Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yopa Frisdiana; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Misti
Abstrak:

Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang menjadi prioritas global, penyebab utama kematian dan kecacatan. Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia dengan 73,7% kasus DM yang tidak terdiagnosis. Prevalensi DM di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Obesitas sentral dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes melitus. Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian diabetes melitus. Namun, penentuan diagnosis DM hanya didasarkan pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu, tanpa disertai informasi mengenai gejala dan Riwayat DM sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah atau HbA1c pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia.
Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 25.494. Analisis multivariat menggunakan cox regression untuk mengetahui hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian diabetes melitus yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah atau HbA1c pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel kovariat.
Hasil: Prevalensi diabetes melitus yang baru didiagnosis sebesar 16,0%. Obesitas sentral meningkatkan risiko diabetes melitus sebesar 1,6 kali (PR: 1,6; 95% CI: 1,53–1,76) setelah dikontrol usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, hipertensi, dan dislipidemia.
Kesimpulan: Penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia dengan obesitas sentral memiliki risiko 1,6 kali lebih besar untuk menderita diabetes melitus dibandingkan penduduk usia ≥15 tahun tanpa obesitas sentral setelah dikontrol oleh usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, hipertensi dan dislipidemia. Temuan ini menekankan pentingnya modifikasi gaya hidup melalui pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, serta deteksi dini sebagai upaya pencegahan dan pengendalian DM.

Background: Diabetes mellitus is a non-communicable disease that is a global health priority and a leading cause of death and disability. Indonesia ranks third in the world with 73.7% of DM cases undiagnosed. The prevalence of DM in Indonesia continues to increase every year. Central obesity is associated with an increased risk of diabetes mellitus. Several studies have shown an association between central obesity and the occurrence of diabetes mellitus. However, the diagnosis of diabetes mellitus is currently based solely on fasting blood glucose levels, without considering symptoms or a history of diabetes mellitus. This study aims to investigate the association between central obesity and newly diagnosed diabetes mellitus based on blood glucose levels or HbA1c in individuals aged ≥15 years in Indonesia. Methods: This study utilized secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (IHS). The sample size analyzed was 25,494. Multivariate analysis using multiple Cox regression was conducted to determine the association between central obesity and the occurrence of newly diagnosed diabetes mellitus based on blood glucose levels or HbA1c in individuals aged ≥15 years in Indonesia, after controlling for covariate variables.  Results: The prevalence of newly diagnosed diabetes mellitus was 16,0%. Central obesity increases the risk of diabetes mellitus by 1.6 times (PR: 1.6; 95% CI: 1.53–1.76) after adjusting for age, gender, physical activity, hypertension, and dyslipidemia.  Conclusion: Individuals aged ≥15 years in Indonesia with central obesity have a 1.6 times higher risk of developing diabetes mellitus compared to those aged ≥15 years without central obesity after adjusting for age, sex, physical activity, hypertension, and dyslipidemia. These findings emphasize the importance of lifestyle modifications through healthy eating patterns, regular physical activity, and early detection as preventive and control measures for diabetes mellitus.

 

Read More
T-7320
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shakila Zakiyatunnisa; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Asih Setiarini, Qonita Rachmah
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kelainan metabolik yang terdiri dari obesitas abdominal, hiperglikemia, dislipidemia, dan hipertensi yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, serta mortalitas dini. Sindrom metabolik menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berkontribusi terhadap peningkatan beban penyakit tidak menular secara global, termasuk di Indonesia, dengan prevalensi pada populasi usia ≥15 tahun mencapai sekitar 32% pda tahun 2018 dan menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor utama yang berhubungan dengan kejadian sindrom metabolik pada penduduk Indonesia usia ≥15 tahun dengan menganalisis data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dan menentukan faktor dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada populasi adalah sebesar 38,4%. Variabel yang berhubungan signifikan dengan sindrom metabolik adalah usia, jenis kelamin, dan status gizi (IMT). Faktor dominan yang paling berpengaruh adalah status gizi, di mana dibandingkan dengan responden dengan status gizi normal, responden dengan berat badan kurang memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami sindrom metabolik (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), sedangkan responden dengan berat badan berlebih memiliki peluang 2,510 kali lebih besar (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939), kemudian meningkat pada obesitas tingkat I dengan peluang 5,864 kali (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), serta obesitas tingkat II dengan peluang 12,670 kali lebih besar mengalami sindrom metabolik dibandingkan status gizi normal (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).

Metabolic syndrome is a cluster of metabolic abnormalities characterized by abdominal obesity, hyperglycemia, dyslipidemia, and hypertension, which collectively increase the risk of cardiovascular disease, type 2 diabetes mellitus, and premature mortality. It has become a major public health concern due to its contribution to the growing burden of non-communicable diseases globally, including in Indonesia, where the prevalence among individuals aged ≥15 years was reported to be around 32% in 2018, showing an increasing trend compared to previous years. This study aimed to identify the main factors associated with metabolic syndrome among the Indonesian population aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesia Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Data were analyzed using chi-square tests and logistic regression to determine associated factors and identify the dominant determinant. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome among the population was 38.4%. Variables significantly associated with metabolic syndrome included age, sex, and nutritional status (BMI). The most dominant factor was nutritional status, where compared to individuals with normal BMI, underweight respondents had a lower likelihood of developing metabolic syndrome (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), while overweight respondents had 2.510 times higher odds (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939). The risk further increased among individuals with class I obesity, who had 5.864 times higher odds (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), and class II obesity, who had 12.670 times higher odds of experiencing metabolic syndrome compared to those with normal BMI (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).
Read More
S-12361
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Balqis Ramandha Dewi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurniasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat sebesar 4,9%, mendekati prevalensi nasional sebesar 5,8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita usia 0–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data SKI 2023, yang mencakup karakteristik balita, karakteristik keluarga, dan kondisi lingkungan rumah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 2.969 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kejadian ISPA pada balita dengan status imunisasi dasar (p=0,02; OR=0,55; 95% CI=0,33–0,93) dan pendidikan terakhir ibu (p=0,04; OR=0,62; 95% CI=0,39–0,98). Sementara variabel usia balita, jenis kelamin, riwayat BBLR, pemberian vitamin A, perilaku merokok anggota keluarga, jenis atap, jenis dinding, dan jenis lantai tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian ISPA. Faktor dominan yang paling mempengaruhi kejadian ISPA pada balita adalah status imunisasi dasar.

Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major public health concern and a leading cause of morbidity among children under five in Indonesia. According to the 2023 Indonesian Health Survey (IHS), the prevalence of ARI among children under five in West Java Province was 4,9%, approaching the national prevalence of 5,8%. This study aimed to analyze the determinants of ARI incidence in children aged 0–59 months in West Java Province using 2023 SKI data, focusing on child characteristics, family characteristics, and household environmental conditions. A cross-sectional design was employed involving 2,969 children who met the inclusion criteria. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using chi-square tests, and multivariate analysis through multiple logistic regression. Results revealed significant relationships between ARI incidence and basic immunization status (p=0.02; OR=0.55; 95% CI=0.33–0.93) and maternal education level (p=0.04; OR=0.62; 95% CI=0.39–0.98). Meanwhile, child’s age, gender, history of low birth weight, vitamin A supplementation, household smoking behavior, roof type, wall type, and floor type did not show significant associations with ARI incidence. Basic immunization status was identified as the most dominant determinant of ARI incidence in under-five children.
Read More
S-11947
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Normandhieva Acmad Syuhada; Pembimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Rizka Maulida, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke, dan prevalensinya semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pekerja, baik dalam kategori white-collar maupun blue-collar, sering kali terpapar faktor risiko yang berbeda akibat gaya hidup dan lingkungan kerja mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian sindrom metabolik pada pekerja white-collar dan blue-collar di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Dengan total sampel sebanyak 8.582 individu, terdiri dari 4.053 pekerja white-collar dan 4.529 pekerja blue-collar, penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dan analisis multivariat dengan modifikasi Cox hazard. Variabel independen yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, aktivitas fisik, perilaku merokok, konsumsi alkohol, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan asin, konsumsi makanan berlemak, konsumsi daging/ayam/ikan olahan dengan pengawet, dan gangguan kesehatan jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada kelompok white-collar mencapai 51%, sedangkan pada kelompok blue-collar sebesar 42,9%. Pada kelompok white-collar, variabel yang paling berpengaruh terhadap sindrom metabolik adalah usia dan jenis kelamin, dengan hubungan yang signifikan. Sementara itu, pada kelompok blue-collar, variabel yang paling berpengaruh meliputi usia, jenis kelamin, dan konsumsi minuman manis. Tingginya prevalensi sindrom metabolik pada kedua kelompok pekerja ini menunjukkan perlunya perhatian masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat guna mencegah risiko sindrom metabolik.

Metabolic syndrome is a cluster of various conditions that increase the risk of heart disease, diabetes and stroke, and its prevalence is increasing worldwide, including in Indonesia. Workers, both in the white-collar and blue-collar categories, are often exposed to different risk factors due to their lifestyle and work environment. This study aims to analyze the incidence of metabolic syndrome in white-collar and blue-collar workers in Indonesia based on the 2023 Indonesian Health Survey (IHS) data. With a total sample of 8,582 individuals, consisting of 4,053 white-collar workers and 4,529 blue-collar workers, this study used a cross-sectional study design and multivariate analysis with modified Cox hazard. Independent variables analyzed included age, gender, education, physical activity, smoking behavior, alcohol consumption, consumption of sweet foods, consumption of sweet drinks, consumption of salty foods, consumption of fatty foods, consumption of processed meat/chicken/fish with preservatives, and mental health disorders. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome in the white-collar group reached 51%, while in the blue-collar group it was 42.9%. In the white-collar group, the most influential variables on metabolic syndrome were age and gender, with significant relationships. Meanwhile, in the blue-collar group, the most influential variables included age, gender, and consumption of sugary drinks. The high prevalence of metabolic syndrome in these two groups of workers indicates the need for public attention to adopt a healthy lifestyle to prevent the risk of metabolic syndrome.
Read More
S-11855
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khusnul Khotimah; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Ema Hermawati, Rony Darmawansyah Alnur
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat sebesar 4,9%, mendekati prevalensi nasional sebesar 5,8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita usia 0–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data SKI 2023, yang mencakup pencemaran udara dalam ruangan, karakteristik balita, dan karakteristik keluarga balita. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 136 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian ISPA pada balita yang tinggal serumah dengan penderita ISPA dewasa dengan seluruh variabel yang diteliti, yaitu perilaku merokok anggota keluarga, jenis bahan bakar memasak, riwayat BBLR, status imunisasi dasar, pemberian ASI eksklusif, serta pemberian vitamin A. Seluruh variabel tersebut memiliki nilai p > 0,05 sehingga tidak ditemukan faktor dominan yang memengaruhi kejadian ISPA pada balita dalam penelitian ini.

Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the leading causes of morbidity among toddlers in Indonesia. Based on data from the Indonesia Health Survey (IHS) 2023, the prevalence of ARI in toddlers in West Java Province was 4.9%, approaching the national prevalence of 5.8%. This study aimed to analyze the determinant factors of ARI incidence in toddlers aged 0–59 months in West Java Province based on SKI 2023 data, encompassing indoor air pollution, toddler characteristics, and family characteristics. This study employed a cross-sectional design with a sample of 136 toddlers who met the inclusion criteria. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed no significant association between ARI incidence in toddlers living with adult ARI sufferers and all variables examined, namely smoking behavior of family members, type of cooking fuel, low birth weight history, basic immunization status, exclusive breastfeeding, and vitamin A supplementation. All variables had p-values > 0.05, indicating that no dominant factor influencing ARI incidence in toddlers was identified in this study.
Read More
S-12270
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maharani Karina Setiawan; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Agus Handito
Abstrak:
Penyakit dengue adalah penyakit tular vektor yang endemik di Indonesia dengan risiko tinggi pada anak usia sekolah. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi dengue pada anak usia sekolah di Indonesia sebesar 0,65%, tertinggi diantara kelompok usia lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor kejadian dengue pada anak usia sekolah, yang terdiri dari faktor individu, faktor rumah tangga, dan faktor perilaku pengendalian lingkungan. Desain studi penelitian dengan cross-sectional melibatkan sampel 143.946 anak di Indonesia. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Chi-square, dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kejadian dengue pada anak usia sekolah dengan status ekonomi (aPOR=0,724; CI 95%=0,575–0,911), lokasi tempat tinggal (aOR=1,467; CI 95%=1,267–1,699), pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus (aPOR=0,656; CI 95%=0,539–0,797), dan perilaku pencegahan gigitan nyamuk (aPOR=0,755; CI 95%=0,655–0,871). Faktor dominan yang paling berpengaruh adalah lokasi tempat tinggal, tepatnya di perkotaan. Penguatan surveilans dengue dan upaya eliminasi sarang nyamuk berbasis komunitas diperlukan untuk mengurangi risiko penularan dengue, khususnya di wilayah perkotaan.

Dengue is a vector-borne disease endemic in Indonesia with a high risk for school-aged children. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (IHS) data, the dengue prevalence among school-aged children in Indonesia was 0.65%, which is the highest among other age groups. This study aims to analyze factors contributing to dengue incidence in school-age children, consisting of individual factors, household factors, and environmental control behavior. The study design was cross-sectional involving samples of 143,946 children in Indonesia. Analysis was conducted using univariate analysis, Chi-square test, and multiple logistic regression. The results showed a significant relationship between the incidence of dengue in school-aged children and economic status (aPOR=0.724; 95% CI=0.575–0.911), location of residence (aOR=1.467; 95% CI=1.267–1.699), practice of mosquito nest eradication 3M Plus (aPOR=0.656; 95% CI=0.539–0.797), and mosquito bite prevention behavior (aPOR=0.755; 95% CI=0.655–0.871). The most dominant factor was location of residence, specifically in urban areas. Strengthening dengue surveillance and community-based mosquito nest elimination efforts are needed to reduce the risk of dengue transmission, especially in urban areas.
Read More
S-12251
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive