Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fikrotul Ulya; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Mardiati Nadjib, Anhari Achadi, Yuliandi, Rulliana Agustin
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Fikrotul Ulya Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Efektivitas Biaya Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) Program Tuberkulosis Di Rumah Sakit Swasta Kota Depok Tahun 2017-2018. Pembimbing : Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH Tesis ini membahas kemampuan mahasiswa Fakultas Psikologi U Angka penemuan kasus  menurut Global tuberculosis Report 2016 sebesar 77% dan di kawasan Asia Tenggara sebesar 46,5%. Sedangkan di Indonesia mengalami titik stagnan dalam 5 tahun terakhir di kisaran 32 - 33% kasus. Angka penemuan kasus TBC di Kota Depok tahun 2016 baru  tercapai 58% dari target cakupan. Sedangkan di Kota Bekasi, cakupannya sebesar 62%. Sejak tahun 2014 dengan menggunakan strategi PPM (Public Private Mix) di Kota Depok melibatkan fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan) swasta dalam penanganan TBC menggunakan metode DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Saat ini, dari 4 RS swasta yang sudah bekerja sama menjangkau 18,7% kasus TBC di seluruh Kota Depok.  Beberapa penelitian menunjukkan efektifitas biaya pada penemuan kasus TBC dengan strategi DOTS di fasyankes swasta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektifitas biaya  penyelenggaraan TBC di Kota Depok tahun 2017-2018. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi ekonomi dengan dengan  metode kohort retrospektif. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Oktober – April 2018 dengan melakukan study comparative antara 3 alternatif (Cost Effectiveness Analysis), yaitu Puskesmas yang menggunakan DOTS, RS DOTS dan RS Tanpa DOTS. Peneliti melakukan penghitungan microcosting dari perspektif societal/masyarakat dengan menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pasien dan provider pelayanan kesehatan. Output yang dipakai untuk mengukur penanganan TBC adalah angka pengobatan lengkap (Success Rate).  Estimasi biaya berdasarkan tarif  Rumah Sakit, harga pasar, serta wawancara dari petugas RS. Hasil penelitian dari 36 sampel per kelompok menunjukkan bahwa Success Rate di puskesmas 86,1%,  RS dengan DOTS sebesar 77.78 % sedangkan yang non DOTS sebesar 63.89 %. Penambahan biaya provider di puskesmas dan RS DOTS meningkatkan success rate. Biaya societal penatalaksanaan TBC di puskesmas 42% dari biaya di RS swasta. Dari perhitungan ACER (Average Cost Effectiveness Ratio) didapatkan bahwa RS yang melaksanakan strategi DOTS lebih cost effective, dengan nilai ACER di Puskesmas adalah Rp 1.948.284, RS DOTS Rp  3.989.576 dan RS tanpa DOTS sebesar Rp 5.390.323. Untuk menaikkan 1% angka kesuksesan pengobatan membutuhkan biaya Rp 10.084.572 dengan melakukan intervensi program DOTS ke RS Swasta. Analisis bivariat menyatakan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p value 0,001) efektivitas biaya perspektif societal pada pengobatan TBC di puskesmas, RS dengan DOTS, dan RS tanpa DOTS . Keywords : Cost effectiveness analysis, DOTS, Fasyankes swasta, Success Rate, ACER, ICER

 

Read More
T-5427
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andreas Wijaya; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ede Surya Darmawan, Mardiati Nadjib, Melvin Lukito, Kalsum Komaryani
Abstrak:
Latar Belakang: Siloam Hospitals Kupang, sebagai rumah sakit swasta dengan layanan unggulan urologi, mampu melakukan berbagai tindakan pemecahan batu ginjal yaitu, Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), dan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS). Namun, tingginya jumlah pasien yang menjalani tindakan ESWL berulang lebih dari 1 kali setiap bulan, menimbulkan pertanyaan penting bagi manajemen rumah sakit terkait efektivitas biaya dari setiap prosedur yang tersedia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas biaya dari beberapa tindakan pemecahan batu ginjal di Siloam Hospitals Kupang. Metode: Penelitian dilakukan terhadap data 3 tindakan pemecahan batu ginjal selama periode September 2024 – November 2024 dengan mengambil seluruh sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi pada periode tersebut. Selanjutnya sampel dianalisis dengan analisis biaya yang membandingkan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectivenes Ratio (ICER) antara setiap tindakan terhadap pasien batu ginjal. Data primer didapatkan melalui kuesioner dan data sekunder dari laporan biaya rumah sakit serta rekam medis pasien. Pengukuran efektifitas dilakukan dengan menggabungkan antara indikator bebas batu, skala nyeri, durasi rawat inap, serta tingkat komplikasi. Hasil: Tindakan RIRS memiliki tingkat efektivitas yang paling baik dengan skor total 53,3%, nilai ACER sebesar Rp36.978.877. Diikuti oleh PCNL dengan efektivitas 20% degan ACER Rp80.940.986, dan ESWL dengan efektivitas 12,5% dengan ACER Rp16.268.591. Bila ESWL digantikan dengan RIRS akan memberikan nilai ICER Rp43.429.793, sedangkan bila digantikan dengan PCNL maka akan memberikan nilai ICER Rp189.360.602.  Kesimpulan: Tindakan RIRS adalah tindakan yang paling efektif diikuti oleh PCNL, dan ESWL memiliki efektifitas yang paling rendah. Jika ESWL diganti dengan RIRS maka biaya yang dibutuhkan akan lebih rendah dibandingkan bila diganti dengan PCNL. Jika dibandingkan dengan tarif klaim dari BPJS Kesehatan, maka hanya ESWL yang masih sesuai dengan nilai tarif yang disediakan oleh BPJS Kesehatan. Meskipun demikian RIRS masih bisa dilakukan untuk pasien dengan jaminan BPJS Kesehatan dengan catatan perlu dilakukan efisiensi dari sisi biaya alat flexible urethroscope, biaya dokter, dan biaya sewa gedung.

Background: Siloam Hospitals Kupang, as a private hospital with a distinguished urology service, can perform various kidney stone treatment procedures, including Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), and Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS). However, the high number of patients undergoing repeated ESWL procedures more than once per month has raised a critical question for hospital management regarding the cost-effectiveness of each available treatment option. Objectives: This study aims to analyze the cost-effectiveness of various kidney stone removal procedures at Siloam Hospitals Kupang. Methods: This study was conducted using data from three kidney stone treatment procedures during the period of September 2024 to November 2024 by including all samples that met the inclusion and exclusion criteria within that timeframe. The samples were then analyzed using a cost analysis approach, comparing the Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) and Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) among the procedures for kidney stone patients. Primary data were collected through questionnaires, while secondary data were obtained from hospital billing reports and patients’ medical records. Effectiveness was measured by combining multiple indicators, including stone-free status, pain scale, length of hospital stay, and complication rate. Results: RIRS demonstrated the highest level of effectiveness with a total score of 53,3% and an ACER of Rp36.978.877. This was followed by PCNL, with an effectiveness of 20,0% and an ACER of Rp80.940.986, and ESWL, which had the lowest effectiveness at 12,5% but the lowest ACER at Rp16.268.591. Replacing ESWL with RIRS resulted in an ICER of Rp43.429.793, whereas replacing it with PCNL led to a significantly higher ICER of Rp189.360.602. Conclusion: RIRS was found to be the most effective procedure, followed by PCNL, while ESWL had the lowest level of effectiveness. When ESWL is substituted with RIRS, the additional cost required is lower compared to substituting it with PCNL. In comparison to the reimbursement tariffs provided by BPJS Kesehatan, only ESWL remains within the acceptable claim limit. Nevertheless, RIRS may still be performed for patients under BPJS Kesehatan coverage, provided that cost efficiencies are implemented, particularly in the use of flexible urethroscope devices, physician fees, and facility rental charges.
Read More
B-2528
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive