Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Isnani Dewi Saefina; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Pratiwi Andayani
S-9613
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rani Dwiharjanti; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumillah Ayuningtyas, Yan Aslian Noor, Ervin Yamani Amouzegar
Abstrak:

Penggunaan obat yang tidak tepat dan berlebihan dapat mengakibatkan pemborosan sumber daya kesehatan, karena sebagian besar pasien membayar obat dengan biaya pribadi sehingga dapat menyebabkan kerugian biaya dan selain itu dapat menyebabkan reaksi obat yang merugikan dan meningkatkan gangguan kesehatan akibat dari efek samping obat. Selain itu, penggunaan antimikroba yang berlebihan dapat meningkatkan resistensi kuman terhadap obat ( untuk jenis antibiotika ) dan meningkatkan gangguan kesehatan akibat dari efek samping obat. Untuk itu WHO merekomendasikan 12 langkah intervensi untuk lebih meningkatkan penggunaan obat secara rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tentang pemahaman penggunaan obat rasional serta penerapan kebijakan RS terhadap 8 dari 12 langkah intervensi yang direkomendasikan oleh WHO untuk lebih meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan POR sangat penting untuk dilaksanakan, dan dipahami secara keseluruhan dan RSUP Persahabatan telah menerapkan 8 dari 12 langkah rekomendasi WHO untuk lebih meningkatkan pengunaan obat rasional sebesar 70,49%.


 Drugs using need to be examined and we also need a correct data of quality and quantity of antibiotic use in order the antibiotic that being recommended by the doctor was safe, rational and effective. Inaccurate drugs using could cost the patient paid more money than he should be and made the patient facing the side effect of the antibiotic that have been given by the doctor, not to mention influencing their own health. Inaccurate antimicrobial using, could increase the resistance of bacteria against the drugs (the antibiotic ones), and also force the patient facing the side effect of the drugs. For those reasons above, WHO recommended 12 steps of intervention promoting rational drugs use. The purpose of this research was to describe the understanding of rational drugs use and also system implementation and hospital policy of eight out of twelve intervention steps recommended by WHO to enhance the rational drugs use. The research result showed that POR policy was so essential, not just to be understood but also need to be properly and entirely done. They already implemented 8 of 12 steps to promoting rational use of medicine and show the number of 70,49%.

Read More
T-3285
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hani Ferrani; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Debbie Latupeirissa
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Penelitian ini membahas tentang penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan kesesuaian penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar berdasarkan rekomendasi WHO dan Permenkes. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan jenis studi deskriptif dan data diperoleh dari penelusuran rekam medis secara retrospektif dan wawancara. Analisis data meliputi karakteristik pasien berdasarkan usia dan indikasi, gambaran penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar berdasarkan jenis, dosis, waktu pemberian, dan cara pemberian, serta kejadian infeksi luka operasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa kejadian bedah sesar paling banyak terjadi pada ibu dengan usia 20 ndash; 35 tahun 73 dengan indikasi terbanyak yaitu pre eklamsia berat PEB 13,33 . Antibiotik profilaksis yang paling banyak digunakan adalah Cefazolin 53,33 , dengan dosis 2 gram 54,67 , diberikan 100 secara intravena, dengan waktu pemberian yang paling sering yaitu > 60 menit 47,33 . Jenis antibiotik yang digunakan 60,66 sesuai. Dosis dan cara pemberian antibiotik 100 sesuai. Waktu pemberian antibiotik 52,67 sesuai. Terdapat 2 kasus ILO 1,33 dari 150 sampel pasien bedah sesar yang mendapatkan antibiotik profilaksis.
 

 
ABSTRACT
 
 
This study discusses the use of prophylactic antibiotics in patients with cesarean section at dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. The purpose of this study was to determine the description and appropriateness of prophylactic antibiotic use in cesarean section patients based on the recommendation of WHO and Permenkes. This study is a non experimental study with descriptive study type and data obtained from retrospective by tracking data from the medical record document of patient who where undergoing cesarean section uring 2016 and interview. Data analysis included patient characteristics by age and indications, use of antibiotic prophylaxis in patients with cesarean sections based on the type, dose, timing and mode of administration, and the incidence of surgical site infection. The result of the research shows that the incidence of cesarean section is most common in women aged 20 35 years 73 with the highest indication of severe pre eclampsia PEB 13.33 . Antibiotic prophylaxis is the most widely used is Cefazolin 53.33 , with a dose of 2 g 54.67 , given intravenously 100 , with the most frequent time of administration that is 60 minutes 47.33 . The type of antibiotic used is 60.66 accordingly. Dosage and method of administration of antibiotics 100 appropriate. The timing of antibiotics is 52.67 appropriate. There are 2 cases of ILO 1.33 of the 150 samples of caesarean section patients receiving prophylactic antibiotics.
Read More
S-9494
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dirgahayuni Sari Agustina; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ascobat Gani, Prastuti Soewondo, Anis Karuniawati; Irma Yunita
Abstrak:
Peresepan antibiotik yang tinggi disertai kurangnya evaluasi penggunaan antibiotik di fasilitas pelayanan kesehatan primer berpotensi terhadap penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Evaluasi antibiotik dapat dilakukan dengan melihat pola konsumsi antibiotik di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. WHO telah menetapkan target minimal 60% konsumsi antibiotik berasal dari kelompok access. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis konsumsi antibiotik di puskesmas di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan klasifikasi antibiotik AWaRe (Access, Watch, dan Reserve) WHO. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan terhadap 44 puskesmas di Provinsi DKI Jakarta. Hasil penelitian menujukkan terjadi peningkatan nilai konsumsi antibiotik di tahun 2022 dibandingkatn tahun 2019. Total konsumsi antibiotik tahun 2022 adalah 1,827 DDD per 1.000 pasien per hari, dengan proporsi sebesar 76,91% berasal dari kelompok access; 10,14% kelompok watch; tidak ada kelompok reserve, dan 12,95% merupakan antibiotik yang tidak diklasifikasikan dalam WHO AwaRe (unclassified). Semua jenis SDM kesehatan puskesmas memiliki peran dalam penggunaan antibiotik, namun belum semuanya mengetahui tentang klasifikasi antibiotik AWaRe WHO. Dukungan pelayanan laboratorium klinik, pelayanan informasi obat diperlukan dalam peresepan antibiotik di puskesmas. Selain itu, pelaksanaan manajemen logistik obat serta pemantauan dan evaluasi juga berperan dalam penggunaan antibiotik di puskesmas. Sementara itu, pengetahuan pasien juga dapat memengaruhi penggunaan antibiotik. Hasil penelitian ini merekomendasikan adanya upaya peningkatan penggunaan antiobiotik yang rasional melalui peningkatan pemahaman SDM kesehatan dan pasien serta pelaksanaan pemantauan dan evaluasi penggunaan antibiotik yang lebih menyeluruh di puskesmas disertai umpan balik.

High antibiotic prescribing combined with a lack of evaluation of antibiotic use in primary healthcare facilities has the potential to lead to inappropriate use of antibiotics. The WHO sets a target of at least 60% antibiotic consumption from the access group in primary healthcare facilities for antibiotic evaluation. This study aimed to analyze antibiotic consumption in community health centers in DKI Jakarta province based on the WHO AWaRe (Access, Watch, and Reserve) classification. The study is non-experimental research with a quantitative and qualitative approach. The study was conducted at 44 community health centers in DKI Jakarta province. The findings indicate that antibiotic consumption will increase in 2022 compared to 2019. Total antibiotic consumption in 2022 is 1,827 DDD per 1,000 patients per day, with a proportion of 76.91% from access group, 10.14% from watch group, no antibiotic in reserve; and 12.95% from antibiotics not classified in WHO AwaRe (unclassified). Every healthcare worker at community health centers has a responsibility regarding the use of antibiotics; however, not all of them are up-to-date on the WHO's AWaRe classification of antibiotics. Community health centers require support in the form of clinical laboratory testing and drug information services to prescribe antibiotics effectively. Furthermore, the effective execution of drug logistics management, as well as the process of monitoring and evaluation, contributes to the use of antibiotics in community health centers. Moreover, the level of understanding possessed by patients may have an impact on the use of antibiotics. The study's findings indicate that improving the comprehension of healthcare worker and patients can lead to a more judicious use of antibiotics. Furthermore, it is imperative to establish a more extensive system for monitoring and evaluating the utilization of antibiotics in community health centers, along with providing feedback.
Read More
T-7109
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evelina Endang Nurjaman; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Margareth Aryani Santoso, Anhari Achadi
Abstrak:
Pendahuluan: Peresepan antibiotik pra-pembedahan (profilaksis) merupakan penggunaan antibiotik yang sering dijumpai di rumah sakit dan pengendalian penggunaannya sangat penting namun belum banyak diteliti di Indonesia. Berdasarkan data dari surveillans audit bundles pencegahan Infeksi Daerah Operasi di RS X periode Oktober-Desember 2023, didapatkan kesesuaian jenis antibiotik profilaksis maupun ketepatan waktu pemberian antibiotik profilaksis 30-60 menit sebelum insisi masih di bawah 60%. Metodologi: Penelitian dilakukan untuk menganalisis kesesuaian dan rasionalitas peresepan antibiotik profilaksis serta melakukan evaluasi penyebab ketidaksesuaian. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur. Hasil: Penelitian ini didapat capaian kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis masih kurang dari 60%.  Dari analisis faktor yang mempengaruhi perilaku didapatkan kapabilitas dan kesempatan sudah baik namun kekhawatiran risiko infeksi dan keluarah hasil operasi mempengaruhi motivasi untuk memberikan antibiotik profilaksis secara bijak. Kesimpulan: Capaian kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis masih rendah (< 60%) dengan variasi yang tinggi karena belum tersedianya prosedur detail. Ketidakpatuhan tertinggi ditemukan pada kelompok ortopedi terkait indikasi dan durasi pemberian. Meskipun tingkat kepatuhan rendah, tidak ditemukan kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO) pada seluruh subjek. Ketidakpatuhan dokter dipicu oleh kekhawatiran terhadap hasil operasi dan skeptisisme atas efektivitas antibiotik lini pertama, yang lebih memprioritaskan keamanan pasien jangka pendek dibandingkan risiko resistensi antimikroba. Oleh karena itu, pimpinan rumah sakit perlu melakukan intervensi secara sistematis dan menerapkan pemantauan menyeluruh untuk meningkatkan peresepan antibiotik profilaksis sesuai standar.

Introduction: The use of presurgical antibiotics is common, but adherence to guideline is low. Improper use can lead to antibiotic resistance. A preliminary study was conducted at Hospital X between October and December 2023. The study found that the correct type of antibiotic and the timing of administration (30-60 minutes before incision) were both below 60% adherence. Research objectives is to analyze the appropriateness and rationality of pre-surgical antibiotics prescriptions and to evaluaste the causes of noncompliance. The research used a mixed-methods approach. Descriptive statistics to analyze prescribing patterns. Semi-structured interviews to understand the reasons behind prescribing practices. Research finding: Adherence to prescribing guidelines for antibiotic prophylaxis was less than 60%. While doctors had the capability and opportunity to prescribe correctly, concerns about infection risk and surgical outcomes influenced their motivation, leading to potentially less judicious use of antibiotics. The study concludes that compliance with prophylactic antibiotic prescribing remains low (< 60%), characterized by significant practice variation due to the absence of detailed procedural guidelines. The lowest compliance was observed within the orthopedic group regarding indications and duration of administration. Despite low adherence, no Surgical Site Infections (SSI) were reported across all subjects. Clinician non-compliance is driven by concerns over surgical outcomes and skepticism regarding the efficacy of first-line antibiotics, prioritizing immediate patient safety over the long-term risk of antimicrobial resistance. Consequently, hospital leadership must implement systematic interventions and comprehensive monitoring to align prophylactic antibiotic prescribing with established standards.  Key words: antibiotic prophylaxis, appropriateness, rationality,  behaviour
Read More
B-2562
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Okta Wismandanu; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah Masjkuri; Penguji: Helda, Renti Mahkota, Selma Arsit Selto Siahaan
Abstrak: Praktik swamedikasi antibiotik dapat menimbulkan masalah kesehatanmasyarakat seperti munculnya efek samping yang tidak diinginkan akibatkesalahan pengobatan serta masalah resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui prevalensi swamedikasi antibiotik pada rumah tangga yangmenyimpan obat di Indonesia serta faktor-faktor yang berhubungan denganswamedikasi antibiotik di Indonesia.Studi ini merupakan studi cross sectional yang diambil dari Riskesdas 2013.Analisis dilakukan dengan cox regresi untuk mengetahui nilai hubungan (PRR)antara area tempat tinggal, waktu tempuh ke fasilitas kesehatan, kepemilikanasuransi dan status ekonomi dengan praktik swamedikasi antibiotik pada rumahtangga di Indonesia.Prevalensi praktik swamedikasi antibiotik pada rumah tangga yang menyimpanobat di Indonesia adalah 57,3%. Berdasarkan analisis multivariate, faktor-faktoryang berhubungan dengan praktik swamedikasi antibiotik adalah area tempattinggal, jarak ke fasilitas kesehatan dan kepemilikan asuransi kesehatan meskipunnilai hubungan ini sangat kecil dengan nilai PRR 0,894 (95% CI 0,876-0,912).0,931, 95% CI 0,931-0,969 dan 1,085, 95% CI 1,063-1,107) secara berturut-turut.Status ekonomi rumah tangga tidak berhubungan dengan praktik swamedikasiantibiotik.Pentingnya upaya peningkatan pengetahuan mengenai obat dan penggunaannyasecara tepat perlu dilakukan terutama untuk masyarakat agar perilaku praktikswamedikasi antibiotik tidak lagi dilakukan.Kata Kunci: Swamedikasi, Antibiotik, RISKESDAS, Cross Sectional, CoxRegresi.
Read More
T-4582
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dora Handyka; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Purnawan Junadi, Pujiyanto, Dettie Yulianti, Sonny Hermawati
Abstrak: Faktor yang berhubungan dengan pasien berkontribusi terhadap meningkatnya prevalensi resistensi antibiotik. Hal tersebut menuntut dilakukan suatu upaya peringatan akan bahaya resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap respon penerimaan pesan gambar peringatan bahaya resistensi antibiotik yang dikembangkan dari Extended Parallel Process Model (EPPM). 3 buah gambar peringatan yang berisi tentang resistensi antibiotik dapat menyebabkan kematian, makin lamanya penyembuhan luka operasi, dan hari perawatan di rumah sakit yang bertambah lama dipilih untuk diteliti, dan dengan desain potong lintang yang digunakan untuk melihat pengaruh faktor usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan terhadap respon penerimaan pesan dari ketiga gambar tersebut pada 402 orang responden. Hasil yang diperoleh adalah ketiga gambar tersebut menghasilkan komponen ancaman yang tinggi dan komponen efikasi yang tinggi pula. Respon penerimaan pesan yang dihasilkan adalah baik, sehingga dianggap efektif menyampaikan informasi mengenai bahaya resistensi antibiotik kepada masyarakat. Gambar peringatan mengenai bahaya resistensi antibiotik dapat mengakibatkan makin lamanya penyembuhan luka operasi menjadi gambar yang paling efektif dibanding gambar peringatan lainnya. Faktor yang meningkatkan respon penerimaan pesan yang baik mengenai bahaya resistensi antibiotik adalah kelompok usia dewasa awal, jenis kelamin perempuan, pendidikan tinggi dan yang tidak bekerja. Kata Kunci: gambar peringatan, resistensi antibiotik, EPPM, ancaman, efikasi. Patient-related factors contribute to the increased prevalence of antibiotic resistance. It requires an attempt to warn of the dangers of antibiotic resistance. This study aims to analyze the factors that influence the response of receiving the antibiotic resistance warning picture message developed from the Extended Parallel Process Model (EPPM). 3 warning images containing antibiotic resistance can cause death, increasing length of wound healing, and lengthy hospitalization days selected for study, and with cross-sectional design used to examine the effect of age, sex, education and work on the response of receiving messages from these three images on 402 respondents. The results obtained are the three images produce high threat components and high efficacy components as well. The response of received messages generated is good, so it is considered effective to convey information about the danger of antibiotic resistance to the community. A warning picture of the dangers of antibiotic resistance may result in the longer duration of surgical wound healing being the most effective image than any other warning image. Factors that improve the response of good messages about the dangers of antibiotic resistance are the early adult age group, female gender, college education and non-working. Keywords: pictorial warning, antibiotic resistance, EPPM, threat, efficacy
Read More
T-4908
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Echa Aisyah; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Sandi Iljanto, Rustandi, Yanyan Bihantoro
T-5029
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sauzan Pratiwi; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Atik Nurwahyuni, Wiwiet Nurwidya Hening
S-7654
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhanuddin; {embimbing: R. Sutiawan; Penguji: Yovsyah, Donald Sibarani
Abstrak: Antibiotik merupakan obat yang paling banyak digunakan dan sekitar 40-62%antibiotik digunakan secara tidak tepat antara lain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepatakan berdampak terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik, morbiditas dan mortalitas dan juga berdampak negatif terhadap ekonomi dan sosial. Salah satu kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pemantauanpenggunaan antibiotik dengan menggunakan indikator peresepan berdasarkanindikator penggunaan obat yang telah dikembangkan oleh WHO. Di Indonesia,pemantauan penggunaan antibiotik di puskesmas dilakukan terhadap ISPA nonpneumonia dan diare non spesifik. Penelitian ini dilakukan untuk membuat modelsistem informasi yang dapat mendukung manajemen puskesmas dalam memantaupenggunaan antibiotik secara terus menerus.Penelitian dilakukan menggunakan desain penelitian kualitatif denganmenerapkan pendekatan model prototyping dalam membangun model sisteminformasi. Penelitian ini menghasilkan rancangan basis data dan desain prototypedari sistem informasi pemantauan penggunaan antibiotik bagian farmasi puskesmas. Sistem Informasi Pemantauan Penggunaan Antibiotik Puskesmas dapat diimplementasikan secara bertahap disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan puskesmas. Pada tahap pertama dapat dikembangkan pada ruang obatdengan resep sebagai sumber data dan proses evaluasi dilakukan dengan menganalisis dokumen rekam medis jika indikator penggunaan antibiotik dipuskesmas telah melebihi standar yang telah ditetapkan.
Kata kunci: Antibiotik, Informasi, Pemantauan, Puskesmas, Sistem
Antibiotics are the drugs most widely used and about 40-62% of antibiotics areused inappropriately, among others, to diseases that actually do not requireantibiotics. Improper use of antibiotics will affect the occurrence of bacterialresistance to antibiotics, morbidity and mortality as well as a negative impact oneconomic and social high. One of the policies to address the problem ofinappropriate antibiotic use is the monitoring of the use of antibiotics by usingindicators based on indicators of the use of prescription drugs that have beendeveloped by WHO. In Indonesia, monitoring of antibiotic use in health centerscommitted against non-pneumonia ARI and non-specific diarrhea.This study was done to make the design of information systems in health centersmonitoring the use of antibiotics that can be used to facilitate the health centermanagement in evaluating the use of antibiotics.The study was conducted using a qualitative research design to prototypingapproach to build a model of the information system model. This study resulted inthe design of databases and the design prototype of information systemmonitoring antibiotic use in health center pharmacy. Antibiotic Usage MonitoringInformation System Health Center can be implemented gradually adapted to theconditions and the ability of health centers. In the first stage can be developed onthe prescription drug space as a source of data and evaluation process carried outby analyzing the document in the medical record if the indicator antibiotic use inhealth centers has exceeded the established standards.
Key words: Antibiotic, Information, Monitoring, Primary Health Centre, System
Read More
S-8341
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive