Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Aidea Arsyi Pempasa; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Read More
PT X mengalami peningkatan produksi, hal ini seiring dengan peningkatan kejadian kecelakaan kerja di PT X. Dalam upaya penanganan kecelaakaan kerja, dilakukan pelaporan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi langkah yang perlu dilakukan kedepannya. Penelitian deskriptif dengan metode kualitatif ini memiliki pendekatan study case dengan melihat pelaporan kecelakaan yang lebih dari ketentuan 2x24 jam. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan, sikap, dan faktor eksternal terhadap pelaporan kecelakaan kerja. Hasil: Responden belum memiliki pengetahuan yang cukup menyelutuh mengenai kecelakan kerja, regulasi pelaporan kecelakaan kerja, alur pelaporan kecelakaan kerja, namun telah memiliki pengetahuan yang baik untuk defnisi pelaporan kecelakaan kerja dan suransi kecelakan kerja. Responden memiliki sikap cenderung untuk tidak melaporkan kecelakaan ringan meski telah menganggap pelaporan kecelakaan kerja penting. Sikap dalam pemilihan asuransi juga memiliki kecenderungan tidak memilih BPJS Ketenagakerjaan meski telah mengetahui asuransi untuk kecelakaan kerja. Faktor eksternal responden mencakup dukungan atasan dan rekan kerja cenderung positif. Responden juga mengetahui tidak adanya punishment serta PT X telah memfasilitasi keselamatan.
PT X has experienced an increase in production, which has coincided with a rise in workplace accidents. In an effort to address workplace accidents, reporting is conducted to identify and evaluate the necessary steps moving forward. This descriptive research, using a qualitative method, employs a case study approach by examining accident reports exceeding the 2x24 hour limit. The aim of this study is to provide an overview of knowledge, attitudes, and external factors influencing accident reporting. Results: Respondents lack comprehensive knowledge about workplace accidents, accident reporting regulations, and the accident reporting process, but they do possess good knowledge of the definition of accident reporting and accident insurance. Respondents tend to avoid reporting minor accidents, despite recognizing the importance of accident reporting. Their attitude towards choosing insurance also shows a tendency not to select BPJS Ketenagakerjaan, even though they are aware of workplace accident insurance. External factors for respondents include positive support from supervisors and colleagues. Respondents also recognize the absence of punishments and that PT X has facilitated safety measures.
S-11795
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diana Andriyani ... [et al.]
Bulitkes Vol.41, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ananda Tria Monica; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Tiara Amelia, Fransiska E Mardiananingsih
S-8924
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Umar Mulkhan Fajar; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Read More
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dengan risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tertinggi di dunia, namun implementasi K3 di kalangan petani di Indonesia masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan kecelakaan kerja pada petani aktif di Desa X, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan seluruh 54 petani aktif anggota kelompok tani sebagai responden melalui metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri atas instrumen pengetahuan (11 item, skala dikotomi), sikap (7 item, skala Likert 4 poin), dan praktik (12 item, skala frekuensi 4 poin) mengenai pencegahan kecelakaan kerja. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (83,3%) dengan rata-rata usia 52,5 tahun dan rata-rata masa kerja 21,0 tahun. Sebanyak 57,4% responden belum pernah memperoleh informasi mengenai pencegahan kecelakaan kerja dan 33,3% pernah mengalami kecelakaan kerja. Dari sisi pengetahuan, sebagian besar responden (59,3%) tergolong memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan kecelakaan kerja (skor ≥8 dari 11) dengan mean 7,52 (SD ± 2,55), meskipun pengetahuan terendah ditemukan pada aspek keselamatan kelistrikan (46,3%) dan membaca petunjuk penggunaan mesin (55,6%). Dari sisi sikap, sebanyak 57,4% responden memiliki sikap positif terhadap pencegahan kecelakaan kerja (mean 21,28; SD ± 3,84) berdasarkan cut-off mean setelah uji normalitas Shapiro-Wilk. Dari sisi praktik, hanya 37,0% responden yang tergolong memiliki praktik pencegahan kecelakaan kerja yang baik (skor ≥36 dari 48) dengan mean 30,39 (SD ± 8,05). Praktik terendah ditemukan pada pencatatan penggunaan pestisida (68,5% tidak pernah) dan perlindungan kelistrikan mesin (50,0% tidak pernah). Terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan sikap yang relatif lebih baik dibandingkan dengan praktik pencegahan kecelakaan kerja yang masih rendah. Temuan ini mengindikasikan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan faktor pendukung (enabling factors) dan peningkatan akses terhadap alat pelindung diri guna mendukung penerapan pencegahan kecelakaan kerja di kalangan petani.
The agricultural sector is one of the industries with the highest occupational safety and health (OSH) risks worldwide. However, the implementation of occupational safety and health (OSH) among farmers in Indonesia remains suboptimal. This study aimed to describe the knowledge, attitudes, and practices regarding occupational accident prevention among active rice farmers in Village X, Rancaekek District, Bandung Regency. A descriptive study with a quantitative approach was conducted involving all 54 active members of farmer groups using a total sampling method. Data were collected using a structured questionnaire consisting of a knowledge instrument (11 dichotomous items), an attitude instrument (7 items on a 4-point Likert scale), and a practice instrument (12 items on a 4-point frequency scale) related to occupational accident prevention. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distributions and descriptive statistics. The results showed that most respondents were male (83.3%), with a mean age of 52.5 years and an average working experience of 21.0 years. A total of 57.4% of respondents had never received information regarding occupational accident prevention, while 33.3% had experienced a work-related accident. Regarding knowledge, most respondents (59.3%) demonstrated good knowledge of occupational accident prevention (score ≥8 out of 11), with a mean score of 7.52 (SD ± 2.55). The lowest levels of knowledge were found in electrical safety (46.3%) and reading machine operating instructions (55.6%). Regarding attitudes, 57.4% of respondents demonstrated positive attitudes toward occupational accident prevention (mean = 21.28, SD ± 3.84), based on the mean cut-off after the Shapiro-Wilk normality test. Regarding practices, only 37.0% of respondents demonstrated good occupational accident prevention practices (score ≥36 out of 48), with a mean score of 30.39 (SD ± 8.05). The poorest practices were related to recording pesticide use (68.5% never performed) and protecting machinery electrical systems (50.0% never performed). A noticeable gap was observed between respondents' relatively good knowledge and attitudes and their poor occupational accident prevention practices. These findings indicate the need for interventions that not only improve knowledge but also strengthen enabling factors and increase access to personal protective equipment to support the implementation of occupational accident prevention among farmers.
S-12373
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Avisha Auziana Hasbi; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Yoslien Sopamena, Risky Kusuma Hartono
Abstrak:
Read More
Penggunaan rokok elektronik di kalangan remaja semakin meningkat secara global, termasuk di Indonesia, di mana prevalensinya pada kelompok usia 10–19 tahun telah melampaui angka nasional secara keseluruhan. Lingkungan sekolah menjadi arena strategis dalam upaya pencegahan, mengingat guru memiliki peran sentral dalam membentuk perilaku dan nilai siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan, sikap, dan praktik guru terhadap pencegahan perilaku merokok elektronik pada remaja di SMP X dan SMP Y Bekasi tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi. Informan terdiri dari 10 guru sebagai informan utama, 2 kepala sekolah dan 1 perwakilan Dinas Kesehatan sebagai informan kunci, serta 28 siswa yang terbagi dalam 4 kelompok FGD sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan guru tentang rokok elektronik masih berada pada tingkatan mendasar. Seluruh informan mengenal rokok elektronik namun mayoritas tidak memahami kandungan dan dampak spesifiknya secara memadai. Sikap seluruh informan bersifat negatif terhadap penggunaan rokok elektronik pada remaja secara konsisten, namun terdapat variasi pada pernyataan mengenai tanggung jawab di luar lingkungan sekolah. Praktik pencegahan yang dilakukan masih bersifat insidental dan belum terprogram secara sistematis, tidak ada edukasi yang secara spesifik membahas rokok elektronik kepada siswa di kedua sekolah. Temuan kritis yang ditemukan adalah adanya perilaku merokok guru dan karyawan di lingkungan sekolah yang melemahkan kredibilitas upaya pencegahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat kesenjangan yang signifikan antara sikap positif guru dan praktik pencegahan nyata yang dilakukan, yang dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan dan absennya program serta kebijakan yang mendukung
The use of electronic cigarettes among adolescents has been increasing globally, including in Indonesia, where its prevalence among the 10–19 age group has exceeded the national average. The school environment serves as a strategic arena for prevention efforts, given that teachers play a central role in shaping students' behaviors and values. This study aims to describe teachers' knowledge, attitudes, and practices toward the prevention of electronic cigarette use among adolescents at Junior High School X and Y in Bekasi in 2026. This study employed a qualitative approach using in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and observation. Informants consisted of 10 teachers as primary informants, 2 school principals and 1 representative from the City Health Office as key informants, and 28 students divided into 4 FGD groups as supporting informants. The results showed that teachers' knowledge of electronic cigarettes remained at a basic level, with all informants being familiar with electronic cigarettes but the majority not adequately understanding their specific contents and health impacts. All informants consistently held negative attitudes toward electronic cigarette use among adolescents, although variations were found regarding responsibility outside the school environment. Prevention practices were incidental and not systematically programmed, and no education specifically addressing electronic cigarettes was provided to students at either school. A finding that warrants particular attention is the smoking behavior of teachers and staff within the school environment, which undermines the credibility of existing prevention efforts. This study concludes that there is a significant gap between teachers' positive attitudes and their actual prevention practices, influenced by limited knowledge and the absence of supporting programs and policies.
S-12477
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hashem Sulaiman Hasan Arkok; Promotor: Tri Yunis Miko Wahyono; Kopromotor: Nurhayati Adnan, Dipo Aldila; Penguji: Dian Ayubi, Syahrizal Syarif, Hariadi Wibisono, Soewarta Kosen, Vivi Setiawaty
Abstrak:
Read More
Virus Hepatitis B (HBV) tetap menjadi perhatian kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dan pencapaian target Organisasi Kesehatan Dunia untuk eliminasi pada tahun 2030 membutuhkan penguatan pemahaman epidemiologis, pemodelan prediktif, dan penilaian kesadaran masyarakat. Disertasi ini bertujuan untuk memberikan evaluasi terpadu terhadap kemajuan Indonesia menuju eliminasi hepatitis B melalui tiga komponen penelitian komplementer: (1) analisis tren temporal dan spasial infeksi HBV, skrining, dan cakupan vaksinasi bayi baru lahir; (2) pengembangan dan penerapan model transmisi SIVRM (Susceptible–Infected–Vaccinated–Recovered–Mortality) yang diperluas; dan (3) penilaian pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) di antara pasien hepatitis B. Tren temporal dan distribusi spasial infeksi HBV, skrining, dan cakupan vaksinasi bayi baru lahir diperiksa menggunakan kumpulan data nasional, dengan analisis temporal dilakukan di SPSS-27 dan pengelompokan spasial dianalisis di ArcGIS Pro menggunakan statistik Global Moran's I dan LISA. Temuan mengungkapkan pola HBV yang berfluktuasi dari waktu ke waktu dan kesenjangan geografis yang signifikan, dengan klaster provinsi berisiko tinggi memerlukan intervensi yang ditargetkan. Model SIVRM yang diperluas yang terdiri dari 14 kompartemen dibangun untuk membedakan transmisi vertikal dan horizontal, menggabungkan dinamika vaksinasi, kehilangan kekebalan, dan reaktivasi HBV di antara individu yang pulih. Parameter dipasang menggunakan data BPJS Kesehatan (2019–2023), dan derivasi analitik menghasilkan angka reproduksi dasar (R0) sebesar 4,39, yang menunjukkan penularan berkelanjutan yang berkelanjutan. Proyeksi simulasi menggunakan MATLAB 2018 menunjukkan bahwa strategi pengendalian saat ini tidak cukup untuk mencapai eliminasi pada tahun 2030; namun, analisis skenario menunjukkan bahwa meningkatkan cakupan vaksinasi orang dewasa hingga setidaknya 59%, di samping vaksinasi bayi baru lahir sebesar 70%, dapat mengurangi R0 menjadi 0,90 dan secara substansial mengurangi beban penyakit. Survei KAP cross-sectional terhadap 128 pasien hepatitis B di Jakarta menemukan kesadaran keseluruhan yang moderat, dengan skor KAP rata-rata 51,31 (65,0% dari total skor). Pengetahuan, sikap, dan domain praktik juga menunjukkan kinerja moderat, menyoroti kesenjangan dalam pemahaman pasien. Kesalahpahaman substansial tetap ada mengenai gejala (10,9%), rute penularan (10,2%), dan komplikasi (18,8%). Terlepas dari sikap positif yang umum, praktik berisiko tetap ada, dengan 46,1% melaporkan berbagi barang-barang pribadi yang dapat memfasilitasi penularan. Tingkat pendidikan muncul sebagai penentu utama kesadaran, dengan pasien yang memiliki pendidikan tinggi menunjukkan pengetahuan yang jauh lebih baik dan skor KAP secara keseluruhan dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Korelasi positif yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan praktik menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran dapat meningkatkan perilaku pencegahan. Secara kolektif, temuan ini menyoroti kesenjangan epidemiologis yang terus-menerus, strategi imunisasi yang tidak memadai, dan faktor risiko perilaku yang sedang berlangsung. Penguatan surveilans, perluasan program vaksinasi orang dewasa, kebijakan intervensi regional yang adil, dan inisiatif pendidikan yang ditargetkan sangat penting untuk memajukan upaya eliminasi hepatitis B di Indonesia.
Hepatitis B virus (HBV) remains a major public health concern in Indonesia, and achieving the World Health Organization’s target of elimination by 2030 requires strengthened epidemiological understanding, predictive modeling, and assessment of community awareness. This dissertation aimed to provide an integrated evaluation of Indonesia’s progress toward hepatitis B elimination through three complementary research components: (1) temporal and spatial trend analysis of HBV infection, screening, and newborn vaccination coverage; (2) development and application of an extended SIVRM (Susceptible–Infected–Vaccinated–Recovered–Mortality) transmission model; and (3) assessment of knowledge, attitudes, and practices (KAP) among hepatitis B patients. Temporal trends and spatial distribution of HBV infection, screening, and newborn vaccination coverage were examined using national datasets, with temporal analysis conducted in SPSS-27 and spatial clustering analyzed in ArcGIS Pro using Global Moran’s I and LISA statistics. Findings revealed fluctuating HBV patterns over time and significant geographic disparities, with high-risk provincial clusters requiring targeted intervention. An extended SIVRM model comprising 14 compartments was constructed to distinguish vertical and horizontal transmission, incorporate vaccination dynamics, loss of immunity, and HBV reactivation among recovered individuals. Parameters were fitted using BPJS Kesehatan data (2019–2023), and analytical derivations produced a baseline reproduction number (R0) of 4.39, indicating ongoing sustained transmission. Simulation projections using MATLAB 2018 showed that current control strategies are insufficient to achieve elimination by 2030; however, scenario analysis demonstrated that increasing adult vaccination coverage to at least 59%, alongside newborn vaccination at 70%, could reduce R0 to 0.90 and substantially reduce disease burden. A cross-sectional KAP survey of 128 hepatitis B patients in Jakarta found moderate overall awareness, with a mean KAP score of 51.31 (65.0% of the total score). Knowledge, attitude, and practice domains also showed moderate performance, highlighting gaps in patient understanding. Substantial misconceptions persisted regarding symptoms (10.9%), transmission routes (10.2%), and complications (18.8%). Despite generally positive attitudes, risky practices persisted, with 46.1% reporting sharing personal items that may facilitate transmission. Educational level emerged as a major determinant of awareness, with patients holding higher education showing markedly better knowledge and overall KAP scores compared with those with lower education. Significant positive correlations among knowledge, attitudes, and practices indicated that improved awareness may enhance preventive behaviors. Collectively, these findings highlight persistent epidemiological disparities, inadequate immunization strategies, and ongoing behavioral risk factors. Strengthened surveillance, expanded adult vaccination programs, equitable regional intervention policies, and targeted educational initiatives are essential to advance hepatitis B elimination efforts in Indonesia.
D-605
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Alfian Rahza; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Yudi Ramdani
Abstrak:
Read More
Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu upaya yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, dan mendorong perilaku kerja yang aman guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Namun, efektivitas pelatihan K3 perlu dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pelatihan telah tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan K3 berdasarkan aspek Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku (PSP) pada pekerja subkontraktor di PT. X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan mixed methods dengan desain penelitian triangulasi konkuren (concurrent triangulation) pada 21 pekerja. Data kuantitatif diperoleh melalui nilai pre-test dan post-test, dan kuesioner, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara pada pekerja, wawancara pada pengawas, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok pelatihan mengalami peningkatan pengetahuan setelah pelatihan. Variabel pengetahuan dan sikap umumnya berada pada kategori baik, sedangkan perilaku menunjukkan hasil yang lebih bervariasi. Berdasarkan evaluasi PSP, tiga pelatihan tergolong efektif dan tiga pelatihan tergolong efektif parsial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelatihan K3 di PT. X efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan membentuk sikap keselamatan kerja pekerja. Namun, perubahan perilaku keselamatan kerja belum terjadi secara optimal pada seluruh kelompok pelatihan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan melalui pengawasan, pembinaan, dan monitoring berkelanjutan untuk meningkatkan konsistensi perilaku keselamatan kerja di lapangan.
Occupational Safety and Health (OHS) training is one of the efforts undertaken by companies to improve knowledge, shape attitudes, and encourage safe work behaviors to prevent workplace accidents. However, the effectiveness of OHS training needs to be evaluated to determine the extent to which training objectives have been achieved. This study aims to evaluate the effectiveness of OHS training based on the Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) aspects of subcontractor workers at PT. X in 2026. This study used a mixed methods design with a concurrent triangulation design on 21 workers. Quantitative data were obtained through pre- and post-test scores, and questionnaires, while qualitative data were collected through worker interviews, supervisor interviews, and observations. The results showed that all training groups experienced an increase in knowledge after the training. Knowledge and attitude variables generally categorized as good, while behavior showed more variable results. Based on the PSP evaluation, three training courses were classified as effective and three training courses were classified as partially effective. This study concluded that OHS training at PT. X was effective in improving workers' knowledge and shaping occupational safety attitudes. However, changes in occupational safety behavior have not been optimally achieved across all training groups. Therefore, strengthening is needed through continuous supervision, coaching, and monitoring to improve the consistency of work safety behavior in the field.
S-12435
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
