Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Latar Belakang: Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Pada tahun 2018 dilaporkan lebih dari 140.000 orang meninggal karena campak terutama anak-anak dibawah usia 5 tahun, meskipun vaksin sudah tersedia Pencapaian target imunisasi di Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2022 ke tahun 2023. Imunisasi campak sangat berperan dalam menurunkan angka kematian anak, maka imunisasi campak merupakan salah satu indikator pencapaian tujuan SDGs ketiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera. Adanya penemuan kasus campak yang tinggi di tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian epidemiologi kasus campak di wilayah Kota Bogor Tahun 2022 sampai tahun 2024.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi epidemiologi deskriptif. Data yang diambildalam penelitian ini yaitu berupa data sekunder. Data tersebut diperoleh Tim Surveilans dan imunisasi P3MS, Bidang P2P, Dinas Kesehatan Kota Bogor adalah data pelaporan kasus campak dan cakupan imunisasi dari tahun 2022 - 2024. Data berupa spreadsheets laporan kasus campak.
Hasil : Gambaran epidemiologi kasus campak di Kota Bogor tahun 2022 - 2024 terdapat pada tahun 2023 jenis kelamin laki-laki sebanyak 176 anak. Pada kelompok umur 2-5 tahun (42,9%) selanjutnya 5-10 tahun (31,4%) dan kelompok umur kurang dari 1 tahun (19,1). Kasus paling banyak terdapat di Kecamatan Bogor Barat (97 kasus) dan Bogor Selatan (93 kasus), serta kasus tertinggi terjadi pada tahun 2023 sebanyak 340 kasus. Cakupan imunisasi yang rendah diantara kasus konfirmasi positif
Kesimpulan dan Saran: Gambaran epidemiologi kasus campak di Kota Bogor tahun 2022 - 2024 populasi terbanyak dengan kelompok umur 2-5 tahun, dan jenis kelamin laki-laki. Kasus paling banyak terdapat di Kecamatan Bogor Barat dan Bogor Selatan, serta kasus tertinggi terjadi pada tahun 2023. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode kualitatif tren kasus campak di wilayah Bogor Selatan. Penguatan sistem pemantauan di kecamatan resiko tinggi, kolaborasi dengan organisasi masyarakat dalam peningkatan kesadaran imunisasi, dan mengadakan pelatihan serta workshop rutin untuk kemampuan komunikasi kepada masyarakat.
Background Measles is a disease that can be prevented by immunization (PD3l). In 2018, it was reported that more than 14,000 people died caused by measles, especially children under 5 years old, Even though vaccines are available, the achievement of immunization targets in Indonesia has decreased from 2022 to 2023. Measles immunization plays an important role in reducing child mortality. Measles immunization is one of the indicators of achieving the third SDGs goal, namely a healthy and prosperous life. There was a high discovery of measles cases in 2023 compared to the previous year, so the author was interested in conducting epidemiological research on measles cases in Bogor 2022 to 2024. Methods This research used a descriptive epidemiological study design. The data used in this research is secondary data. This data was obtained by the P3MS Surveillance and Immunization Team, P2P Division, Bogor City Health Service. data form reporting of measles cases and immunization coverage 2022 - 2024. data form spreadsheets of measles case reports. Result Epidemiological case description of measles in Bogor 2022 - 2024, in 2023 the male gender was 176 children. In the age group 2-5 years (42.9%) then 5-10 years (31.4%) and the age group less than 1 year (19.1). The most cases were in West Bogor District (97 cases) and South Bogor (93 cases), and the highest cases occurred in 2023 as many as 340 cases.Low immunization coverage among confirmed positive cases. Conclution and Suggestions: Epidemiological descriptive of measles cases in Bogor City in 2022-2024, the largest population is in the 2-5 year age group, and male gender. The most cases are in West Bogor and South Bogor, and the highest cases occurred in 2023. Futher research is needed using qualitative methods on measles case trends in the South Bogor area. Stengthening the monitoring system in high risk districts, collaborating with community organizations in increasing immunization awareness, and holding routine and workshop for communication skills to the community.
Campak adalah penyakit dengan tingkat penularan dan fatalitas tinggi terutama di negara dengan sistem kesehatan yang lemah. Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sebagai bagian integral dari sistem kesehatan. Program imunisasi dasar merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model ketahanan imunisasi campak rubela kabupaten/kota di Indonesia berdasarkan variabel-variabel yang berpengaruh terhadap imunisasi campak rubela.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif desain cross sectional, tapi pada level kabupaten kota menggunakan studi ekologi atau korelasi populasi, dimana unit penelitian terdiri dari 2 level, yaitu level individu dan level kabupaten/kota yang memiliki setidaknya 1 kasus positif IgM kasus campak rubela di 257 kabupaten kota tahun 2022-2023. Analisis menggunakan multilevel modelling, pada level individu dilakukan analisis variabel umur, jenis kelamin, dan riwayat imunisasi, sedangkan level kabupaten kota meliputi cakupan imunisasi, anggaran pelayanan imunisasi, pendanaan stabil, pemerintah kinerja program campak, SDM imunisasi dan surveilans terlatih, respon alert, kelengkapan dan ketepatan laporan.
Kasus campak rubela terbesar pada kelompok umur 0-5 tahun (60,7%), perempuan (51,3%) dengan riwayat imunisasi MR2 tidak lengkap (67%). Hasil analisis multivariat didapatkan variabel kasus campak rubela (OR=2,014), cakupan imunisasi campak rubela (OR=1,916), anggaran imunisasi (OR=1,856), pendanaan stabil(KLB) (OR=1,823), pemerintah kinerja program campak (OR=2,05), SDM imunisasi terlatih (OR=1,968) dan SDM surveilans terlatih (OR=1,841) menunjukkan pengaruh signifikan terhadap ketahanan imunisasi campak rubela kabupaten kota di Indonesia. Pada hasil analisis multilevel nilai MOR pada level individu 1.00159 dan level kabupaten kota 1.00081 sehingga dapat disimpulkan efek individu lebih besar dari efek level. Kontribusi variabel independen terbesar untuk level kabupaten kota adalah cakupan imunisasi sebesar 624,14% terhadap ketahanan imunisasi campak rubela kabupaten kota. Model prediksi ketahanan imunisasi campak rubela didapatkan dengan formula = -2,314 + 0,787 kasus campak rubela +0,685 cakupan imunisasi campak rubela + 0,586 anggaran imunisasi +0,568 pendanaan KLB + 0,712 pemerintah kinerja program campak baik + 0,627 SDM Imunisasi + 0,596 SDM surveilans.
Kesimpulan : Model ketahanan imunisasi campak rubela pada studi ini menemukan variasi ketahanan imunisasi campak rubela hampir sama/tidak beragam antar kabupaten kota dibandingkan antar individu, namun kontribusi/peran dari cakupan imunisasi kabupaten kota sangat besar terhadap ketahanan imunisasi campak rubela kabupaten kota. Saran : Peran program imunisasi penting dalam mencapai cakupan imunisasi campak rubela kabupaten/kota tinggi dan merata dalam memperkuat ketahanan imunisasi campak rubela, Kabupaten kota dapat melakukan evaluasi program imunisasi dengan menganalisis data ketahanan imunisasi untuk mewujudkan eliminasi campak rubela tahun 2026.
Measles is a highly contagious disease with a significant mortality rate, particularly in countries with underdeveloped healthcare systems. However, it is a vaccine-preventable illness. Immunization plays a vital role within the healthcare system, and basic immunization programs are a fundamental component of the ongoing transformation of primary healthcare services. This study seeks to assess the resilience of measles-rubella immunization at the district/city level. To achieve this, a model capable of evaluating the measles-rubella immunization resilience index is required, incorporating variables that influence immunization outcomes.
An observational study design employing an ecological or population-level correlation approach with multilevel analysis was used. The unit of analysis consisted of districts/cities that reported confirmed measles-rubella IgM-positive cases, resulting in a sample of 257 districts/cities. The analysis was conducted at two levels: the individual level (including variables such as age, sex, and immunization history), and the district/city level (including indicators such as immunization coverage, budget allocation for immunization services, funding stability, governance quality, availability of trained immunization and surveillance personnel, responsiveness to health threats, and the completeness and accuracy of reporting).
Results of the study with the largest cases of measles rubella were in the age group of 0-5 years (60.7%), women (51.3%) with a history of incomplete MR2 immunization (67%). The results of the multivariate analysis obtained the variables of measles rubella cases (OR = 2.014), measles rubella immunization coverage (OR = 1.916), immunization budget (OR = 1.856), stable funding (KLB) (OR = 1.823), government measles program performance (OR = 2.05), trained immunization human resources (OR = 1.968) and trained surveillance human resources (OR = 1.841) showed a significant influence on the resilience of measles rubella immunization in cities and districts in Indonesia. In the results of the multilevel analysis, the MOR value at the individual level was 1.00159 and the city district level was 1.00081 so it can be concluded that the individual effect is greater than the level effect. The largest independent variable contribution for the city district level is immunization coverage of 624.14% to the resilience of measles rubella immunization in cities and districts The measles rubella immunization resilience prediction model with the formula = -2.314 + 0.787 measles rubella cases +0.685 measles rubella immunization coverage + 0.586 immunization budget +0.568 KLB funding + 0.712 Good governance + 0.627 Immunization HR + Surveillance HR + 0.596. The largest independent variable contribution for the district/city level is immunization coverage of 624.14% to the resilience of measles rubella immunization in the district/city.
Conclusion: The results of the study show that the measles rubella immunization resilience model in this study proves that the variation in measles rubella immunization resilience is almost the same/does not vary between districts/cities compared to individuals, but the contribution/role of district/city immunization coverage is very large to the resilience of measles rubella immunization in the district/city. The variables of measles rubella cases, measles rubella immunization coverage, immunization budget, funding during the outbreak, government performance of the measles program is good, immunization and surveillance human resources show significant and positive effects on measles rubella immunization resilience. This model can be an important tool in data-based policy making. Recommendations/Suggestions: Districts and cities can evaluate immunization programs by analyzing immunization resilience data and need to study and make policies to realize measles and rubella elimination in 2026.
Abstrak
Imunisasi dasar lengkap (IDL) merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, khususnya pada bayi dan balita. Cakupan IDL yang tinggi menunjukkan kinerja pelayanan kesehatan yang baik, sementara ketimpangan cakupan mencerminkan adanya tantangan dalam sistem pelayanan. Di Kabupaten Bogor tahun 2022, tercatat perbedaan mencolok antara Puskesmas Bojong Nangka dengan cakupan IDL sebesar 187,5% dan Puskesmas Ciapus yang hanya mencapai 15,35%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor penting yang memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan cakupan imunisasi.
Tujuan: Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap di dua Puskesmas dengan cakupan kontras.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive dan terdiri dari tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan orang tua anak. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Data dianalisis menggunakan pendekatan Kualitatif.
Hasil: Faktor Supply meliputi jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan, ketersediaan sarana prasarana, serta dukungan dana. Faktor Demand mencakup pengetahuan dan kesadaran masyarakat, sosiodemografi, serta kepercayaan terhadap vaksin. Di Ciapus, ditemukan keterbatasan sumber daya dan resistensi terhadap imunisasi. Sebaliknya, Bojong Nangka menunjukkan kolaborasi aktif antara petugas dan masyarakat.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) antara Puskesmas Bojong Nangka dan Ciapus di Kabupaten Bogor tahun 2022. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kesalahan pencatatan data, faktor sosiodemografi, keterbatasan tenaga kesehatan, sarana prasarana, pendanaan, serta tingkat pengetahuan dan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Kolaborasi aktif antar petugas dan masyarakat serta dukungan lintas sektor terbukti efektif meningkatkan cakupan IDL. Strategi peningkatan cakupan perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal guna mengatasi disparitas dan mencapai target kesehatan anak secara merata
Kata kunci: Imunisasi Dasar Lengkap, Cakupan Imunisasi, Ketimpangan Layanan, Tenaga Kesehatan, Sosiodemografi, Kepercayaan terhadap Vaksin
Abstrak Imunisasi dasar lengkap (IDL) merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, khususnya pada bayi dan balita. Cakupan IDL yang tinggi menunjukkan kinerja pelayanan kesehatan yang baik, sementara ketimpangan cakupan mencerminkan adanya tantangan dalam sistem pelayanan. Di Kabupaten Bogor tahun 2022, tercatat perbedaan mencolok antara Puskesmas Bojong Nangka dengan cakupan IDL sebesar 187,5% dan Puskesmas Ciapus yang hanya mencapai 15,35%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor penting yang memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan cakupan imunisasi. Tujuan: Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap di dua Puskesmas dengan cakupan kontras. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive dan terdiri dari tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan orang tua anak. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Data dianalisis menggunakan pendekatan Kualitatif. Hasil: Faktor Supply meliputi jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan, ketersediaan sarana prasarana, serta dukungan dana. Faktor Demand mencakup pengetahuan dan kesadaran masyarakat, sosiodemografi, serta kepercayaan terhadap vaksin. Di Ciapus, ditemukan keterbatasan sumber daya dan resistensi terhadap imunisasi. Sebaliknya, Bojong Nangka menunjukkan kolaborasi aktif antara petugas dan masyarakat. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) antara Puskesmas Bojong Nangka dan Ciapus di Kabupaten Bogor tahun 2022. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kesalahan pencatatan data, faktor sosiodemografi, keterbatasan tenaga kesehatan, sarana prasarana, pendanaan, serta tingkat pengetahuan dan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Kolaborasi aktif antar petugas dan masyarakat serta dukungan lintas sektor terbukti efektif meningkatkan cakupan IDL. Strategi peningkatan cakupan perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal guna mengatasi disparitas dan mencapai target kesehatan anak secara merata Kata kunci: Imunisasi Dasar Lengkap, Cakupan Imunisasi, Ketimpangan Layanan, Tenaga Kesehatan, Sosiodemografi, Kepercayaan terhadap Vaksin
