Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ashary; Pemb. Ede Surya Darmawan; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Harry Harsono
S-4906
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Arum Miranti; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Hendra, Indri Hapsari Susilowati
S-5125
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Nurhayati; Pembimbing; Zulkifli Djunaidi; Penguji: Sutanto; Dadan Erwandi
S-4911
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Inlaurizen; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Sutanto, Dadan Erwandi
S-4914
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meidina Ajeng Rachmawati; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Lucky Tjahjono
S-4924
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wanadri Agung Sasana; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Mila Tejamaya, Wildan Ramdan Nurhuda, Laura Marian
Abstrak: Bencana industri merenggut ribuan nyawa setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar disebabkan oleh konstruksi atau desain fasilitas yang buruk atau kebakaran besar atau ledakan yang menghanguskan bangunan. Selain desain fasilitas yang buruk, keadaan darurat dapat terjadi diakibatkan oleh adanya Process safety event (PSE) yang melibatkan pelepasan/kehilangan penahanan bahan berbahaya yang dapat mengakibatkan konsekuensi kesehatan dan lingkungan dalam skala besar. Pada saat ini PT. J berada pada tahap desain industri petrokimia. Perusahaan akan memproses bahan kima dengan jumlah besar sehingga perusahaan memiliki bahaya yang tinggi dan berisiko menimbulkan bencana, oleh karena itu PT. J memerlukan suatu sistem manajemen kedaruratan yang dapat menanggulangi setiap potensi bencana yang muncul dan berdampak bagi perusahaan pada tahap operasional. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis perencanaan manajemen keadaan darurat pada tahap desain industri petrokimia di PT. J, yang terdiri dari perencanaan sebelum terjadi keadaan darurat, saat terjadi keadaan darurat dan setelah terjadi keadaan darurat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik, dengan menggunakan desain studi kualitatif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui survey lapangan dan Focus Gruop Discussion (FGD) menggunakan Emergency Management Assessment Checklist for Design Stage, yang telah dimodifikasi dari NFPA 1600 edisi 2019. Data Sekunder dikumpulkan melalui telaah dokumen. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. J belum menerapkan siklus hidup manajemen keadaan darurat secara komprehensif. Pada tahap sebelum terjadi keadaan darurat, perusahaan belum memiliki perencanaan edukasi dan pelatihan, latihan dan uji coba. Pada tahap saat terjadi keadaan darurat diketahui bahwa perusahaan belum memiliki prosedur jadwal pengujian protokol peringatan, pemberitahuan, dan komunikasi saat terjadi keadaan darurat. Selain itu, pada tahap setelah terjadi keadaan darurat perusahaan belum memiliki perencanaan kontinuitas dan pemulihan yang meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi. Perusahaan telah melakukan dan memiliki beberapa perencanaan untuk mitigasi, kesiapsiagaan dan tanggap darurat. Perusahaan disarankan untuk mengembangkan rencana yang ada dan membuat rencana baru untuk memaksimalkan perencanaan manajemen keadaan darurat pada tahap desain untuk menghadapi peristiwa keadaan darurat di industri petrokimia pada tahap operasional PT. J.
Industrial disasters claim thousands of lives every year around the world. Most are caused by poor construction or design of facilities or large fires or explosions that engulf buildings. In addition to poor design facility, emergencies can occur as a result of a Process safety event (PSE) which involves the release/loss of containment of hazardous materials which can result in large-scale health and environmental consequences. At this time PT. J is at the design stage of the petrochemical industry. The company will process chemicals in large quantities so that the company has a high hazard and the risk of causing an emergency event, therefore PT. J requires an emergency management system that can handle any potential emergency events that might arise and impact the company at the operational stage. The purpose of this study was to analyze emergency management planning at the design stage of the petrochemical industry at PT. J, which consists of planning before an emergency occurs, when an emergency occurs and after an emergency occurs. This research is an analytic descriptive research, using a qualitative study design. Primary data collection was carried out through field survey and conduct Focus Group Discussion (FGD) using the Emergency Management Assessment Checklist for Design Stage, which has been modified from the NFPA 1600 edition 2019. Secondary data was collected through document review. Based on the research results shows that PT. J has not implemented a comprehensive emergency management life cycle. At the stage before an emergency occurred, the company did not yet have planning for competency and training, drills and trials. At the stage when an emergency occurs, it is known that the company doesn’t have procedures for testing protocols for warning, notification, and communication during an emergency. In addition, at the stage after an emergency occurs, the company does not yet have a continuity and recovery plan that includes rehabilitation and reconstruction. The company has carried out and has several plans for mitigation, preparedness and emergency response. Companies are advised to develop existing plans and create new plans to maximize emergency management planning at the design stage to deal with emergency events in the petrochemical industry at the operational stage of PT. J.
Read More
T-6664
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng P. Pramayu; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Besral, Dadan Erwandi; Penguji: Bambang Wispriyono, Hendra, Danang Insita Putra, Gama Widyaputra, Suparni
Abstrak:
Posisi geografis Indonesia pada jalur Cincin Api Pasifik menimbulkan risiko bencana alam tinggi bagi sektor pertambangan batubara yang beroperasi di wilayah rawan. Sektor pertambangan batubara belum memiliki instrumen penilaian komprehensif untuk mengevaluasi Emergency Management Capability (EMC) yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP). Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen EMC guna mengukur kesiapsiagaan organisasi terhadap potensi kondisi darurat seperti ledakan, longsor, dan banjir. Melalui desain mixed methods dengan pendekatan explanatory sequential, pengembangan instrumen ini merujuk pada Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral No. 185 (2019) dan No. 10 (2023), serta International Organization for Standardization (ISO) 22320:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EMC terdiri dari lima variabel, yaitu identifikasi dan penilaian potensi keadaan darurat, pencegahan, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan keadaan darurat. Instrumen terbukti valid dan reliabel. Pembobotan berbasis Confirmatory Factor Analysis (CFA) menunjukkan kesiapsiagaan keadaan darurat sebagai dimensi dominan (35%). Penelitian ini juga menghasilkan klasifikasi tingkat kapabilitas EMC ke dalam lima level, yaitu dasar, reaktif, terencana, proaktif, dan adaptif atau resilient. Selain itu, hasil pengukuran EMC dapat diintegrasikan ke dalam audit SMKP Minerba. Instrumen AJENG diharapkan dapat digunakan sebagai alat evaluasi untuk memetakan kesiapan organisasi, memperkuat mitigasi, dan meningkatkan pengelolaan kedaruratan pada pertambangan batubara.

Indonesia’s location along the Pacific Ring of Fire exposes coal mining operations to significant disaster risks. However, the sector lacks a comprehensive instrument for assessing Emergency Management Capability (EMC) that is integrated with the Mining Safety Management System (SMKP). This study aimed to develop an EMC assessment instrument to measure organizational preparedness for potential emergencies, including explosions, landslides, and flooding. A mixed-methods study using an explanatory sequential design was conducted. Instrument development was guided by the Decree of the Director General of Mineral and Coal No. 185 of 2019, No. 10 of 2023, and ISO 22320:2018. The results identified five EMC dimensions: emergency identification and risk assessment, prevention, preparedness, response, and recovery. The AJENG instrument demonstrated satisfactory validity and reliability. Confirmatory Factor Analysis (CFA) indicated that preparedness was the most influential dimension, accounting for 35% of the overall construct. The study also established five EMC capability levels: Basic, Reactive, Planned, Proactive, and Adaptive (Resilient). Furthermore, EMC assessment results can be integrated into the SMKP audit framework. The AJENG instrument is expected to support organizational preparedness assessment, strengthen risk mitigation, and enhance emergency management performance in the coal mining sector.
Read More
D-628
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Adelina Limbong; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Mila Tejamaya, Huala Nadapdap
Abstrak: Keadaan darurat merupakan situasi yang dapat mengancam keselamatan manusia serta mengakibatkan kerusakan lingkungan dan properti akibat bencana industri atau bencana alam. Kerugian dapat diminimalkan dengan menerapkan program manajemen keadaan darurat. Talisman Energy Indonesia sebagai salah satu perusahaan yang tidak lepas dari ancaman kerugian akibat bencana, telah melaksanakan program manajemen keadaan darurat. Peneliti melakukan penilaian terhadap 67 komponen program manajemen keadaan darurat berdasarkan NFPA 1600 Edisi 2010 di Talisman Energy dengan desain penelitian deskriptif melalui pendekatan observasional. Hasil penelitian menunjukkan 52 komponen telah sesuai, 14 komponen sesuai sebagian, dan 1 komponen yang masih belum sesuai, yaitu terkait manajemen donasi. Baik komponen yang telah sesuai maupun belum, masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.
 

Emergency is a situation that could treaten human safety and causing property and environmental damage due to natural or industrial disasters. Losses can be minimized by implementing emergency management program. Talisman Energy Indonesia as one of the companies at risks of losses due to emergency situation, has been implementing an emergency management program. A descriptive study through observational approach had been conducted to assess 67 components of the emergency management program at Talisman Energy in accordance with NFPA 1600, standard reference used. The results showed 52 components conform, 14 components partially conform, and one component nonconform with the criteria. Conform or nonconform components still need further development.
Read More
S-7626
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agung Cahyono Triwibowo; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Mila Tejamaya, Sabarinah; Penguji: Robiana Modjo, Alfajri Ismail, Audist Subekti, Waluyo
Abstrak:
Kebijakan manajemen untuk pasien gawat darurat klinis yang dilaksanakan oleh Public Safety Center (PSC) Indonesia telah ditetapkan dengan peraturan Menteri Kesehatan RI No. 19 tahun 2016. Penilaian manajemen gawat darurat klinis untuk PSC 119 di Indonesia perlu dilakukan untuk perbaikan manajemen gawat darurat klinis secara berkelanjutan. Penulis telah menyusun indikator penilaian manajemen gawat darurat klinis melalui kajian literatur dan forum grup diskusi dengan diikuti tenaga ahli PSC di Indonesia. Dari kajian literatur dan forum grup diskusi serta dilakukan uji analisisanalisis faktor konfirmatori dengan data yang terkumpul dari responsden, diketahui 28 indikator penilaian yang valid dan reliable (dapat diandalkan) untuk manajemen gawat darurat klinis di PSC dan 8 variabel yang menjadi aspek penilaian manajemen gawat darurat klinis di PSC. Dalam tulisan ini disampaikan hasil uji validitas dan reliabilitas dari analisis faktor konfirmatori terhadap 88 responsden di PSC. Semua variable, yaitu aspek kebijakan, perencanaan, implementasi gawat darurat, sistem komunikasi dan pertolongan, sistem transportasi gawat darurat, sistem rujukan, tinjauan ulang manajemen, dan pelayanan gawat darurat dapat dinyatakan bahwa semua pertanyaan atau indikator dalam setiap variabel valid dan reliable dengan uji analisis faktor konfirmatori. Diketahui bahwa terdapat hambatan dan tantangan pada pelaksanaan manajemen gawat darurat klinis di PSC berdasarkan data nasional. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk pengembangan manajemen gawat darurat klinis secara berkelanjutan. Kata kunci: indikator penilaian; manajemen gawat darurat klinis; pengembangan manajemen berkelanjutan


Management policy used when administering clinical emergency patients by Indonesia’s Public Safety Center (PSC) is regulated in Minister of Health Regulation No. 19 of the year 2016. Therefore, clinical emergency management assessment for Indonesia’s 119 PSCs is crucial for continous subsequent improvements. By reviewing literatures, conducting group discussions with experts from the PSCs and analyzing confirmatory factors, 8 variables with 28 valid and reliable indicators to assess the clinical emergency management of PSCs are found. The results of the validity and reliability test of confirmatory factor analysis were presented to 88 PSC responsdents. On all variables, namely aspects of policy, planning, emergency implementation, communication and rescue systems, emergency transportation systems, referral systems, management reviews and emergency services, it can be stated that the question items or indicators in each variable are valid and reliable with confirmatory factor analysis. All obstacles and challenges in implementing clinical emergency management in PSC will be an improvement and development of clinical emergency management. Keywords: assessment indicators; clinical emergency management; sustainable management development
Read More
D-619
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Brilianta Syafi Muhamamd; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji; Fatma Lestari, Pri Agustama
Abstrak:
Kebakaran pada gedung perkantoran bertingkat tinggi merupakan salah satu risiko yang dapat menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan penghuni, aset, dan kelangsungan operasional perusahaan. PT X merupakan gedung perkantoran bertingkat tinggi yang memiliki aktivitas kerja dengan penggunaan instalasi listrik dan perangkat elektronik yang cukup kompleks, sehingga diperlukan penerapan sistem manajemen keselamatan kebakaran yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran penerapan sistem manajemen keselamatan kebakaran yang meliputi sistem proteksi kebakaran, sarana penyelamatan jiwa, dan manajemen kebakaran pada gedung perkantoran PT X. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan semi-kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan menggunakan checklist, wawancara, dan telaah dokumen. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada standar NFPA, Permen PU No. 26/PRT/M/2008, dan Permen PU No. 20/PRT/M/2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja sistem manajemen keselamatan kebakaran di PT X memperoleh nilai sebesar 90,5% dan termasuk dalam kategori baik. Sistem proteksi kebakaran aktif memperoleh nilai 89%, sistem proteksi kebakaran pasif 73%, sarana penyelamatan jiwa 100%, dan manajemen kebakaran 100%. Temuan utama terdapat pada aspek proteksi kebakaran aktif dan pasif, terutama terkait inspeksi dan pemasangan APAR, pengujian pompa kebakaran, serta verifikasi fire rating pada elemen proteksi pasif. Secara umum, penerapan sistem keselamatan kebakaran di PT X telah berjalan dengan baik, namun masih diperlukan peningkatan pada aspek teknis dan dokumentasi pendukung agar sistem dapat lebih andal dalam menghadapi keadaan darurat kebakaran.

Fire incidents in high-rise office buildings pose serious risks to occupant safety, company assets, and business continuity. PT X is a high-rise office building with work activities involving complex electrical installations and electronic equipment, making the implementation of an adequate fire safety management system essential. This study aimed to analyze the implementation of a fire safety management system, including fire protection systems, life safety facilities, and fire emergency management in PT X office building. This study used a descriptive analytic design with a semi-quantitative approach. Data were collected through field observation using checklists, interviews, and document review. The assessment was conducted based on NFPA standards, Minister of Public Works Regulation No. 26/PRT/M/2008, and Minister of Public Works Regulation No. 20/PRT/M/2009. The results showed that the overall performance of the fire safety management system at PT X reached 90.5%, categorized as good. The active fire protection system achieved 89%, passive fire protection system 73%, life safety facilities 100%, and fire emergency management 100%. The main findings were identified in the active and passive fire protection aspects, particularly related to fire extinguisher inspection and installation, fire pump testing, and verification of fire rating for passive fire protection elements. Overall, the implementation of the fire safety management system at PT X has been carried out well. However, improvements are still needed in technical aspects and supporting documentation to ensure the reliability of the system during fire emergencies.
Read More
S-12279
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive