Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ronal Adi Putra; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Dien Anshari, Muldiasman, Nurlie Azwar
Abstrak: ASI Eksklusif merupakan cara terbaik pemberian makan bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan, namun cakupan pemberian ASI Eksklusif di Wilayah kerja Puskesmas SP II Sekutur Jaya tergolong masih rendah, selain itu masih ada kebiasaan, tradisi dan kepercayaan yang memiliki kecenderungan mengarahkan perilaku ibu untuk tidak mampu memberikan ASI Eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor sosial budaya yang berhubungan dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif. Metode yang digunakan adalah sequencial explanatorymixed methods (kuantitatif dan kualitatif) dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2020 di wilayah kerja Puskesmas SP II Sekutur Jaya. Pengumpulan data kuantitatif menggunakan kuesioner yang diisi melalui wawancara terhadap 106 ibu yang memiliki bayi umur 6-12 bulan. Analisis data menggunakan chi square. Hasil penelitian memperlihatkan proporsi pemberian ASI Eksklusif tergolong masih rendah yaitu sebesar 40,6%. Variabel yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif adalah pengetahuan, sikap, kepercayaan, dukungan keluarga dan tradisi dengan p value < 0,05. Penelitian kualitatif dilakukan untuk memperdalam hasil temuan kuantitatif, teknik pengambilan data melalui FGD dan wawancara mendalam, FGD terdiri dari 2 kelompok ibu yang memberikan ASI Eksklusif dan 2 kelompok ibu yang tidak memberikan ASI Eksklusif, wawancara mendalam dilakukan terhadap 12 orang informan. Hasil temuan kualitatif diketahui faktor sosial yang menghambat pemberian ASI Eksklusif adalah adanya pengaruh yang kuat dari keluarga terutama orang tua yang menganjurkan pemberian madu pada bayi baru lahir dan pemberian makanan tambahan, sedangkan faktor budaya yang menghambat pemberian ASI Eksklusif terkait kepercayaan dan tradisi di masyarakat yaitu adanya anggapan ASI saja tidak cukup, bayi yang menangis walaupun sudah diberikan ASI pertanda bayi masih lapar sehingga perlu diberi makanan tambahan, pemberian makanan sejak dini juga dianggap agar bayi mulai beradaptasi dan mengenal jenis-jenis makanan, bayi yang baru lahir diberikan madu dan adanya pantangan makanan tertentu bagi ibu menyusui. Saran agar petugas kesehatan diberikan pelatihan terkait strategi promosi kesehatan peningkatan pemberian ASI Eksklusif dengan memperhatikan aspek sosial budaya masyarakat, sasaran program ASI Ekslusif tidak hanya ditujukan kepada ibu saja tetapi juga anggota keluarga lainnya (suami dan orang tua), tokoh agama, tokoh mayarakat, kader kesehatan dan pengambil kebijakan
Exclusive breastfeeding is the best way to feed babies from birth until the age of 6 months, but the scope of exclusive breastfeeding in the work area of Puskesmas SP II Sekutur Jaya is still low, in addition there are still habits, traditions and beliefs that have a tendency to direct the behavior of mothers to be unable provide exclusive breastfeeding. This study aims to determine the socio-cultural factors associated with exclusive breastfeeding behavior. The method used is sequential explanatory mixed methods (quantitative and qualitative) with cross sectional research design. The study was conducted in March to June 2020 in the work area of Puskesmas SP II Sekutur Jaya. Quantitative data collection using a questionnaire filled out through interviews with 106 mothers who have babies aged 6-12 months. Data analysis using chi square. The results showed the proportion of exclusive breastfeeding was still relatively low, amounting to 40.6%. Variables related to exclusive breastfeeding are knowledge, attitudes, beliefs, family support and tradition with a p value
Read More
T-5989
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Embun Ferdina Enjaini; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Sandra Fikawati, Kodrat Pramudho, Mellisa Chew
Abstrak: Stunting (pendek) merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Kecamatan Tanjung Agung Palik memiliki persentase stunting tertinggi (47,48%), Desa yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa Sengkuang dan Desa Sawang Lebar, kedua desa tersebut merupakan desa yang paling tinggi kejadian stunting. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis sosial budaya suku Rejang terkait dengan stunting. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif Rapid Ethnografi. Informan utama dalam penelitian ini adalah 4 ibu yang memiliki anak balita stunting dengan ekonomi rendah, 4 ibu yang memiliki balita stunting dengan ekonomi menengah dan 4 ibu yang memiliki anak balita normal dengan ekonomi rendah, yang tinggal di suku Rejang Kecamatan Tanjung Agung Palik yang dipilih dengan metode purposive sampling yang datanya sudah diketahui dari sistem e- PPGBM Puskesmas berdasarkan pengukuran antropometri. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipasi yang dilaksanakan pada bulan April-Juni 2019 di Kecamatan Tanjung Agung Palik. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyebab stunting pada masyarakat suku Rejang disebabkan oleh 1) Lingkungan dan Sanitasi yang buruk, 2) Masih belum melakukan ASI eksklusif, 3) Pemberian MP-ASI dini balita, 4) Pola pemberian makanan yang masih rendah, 5) Pengetahuan masyarakat yang masih rendah, 6) Masih adanya kepercayaan tentang pantang makan pada ibu hamil dan balita. Disarankan agar ada upaya penurunan kepercayaan pantang makan ibu hamil dan anak balita, pengetahuan lingkungan dan sanitasi, mengurangi pemberian makanan prelakteal pada bayi baru lahir, pola pemberian makan dan cakupan pemberian MP-ASI dini melalui penyuluhan rutin dengan melibatkan orang tua balita dan bermitra dengan dukun untuk memberikan edukasi akan pentingnya kesadaran ibu terkait gizi
Read More
T-5720
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Theresia Wara Sakti Silasari; Pembimbing: Anwar Hassan; Penguji: Sandi Iljanto, Dewi Damayanti
S-6799
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lukman Waris Marewa; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Pradana Soewondo, Munsi Lampe; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Hadi Pratomo, Mondastri Korib Sudaryo, Laurentina, Soewarta Kosen, Evi Martha
D-370
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Galio Rudolfo D. Burdames; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dadan Erwandi, Anwar Hasan, Bambang Setiaji,
Abstrak: Merokok adalah penyebab morbiditas dan mortalitas. Perilaku merokok merupakanperilaku yang merugikan, tidak hanya bagi individu perokok tetapi juga bukanperokok. Determinan sosial budaya terkait merokok belum dipahami secara jelas,sehingga bisa lebih bermanfaat dalam penanggulangan tembakau. Untuk itu penelitiakan menyajikan hasil determinan apa saja yang berpengaruh terhadap kebiasaanmerokok di desa dan kota pada daerah produsen rokok.
Read More
T-4531
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiyono; Pembimbing: Suyud Warno Utomo, Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Margareta Maria Sintorini, Enny Wahyu Lestari
Abstrak: Filariasis atau kaki gajah ialah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan melalui gigitan berbagai jenis nyamuk. Penularan filariasis terjadi bila terdapat sumber penular yaitu manusia dan hewan (hospes), parasit (cacing filaria), vektor yaitu nyamuk yang infektif, manusia yang rentan, serta kondisi lingkungan yang sangat potensial untuk perkembang-biakan vektor, perilaku masyarakat yang berisiko lebih sering kontak dengan nyamuk. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor risiko lingkungan dan dinamika penularan dengan kejadian filariasis. Metode penelitian ini adalah penelitian Analitik observasional dengan desain case-control menggunakan pendekatan study retrospektif yaitu untuk menganalisis efek penyakit atau status kesehatan pada saat ini dan mengukur besar faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian filariasis pada masa yang lalu. Jumlah sampel sebanyak 126 responden, dengan perbandingan kasus : kontrol (1:2), dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan Keberadaan rawa (P:0,000;OR:5,200), Keberadaan sawah (P:0,041;OR:8,200), Keberadaan hutan semak (P:0,001;OR:6,460), Jenis Pekerjaan (P:0,000;OR:9,500), Tingkat Pengetahuan (P:0,000; OR:5,399), Kebiasaan keluar rumah malam hari (P:0,000;OR:7,300), Kebiasaan memakai obat anti nyamuk (P:0,004;OR:3,300), Kebiasaan menggunakan kelambu (P:0,000;OR:7,045), Keberadaan vektor (P:0,000;OR:7,263), dengan kejadian Filariasis, dan pada uji regresi logistic menunjukan faktor risiko paling signifikan Keberadaan hutan semak (P:0,002;OR:48,700), Jenis Pekerjaan (P:0,004;OR:39,919), Tingkat Pengetahuan (P:0,013;OR:11,206), Kebiasaan Keluar rumah malam hari (P:0,040;OR: 5,833), Kebiasaan memakai obat anti nyamuk (P:0,005;OR:10,680), dan Keberadaan vektor (P:0,005;OR:12,036) dengan kejadian Filariasis. Kesimpulan ada hubungan faktor risiko lingkungan dan dinamika penularan dengan kejadian Filariasis, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan mengurangi faktor risiko dan edukasi kepada masyarakat tentang upaya promosi dan pencegahan penularan filariasis. Kata kunci: Filariasis, faktor risiko lingkungan, sosial, budaya, dinamika penularan, Kabupaten Kubu Raya. Filariasis or elephantiasis is a chronic infectious disease caused by filarial worm infection and is transmitted through the bite of various types of mosquitoes. Transmission of filariasis occurs when there is a transmitting source of humans and animals (the host), parasites (filari worms), vectors of infective mosquitoes, vulnerable humans, and potential environmental conditions for vector breeding, risky behavior of peoples more frequent contacts With mosquitoes. The purpose of the study was to analyze the environmental risk factors and the dynamics of transmission with filariasis incidence. This research method is observational analytic research with case-control design using retrospective study approach that is to analyze the effect of disease or health status at this time and measure big risk factor which have influence to filariasis incident in the past. The sample counted 126 respondents, with case comparison: control (1: 2), conducted by interview and observation. Chi-square test (P: 0,041, OR: 5,200), Presence of paddy field (P: 0,041, OR: 8,200), Presence of paddy field (P: 0,001, OR: 6,460), Type of Work (P: 0.000; OR: 9,500), Knowledge Level (P: 0,000; OR: 5,399), Nighttime out habits (P: 0,000; OR: 7,300), Habits of using anti-mosquito (P: 0,004; OR: 3,300), Habit (P: 0,000; OR: 7,045), presence of vector (P: 0,000; OR: 7,263), with occurrence of filariasis, and on logistic regression test showed the most significant risk factor Presence of bush forest (P: 0,002; OR: 48,700) (P: 0,004; OR: 39,919), Knowledge Level (P: 0,013; OR: 11,206), Night Out Habits (P: 0,040; OR: 5,833), Habits of using mosquito repellent (P: 0,005; OR: 10,680), and the presence of a vector (P: 0.005; OR: 12,036) with filariasis occurrence. Conclusion there is a relationship of environmental risk factors and the dynamics of transmission with filariasis occurrence, so it is necessary to do prevention efforts by reducing risk factors and education to the public about the promotion and prevention of filariasis transmission. Keywords: filariasis, environmental risk factors, social, culture, dynamics of transmission,Kubu Raya West Kalimantan.
Read More
T-4891
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cici Apriza Yanti; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Besral, Evi Martha; Penguji: Helda, Sudarto Ronoatmodjo, Soewarta Kosen, Erwin, Aida Lydia
Abstrak:

Latar Belakang: Hipertensi merupakan tantangan kesehatan global yang sering dikaitkan dengan rendahnya kepatuhan pasien dalam terapi, dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya. Budaya Minangkabau dengan sistem kekerabatan matrilineal berpotensi mendukung pengelolaan hipertensi melalui peran Bundo Kanduang, mamak, dan sistem Saiyo Sakato. Namun, belum ada model intervensi berbasis budaya yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efek model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pengendalian hipertensi dengan melibatkan keluarga dan kader kesehatan.
Tujuan penelitian untuk mengembangkan dan menguji efek model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dari kekerabatan matrilineal dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pengendalian hipertensi, dengan melibatkan peran aktif keluarga dan kader kesehatan di komunitas Minangkabau.
Metode penelitian ini menggunakan metode Mixed Method Exploratory Sekuensial dalam tiga tahap: kualitatif, pengembangan model, dan uji model. Penelitian kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan FGD pasien hipertensi, keluarga, tokoh adat, dan tenaga kesehatan untuk mengeksplorasi nilai budaya Minangkabau dalam pengelolaan hipertensi. Hasilnya digunakan untuk mengembangkan model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dalam bentuk modul intervensi. Model ini diuji dengan kuasi-eksperimen menggunakan desain pre-test dan post-test pada kelompok intervensi (n=53) dan kontrol (n=106). Analisis data dilakukan dengan General Linear Model Repeated Measures dan Difference in Difference (DiD) Analysis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model dukungan sosial "Saiyo Sakato" secara signifikan meningkatkan pengetahuan (p=0,000<0,05), sikap (p=0,005<0,05), dan perilaku pengendalian hipertensi (p=0,000<0,05) pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Model dukungan sosial “Saiyo Sakato” terbukti memliki efek dalam meningkatkan pengetahuan dengan peningkatan skor pengetahuan 8.15, peningkatan skor sikap 3.66 dan peningkatan skor perilaku pengendalian hipertensi 11.09 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Kesimpulan Model "Saiyo Sakato" efektif dalam meningkatkan pengelolaan hipertensi berbasis komunitas. Implementasinya direkomendasikan untuk program kesehatan di wilayah dengan budaya serupa.


Background: Hypertension is a global health challenge often associated with poor patient adherence to therapy, influenced by social and cultural factors. The Minangkabau culture, with its matrilineal kinship system, has the potential to support hypertension management through the roles of Bundo Kanduang, mamak, and the Saiyo Sakato system. However, no structured culturally based intervention model currently exists. This study aims to develop and evaluate the effectiveness of the Saiyo Sakato social support model in improving knowledge, attitudes, and behaviors related to hypertension management by involving families and community health cadres.
Methods: This study employed a Mixed Method Exploratory approach in three stages: qualitative research, model development, and model testing. The qualitative phase involved interviews and Focus Group Discussions (FGDs) with patients, families, cultural figures, and healthcare workers to explore Minangkabau cultural values in hypertension management. The findings were used to develop the Saiyo Sakato social support model in the form of an intervention module. The model was tested using a quasi-experimental design with pre-test and post-test assessments in an intervention group (n=53) and a control group (n=106). Data analysis was conducted using the General Linear Model Repeated Measures and Difference in Difference (DiD) Analysis.
Results: The Saiyo Sakato model significantly improved knowledge (p=0.000<0.05), attitudes (p=0.005<0.05), and hypertension management behaviors (p=0.000<0.05) in the intervention group compared to the control group. The active roles of Bundo Kanduang and health cadres in supporting hypertension patients contributed significantly to the intervention's success. Additionally, family social support encouraged adherence to therapy and lifestyle modifications. The integration of Minangkabau cultural values into health education enhanced patient and family engagement in hypertension management programs.
Conclusion: The culturally based Saiyo Sakato model is effective in improving community-based hypertension management. Its implementation is recommended for integration into community health programs, particularly in regions with similar social and cultural structures.

 

Read More
D-572
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roza Elmarita; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Zaterti
S-6609
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive