Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Puteri Asma Dewi; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mardiati Nadjib, Adang Bachtiar, Fajar Arianti, Amila Megraini
Abstrak:
Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Tuberkulosis dengan Resistan Obat menjadi tantangan serius bagi pengendalian kasus tuberkulosis di Indonesia. Insiden TB yang meningkat menjadi salah satu dasar diterapkannya deteksi cepat TB menggunkan pemeriksaan biomolekuler yaitu dengan tes cepat molekuler. Dengan adanya alat TCM diharapkan dapat membantu penemuan diagnosa TB yang cepat dan dapat mengidentifikasi resistansi terhadap rifampisin secara simultan, sehingga inisiasi dini terapi yang akurat dapat diberikan dan dapat mengurangi insiden TB secara umum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan case study yang bertujuan melihat bagaimana peristiwa dapat berjalan serta mengeksplorasi isu atau kasus dengan menggunakan kasus tersebut sebagai ilustrasi spesifik. Hasil dari penelitian ini yaitu mengevaluasi pemanfaatan alat dengan tes cepat molekuler dalam penemuan kasus TB resistan obat untuk itu diperlukan komitmen dalam menanggulangi masalah TB Resistan Obat yaitu dengan memastikan akses dan pemanfaatn alat TCM secara optimal dengan membangun sistem trasportasi spesimen, proses pencatatan dan pelaporan sesuai dengan kebijakan serta memfasilitasi pembentukan jejaring rujukan dalam pemanfaatan alat Tes Cepat Molekuler di Puskemas Pancoran Mas Kota Depok. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah perlunya kolaborasi antar pemerintah dan swasta dengan memperkuat District Public Private Mix dalam penemuan kasus serta teritegrasinya proses pencatatan dan pelaporan baik untuk fasilitas kesehatan ke rumah sakit rujukan.

Tuberculosis is a public health problem which is a global challenge. Drug-Resistant Tuberculosis is a serious challenge for controlling tuberculosis cases in Indonesia. The increasing incidence of TB is one of the bases for implementing rapid detection of TB using biomolecular examinations, namely the molecular rapid test. With the existence of TCM tools, it is expected to be able to assist in the rapid discovery of TB diagnoses and to be able to identify resistance to rifampicin simultaneously, so that early initiation of accurate therapy can be given and can reduce the incidence of TB in general. This study uses a qualitative method with a case study approach that aims to see how events can proceed and explore issues or cases by using the case as a specific illustration. The results of this study are evaluating the use of tools with rapid molecular tests in the detection of drug-resistant TB cases, therefore, a commitment is needed in overcoming the problem of drug-resistant TB, namely by ensuring optimal access and use of TCM tools by building a specimen transport system, recording and reporting processes in accordance with policy and facilitate the establishment of a referral network in the use of the Molecular Rapid Test at Puskesmas Pancoran Mas, Depok. The conclusion in this study is the need for collaboration between the government and the private sector by strengthening the District Public Private Mix in case finding and the integration of the recording and reporting processes for both health facilities to referral hospitals.

Read More
T-5847
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helmi Suryani Nasution; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Pandu Riono, Sulistyo, RR. Diah Handayani
Abstrak: Salah satu tantangan dalam program TB resistan obat di Indonesia adalahmeningkatnya trend putus berobat. Di tahun 2009, persentase pasien TB resistan obatyang mangkir adalah sebesar 10,5% dan terus mengalami peningkatan di tahun-tahunselanjutnya. Untuk tahun 2013, angka ini meningkat menjadi 28,7%. Tujuan penelitianini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian putusberobat pada pasien TB resistan obat di Indonesia tahun 2014-2015. Desain penelitianadalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TB resistan obat yangtercatat memulai pengobatan di tahun 2014-2015 dan tercatat di E-TB Manager.Statistik deskriptif, analisis survival dan multivariat digunakan untuk mengetahuipengaruh dari variabel-variabel prediktor terhadap kejadian putus berobat pada kasusTB resistan obat. Dari 2.783 kasus, 30,18% (840) kasus putus berobat. Pada pengobatan< 60 hari, kejadian putus berobat pada pasien berusia 41-84 tahun adalah 1,938 (95%CI,239-3,032) kali lebih cepat dibandingkan dengan kasus yang berumur 15-40 tahun danpada pengobatan ≥ 60 hari, kejadian putus berobat pada usia 15-40 tahun adalah 1,938(95%CI 1,239-3,030) kali lebih cepat dibandingkan dengan kasus yang berumur 41-84tahun. Kejadian putus berobat pada kasus TB resistan obat yang kabupaten/kota tempattinggal pasien sama dengan kabupaten/kota di mana fasyankes TB resistan obat beradaadalah 1,672 (95%CI 1,357-2,062) kali lebih cepat dibandingkan dengan kasus yangberasal dari kabupaten/kota yang berbeda dengan kabupaten/kota di mana fasyankes TBresistan obat berada. Hubungan interaksi (rate-difference modification) antara tempattinggal pasien dengan letak fasyankes rujukan TB resistan obat dan lama interupsipengobatan dengan kejadian putus berobat pada kasus TB resistan obat padapengobatan < 60 hari adalah positif sementara pada pengobatan ≥ 60 hari adalah negatif.Begitu pula hubungan interaksi antara lama interupsi pengobatan dan dukunganpsikososial.Kata kunci:Putus berobat, default, TB resistan obat, TB MDR.
Read More
T-5166
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shena Masyita Deviernur; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Trisari Anggondowati, Sulistyo dan Meilina Farikha
Abstrak:
Proporsi pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO) yang memiliki hasil akhir pengobatan meninggal meningkat di tahun 2021 menjadi 19%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TB RO yang memulai pengobatan tahun 2020-2021 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan hingga Mei 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat dengan menggunakan cox regression. Jumlah sampel penelitian adalah 7.515. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 19,39% pasien meninggal dengan laju kejadian keseluruhan adalah 6 per 10.000 orang hari dan probabilitas kumulatif survival sebesar 73%. Analisis multivariat menunjukkan Faktor – faktor yang mempengaruhi kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia adalah kelompok umur 45-65 (HR 1,519; 95% CI 1,275-1,809) tahun dan 65+ (HR 3,170; 95% CI 2,512-4,001), wilayah fasyankes Jawa-Bali (HR 1,474; 95% CI 1,267-1,714), koinfeksi HIV (HR 3,493; 95% CI 2,785-4,379), tidak mengetahui status HIV (HR 1,655; 95% CI 1,474-1,858) memiliki riwayat pengobatan (HR 1,244; 95% CI 1,117-1,385), tidak konversi ≤3 bulan (HR 4,435; 95% CI 3,920-5,017), paduan pengobatan LTR (1,759; 95% CI 1,559-1,985), kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat 1-30 hari (HR 0,844; 95% CI 0,748-0,953) dan kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat >30 hari (HR 0,318; 95% CI 0,273-0,370).

The proportion of drug-resistant tuberculosis (RO-TB) patients who have the final outcome of treatment will die in 2021 to 19%. The purpose of this study was to determine the risk factors for death of TB RO patients during the treatment period in Indonesia. The design of this study was a retrospective cohort using data on TB RO cases that started treatment in 2020-2021 and had final treatment results until May 2023 and were recorded in the Tuberculosis Information System. The analysis used in this study is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using cox regression. The number of research samples is 7,515. The results of this study showed that 19.39% of patients died with an overall incidence rate of 6 per 10,000 person days and a cumulative probability of survival of 73%. Multivariate analysis shows that the factors that influence the death of TB RO patients during the period of treatment in Indonesia are the age group 45-65 (HR 1.519; 95% CI 1.275-1.809) years and 65+ (HR 3.170; 95% CI 2.512-4.001), health facilities area Java-Bali (HR 1.474; 95% CI 1.267-1.714), HIV coinfection (HR 3.493; 95% CI 2.785-4.379), do not know HIV status (HR 1.655; 95% CI 1.474-1.858) have a history of treatment ( HR 1.244; 95% CI 1.117-1.385), no conversion ≤3 months (HR 4.435; 95% CI 3.920-5.017), mixed treatment LTR (1.759; 95% CI 1.559-1.985), treatment adherence in non-medication group 1 -30 days (HR 0.844; 95% CI 0.748-0.953) and medication adherence in the non-medication group >30 days (HR 0.318; 95% CI 0.273-0.370).
Read More
T-6699
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Esty Febriani; Promotor: Adik Wibowo; Kopromotor: Purwantyastuti, Erlina Burhan; Penguji: Agustin Kusumayati, Syahrizal Syarif, Kholis Ernawati, Trihono, Timothy Mienke
D-334
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive