Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Qania Faradillah Arumdias; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Ismelya
S-10238
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lu`lu Nafisah; Pembimbing: Pandu Riono, Toha Muhaimin; Penguji: Gina Anindyajati, Sarikasih Harefa
Abstrak: Kepatuhan terapi di Indonesia masih dibawah 80% dan dapat berdampak pada peningkatan kejadian infeksi protozoa usus, perkembangan AIDS yang lebih cepat, resistensi obat, kegagalan terapi, dan penularan virus kepada orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan terapi ARV pada ODHA di Klinik Yayasan Angsamerah dan Angsamerah Clinic DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif meliputi pengisian kuesioner dan interview dengan pasien yang menerima ARV dan tenaga kesehatan. Sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling dan diperoleh sampel sejumlah 51 orang. Tingkat pendidikan dilihat berdasarkan lama sekolah dan tingkat kepatuhan dinilai dengan metode laporan diri, hitung jumlah sisa obat, dan viral load. Berdasarkan laporan diri 66,66% ODHA memiliki kepatuhan sedang, berdasarkan hitung jumlah sisa obat 78,43% ODHA memiliki sisa obat kurang dari 3 dosis, dan 90,20% ODHA memiliki viral load yang tidak terdeteksi. Sebagian besar ODHA menempuh pendidikan selama >12 tahun (72,55%) dan tingkat pendidikan terakhir tamat sarjana (64,71%). Hasil analisis menunjukkan proporsi kepatuhan yang lebih tinggi sebesar 4,63% pada ODHA yang menempuh pendidikan >12 tahun dibandingkan dengan ODHA yang menempuh pendidikan ≤12 tahun. Pendidikan yang tinggi berperan memfasilitasi kepatuhan ODHA dalam terapi ARV melalui berbagai mekanisme yaitu ODHA akan memiliki pengetahuan yang lebih baik, mampu memahami informasi dan rekomendasi dari dokter, memiliki daya ingat yang lebih baik, memiliki lebih banyak sumber daya ekonomi termasuk pendapatan yang lebih tinggi, pekerjaan yang lebih aman dan lebih menjamin, dan sarana untuk tinggal di lingkungan yang lebih sehat yang mendukung kesehatan. Hambatan dalam terapi ARV diantaranya jadwal yang sibuk, sering berpergian, takut terungkap statusnya, informasi yang salah tentang ARV, dan penawaran obat selain ARV. Media KIE yang akurat, informatif, dan menarik, hubungan yang baik antara dokter dan pasien, dan sistem atau alat pengingat jadwal minum obat diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kepatuhan terapi ARV pada ODHA.
Read More
T-5412
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Habibi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Sudarto Ronoatmodjo, Arum Ambarsari, Hidayat Nuh Ghazali Djajuli
Abstrak:
Latar Belakang: Loss to follow up (LTFU) pada orang dengan HIV (ODHIV) yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) masih menjadi tantangan dalam meningkatkan retensi pengobatan dan pencapaian target Triple 95 UNAIDS. Di Provinsi DKI Jakarta, cakupan inisiasi ARV telah mencapai 84,8%, namun Kecamatan Cengkareng mengalami peningkatan kasus LTFU dari 236 kasus pada tahun 2023 menjadi 309 kasus pada tahun 2025. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian loss to follow up (LTFU) pada orang dengan HIV (ODHIV) yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) di Puskesmas Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2024–2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa rekapitulasi data pasien HIV dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) 2.1 periode tahun 2024–2025. Sampel penelitian berjumlah 149 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi Cox Hasil: Proporsi ODHIV yang mengalami LTFU sebesar 16,1%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin (p=0,001), status perkawinan (p=0,027), dan kelompok populasi (p=0,019) berhubungan dengan kejadian LTFU. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian LTFU (PR=0,263; 95% CI: 0,118–0,585; p=0,001). Kesimpulan: Jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian LTFU pada ODHIV yang menjalani terapi ARV. Penguatan strategi retensi layanan, khususnya pada pasien laki-laki, perlu dilakukan untuk meningkatkan keberlangsungan terapi ARV dan mendukung pencapaian target Triple 95 UNAIDS.

Background: Loss to follow-up (LTFU) among people living with HIV (PLHIV) receiving antiretroviral therapy (ART) remains a challenge to treatment retention and achieving the UNAIDS Triple 95 targets. In Jakarta Province, ART initiation coverage reached 84.8%; however, LTFU cases in Cengkareng Subdistrict increased from 236 in 2023 to 309 in 2025. Objective: To analyze factors associated with loss to follow-up (LTFU) among people living with HIV (PLHIV) receiving antiretroviral therapy (ART) at Cengkareng Primary Health Center, West Jakarta, during 2024–2025. Methods: This quantitative study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. Secondary data were obtained from the HIV/AIDS Information System (SIHA) 2.1 database for the 2024–2025 period. A total of 149 respondents were included using a total sampling technique. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the Chi-square test, and multivariate analysis using Cox regression. Results: The proportion of PLHIV experiencing LTFU was 16.1%. Bivariate analysis showed that sex (p=0.001), marital status (p=0.027), and population group (p=0.019) were significantly associated with LTFU. Multivariate analysis demonstrated that sex was the most dominant factor associated with LTFU (PR=0.263; 95% CI: 0.118–0.585; p=0.001). Conclusion: Sex was the most dominant factor associated with LTFU among PLHIV receiving ART. Strengthening retention strategies, particularly for male patients, is essential to improve continuity of ART and support the achievement of the UNAIDS Triple 95 targets.
Read More
T-7684
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M.Fadillah Mulya ; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli, Della Ariyani
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pasien HIV/AIDS yang menjalani terapi antiretroviral (ARV), menggambarkan ketahanan hidup berdasarkan analisis survival, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko kematian dan menentukan faktor yang paling dominan di RSUD Provinsi Banten periode 2021–2024. Dari 262 pasien yang diikutsertakan, sebanyak 87 pasien (33,2%) meninggal selama masa follow-up. Analisis Kaplan–Meier menunjukkan ketahanan hidup yang lebih rendah pada pasien dengan CD4 <200 sel/mm³, infeksi oportunistik, dan stadium penyakit lanjut. Pada analisis multivariat menggunakan regresi Cox proportional hazards, CD4 <200 sel/mm³ (aHR = 17,02; IK95%: 3,17–91,27) dan infeksi oportunistik (aHR = 2,11; IK95%: 1,06–4,18) berhubungan secara independen dengan peningkatan risiko kematian. Disimpulkan bahwa CD4 rendah merupakan faktor paling dominan, sehingga deteksi dini, inisiasi ARV tepat waktu, serta pencegahan dan penatalaksanaan infeksi oportunistik perlu menjadi prioritas dalam upaya menurunkan mortalitas HIV di Provinsi Banten.

This study aimed to identify factors associated with mortality among people living with HIV/AIDS (PLWHA) receiving antiretroviral therapy (ART) at a referral hospital in Banten Province during 2021–2024. A retrospective cohort study was conducted using medical records and the SIHA 2.1 database, including 262 patients. Survival analysis was performed using Kaplan–Meier methods and Log-Rank tests, followed by multivariable Cox proportional hazards regression. During follow-up, 87 patients (33.2%) died. Kaplan–Meier curves demonstrated significantly lower survival among patients with CD4 counts <200 cells/mm³ and opportunistic infections. In the adjusted model, CD4 <200 cells/mm³ (aHR = 17.02; 95% CI: 3.17–91.27) and opportunistic infections (aHR = 2.11; 95% CI: 1.06–4.18) were independently associated with increased mortality risk. Low CD4 count was the strongest predictor of death. These findings emphasize the need for early HIV diagnosis, timely ART initiation, and optimal management of opportunistic infections to reduce HIV-related mortality.
Read More
T-7490
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive