Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Elizabeth Wulandari; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Woro Riyadina
Abstrak:

Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu dari 4 Provinsi di Indonesia yang menjadi tempat implementasi awal dari penerapan penggunaan paduan BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid) untuk pengobatan TB RO dalam tatanan penelitian operasional. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan keberhasilan pengobatan pasien TB RO pada penggunaan Bedaquiline dalam paduan pengobatan dengan keberhasilan pengobatan pasien TB RO tanpa Bedaquiline dalam paduan pengobatan. Penelitian menggunakan rancangan kohort retrospektif dan analisis datanya dengan analisis survival dari data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Provinsi DKI Jakarta tahun 2020 – 2023. Hasil penelitian: Pada pola resistansi Monoresistan, Rifampisin Resistan, Poliresistan dan Multidrugs Resistant keberhasilan paduan pengobatan yang menggunakan Bedaquiline tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan keberhasilan pengobatan menggunakan paduan tanpa Bedaquiline setelah dikontrol oleh variabel jenis paduan pengobatan (HR 1,01; 95% CI 0,79 -1,29; p-value= 0,939). Pada pola resistansi pre-Extensively Drug Resistant dan Extensively Drug Resistant, keberhasilan paduan pengobatan menggunakan Bedaquiline juga tidak berbeda bermakna bila dibandingkan keberhasilan paduan pengobatan tanpa Bedaquiline dengan mempertimbangkan jenis paduan pengobatan (HR 1,14; 95% CI 0,34 – 3,82; p-value= 0,835). Diharapkan tenaga kesehatan tetap memberikan edukasi pentingnya kepatuhan regimen pengobatan dan dukungan sosial serta psikologis kepada pasien untuk menbantu pasien tetap konsisten menjalani pengobatan.


DKI Jakarta Province is one of 4 Provinces in Indonesia for the initial implementation site of the BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid) combination for treating DR-TB (Drug Resistant Tuberculosis) in an operational research order. The study aimed to compare the success of treatment of TB RO patients with the use of Bedaquiline in the treatment combination with the success of treatment of TB RO patients without Bedaquiline in the treatment combination. The study used a retrospective cohort design and data analysis with survival analysis from the Tuberculosis Information System (SITB) data of DKI Jakarta Province in 2020 – 2023. Results of the study shows that in Monoresistant, Rifampicin Resistant, Polyresistant and Multidrugs Resistant resistance patterns, the success of treatment combination using Bedaquiline did not show a significant difference with the success of treatment combination without using Bedaquiline after being controlled by treatment combination type variable (HR 1.01; 95% CI 0.79 -1.29; p-value = 0.939). In pre-Extensively Drug Resistant and Extensively Drug Resistant resistance patterns, the success of treatment combination using Bedaquiline was also not significantly different when compared to the success of the treatment combination without Bedaquiline after being controlled by treatment combination type variable (HR 1.14; 95% CI 0.34 – 3.82; p-value = 0.835). Health workers are expected to continue providing education on the importance of compliance with treatment regimens and giving social and psychological support to patients in order to maintain patient’s consistency in undergoing treatment.

Read More
T-6981
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriella Sarah Deandra Tanod; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dan terus menunjukkan tren peningkatan prevalensi, termasuk di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi diabetes di Provinsi DKI Jakarta mencapai 3,4%, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 2,0%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥15 tahun di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan menganalisis hubungan antara variabel faktor sosiodemografis (usia dan jenis kelamin), faktor biologis (obesitas dan hipertensi) serta faktor perilaku (merokok, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi alkohol, konsumsi buah, dan konsumsi sayur) terhadap kejadian DM tipe 2. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan prevalensi DM tipe 2 sebesar 16.7% (62 dari 371 kasus). Analisis menunjukkan bahwa kelompok usia ≥55 tahun (POR 0.240; 95% CI: 0.131-0.438), jenis kelamin laki-laki (POR 0.456; 95% CI: 0.259-0.803), perilaku merokok (POR 3.513; 95% CI: 1.997-6.181), konsumsi makanan manis (POR 3.477; 95% CI: 1.983–6.098), dan konsumsi minuman manis (POR 2.909; 95% CI: 1.667–5.076) memiliki hubungan signifikan secara statistik terhadap kejadian DM tipe 2. Sementara itu, obesitas, hipertensi, konsumsi alkohol, konsumsi buah, dan konsumsi sayur tidak memiliki hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Faktor sosiodemografi dan perilaku memiliki hubungan yang bermakna dengan diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk membuat program pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe 2 sehingga dapat menurunkan prevalensi diabetes melitus tipe 2 di Provinsi DKI Jakarta.

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is one of the non-communicable diseases that has become a global health concern and continues to show an increasing trend in prevalence, including in Indonesia. According to the 2018 Basic Health Research (Riskesdas), the prevalence of diabetes in DKI Jakarta Province reached 3.4%, which is higher than the national average of 2.0%. Objective: This study aims to identify the factors associated with the occurrence of T2DM among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta Province based on the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Methods: This study employed a cross-sectional design to analyze the association between T2DM and several factors, including sociodemographic factors (age and sex), biological factors (obesity and hypertension), and behavioral factors (smoking, consumption of sweet foods, sweet drinks, alcohol, fruits, and vegetables). Results: The study found a T2DM prevalence of 16.7% (62 out of 371 cases). The analysis showed that individuals aged ≥55 years (POR 0.240; 95% CI: 0.131–0.438), male sex (POR 0.456; 95% CI: 0.259–0.803), smoking behavior (POR 3.513; 95% CI: 1.997–6.181), consumption of sweet foods (POR 3.477; 95% CI: 1.983–6.098), and sweet drinks (POR 2.909; 95% CI: 1.667–5.076) were statistically significantly associated with the occurrence of T2DM. In contrast, obesity, hypertension, alcohol consumption, fruit consumption, and vegetable consumption were not significantly associated. Conclusion: Sociodemographic and behavioral factors are significantly associated with type 2 diabetes mellitus. This study is expected to contribute to the development of prevention and control programs for type 2 diabetes mellitus, with the goal of reducing its prevalence in DKI Jakarta Province.
Read More
S-12148
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satyawira Aryawan Deng; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Trini Sudiarti, Triyanti, Nida Rohmawati, Fajrinayati
Abstrak:
Anemia di Indonesia masih menjadi masalah gizi utama di berbagai kalangan usia termasuk balita sebagai salah satu kelompok paling rentan. Balita anemia dapat terjadi akibat berbagai faktor dan perlu diintervensi sedini mungkin untuk mencegah akibat lain yang memengaruhi kesehatan dan pertumbuhan nya di kemudian hari. Anemia pada balita Provinsi DKI Jakarta menunjukkan prevalensi tertinggi dibandingkan tingkat wilayah provinsi lainnya di pulau Jawa. Penelitian cross-sectional ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya anemia pada balita usia 12-59 bulan berdasarkan faktor individual, faktor orang tua, dan faktor makanan. Data diperoleh dari IFLS 5 Tahun 2014/2015 yang dilakukan oleh RAND Corporation sebanyak 172 balita usia 12-59 bulan di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian dilakukan melalui analisis kuantitatif secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian diperoleh prevalensi kejadian anemia pada balita usia 12-59 bulan di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 53,5% dan faktor risiko dominan terjadinya anemia adalah usia dengan p-value=<0,025 (OR=2,396 (1,165-4,926)) setelah dikontrol oleh variabel status gizi menurut PB/U atau TB/U. Usia 12-23 bulan adalah usia penting yang harus menjadi perhatian orang tua untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi seimbang serta kesehatannya untuk mencegah risiko terjadinya anemia. Dinas kesehatan Provinsi DKI Jakarta, instansi kesehatan, dan petugas kesehatan yang terlibat dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta setempat perlu memberi perhatian pada upaya pencegahan anemia pada balita.

Anemia in Indonesia is still a major nutritional problem for various ages, including children under five as one of the most vulnerable groups. Under-five anemia can occur due to various factor, and it is necessary to prevent as early as possible to avoid other consequences that affect children’s health and growth in the future. Anemia in children aged 12-59 months DKI Jakarta Province shows the highest prevalence compared to other provincial areas on the island of Java. This cross-sectional study aims to determine the risk factors for anemia in children aged 12-59 months based on individual factors, parental factors, and dietary factors. Data obtained from IFLS 5 Year 2014/2015 conducted by RAND Corporation as many as 376 toddlers aged 12-59 months in DKI Jakarta Province. The research was conducted through univariate, bivariate and multivariate quantitative analysis. The results showed that the prevalence of anemia in children aged 12-59 months in DKI Jakarta Province was 53.5% and  the dominant risk factor for anemia was age p-value=<0,025 (OR=2,396 (1,165-4,926)) after being controlled by variables of nutritional status according to HAZ. The age of 12-23 months is an important age to be a concern for parents to meet their balanced nutritional and health needs to prevent the risk of anemia. DKI Jakarta Provincial Health Office, health agencies, and health workers involved from DKI Jakarta Provincial Government need to pay attention to prevent anemia in children under five.
Read More
T-7510
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Monica Vidian; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Purnawan Junadi, Vetty Yulianty Permanasari, Ratnasari Kurniasih, Gafar Hartatiyanto
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang analisis kesesuaian rebranding Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Responden berjumlah 539 orang yang merupakan pegawai RSUD Kalideres,  RSUD Kembangan dan RSUD Ciracas yang diperoleh dengan metode simple random sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam dilakukan selama bulan Desember 2024. Data yang terkumpul selanjutnya dibuat tabel distribusi frekuensi dan kemudian dianalisis dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesesuaian antara employer branding “bangga melayani bangsa” dan nilai pegawai “BerAKHLAK” serta hubungannya dengan employee engagement di RSUD Provinsi DKI Jakarta.

This study analyze the implementation compatibility of rebranding at Regional General Hospitals (RSUD) in DKI Jakarta Province. The research adopts a quantitative approach with a cross-sectional study design. Total sample was 539 individuals, comprising employees from RSUD Kalideres, RSUD Kembangan, and RSUD Ciracas, selected using simple random sampling method. Data collection was conducted through questionnaires from November to December 2024. The collected data were then presented in frequency distribution tables and analyzed using chi square. The results showed compatibility between the employer branding of "Bangga Melayani Bangsa" and employees core values of "BerAKHLAK," as well as their relationship with employee engagement of RSUD in the DKI Jakarta Province.
Read More
B-2512
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajrina Kintari; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Jaslis Ilyas, Irvieny Rumondang
Abstrak:

Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) merupakan komponen penting dalam peningkatan mutu layanan dan budaya keselamatan rumah sakit. Menurut National Patient Safety Agency, pelaporan insiden berfungsi sebagai sarana pembelajaran untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Namun, data tahun 2019 menunjukkan bahwa hanya sekitar 12% rumah sakit di Indonesia yang melaporkan IKP. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat pelaporan IKP rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta secara eksternal berdasarkan wilayah administrasi, kelas rumah sakit, jenis pelayanan, dan status kepemilikan rumah sakit, serta menganalisis hubungannya dengan keempat variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang dan dilengkapi wawancara untuk memperkaya pembahasan. Data sekunder berasal dari laporan IKP rumah sakit Provinsi DKI Jakarta tahun 2024, dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan Uji Kruskal-Wallis yang merupakan uji statistik nonparametrik. Hasil menunjukkan bahwa hanya variabel wilayah administrasi yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat pelaporan IKP. Jakarta Timur menjadi wilayah dengan tingkat pelaporan terendah, diduga dipengaruhi oleh jumlah rumah sakit yang lebih banyak dan efektivitas supervisi wilayah. Sementara itu, rumah sakit kelas C, rumah sakit umum, dan rumah sakit pemerintah cenderung memiliki pelaporan lebih rendah, meskipun tidak signifikan secara statistik. Penelitian ini memberikan gambaran variasi pelaporan IKP antar karakteristik rumah sakit dan menyoroti pentingnya peran wilayah administrasi dalam pembinaan dan pengawasan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan strategi pelaporan IKP secara eksternal di tingkat provinsi, terutama bagi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.


 

The reporting of Patient Safety Incidents (IKP) is a critical component in improving service quality and fostering a culture of safety in hospitals. According to the National Patient Safety Agency, incident reporting serves as a learning tool to prevent the recurrence of similar events. However, 2019 data showed that only about 12% of hospitals in Indonesia reported their IKP. This study aims to assess the level of external IKP reporting by hospitals in DKI Jakarta Province based on administrative region, hospital class, type of service, and ownership status, and to analyze the relationship between these variables and reporting compliance. This study used a quantitative cross- sectional design, with additional interviews to support the discussion. Secondary data were obtained from the 2024 IKP reports submitted by hospitals in DKI Jakarta Province. Data were analyzed using frequency distribution and Kruskal-Wallis test, a nonparametric statistic test. Results indicated that only the administrative region variable had a significant relationship with the level of IKP reporting. East Jakarta was identified as the region with the lowest reporting rate, which may be influenced by a higher number of hospitals and the effectiveness of local supervision. Meanwhile, Class C hospitals, general hospitals, and government-owned hospitals tended to report less frequently, although the differences were not statistically significant. This study highlights the variation in IKP reporting across hospital characteristics and underscores the important role of administrative regions in supervision and support. These findings may serve as evaluation material to strengthen external IKP reporting strategies, particularly for the DKI Jakarta Provincial Health Office.

Read More
S-11964
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aris Nurzamzami; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas, Amal Chalik Sjaaf, Luigi, Amila Megraini
Abstrak:
Pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan di masyarakat dilakukan terintegrasi melalui Puskesmas sebagai penanggungjawab sistem pelayanan kesehatan di tingkat kecamatan dan Posyandu Prima di tingkat desa/kelurahan. Posyandu Prima adalah Posyandu yang berasal dari Posyandu sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar terpadu berdasarkan kebutuhan di desa atau kelurahan. Provinsi DKI Jakarta memiliki kekhususan sebagai ibukota negara, mempunyai sumber daya yang cukup untuk melayani kesehatan masyarakatnya hingga tingkat kelurahan melalui keberadaan Puskesmas dan tingkat rukun warga melalui layanan Posyandu Prima/Pustu. Tujuan penelitian untuk menganalisis kesiapan dalam pengembangan layanan Posyandu Prima tingkat Rukun Warga di provinsi DKI Jakarta. Penelitian kualitatif dengan desain penelitian eksploratif research dilakukan pada bulan April hingga Mei 2023 di Provinsi DKI Jakarta. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan kesiapan pengembangan layanan Posyandu Prima/Pustu tingkat Rukun Warga belum optimal digambarkan dari 6 persyaratan Posyandu Prima/Pustu, hanya persyaratan sumber daya manusia dan mekanisme hubungan kerja dengan pemangku kepentingan yang siap, sedangkan peryaratan lokasi, anggaran, standar pelayanan, standar operasional prosedur memiliki kekurangan yang harus dipenuhi oleh Pemerintah. Diperlukan komitmen yang kuat dari Pemerintah dan stakeholder terkait untuk merealisasikan peningkatan akses layanan kesehatan melalui pengembangan layanan Posyandu Prima/Pustu tingkat Rukun Warga di Provinsi DKI Jakarta. 

Meeting the needs of health services in the community is carried out in an integrated manner through the Puskesmas as the person in charge of the health service system at the sub-district level and Posyandu Prima at the village/kelurahan level. Posyandu Prima is a Posyandu that originates from Posyandu as a forum for community empowerment and provides integrated basic health services based on needs in the village or sub-district. DKI Jakarta Province has the specialty of being the nation's capital, having sufficient resources to serve the health of its people down to the sub-district level through the existence of a Community Health Center (Puskesmas) and the neighborhood level through the services of Posyandu Prima/Pustu. The aim of the study was to analyze readiness in the development of Posyandu Prima services at the Rukun Warga level in the province of DKI Jakarta. Qualitative research with an exploratory research design was conducted from April to May 2023 in DKI Jakarta Province. Data collection was carried out through in-depth interviews, observation and document review. The results showed that the readiness to develop Posyandu Prima/Pustu services at the Rukun Warga level was not optimal as described from the 6 requirements of Posyandu Prima/Pustu, only the human resource requirements and working relationship mechanisms with stakeholders were ready, while the location requirements, budget, service standards, operational standards procedures have deficiencies that must be met by the Government. A strong commitment from the Government and related stakeholders is needed to realize increased access to health services through the development of services at the Posyandu Prima/Pustu at the Rukun Warga level in DKI Jakarta Province.
Read More
T-6676
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Nanda Putra Pratama SM; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Dewi Susanna, Desy Mery Dorsanti Sihombing
Abstrak:
Perubahan iklim tentunya berdampak signifikan terhadap peningkatan risiko penyakit sensitif iklim terutama di area urban. Terkait hal ini, Program Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI) diluncurkan sebagai strategi intervensi berbasis adaptasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gambaran ketersediaan (availabilitas) lima aspek intervensi Program DEKSI serta menganalisis perbandingannya di tingkat tapak pada tahun pertama pelaksanaan (2025). Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif kuantitatif dan kualitatif (mixed method). Desain kuantitatif memberikan gambaran sistematis dan komparatif mengenai ketersediaan 38 indikator di 10 kelurahan lokus pada lima wilayah Kota Administrasi. Data kuantitatif dipadukan secara konvergensi dengan data kualitatif hasil wawancara mendalam bersama sanitarian untuk mengeksplorasi faktor sosiologis, geografis, dan dukungan pentahelix. Ambang batas efektivitas program ditetapkan sebesar ≥70%. Hasil implementasi instrumen intervensi Program DEKSI terdistribusi relatif merata dengan rata-rata capaian indeks keseluruhan sebesar 87,89% (kategori sangat baik). Rata-rata indeks per aspek untuk 10 kelurahan meliputi Aspek KIE sebesar 98,00%; Penggerakan Masyarakat 85,00%; Sarana Adaptif 96,00%; Teknologi Tepat Guna/TTG 77,00%; serta Rekayasa Lingkungan 88,33%. Kelurahan Dukuh mencatatkan capaian tertinggi (94,74%) dan Kelurahan Bukit Duri terendah (81,58%), namun seluruh wilayah tetap berada diatas ambang batas 70% sesuai dengan batas minimal persentase ketersediaan yang ditetapkan Program DEKSI. Oleh karena itu, implementasi Program DEKSI pada tahun pertama di Provinsi DKI Jakarta memiliki tingkat ketersediaan aspek intervensi yang cukup optimal dalam mendukung adaptasi perubahan iklim di tingkat masyarakat serta menjadi faktor pendorong untuk pengembangan program yang lebih baik di masa yang akan datang.

Climate change significantly impacts increasing risks of climate-sensitive diseases, particularly in urban areas. In response, the “Desa/Kelurahan Sehat Iklim” (DEKSI) Program was launched as an intervention strategy based on community adaptation. This study aims to identify the availability of five intervention aspects of the DEKSI Program and analyze their comparison at the site level during the first year of implementation (2025). This study utilized a descriptive quantitative and qualitative study design (mixed method). The quantitative design provided a systematic and comparative overview regarding the availability of 38 indicators across 10 locus villages in five administrative cities. Quantitative data were integrated convergently with qualitative data from in-depth interviews with sanitarians to explore sociological, geographical, and pentahelix support factors. The effectiveness threshold for the program was set at ≥70%. The implementation of the DEKSI Program intervention instruments was relatively evenly distributed, with an overall average index achievement of 87.89% (excellent category). The average index per aspect across the 10 villages included the “KIE” aspect at 98,00%; “Penggerakan Masyarakat” 85,00%; “Sarana Adaptif“ 96.00%; “Teknologi Tepat Guna/TTG” 77.00%; and “Rekayasa Lingkungan” 88.33%. Dukuh Urban Village recorded the highest achievement (94.74%) and Bukit Duri Urban Village the lowest (81.58%); however, all areas remained above the 70% threshold in accordance with the minimum availability percentage set by the DEKSI Program. The first-year implementation of the DEKSI Program in DKI Jakarta Province has a fairly optimal level of intervention aspect availability in supporting community-level climate change adaptation and serves as a driving factor for better program development in the future.
Read More
S-12254
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Trie Anggraini; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Puput Oktamianti, Rini Hastuti
Abstrak:
Indikator Nasional Mutu (INM) merupakan tolok ukur untuk menjamin mutu rumah sakit yang wajib dilakukan secara nasional, namun rata-rata capaian nasional tahun 2025 menunjukkan masih terdapat lima INM yang belum memenuhi target. Sebagai kota global dengan tuntutan mutu pelayanan kesehatan yang tinggi dan kepatuhan pelaporan INM yang baik, gambaran capaian INM rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan karakteristik strukturalnya belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan capaian INM rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta pada semester II tahun 2025 serta menganalisis hubungannya dengan kelas, jenis pelayanan, status kepemilikan, dan wilayah administrasi rumah sakit. Penelitian ini menggunakan data sekunder bersumber dari Aplikasi Mutu Fasyankes dengan desain studi cross-sectional. Sebanyak 132 rumah sakit ditetapkan sebagai sampel melalui total sampling dengan kriteria kelengkapan data ≥70% pada semester II tahun 2025. Analisis univariat untuk menggambarkan distribusi karakteristik rumah sakit dan capaian INM, serta analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 13 INM, terdapat lima indikator masih menunjukkan proporsi rumah sakit dengan pemenuhan target yang lebih rendah dan menjadi prioritas perbaikan di Provinsi DKI Jakarta, yaitu kepatuhan penggunaan APD, kepatuhan identifikasi pasien, waktu tunggu rawat jalan, kepatuhan waktu visite dokter, dan kepatuhan upaya pencegahan risiko pasien jatuh. Analisis bivariat menunjukkan kelas rumah sakit berhubungan bermakna dengan kepatuhan kebersihan tangan (p-value = 0,023) dan pelaporan hasil kritis laboratorium (p-value = 0,017). Status kepemilikan berhubungan bermakna dengan kepatuhan penggunaan APD (p-value = 0,044), kepatuhan identifikasi pasien (p-value = 0,013), dan kepatuhan waktu visite dokter (p-value = 0,003). Sementara itu, jenis pelayanan dan wilayah administrasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan seluruh INM (p-value > 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa capaian INM rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor operasional i

Hospital National Quality Indicators (NQIs) are benchmarks for ensuring hospital quality that must be implemented nationally, however the national average achievement in 2025 shows that there are still five NQIs that have not met their targets. As a global city with high demands for quality healthcare services and good NQIs reporting compliance, the achievement of NQIs among hospitals in DKI Jakarta Province based on their structural characteristics is not yet known. This study aims to describe NQIs achievement among hospitals in DKI Jakarta Province in the second semester of 2025 and analyze its association with hospital class, type of service, ownership status, and administrative region. This study uses secondary data sourced from the Mutu Fasyankes Application with a cross-sectional study design. A total of 132 hospitals were determined as the sample through total sampling with a data completeness criterion of ≥ 70% in the second semester of 2025. Univariate analysis was used to describe the distribution of hospital characteristics and NQIs achievement, and bivariate analysis was conducted using the chi-square test. The results show that of the total 13 NQIs, five indicators still show a lower proportion of hospitals meeting their targets and are priority areas for improvement in DKI Jakarta Province, namely compliance with personal protective equipment, patient identification compliance, outpatient waiting time, physician visit time compliance, and compliance with fall risk prevention. Bivariate analysis shows that hospital class is significantly associated with hand hygiene compliance (p-value = 0,023) and reporting of critical laboratory result (p-value = 0,017). Ownership status is significantly associated with PPE use compliance (p-value = 0,044), patient identification compliance (p-value = 0,013), and physician visit time compliance (p-value = 0,003). Meanwhile, type of service and administrative region show no significant association with all NQIs (p-value > 0,05). These findings suggest that NQI achievement among hospitals in DKI Jakarta Province is potentially more influenced by specific internal operational factors at the hospital level than structural characteristics. The results are expected to serve as evaluation material for hospitals to strengthen internal governance, procedural oversight, and human resource management, as well as to be a consideration for policymakers in developing more targeted quality improvement strategies.nternal yang lebih spesifik di rumah sakit dibandingkan karakteristik struktural. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi rumah sakit untuk memperkuat tata kelola internal, pengawasan prosedural, dan pengelolaan sumber daya manusia, serta menjadi pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam menyusun strategi pembinaan mutu yang lebih terarah.
Read More
S-12341
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive