Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lisma Ningsih; Pembimbing: Besral; Penguji: R.Sutiawan, Wenita Indrasari, EliWinardi
Abstrak: Abstrak
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku berisiko tertular HIV pada pria potensial risti di Indonesia Tahun 2011.
 
Metode: Desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) di Indonesia Tahun 2011. Sampel penelitian adalah pria potensial risti yang terpilih menjadi sampel penelitian STBP, dengan kriteria responden seseorang yang secara biologis laki-laki berumur ≥15 tahun. Besar sampel 4.895 responden. Analisis multivariat dilakukan untuk menguji model yang paling sesuai yang menggambarkan perilaku berisiko tertular HIV pada pria potensial risti dengan menggunakan aplikasi structural equation modeling.
 
Hasil: Penelitian ini menunjukkan masih tingginya perilaku berisiko tertular HIV seperti hubungan seks dengan WPS (43%) dan wanita lain selain istri/pasangan tetap atau WPS (13%). Faktor yang berhubungan bermakna dengan perilaku berisiko tertular HIV adalah persepsi risiko tertular HIV (koeff path=0,30), demografi (koeff path=0,62), pengetahuan (koeff path=-0,20), ketersediaan sumber/fasilitas kesehatan (koeff path=0,74) dan dukungan sosial (koeff path=-0,25).
 
Kesimpulan: Perilaku berisiko dapat diturunkan jika pengetahuannya baik, mendapat dukungan sosial yang memadai, persepsi yang salah tentang risiko tertular HIV dikurangi, dan ketersediaan sumber/fasilitas kesehatan dipenuhi. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota diharapkan bekerjasama dengan LSM dalam kegiatan penjangkauan dengan cara mendampingi, berdiskusi tentang cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS dan mendorong untuk berperilaku aman.
 

Objective: to determine the determinants of HIV risk behaviors among potential high risk men in Indonesia in 2011.
 
Methods: cross sectional study using secondary data Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS) in Indonesia in 2011. The sample was a man who elected as a potential high risk IBBS study sample, with a criterion is a person who is biologically male aged ≥ 15 years. The sample size was 4,895. Multivariate analyzes were performed to examine the most appropriate model that describes HIV risk behaviors among potential high risk men using structural equation modeling applications.
 
Results: This study shows the high HIV risk behaviors such as sex with female sex workers (43%) and nonregular partner (13%). Factors significantly associated with HIV risk behavior is the perception of risk of HIV (koeff path = 0.30), demographics (koeff path = 0.62), knowledge (koeff path = -0.20), the availability of source / health facilities (koeff path = 0.74) and social support (koeff path = -0.25).
 
Conclusion: Risk behavior can be reduced if knowledge is good, adequate social support, a false perception the risk of HIV is reduced, and the availability of resources / health facilities. Cooperation with NGOs in outreach activities by assisting, discuss ways of transmission and prevention of HIV / AIDS and encouraged to behave safely.
Read More
T-3781
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Yulianti Wibowo; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotor: Hardinsyah, Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri K. Sudaryo, Ahmad Syafiq, Mardiati Nadjib, Atmarita
D-283
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Sudirman; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Dadan Erwandi, Rizky Zulkarnaen, Ramzy S. Amier
Abstrak: Tesis ini membahas tentang kesesuaian implementasi sistem tanggap darurat terhadap insiden tumpahan minyak di laut disekitar daerah operasi PT.XXX. Kesesuaian implementasi tanggap darurat dalam penelitian ini menggunakan assessment tool berdasarkan National Fire Protection Association (NFPA) 1600 edisi 2013. Hasil assessment yang dilakukan ditemukan 89.10% kesesuaian. Dalam insiden tumpahan minyak elemen pencegahan dalam NFPA 1600 dapat diimplementasikan dengan melakukan penilaian risiko. Tujuan penilaian risiko ini untuk mengetahui tingkat kemungkinan, keparahan dan risiko terjadinya tumpahan minyak di fasilitas PT.XXX. Setelah melakukan penilaian risiko dapat dipersiapkan rencana menanggulangan tumpahan minyak yang merupakan elemen mitigasi dalam NFPA 1600. Penanggulangan tumpahan minyak dapat mempertimbangkan response time sebelum tumpahan sampai ke garis pantai. Dari hasil simulasi dengan menggunakan komputer trajectory modeling diperoleh durasi tercepat tumpahan minyak menuju garis pantai pada bulan Pebruari sampai April 2015 adalah 14.4 jam. Dan kemampuan penanggulangan tumpahan minyak dapat ditentukan berdasarkan jumlah tumpahan minyak dan peralatan yang dimiliki. Dengan menghitung kapasitas skimmer dan temporary storage spill yang dimiliki, maka PT. XXX memiliki kemampuan Tier 1 ≤ 350 bbl.
Kata kunci : Tumpahan Minyak, NFPA, penilaian risiko, penanggulangan, trajectory modeling
Read More
T-4532
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Ardhi Arsala Rahmani; Promotor: Dewi Susanna; Kopromotor: Tris Eryando; Penguji: Besral, Ririn Arminsih Wulandari, R. Azizah, Suwito, Ermi Ndoen
Abstrak:
Latar belakang: Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui vektor nyamuk Anopheles. Kedua organisme tersebut merupakan makhluk hidup dengan daya tahan hidup dan kapasitas yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, termasuk iklim. Oleh karena itu, berubahnya iklim akibat pemanasan global telah diasosiasikan dengan distribusi malaria global. Tujuan: Penelitian ini mengeksplorasi seberapa jauh hubungan antara faktor iklim dan kejadian malaria di kota dan kabupaten di Indonesia selama periode 2000-2020 untuk menginformasikan kebijakan pengendalian malaria yang berketahanan iklim. Metode: Dengan membangun variabel laten atau konstruk iklim yang terdiri dari indikator meteorologi yaitu suhu, curah hujan, kecepatan angin, dan kelembapan relatif yang didapatkan dari data NASA Langley Research Center (LaRC), serta menggabungkan variabel perancu sosiodemografis (pengeluaran rumah tangga, IPM, tingkat urbanisasi) dan geografis (Normalized Difference Vegetation Index, dan topografi), studi ini menawarkan analisis komprehensif tentang asosiasi mereka terhadap kejadian malaria (dari data Malaria Atlas Project dan Kementerian Kesehatan) melalui Structural Equation Modeling (SEM). Hasil: Temuan penelitian menunjukkan asosiasi antara iklim dan malaria. Kendati demikian, analisis Structural Equation Modeling (SEM) yang digunakan penelitian ini menunjukkan bahwa bobot faktor untuk iklim relatif kecil dan menunjukkan bahwa hubungannya tidak substansial dibandingkan dengan variabel lain. Analisis tambahan yang berfokus pada peristiwa cuaca ekstrem, yang diidentifikasi oleh nilai ekstrem indikator iklim, menunjukkan bahwa peristiwa tersebut secara signifikan mempengaruhi kasus malaria. Kesimpulan: Hal ini menekankan pentingnya mempertimbangkan cuaca ekstrem dalam perancangan dan pelaksanaan program pengendalian dan eliminasi malaria. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun kondisi iklim umum memiliki efek langsung yang terbatas pada kejadian malaria, peristiwa cuaca ekstrem memainkan peran penting.

Background: Malaria is a diseases caused by the parasite Plasmodium and spread by a vector, the Anopheles mosquito. The two independent organisms capacity to infect and survival are independently affected by their environmental surroundings, including climate. Therefore, the global warming induced climatic change have previously been associated with the changing global distribution of malaria. Aims: This research explores the extent of the relationship between climatic factors and malaria incidence in cities and regencies in Indonesia over the period 2000-2020 to inform malaria control policies that are climate-resilient. Methods: By constructing a climate construct as latent variable consisting of meteorological indicators such as temperature, precipitation, wind speed, and relative humidity from the NASA Langley Research Center (LaRC), and incorporating sociodemographic confounders (household expenditure, HDI, urbanization rate) and geographic confounders (Normalized Difference Vegetation Index and topography), this study offers a comprehensive analysis of their association with malaria cases (using data from the Malaria Atlas Project and Ministry of Health) through Structural Equation Modeling (SEM). Results: The study findings show an association between climate and malaria, with maximum and average climate constructs showing a negative association with malaria incidence, while minimum climate constructs show a positive association. That being said, the Structural Equation Modeling (SEM) analysis used in this research indicates that the factor loadings for climate are relatively small, indicating that the relationship is not substantial compared to other variables. Additional analysis focusing on extreme weather events, identified by extreme values of climate indicators, shows that these events significantly affect malaria cases. Conclusion: This underscores the importance of considering extreme weather in the design and implementation of malaria control and elimination programs.This research concludes that while general climatic conditions have limited direct effects on malaria incidence, extreme weather events play an important role.
Read More
D-525
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Najma Rienita Marsya;Pembimbing: Triyanti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Dieta Nurrika
Abstrak:
Ultra-processed food atau UPF adalah produk pangan yang telah melalui serangkaian teknik dan proses industri. 38% dari total energi harian anak usia prasekolah berasal dari produk UPF. Konsumsi UPF secara berlebihan diketahui dapat meningkatkan risiko berat badan lebih dan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi UPF pada anak usia 3–6 tahun di Kecamatan Cinere, Kota Depok tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 150. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online yang diisi secara mandiri. Data yang diperoleh akan dianalisis secara univariat dan bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 49,3% anak dilaporkan mengonsumsi UPF tingkat tinggi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status pendidikan orang tua, status pekerjaan ibu, pengetahuan UPF orang tua, penggunaan UPF sebagai regulasi emosi, praktik modeling, praktik pengawasan, dan praktik pembatasan UPF oleh orang tua dengan tingkat konsumsi UPF anak. Modeling, pengawasan, dan pembatasan upf untuk kesehatan oleh orang tua bersifat protektif terhadap konsumsi UPF anak prasekolah, sementara pemberian makan berbasis regulasi emosi dan ibu tidak bekerja merupakan faktor risiko. Intervensi sebaiknya mempromosikan praktik pemberian makan adaptif, bukan hanya peningkatan pengetahuan. Orang tua dapat secara konsisten memberikan contoh makan sehat, aktif memantau asupan anak, dan membatasi akses terhadap UPF tanpa menggunakan makanan sebagai regulasi emosi anak. Program edukasi gizi perlu dikembangkan dengan fokus pada keterampilan praktis seperti membaca label pangan dan strategi pengaturan makan di rumah.

Ultra-processed foods (UPF) are food products that have undergone a series of industrial techniques and processes. UPF accounts for 38% of total daily energy intake among preschool children in Indonesia. Excessive UPF consumption is known to increase the risk of overweight and obesity. This study aimed to identify factors associated with UPF consumption in children aged 3-6 years in Cinere District, Depok City, in 2026. A cross-sectional design was used with a sample size of 150 participants. Data were collected using a self-administered online questionnaire. Data were analyzed using a univariate and bivariate (chi-square) method. The result showed that 49,3% of children were reported to have high levels of UPF consumption. Bivariate analysis revealed significant associations between parents' education level, maternal employment status, parental UPF knowledge, UPF as emotion regulation, parental modeling practices, monitoring practices, and restriction of UPF for health and children’s UPF consumption levels. Parental modeling, monitoring, and restriction for health were protective against preschool children’s UPF consumption, while emotion regulation feeding and non-working mothers were risk factors. Interventions should promote adaptive feeding practices rather than solely increasing knowledge. Parents are advised to consistently model healthy eating during meals, actively monitor children’s intake, and restrict access to UPF without using food as a soothing tool. Health institutions need to develop nutrition education programs that focus on practical skills, such as reading food labels and implementing household food management strategies.
Read More
S-12400
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Natalia Suzana; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Wachyu Suilistiadi, Vetty Yulianty Permanasari, Made Koen Virawan, Ida Ayu Oka Purnama Wati
Abstrak: Keselamatan pasien merupakan hal yang sangat mendasar dalam pelayanankepada pasien di rumah sakit. Sebagai langkah awal dalam upaya meningkatkankeselamatan pasien di rumah sakit adalah dengan mengukur budaya keselamatanpasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepemimpinantransformasional, kerjasama tim, dan kesadaran individual dengan budaya keselamatanpasien di Rumah Sakit Prima Medika (RSPM) Denpasar. Metode yang digunakanadalah metode campuran (mix method). Pendekatan kuantitatif menggunakan jenispenelitian potong-lintang (cross-sectional). Kuesioner dibagikan kepada sampelsebanyak 218 responden. Pada pendekatan kualitatif dilakukan penelusuran lebih lanjutterhadap hal-hal yang dirasa masih belum terjawab, untuk melengkapi penjelasan hasilpenelitian kuantitatif. Analisis statistik menggunakan Structural Equation Modelling(SEM), dengan program STATA-SE 12.1. Wawancara mendalam dilakukan denganDireksi RSPM dan pegawai yang terkait, untuk konfirmasi hasil penelittian. Hasilanalisis menunjukkan variabel independen yang saling berhubungan yaituKepemimpinan Transformasional, Kesadaran Individual, dan Kerjasama Tim, danketiganya berhubungan secara bemakna dengan variabel dependen BudayaKeselamatan Pasien (p<0,001). Variabel kesadaran individual mempunyai hubunganpaling besar (77,8%) dengan budaya keselamatan pasien dibandingkan variabel lainnya.Disarankan untuk meningkatkan budaya keselamatan pasien di RSPM, maka perludiadakan pelatihan keselamatan pasien secara rutin, meningkatkan komunikasi yangefektif, kompetensi dan kewaspadaan terhadap risiko, belajar dari kesalahan, danevaluasi beban kerja, agar tercipta budaya keselamatan pasien yang diinginkan.Kata kunci: budaya keselamatan pasien, structural equation modeling, kepemimpinantransformasional, kerjasama tim, kesadaran individual.
Patient safety is very basic in the service to patients in the hospital. As a firststep in improving patient safety in hospitals is by measuring the patient's safety culture.The purpose of this research is to know the relationship of transformational leadership,teamwork, and individual awareness to patient safety culture at Prima Medika Hospital(RSPM) Denpasar. The method used is mix method. The quantitative approach usescross-sectional research. Questionnaires were distributed to a sample of 218respondents. In a qualitative approach, further searches on things that remainunanswered, to complement the explanation of the results of quantitative research.Statistical analysis using Structural Equation Modeling (SEM), with STATA-SE 12.1program. In-depth interviews were conducted with the RSPM Board of Directors andrelevant employees, to confirm the results of the study. The results of the analysis showthat the independent variables are Transformational Leadership, Individual Awareness,and Team Cooperation, and all three are related significantly to the dependent variableof Patient Safety Culture (p <0.001). The individual consciousness variable had thegreatest relation (77,8%) with patient safety culture compared to other variable. It isrecommended to improve patient safety culture in RSPM, it is necessary to conductroutine patient safety training, improve effective communication, risk competence andawareness, learn from mistakes, and evaluate workload, in order to create desiredpatient safety culture.Keywords: patient safety culture, structural equation modeling, transformationalleadership, teamwork, individual awareness.
Read More
B-1971
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Wendri Herman; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Dewi Susana, Emita Ajis, Ananta Rahayu
Abstrak:
ABSTRAK Tesis ini membahas tentang model kejadian penyakit TB paru berbasisi wilayah di Kabupaten Solok, dimana model teoritis kejadian penyakit TB paru yang terbentuk dilakukan pengujian dengan data TB paru yang ada di Kabupaten Solok. Penelitian ini adalah jenis penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian crossectional. Hasil penelitian setelah dilakukan analisis structural equation modelling pada model menyatakan bahwa model kejadian penyakit TB paru yang paling cocok dengan data adalah model respesifikasi. Penelitian ini menyarankan agar model respesifikasi kejadian penyakit TB paru ini di jadikan sebagai acuan dalam mengambil langkah kebijakan penanggulangan penyakit TB paru di Kabupaten Solok, model kejadian penyakit TB paru ini juga dapat dijadikan sebagai dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut, seperti pendekatan analsis spasial untuk melihat sebaran kasus dengan pengembangan model melalui analisis SEM.

ABSTRAK This thesis discusses a model-based incidence of pulmonary TB disease in Solok region, where the theoretical model of pulmonary TB disease incidence formed testing with pulmonary TB of data that exist in Solok. This research is a kind of quantitative analytical study with cross-sectional research design. The results of the study after the structural equation modeling analysis on the model states that the model of pulmonary TB disease events that best fits the data is the model respesifikasi. This study suggests that the model respesifikasi incidence of pulmonary TB disease is in use as a reference in taking steps pulmonary TB disease prevention policy in Solok, pulmonary TB disease incidence models can also be used as a basis for the development of further research, such as the analysis of spatial approaches to see distribution of cases with the development of the model through SEM analysis.
Read More
T-4135
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Cinansa Muthia Dewani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Iwan Ariawan, Fifi Retiaty, Dede Anwar Musadad
Abstrak:
Stunting balita di Indonesia tercatat sebesar 19,8% pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, turun dari 21,5% pada 2023, namun masih jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 14,2% pada 2029, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Penelitian ini bertujuan menyusun model struktural determinan status gizi pada balita usia 6–23 bulan di Indonesia serta mengidentifikasi prioritas intervensi berdasarkan kontribusi efek total faktor maternal, faktor lingkungan, dan mediator proksimal menggunakan generalized structural equation modeling (GSEM) berbasis data individu SSGI 2024. Desain penelitian adalah potong lintang kuantitatif; dari 68.982 balita usia 6–23 bulan yang telah dikeluarkan observasi dengan konsumsi TTD dan status ASI bernilai nol (non-exposure), penerapan complete case analysis menghasilkan sampel analisis akhir sebanyak 45.443 balita (65,9%). GSEM diestimasi melalui enam persamaan struktural menggunakan Stata dengan prosedur bootstrap 1.000 replikasi berkelompok pada level klaster (PSU), dengan keluarga distribusi dan fungsi taut disesuaikan pada skala pengukuran tiap variabel endogen. Hasil menunjukkan rata-rata z-skor tinggi badan menurut umur (HAZ) sebesar -1,11, mengindikasikan defisit pertumbuhan linear. Berat lahir bayi, ASI eksklusif, dan skor morbiditas berpengaruh signifikan langsung terhadap z-skor berat badan menurut umur (WAZ), sedangkan Minimum Acceptable Diet (MAD) dan sanitasi tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap WAZ, meskipun skor sanitasi berpengaruh positif signifikan terhadap MAD. WAZ selanjutnya berpengaruh sangat kuat dan sangat signifikan terhadap HAZ (β terstandar=0,6124; R²=37,50%), menjadikannya mediator akhir paling dominan dalam model. Berdasarkan dekomposisi efek total, jumlah anak menunjukkan efek total terbesar dan signifikan terhadap HAZ (+0,0157), diikuti konsumsi TTD yang signifikan meski berbesaran sangat kecil (+0,0001), sementara usia ibu (-0,0016) dan skor sanitasi (-0,0141) tidak menunjukkan efek total yang signifikan. Uji sensitivitas full versus partial mediation menemukan bahwa berat lahir bayi dan skor morbiditas memiliki jalur pengaruh langsung yang signifikan terhadap HAZ di luar mediasi penuh oleh WAZ (p<0,001), sehingga asumsi mediasi penuh pada kerangka PPCT tidak sepenuhnya didukung. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi konvergen yang memprioritaskan perencanaan jarak kelahiran, kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, pengendalian morbiditas, dan pemantauan berat badan dini sebagai titik ungkit penurunan stunting di Indonesia.

Childhood stunting in Indonesia stood at 19.8% based on the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI), down from 21.5% in 2023, yet still far from the National Medium-Term Development Plan (RPJMN) target of 14.2% by 2029, particularly during the first 1,000 days of life. This study aimed to develop a structural model of nutritional status determinants among children aged 6–23 months in Indonesia and to identify intervention priorities based on the total effect contribution of maternal factors, environmental factors, and proximal mediators, using generalized structural equation modeling (GSEM) based on individual-level data from the 2024 SSGI. A quantitative cross-sectional design was employed; from 68,982 children aged 6–23 months after excluding observations with zero iron-folic acid (IFA) tablet consumption and zero breastfeeding exposure (non-exposure), complete case analysis yielded a final analytic sample of 45,443 children (65.9%). GSEM was estimated through six structural equations using Stata with a 1,000-replication bootstrap procedure clustered at the primary sampling unit (PSU) level, with the distribution family and link function for each endogenous variable specified according to its measurement scale. Results showed a mean height-for-age z-score (HAZ) of -1.11, indicating a linear growth deficit. Birth weight, exclusive breastfeeding, and morbidity score had significant direct effects on weight-for-age z-score (WAZ), whereas Minimum Acceptable Diet (MAD) and sanitation showed no significant direct effect on WAZ, although sanitation score was significantly and positively associated with MAD. WAZ subsequently exerted a very strong and highly significant effect on HAZ (standardized β=0.6124; R²=37.50%), establishing it as the most dominant terminal mediator in the model. Based on the total effect decomposition, number of children showed the largest significant total effect on HAZ (+0.0157), followed by IFA consumption, which was significant despite its very small magnitude (+0.0001), while maternal age (-0.0016) and sanitation score (-0.0141) showed no significant total effects. A full-versus-partial mediation sensitivity test found that birth weight and morbidity score retained significant direct paths to HAZ beyond full mediation through WAZ (p<0.001), indicating that the full-mediation assumption of the PPCT framework was not fully supported. These findings underscore the importance of convergent interventions prioritizing birth spacing, iron-folic acid supplementation adherence, morbidity control, and early weight monitoring as leverage points for reducing stunting in Indonesia.
Read More
T-7737
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Tri Yunis Miko Wahyono; Promotor: Nuning MK. Masjkuri; Ko-Promotor: Saleha Sungkar, Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: I Made Djaja, Sudijanto Kamso, Wiku Adisasmita, Soewarta Kosen, Toni Wandra
D-272
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Krisna Melinda; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sri Muljati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada siswa di SMP Negeri 28 Jakarta dan SMP Negeri 1 Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2013. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan instrument penelitian berupa kuesioner dan FFQ. Hasil penelitian menunjukkan 50,3% responden sering mengonsumsi buah dan sayur. Hasil bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara frekuensi makan pagi (p-value 0,028; OR 3,054) dan contoh dari orangtua (p-value 0,002; OR 2,785).
 
Analisis multivariat menunjukkan bahwa contoh dari orangtua menjadi faktor yang paling berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur. Walaupun responden sering mengonsumsi buah dan sayur tetapi rata-rata buah dan sayur yang dikonsumsi setiap harinya masih sangat sedikit. Oleh karena itu, dibutuhkan contoh yang baik dari orangtua dalam hal mengonsumsi buah dan sayur serta lebih mengajak anaknya untuk teratur dalam makan pagi.
 

 
The purpose of this study was to determine factors associated with fruit and vegetable consumption among student in SMPN 28 Jakarta and SMPN 1 Jakarta. This study was held in April until May 2013. The method used in this study was cross sectional design with questionnaire and FFQ as an instrument. The result of this study showed that 50,3% respondent often consumed fruit and vegetable. From analyses data used chi-square, there were significant association between breakfast frequency and parents modeling.
 
Multivariate analysis showed that the strongest correlations fruit and vegetable consumption was parents modeling. Eventhough, they often consumed fruit and vegetable, the mean of fruit and vegetable which consumed everyday is so little. So that, parents must be a good models for their teenagers and ask their teenager to breakfast regularly.
Read More
S-8005
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive