Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bekasi. Desa Mekarwangi merupakan salah satu wilayah dengan kasus kusta yang cukup tinggi dan telah ditetapkan sebagai Desa Siaga Bebas Kusta pertama di Kabupaten Bekasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kusta di wilayah kerja Puskesmas Desa Mekarwangi, Kabupaten Bekasi, tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian terdiri atas 75 responden, yaitu 25 kasus kusta dan 50 kontrol dengan perbandingan 1:2. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner serta observasi kondisi lingkungan rumah. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi square, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner. Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian kusta adalah riwayat kontak erat (OR=66,77; 95% CI=10.46—426.14). Hasil ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki riwayat kontak erat dengan penderita kusta memiliki peluang 66,77 kali lebih besar mengalami kusta dibandingkan responden yang tidak memiliki riwayat kontak erat dengan penderita kusta lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa riwayat kontak erat menjadi faktor utama yang berhubungan dengan kejadian kusta di wilayah kerja Puskesmas Desa Mekarwangi. Penguatan pelacakan kontak, active case finding, dan edukasi masyarakat perlu diprioritaskan dalam program pencegahan dan pengendalian kusta.
Leprosy remains a public health problem in Indonesia, including in Bekasi Regency. Mekarwangi Village is one of the areas with a relatively high number of leprosy cases and has been designated as the first Leprosy-Free Alert Village in Bekasi Regency. This study aimed to analyze the risk factors associated with leprosy incidence in the working area of Mekarwangi Public Health Center, Bekasi Regency, in 2026. This study used an analytical observational design with a case-control approach. The study sample consisted of 75 respondents, including 25 leprosy cases and 50 controls with a 1:2 ratio. Data were collected through interviews using questionnaires and observations of household environmental conditions. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with binary logistic regression. The multivariate analysis showed that the dominant factor associated with leprosy incidence was close contact history (OR=66.77; 95% CI=10.46–426.14). This finding indicates that respondents with a history of close contact with leprosy patients had 66.77 times higher odds of developing leprosy than respondents without a history of close contact with leprosy patients. This study concludes that close contact history is the main factor associated with leprosy incidence in the working area of Mekarwangi Public Health Center. Strengthening contact tracing, active case finding, and community education should be prioritized in leprosy prevention and control programs.
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Di Indonesia peningkatan jumlah kasus TBC dari tahun 2020-2022 sejalan dengan peningkatan kasus TBC anak. Peningkatan kasus TBC anak juga terjadi di Kabupaten Nagekeo dengan cakupan penemuan TBC anak di tahun 2022 yaitu 70%. Adanya pasien TBC anak merupakan indikator masih berlangsungnya penularan TBC di suatu komunitas. Anak yang kontak dengan penderita TBC dewasa sangat berisiko untuk terinfeksi TBC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan infeksi TBC pada anak di Kabupaten Nagekeo tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan analisis regresi logistik untuk mengestimasi risiko dengan memanfaatkan data sekunder pada Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo. Dari 239 anak yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC, sebesar 5.44% memiliki riwayat infeksi TBC. Dari hasil analisis multivariat, ditemukan bahwa anak 5 tahun lebih berisiko menderita TBC dibanding anak >5 tahun [prevalence odds ratio (POR) 5,74 (95% CI: 1,66 – 19,85]. Kontak dengan penderita TBC yang memiliki riwayat gagal berobat sebelumnya juga berasosiasi dengan peningkatan risiko infeksi TBC pada anak dibanding dengan kontak dengan pasien TBC baru [POR 5,17 (95%CI : 1,17 – 22,70)]. Upaya promotif dan preventif harus terus dilakukan dalam rangka pencegahan infeksi TBC pada anak dengan meningkatkan komunikasi informasi edukasi (KIE), pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) kepada semua kontak anak terutama 5 tahun serta dukungan kepatuhan pengobatan kepada penderita TBC dan pengawas minum obat (PMO).
Tuberculosis (TB) is a communicable disease that is a major cause of ill health and one of the leading causes of death worldwide. In Indonesia, the increase in the number of TB cases from 2020-2022 is in line with the increase in TB cases in children. An increase in cases of TB in children has also occurred in Nagekeo Regency with a coverage of TB detection in children in 2022, namely 70%. The presence of pediatric TB patients is an indicator of ongoing TB transmission in a community. Children who are in contact with adult TB patients are at high risk of becoming infected with TB. This study aims to determine the factors related to TB infection in children in Nagekeo Regency in 2020-2022. This study used a cross-sectional study design and logistic regression analysis to estimate the risk by utilizing secondary data from the Tuberculosis Information System of the Nagekeo District Health Office. Of the 239 children who had a history of contact with TB sufferers, 5.44% had a history of TB infection. From the results of multivariate analysis, it was found that children 5 years were more at risk of suffering from TB than children >5 years [prevalence odds ratio (POR) 5.74 (95% CI: 1.66 – 19.85). A history of previous treatment failures is also associated with an increased risk of TB infection in children compared to contacts with new TB patients [POR 5.17 (95% CI: 1.17 – 22.70)]. Promotive and preventive efforts must continue to be carried out in the context of preventing TB infection in children by increasing communication, information and education (CIE), providing TB Prevention Therapy (TPT) to all child contacts especially 5 years and supporting treatment adherence to TB patients and drugs taking supervisors (DTS).
Difteri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Garut terdapat 100 kasus difteri dengan CFR sebesar 17,2%. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan status imunisasi dan riwayat kontak dengan kejadian difteri di Kabupaten Garut tahun 2023–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method. Penelitian kuantitatif menggunakan desain case control (1:2) dengan matching individu berdasarkan usia dan tempat tinggal. Jumlah responden sebanyak 141 anak (47 kasus dan 94 kontrol) yang dipilih menggunakan teknik total sampling dari data KLB. Analisis kondisional regresi logistik dilakukan untuk menghitung odds ratio (OR) dan 95% Confidence Interval (CI). Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan terkait menggunakan pendekatan fenomenologi. Sebagian besar anak pada kelompok kasus tidak diimunisasi (74,47%) dan memiliki riwayat kontak dengan penderita difteri (76,6%). anak yang tidak diimunisasi dan memiliki riwayat kontak berisiko 9 kali untuk terkena difteri dibandingkan dengan yang imunisasi lengkap (95%CI: 2,67-31,79). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara status imunisasi dan kejadian difteri (OR=5,82; 95% CI: 2,17–15,61; p=0,0001) sebelum mengontrol kovariat. Setelah mengontrol kovariat, terdapat hubungan antara status imunisasi dan kejadian difteri (OR=3,08; 95% CI: 1,40–23,79; p=0,008). Hasil kualitatif menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, agama, penolakan imunisasi, serta sistem surveilans yang belum optimal sebelum KLB turut memengaruhi kejadian. Diperlukan peningkatan cakupan imunisasi, edukasi masyarakat, serta penguatan sistem surveilans untuk pencegahan difteri di wilayah berisiko tinggi.
Keywords: difteri, status imunisasi, riwayat kontak, mix-method, Kab. Garut
