalam tuba Falloppii. Dengan demikian peranan zalir peritoneal dalam kegagalan fertilisasi perlu mendapat perhatian yang lebih bcsar. Zalir peritoneal merupakan lingkungan-mikro yang senantiasa membasahi tuba maupun ovarium dan mengandung aneka unsur biologis. Dengan demikian zalir ini bertindak sebagai zona dinamik dari interaksi garnet. Dikarenakan sifatnya yang peka, maka setiap pengaruh patologis mampu memberikan dampak negatif terhadap proses reproduksi. Pengaruh patologis tersebut adalah gangguan ovulasi, infeksi dan endometriosis. Pada keadaan ini terjadi perubahan fisis, biokimiawi, imunologis, dan seluler lingkungan-mikro zalir peritoneal. Pengaruhnya tampil sebagai: (a) perubahan volume zalir peritoneal sepanjang siklus haid pada pasien-pasien dengan dan tanpa endometriosis; (b) perubahan konsentrasi steroid seks ovarium misalnya 17β-estradiol dan progesteron, steroid adrenal (kortisol dan DHEAs), hormon lain seperti (6-k-PGF1 dan TxB, (c) pengaruh endometriosis terhadap berjenis senyawa tersebut; (d)perubahan dari unsur-unsur seluler, beberapa imunoreaktan, enzim, pelanda keganasan, beberapa protein spesifik, elektrolit, serta (e) gangguan migrasi spermatozoa ke rongga peritoneal. Perubahan kadar beberapa hormon zalir peritoneal juga dipengaruhi oleh siklus haid dan ada atau tiadanya ovulasi.24 Seringkali gangguan ovulasi yang ditetapkan dengan pemeriksaan kadar progesteron serum lase luteal madya, tidak sesuai dengan kenyataan yang ditemukan secara laparoskopis. Sedangkan temuan bintik ovulasi per laparoskopi pun tidak lagi dapat dipakai sebagai pegangan tunggal untuk memastikan ovulasi yang disertai dengan terbebasnya ovum keluar dari folikel yang malang. Pada sindroma LUF (Lureinized Unruptured Follicle Syndrome), misalnya, dapat dijumpai ovulasi secara klinis dan laboratoris serta korpus luteum pada laparoskopi. Tetapi perubahan hormonal di dalam zalir peritonealnya memperlihatkan adanya ovulasi yang diikuti dengan terperangkapnya ovum diantara sel-sel granulosa. Sindroma LUF yang terjadi berulang-ulang merupakan pencetus timbulnya endometriosis pelvik akibat memburuknya suasana di dalam zalir peritoneal. Lebih lanjut, sekalipun lesinya sangat minimal, adanya endometriosis akan meningkatkan kadar prostaglandin dan prostanoid zalir peritoneal sehingga meninggikan motilitas tuba. Hipermotilitas tuba yang terjadi itu dapat mengganggu migrasi spermatozoa maupun pengangkutan ovum atau zigot. Kegagalan fertilisasi dapat pula ditimbulkan oleh perubahan seluler dalam lingkungan-mikro zalir peritoneal. Pada keadaan normal zalir peritoneal?.
Read More
D-51
[s.l.] :
[s.n.] :
1990
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marjani Susilowati Herman; Promotor: Achmad Djaeni Sediaoetama; co-promotor
Darwin Karyadi,
Beynen, Anton C.
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah efek lipemik minyak ikan dibandingkan dengan efek lipemik minyak jagung dapat dipengaruhi oleh komposisi diet basal. Untuk mencapai tujuan ini sejumlah 192 ekor tikus Wistar jantan (Hsd/Cpb:WU) berumur tiga minggu di gunakan dalam empat rangkaian eksperimen. Dalam setiap eksperimen digunakan 48 ekor tikus. Setelah melalui masa aklimatisasi selama enam hari, tikus-tikus dikelompokkan secara acak didasarkan atas berat badan, konsentrasi kolesterol dan trigliserida darah menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri dari 12 ekor tikus. Tikus-tikus tersebut diberi diet eksperimen yang mengandung minyak ikan atau minyak jagung, tetapi berbeda dalam komposisi diet basalnya. Peubah-peubah dari diet basal tersebut adalah jumlah lemak (rendah dibanding tinggi), jenis karbohidrat ( glukosa dibanding sukrosa), jumlah kholesterol (rendah dibanding tinggi), dan jenis protein (casein dibanding protein kedelai). Setiap eksperimen terdiri dari empat kelompok diet, dua di antaranya ditambah minyak ikan dan lainnya minyak jagung. Diet ini mengandung 12% minyak ikan menhaden atau 12% minyak jagung. Minyak ikan menhaden mengandung kurang lebih 14% asam lemak eikosapentanoat (C20:5, n-3) dan 8% asam lemak dokosaheksanoat (C22:6, n-3), sementara minyak jagung mengandung 56% asam lemak linoleat (C18:3, n-3). Diet eksperimen diberikan selama dua minggu untuk tiap percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek hipotrigliseridemik minyak ikan dibandingkan dengan efek hipotrigliseridemik minyak jagung tidak dipengaruhi oleh komposisi diet basal. Efek kholesterolemik minyak ikan dibandingkan dengan efek kholesterolemik minyak jagung, dipengaruhi oleh komposisi diet basalnya. Penambahan sejumlah minyak kelapa ke dalam diet eksperimen tanpa mengubah kandungan energinya (isokalori), dapat mengurangi efek hipokholesterolemik minyak ikan. Efek hipokholesterolemik minyak ikan dibandingkan dengan efek hipokholesterolemik minyak jagung tidak dipengaruhi oleh macam karbohidrat di dalam diet basal. Penambahan 1% berat kholesterol ke dalam diet eksperimen, baik pada diet basal yang mengandung casein atau protein kedelai, tidak mempengaruhi efek hipokholesterolemik minyak ikan dibandingkan dengan efek hipokholesterolemik minyak jagung. Minyak ikan dibandingkan dengan minyak jagung, memberikan efek pada konsentrasi kholesterol dalam hati tidak sitematis . Pada tikus yang diberi diet minyak ikan, konsentrasi kholesterol dalam hati meningkat + tujuh kali, dan + 10 kali pada tikus yang diberi diet minyak jagung. Dapat disimpulkan bahwa efek lipemik minyak ikan dibandingkan dengan efek lipemik minyak jagung, dipengaruhi oleh komposisi diet basal. Ini berlaku untuk efek hipakholesterolemik, tetapi tidak untuk efek hipotrigliseridemik. Dengan demikian komposisi diet basal perlu diperhatikan bila akan membandingkan efek kholesterolemik minyak ikan dalam suatu penelitian.
The objective of the present studies was to find out whether the lipemic effect of dietary fish oil versus corn oil would be affected by the background composition of the diet. For this purpose, a total of 192, male Wistar rats (Hsd/ Cpb:WU) three weeks of age were used in a series of four experiments. In each experiment, 48 rate were divided randomly into four groups of 12 rats each. The rats were fed diets containing either fish oil or corn oil but different background compositions. The variables of the background diet were : the amount of fat (low versus high), the type of carbohydrate (glucose versus sucrose), the amount of cholesterol (low versus high), and the type of protein (casein versus soy protein). Each experiment consisted of four dietary groups, two of which received either fish oil or corn oil in the diets. The diets contained either 12% (w/w) of menhaden oil or corn oil. The menhaden oil contained approximately 14% eicosapentaenoic and 8% docosahexaenoic acid and the corn oil contained about 56% linoleic acid. The experimental diets were given for two weeks in each experiment. It was found that the hypotriglyceridemic effect of fish oil versus corn oil was not influenced by the background composition of the diet. The hypocholesterolemic effect of fish oil versus corn oil did depend on the background composition of the diet. Addition of coconut fat to the diet at the expense of an isocaloric amount of sucrose resulted in a diminished hypocholesterolemic effect of fish oil. The hypocholesterolemic effect of fish oil versus corn oil was not influenced by the type of carbohydrate (glucose versus sucrose) in the background diet. Upon the addition of 1% (w/w) of cholesterol to the diets, irrespective of whether casein or soy protein was the protein source, no cholesterol lowering effect of fish oil versus corn oil was observed. It can be concluded that the lipemic effect of fish oil versus corn oil can be influenced by the background composition of the diet. This conclusion should be qualified it holds for the hypocholesterolemic but not for the hypotriglyceridemic effect of fish oil. This implies that the composition of the background diet should be considered when comparing the cholesterolemic effects of fish oil in various experiments.
Read More
D-56
Jakarta : FKUI, 1991
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
