Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Endro Dwi Iswanto; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Tiara Amelia, Mery Aderita Romaulina, Osi Kusuma Sari
Abstrak:
Read More
Kesehatan mental merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan kesehatan secara keseluruhan. Secara global, pada tahun 2019 diketahui sekitar 970 juta orang di seluruh dunia hidup dengan masalah kesehatan mental dimana kasus gangguan kecemasan dan depresi yang paling umum. Di Indonesia sendiri ada 19 juta orang mengalami gangguan mental emosional dan 12 juta orang mengalami depresi pada penduduk usia lebih dari 15 tahun. Provinsi DKI Jakarta pun tidak luput dari masalah kesehatan mental. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, prevalensi orang dengan masalah kesehatan jiwa di DKI Jakarta sebesar 2.3 lebih tinggi dari rata-rata Nasional yakni 2.0. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mencari bantuan dipengaruhi oleh faktor predisposisi, pemungkin, dan kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku mencari bantuan kesehatan mental di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dan sampel adalah penduduk DKI Jakarta dengan rentang usia 25-34 tahun. Jumlah sampel sebanyak 347 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi kuesioner dengan teknik pengambilan sampel Quota sampling. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik untuk multivariat. Sebanyak 53.3% responden melakukan perilaku mencari bantuan kepada formal help-seeking dalam 2 minggu terakhir. Variabel jenis kelamin, pekerjaan, literasi kesehatan mental, dukungan sosial, stigma publik, kondisi kesehatan mental, dan riwayat penyakit kronis memiliki hubungan terhadap perilaku mencari bantuan kesehatan mental. Kondisi kesehatan mental menjadi variabel yang paling dominan terhadap perilaku mencari bantuan kesehatan mental di Provinsi DKI Jakarta.
Mental health is one of the important aspects of achieving overall well-being. Globally, in 2019 around 970 million people worldwide were living with mental health issues, with anxiety and depression being the most common disorders. In Indonesia, 19 million people experienced emotional disorders and 12 million suffered from depression among the population aged over 15 years. In the Special Capital Region of Jakarta Province is also significantly affected by mental health issues. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of people with mental health issues in the Special Capital Region of Jakarta was 2.3, which is higher than the national average of 2.0. Factors influencing help-seeking behavior are generally affected by predisposing, enabling, and need factors. This study aims to identify the determinants of mental health help-seeking behavior in the Special Capital Region of Jakarta Province. This study used a cross-sectional design with a quantitative approach. The population and sample consisted of Jakarta residents aged 25-34 years. A total sample size of 347 respondents was recruited. Data collection was conducted by administering questionnaires using a quota sampling technique. Data were analyzed using multivariate logistic regression. A total of 53.3% of respondents reported engaging in formal help-seeking behavior within the last two weeks. Variables such as gender, occupation, mental health literacy, social support, public stigma, mental health status, and a history of chronic disease were found to be associated with mental health help-seeking behavior. Mental health status emerged as the most dominant variable for mental health help-seeking behavior in the Special Capital Region of Jakarta Province.
Mental health is one of the important aspects of achieving overall well-being. Globally, in 2019 around 970 million people worldwide were living with mental health issues, with anxiety and depression being the most common disorders. In Indonesia, 19 million people experienced emotional disorders and 12 million suffered from depression among the population aged over 15 years. In the Special Capital Region of Jakarta Province is also significantly affected by mental health issues. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of people with mental health issues in the Special Capital Region of Jakarta was 2.3, which is higher than the national average of 2.0. Factors influencing help-seeking behavior are generally affected by predisposing, enabling, and need factors. This study aims to identify the determinants of mental health help-seeking behavior in the Special Capital Region of Jakarta Province. This study used a cross-sectional design with a quantitative approach. The population and sample consisted of Jakarta residents aged 25-34 years. A total sample size of 347 respondents was recruited. Data collection was conducted by administering questionnaires using a quota sampling technique. Data were analyzed using multivariate logistic regression. A total of 53.3% of respondents reported engaging in formal help-seeking behavior within the last two weeks. Variables such as gender, occupation, mental health literacy, social support, public stigma, mental health status, and a history of chronic disease were found to be associated with mental health help-seeking behavior. Mental health status emerged as the most dominant variable for mental health help-seeking behavior in the Special Capital Region of Jakarta Province.
T-7394
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Meigasari; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Kartika Anggun Dimar Setio, Devi Sumarno, Anjar Yusdinar
Abstrak:
Read More
Kehamilan tidak diinginkan (KTD) diistilahkan dengan unintended pregnancy, unplanned pregnancy, unwanted pregnancy. Kehamilan yang tidak diinginkan menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak terjadi di dunia dan merupakan masalah kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi yang utama yang membawa risiko morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi bagi perempuan (sering kali karena praktik aborsi yang tidak aman). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan wawancara mendalam kepada perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan atas dasar suka sama suka atau konsensual, perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan karena paksaan atau kekerasan seksual, tidak dalam status pernikahan. Penelitian dilakukan di Yayasan RUTH. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengetahui perilaku pencarian bantuan (help seeking behavior) pada perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan yang meliputi pengenalan masalah, keputusan untuk mencari bantuan dan pemilihan layanan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa semua informan meneruskan kehamilannya, memutuskan mengasuh bayinya dengan dibantu ibu dan saudaranya, satu informan belum menentukan apakah bayinya akan dibawa pulang atau ditinggal untuk nantinya diadopsi. Dua informan belum memberitahukan kehamilannya kepada orang tua, satu informan memberitahu ibunya namun ibunya cuek tidak membantu, satu informan memberi tahu ibunya. Semua mengakses dukungan informal juga dari teman dan saudara kemudian mengakses layanan formal berupa rumah singgah atau penampungan bagi perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan. Semua informan mengetahui layanan rumah singgah melalui penelusuran lewat internet.
Unintended pregnancy is termed as unplanned pregnancy, unwanted pregnancy. Unintended pregnancy is one of the most prevalent health problems in the world and is a major sexual and reproductive health problem that carries a higher risk of morbidity and mortality for women (often due to unsafe abortion practices). This research is qualitative research with a case study approach conducted by in-depth interviews with women who experience unwanted pregnancies on a consensual basis, women who experience unwanted pregnancies due to coercion or sexual violence, not in marital status. The research was conducted at the RUTH Foundation. The purpose of this study is to determine help seeking behavior in women who experience unwanted pregnancy which includes problem recognition, decision to seek help and service selection. From the results of the study, it was found that all informants continued their pregnancy, decided to take care of their babies with the help of their mothers and siblings, one informant had not yet determined whether the baby would be taken home or left for later adoption. Two informants have not told their parents about their pregnancy, one informant told her mother but her mother was indifferent and did not help, one informant told her mother. All accessed informal support also from friends and relatives and then accessed formal services in the form of halfway houses or shelters for women who experienced unwanted pregnancies. All informants found out about the halfway house service through internet searches.
T-6778
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Janitra Hapsari; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dadan Erwandi, Dien Anshari, Mohammad Rezasyah Hasan, Astriani Dwi Aryaningtyas
Abstrak:
Read More
Norma maskulinitas tradisional sering kali ditemukan sebagai penghambat perilaku mencari bantuan, mendorong munculnya stigma, dan merupakan bentuk maskulinitas yang tidak sehat atau “toxic masculinity”. Namun, beberapa studi kualitatif menunjukkan bahwa sebagian laki-laki mau mencari bantuan kesehatan mental untuk menjadi lebih sehat, mampu melawan stigma, dan tindakan tersebut dilihat sebagai cara yang rasional untuk lebih maskulin sehingga disebut sebagai maskulinitas positif atau “positive masculinity”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran maskulinitas terhadap perilaku mencari bantuan laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis di Platform Layanan Inspirasien. Desain penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada delapan informan yang terdiri dari pasien laki-laki yang mengalami depresi akibat penyakit fisik kronis, pendamping pasien, dan professional kesehatan mental. Hasil penelitian menemukan adanya perubahan makna maskulinitas dari tradisional menjadi positif pada laki-laki yang telah mendapatkan bantuan dari layanan professional kesehatan mental. Perilaku mencari bantuan kesehatan mental dilihat sebagai upaya untuk pulih dan menjadi lebih sehat. Ketika laki-laki lebih sehat, maka Ia mendapatkan kembali kendali atas hidupnya, merupakan wujud tanggung jawab dan kepemimpinan laki-laki untuk menyelesaikan masalahnya, keberanian untuk meminta bantuan, dan kebijaksanaan dalam cara penyelesaian masalah dengan ahlinya (professional kesehatan mental). Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan makna maskulinitas positif pada perilaku mencari bantuan laki-laki sebagai strategi dalam membentuk upaya promosi kesehatan mental dan peningkatan layanan kesehatan mental secara khusus untuk laki-laki.
Traditional masculinity norms are often found to inhibit help-seeking behavior, encourage the emergence of stigma, and are a form of unhealthy masculinity or "toxic masculinity". However, several qualitative studies show that some men are willing to seek mental health help to become healthier, able to fight stigma, and this action is seen as a rational way to become more masculine so it is called “positive masculinity”. This study aims to determine the role of masculinity on the help-seeking behavior of men who experience depression due to chronic physical illness in the Inspirasien Service Platform. Descriptive qualitative research design with a case study approach is being used. Data was collected through in-depth interviews with eight informants consisting of male patients who experienced depression due to chronic physical illness, their caregiver, and mental health professionals. The results of the study found a change in the meaning of masculinity from traditional to positive in men who had received help from professional mental health services. Mental health help-seeking behavior is seen as an effort to recover and become healthier. When a man is healthier, he regains control of his life, which is a manifestation of a man's responsibility and leadership to solve his problems, the courage to ask for help, and wisdom in solving problems with the experts (mental health professionals). This research recommends utilizing the meaning of positive masculinity in men's help-seeking behavior as a strategy in shaping mental health promotion efforts and improving mental health services specifically for men.
T-6887
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
