Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hanitya Dwi Ratnasari; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Putri Bungsu, Punto Dewo
Abstrak: Salah satu penyakit oportunis penyerta infeksi HIV/AIDS adalah hipertensi. Hipertensi umum ditemukan di populasi ODHA dengan prevalensi antara 15,646%. 1-6 Namun, pada anak dengan infeksi perinatally-acquired HIV/AIDS, data prevalensi hipertensi masih sangat minim. Studi tahun 2016 pada 51 anak dengan infeksi HIV/AIDS menunjukkan proporsi hipertensi sebesar 37,3%. 7 Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi dan hubungan infeksi perinatally-acquired HIV dengan hipertensi primer pada anak menggunakan desain studi analitik potong lintang dan data sekunder penelitian CHIC Study. Populasi penelitian ini adalah 89 anak partisipan CHIC Study berusia 0-18 tahun dengan status HIV positif (41 anak) dan non-HIV (48 anak). Hasil analisis multivariabel menggunakan analisis regresi logistik menunjukkan anak dengan infeksi HIV memiliki odds risiko 1,24 kali (95% CI: 0,024-65,002; nilai p 0,917) untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan anak non-HIV. Penelitian ini menyimpulkan ada hubungan antara infeksi HIV dengan hipertensi primer pada anak dengan infeksi HIV meskipun masih belum dapat dibuktikan validitas hubungan tersebut secara statistik dikarenakan jumlah sampel yang tidak mencukupi. Peneliti mengharapkan penelitian lanjutan dilakukan dengan desain studi yang lebih baik dan jumlah sampel yang mencukupi.
Read More
T-6036
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rifqatul Muthiah Amran; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Mardiati Nadjib, Amal Chalik Sjaaf, Helsy Pahlemy, Ihsanil Husna
Abstrak: ABSTRAK Prevalensi hipertensi di Indonesia terus meningkat dari 21,2% pada tahun 2010 menjadi 23,3% pada tahun 2014. Hipertensi dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, stroke, dan kematian jika tidak terdeteksi dini dan diobati secara tepat. Antihipertensi yang efektif dalam menurunan tekanan darah dan mengurangi resiko kejadian penyakit jantung koroner adalah Valsartan dan Amlodipine. Biaya pengobatan selalu menjadi penghalang untuk pengobatan yang efektif. Oleh karena itu, perlu dilakukan kendali mutu dan kendali biaya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis evaluasi ekonomi dengan mengetahui gambaran biaya dan outcome dari penggunaan Valsartan dan Amlodipine selama tiga bulan pengobatan pada pasien hipertensi primer dengan tekanan darah stage I. Penelitian ini bersifat observasional dengan teknik pengambilan data secara retrospektif pada tahun 2016. Outcome berupa rata-rata penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik, proporsi tekanan darah terkontrol, dan proporsi tekanan darah tidak terkontrol. Biaya yang diambil dari perspektif pasien yang berupa biaya langsung medis. Hasil penelitian diperoleh bahwa biaya penggunaan Amlodipine lebih rendah (Rp 872.666,02) dibandingkan Valsartan (Rp 1.064.621,00). Rata-rata penurunan tekanan darah pada penggunaan Amlodipine sebesar 16,33 / 7,88 mmHg, sedangkan pada Valsartan sebesar 14,05 / 5,00 mmHg. Proporsi tekanan drah terkontrol pada Amlodipine sebesar 80%, dengan proporsi kejadian penyakit jantung coroner sebesar 27,5%. Sedangkan proporsi tekanan darah terkontrol pada Valsartan 60%, dengan proporsi kejadian penyakit jantung koroner sebesar 72,5%. Pada diagram efektivitas biaya, Amlodipine terletak pada kuadran II dan Valsartan pada kuadran IV. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Amlodipine dominan terhadap Valsartan karena membutuhkan biaya yang lebih rendah dan menghasilkan outcome yang lebih baik. Kata Kunci: Hipertensi Primer, Amlodipine, Valsartan, Evaluasi Ekonomi Background: The prevalence of hypertension in Indonesia continues to increase from 21.2% in 2010 to 23.3% in 2014. Hypertension can lead to coronary heart disease, stroke, and death if not detected early and treated appropriately. Antihypertensives that effectively reducing blood pressure and reducing the risk of coronary heart disease are Valsartan and Amlodipine. Medical expenses have always been a barrier to effective treatment. Therefore, it is necessary to have quality control and cost control.The aims of this study was to analyze economic evaluation and to know the costs and outcomes of use of Valsartan and Amlodipine during three months of treatment in primary hypertension patients with stage I blood pressure. Methods: This study was observational study with retrospective data retrieval technique in 2016. The outcome was the mean reduction of systolic and diastolic blood pressure, the proportion of controlled and uncontrolled blood pressure. Costs taken from the patient's perspective in the form of direct medical costs. Results: The results obtained that the cost of using Amlodipine is lower (Rp 872.666.02) than Valsartan (Rp 1,064,621.00). The mean reduction of blood pressure of Amlodipine was 16.33 / 7.88 mmHg, while Valsartan was 14.05 / 5.00 mmHg. Proportion of controlled blood pressure of Amlodipine was 80%, with a proportion of coronary heart disease events was 27.5%. While the proportion of controlled blood pressure of Valsartan was 60%, with the proportion of coronary heart disease events was 72.5%. In the costeffectiveness diagram, Amlodipine was in quadrant II and Valsartan was in quadrant IV. Conclusion: Amlodipine is dominant against Valsartan because it requires lower cost and better outcome. Key words: Primary Hypertension, Amlodipine, Valsartan, Economic Evaluation
Read More
T-5312
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afip Permana; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Anna Hermawati Sabana, Sugeng Hidayat
Abstrak: Abstrak

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi bagian dari masalah kesehatan masyarakat baik di dunia maupun di Indonesia. Hipertensi dikenal sebagai the silent killer yang berdampak pada tingginya angka kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Hipertensi primer meliputi kurang lebih 90-95% dari semua kasus hi pertensi. Beberapa studi menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai kelebihan berat badan mempunyai risiko yang lebih besar terkena hipertensi. Rasio lingkar pinggang panggul (RLPP) merupakan pengukuran antopometri yang lebih tepat untuk menditeksi faktor risiko penyakit kardiovaskuler.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan obesitas sentral (rasio lingkar pinggal panggul) dengan kejadian hipertensi primer pada jemaah calon haji (JCH) Kabupaten Sumedang tahun 2012. Penelitian dilakukan dengan desain cross sectional analitik dengan menggunakan data hasil pemeriksaan kesehatan jemaah haji Kabupaten Sumedang tahun 2012. Analisis multivariat menggunakan cox regression. Hasil analisis data diperoleh proporsi hipertensi primer pada JCH Kabupaten Sumedang Tahun 2012 sebesar 22,2 % dan RLPP berisiko pada JCH sebesar 36,5%.

Hasil multivariat menunjukan bahwa obesitas sentral pada JCH ( RLPP > 0,90 pada laki -laki dan > 0,85 pada perempuan) berisiko sebesar 1,9 kali (PR=1,879 ;95% CI 1,378 ? 2,561) untuk menderita hipertensi primer bila dibandingkan JCH yang tidak obesitas sentral ( RLPP ≤ 0,90 pada lakilaki dan ≤ 0,85 pada perempuan) setelah dikontrol variabel umur, pendidikan dan riwayat hipertensi dalam keluarga. Perubahan gaya hidup, peningkatan aktivitas fisik dengan berolah raga secara teratur dapat mengurangi dan mencegah terjadinya obesitas sentral sehingga menurunkan angka hipertensi primer.


Hypertension is one of the non-communicable diseases which became part of the public health problem in the world and in Indonesia. Hypertension is known as the silent killer that contributes to the high mortality rate due to heart and vascular disease. Primary hypertension covers approximately 90 -95% of all cases of hypertension. Several studies have shown that a person who is overweight have a greater risk of developing hypertension. Waist to hip ratio (WtHR) is a more precise measurement antopometri to detect risk factors for cardiovascular disease.

This study aims to determine the Association between abdominal obesity (waist to hip ratio) and incident primary hypertension among hajj pilgrims in Sumedang District, 2012. The study was conducted with a cross-sectional design using data results of medical examinations hajj pilgrims in Sumedang District, 2012. Multivariate analysis using Cox regression. Results of data analysis, the proportio n of primary hypertension in pilgrims hajj Sumedang District in 2012 is 22.2% and the central obesity is 36.5%.

Multivariate results showed that abdominal obesity in pilgrims hajj (WtHR > 0.90 in men and > 0.85 in women) had 1,9 risk (PR = 1.879, 95% CI 1.378 to 2.561) to get primary hypertension when compared with who did not ( WtHR ≤ 0.90 in men and 0.85 in women ≤) after controlled variables age, education and a family history of hypertension. Healthy lifestyle, increased physical activity with regular exercise can reduce and prevent abdominal obesity and it is expected to reduce the prevalence of primary hypertension.

Read More
T-3809
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive