Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dwiki Ramadhan; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Yudi Dimyati, Novalino
Abstrak:
Profesi dokter gigi rentan mengalami kelelahan tinggi yang disebabkan oleh objek kerja yang sempit, pergerakan terbatas, gerakan berulang, dan postur tubuh yang buruk. Di Provinsi DKI Jakarta, terjadi disproporsi antara penurunan jumlah dokter gigi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Hal ini akan menyebabkan kelelahan pada dokter gigi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental, serta kualitas layanan. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara faktor risiko individu, fisik, dan psikososial terhdap kelelahan yang dialami dokter gigi di Puskesmas Kota Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan analisis analitik dengan desain cross sectional serta analisa data dilakukan secara deskriptif dan inferensial. Sampel dalam penelitian ini adalah total sampling dan open population, dimana total responden yang masuk dalam kriteria inklusi adalah 85 dokter gigi dari total 106 populasi yang dikumpulkan pada tahun 2025. Variabel dalam penelitian ini adalah faktor individu, faktor fisik, faktor psikososial, dan kelelahan. Faktor fisik diukur menggunakan alat Camry Electric Hand Dynamometer model EH101, faktor psikososial diukur menggunkan Work-Related Stress Questionnaire (WR-SQ), sedangkan kelelahan diukur menggunakan Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, masa kerja, kepuasan kerja, tuntutan pekerjaan, dan lingkungan kerja yang tidak nyaman berhubungan signifikan (p<0,05) dengan kelelahan pada dokter gigi. Didapatkan nilai R-Square sebesar 0,232, yang artinya variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar 23,2%, selebihnya dijelaskan oleh variabel lain. Untuk menanggulangi kejadian kelelahan yang dialami dokter gigi, Puskesmas dan Dinas Kesehatan disarankan memberikan pelatihan mengenai pemahaman, determinan, manajemen dan mitigasi kelelahan, serta pemantauan pada dokter gigi secara berkala.

High susceptiblity of fatigue in dental professional caused by constrained work environments, restricted physical movement, repetitive tasks, and suboptimal posture. In DKI Jakarta Province, a disparity exists between the declining number of practicing dentists and the increasing population, which may exacerbate fatigue among dentists. Such fatigue has potential to negatively impact both their physical and mental health, as well as the quality of patient care provided. The objective of this study was to examine association between individual, physical, psychosocial risk factors and fatigue among dentists working in the South Jakarta Public Health Center. This research conducted analytical cross-sectional design, utilizing both descriptive and inferential statistical analyses. The study applied a total sampling technique with an open population framework. A total of 85 respondents who met the inclusion criteria were recruited from a population of 106 dentists in 2025. The variables assessed included individual factors, physical factors, psychosocial factors, and fatigue. Physical factors were measured using a Camry Electric Hand Dynamometer (model EH101), psychosocial factors were assessed with the Work-Related Stress Questionnaire (WR-SQ), and fatigue was evaluated using the Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). The findings revealed significant associations (p < 0.05) between fatigue and age, length of service, job satisfaction, job demands, as well as unfavorable working conditions. The analysis yielded an R-Square value of 0.232, indicating that 23.2% of the variance in fatigue could be explained by the independent variables, while the remaining variance was attributable to other factors. To mitigate fatigue among dentists, it is recommended that public health centers and local health authority provide structured training on the determinants, management, and prevention of fatigue, accompanied by routine monitoring of dentists well-being.
Read More
T-7438
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patricia Satryo; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Tria Astika
Abstrak:
Kekuatan genggam tangan adalah kemampuan maksimal otot fleksor dan lengan bawah dalam menghasilkan gaya isometrik. Pengukuran kekuatan genggam tangan menggunakan electronic hand dynamometer merek Camry. Berdasarkan penelitian sebelumnya, prevalensi kekuatan genggam kategori buruk pada mahasiswi Gizi FKM UI Angkatan 2022 sebesar 77,7%. Kekuatan genggam yang buruk berdampak pada kesehatan dan menjadi penanda rendahnya tingkat kebugaran seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, kalsium, magnesium, vitamin D, zat besi, massa otot, persentase massa lemak, olahraga angkat beban, kualitas tidur, dan tingkat stres dengan kekuatan genggam tangan pada 99 mahasiswi Gizi FKM UI tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kekuatan genggam rendah sebesar 32,3%. Terdapat hubungan signifikan antara massa otot, persentase massa lemak, dan olahraga angkat beban dengan kekuatan genggam tangan (p-value < 0,05). Namun, variabel asupan zat gizi, kualitas tidur, dan tingkat stres tidak menunjukkan hubungan signifikan. Oleh karena itu, mahasiswi diharapkan lebih memperhatikan komposisi tubuh dan melakukan olahraga angkat beban. FKM UI diharapkan mengintegrasikan edukasi terkait pentingnya kekuatan genggam, komposisi tubuh, dan kebiasaan olahraga angkat beban. Selain itu, FKM UI diharapkan melakukan pemeriksaan rutin terkait kekuatan genggam tangan dan komposisi tubuh serta menyediakan fasilitas olahraga angkat beban seperti fitness center. Penelitian selanjutnya disarankan mempertimbangkan jumlah sampel yang lebih besar dan cakupan penelitian yang lebih luas serta mempertimbangkan penggunaan indikator kekuatan genggam yang telah disesuaikan dengan Indeks Massa Tubuh dan indicator massa otot yang telah disesuaikan dengan tinggi badan.

Handgrip strength is the maximum ability of the forearm flexor muscles to generate isometric force. Handgrip strength was measured using a Camry electronic hand dynamometer. Based on a previous study, the prevalence of poor handgrip strength among Nutrition Students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, Class of 2022 was 77.7%. Low handgrip strength has adverse health implications and may indicate a low level of physical fitness. This study aimed to examine the associations of energy, carbohydrate, protein, fat, calcium, magnesium, vitamin D, and iron intake, muscle mass, body fat percentage, weightlifting exercise, sleep quality, and stress level with handgrip strength among 99 female Nutrition students of the Faculty of Public Health Universitas Indonesia, in 2026. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The results showed that the prevalence of low handgrip strength was 32.3%. Significant associations were found between muscle mass, body fat percentage, and weightlifting exercise with handgrip strength (p-value < 0.05). However, dietary intake variables, sleep quality, and stress levels were not significantly associated with handgrip strength. Therefore, female students are encouraged to pay greater attention to their body composition and engage in resistance training. The Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, is expected to integrate education regarding the importance of handgrip strength and body composition and to provide weightlifting facilities. Future studies are recommended to include larger sample sizes and broader study populations, as well as to use handgrip strength indicators adjusted for Body Mass Index and muscle mass indicators adjusted for height.
Read More
S-12368
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patnela Mayasari; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Mury Kuswari
Abstrak: Skripsi ini meneliti kekuatan genggam yang dapat menggambarkan kekuatan tubuh secara keseluruhan pada karyawan kependidikan FKM UI dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu asupan gizi makro, IMT, aktivitas fisik, merokok, dan frekuensi konsumsi sarapan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Data diambil menggunakan pengukuran antropometri, kuesioner mandiri, wawancara recall, dan hand grip dynamometer pada 93 responden (31 orang perempuan dan 62 orang laki-laki) yang tidak sedang atau pernah mengalami cedera pada lengan dan tangan. Variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kekuatan genggam adalah aktivitas fisik (P=0,0001), asupan karbohidrat (P=0,016), dan merokok (P=0,03). Kata kunci: Kekuatan genggam, karyawan, asupan karbohidrat, aktivitas fisik, merokok, hand grip dynamometer
This study examine the hand grip strength which represents body strength in staff of Public Health Faculty of University of Indonesia with the possibly influenced factors: macronutrients intake, BMI, physical activity, smoking, and breakfast frequency. This quantitative study was undertaken with cross-sectional design. Collecting data process began with anthropometric measure, selfreporting questionnaire, food recall interview, and hand grip dynamometer on 93 respondents (31 womens, 62 mens) without history of encounter arm deformities. The significant variable with hand grip streng were physical activity (P=0,0001), carbohydrate intake (P=0,016), and smoking (P=0,03). Keywords: Hand grip strength, staff, carbohydrate intake, physical activity, smoking, hand grip dynamometer
Read More
S-9243
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive