Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Isnani Dewi Saefina; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Pratiwi Andayani
S-9613
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hani Ferrani; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Debbie Latupeirissa
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Penelitian ini membahas tentang penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan kesesuaian penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar berdasarkan rekomendasi WHO dan Permenkes. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan jenis studi deskriptif dan data diperoleh dari penelusuran rekam medis secara retrospektif dan wawancara. Analisis data meliputi karakteristik pasien berdasarkan usia dan indikasi, gambaran penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar berdasarkan jenis, dosis, waktu pemberian, dan cara pemberian, serta kejadian infeksi luka operasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa kejadian bedah sesar paling banyak terjadi pada ibu dengan usia 20 ndash; 35 tahun 73 dengan indikasi terbanyak yaitu pre eklamsia berat PEB 13,33 . Antibiotik profilaksis yang paling banyak digunakan adalah Cefazolin 53,33 , dengan dosis 2 gram 54,67 , diberikan 100 secara intravena, dengan waktu pemberian yang paling sering yaitu > 60 menit 47,33 . Jenis antibiotik yang digunakan 60,66 sesuai. Dosis dan cara pemberian antibiotik 100 sesuai. Waktu pemberian antibiotik 52,67 sesuai. Terdapat 2 kasus ILO 1,33 dari 150 sampel pasien bedah sesar yang mendapatkan antibiotik profilaksis.
 

 
ABSTRACT
 
 
This study discusses the use of prophylactic antibiotics in patients with cesarean section at dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. The purpose of this study was to determine the description and appropriateness of prophylactic antibiotic use in cesarean section patients based on the recommendation of WHO and Permenkes. This study is a non experimental study with descriptive study type and data obtained from retrospective by tracking data from the medical record document of patient who where undergoing cesarean section uring 2016 and interview. Data analysis included patient characteristics by age and indications, use of antibiotic prophylaxis in patients with cesarean sections based on the type, dose, timing and mode of administration, and the incidence of surgical site infection. The result of the research shows that the incidence of cesarean section is most common in women aged 20 35 years 73 with the highest indication of severe pre eclampsia PEB 13.33 . Antibiotic prophylaxis is the most widely used is Cefazolin 53.33 , with a dose of 2 g 54.67 , given intravenously 100 , with the most frequent time of administration that is 60 minutes 47.33 . The type of antibiotic used is 60.66 accordingly. Dosage and method of administration of antibiotics 100 appropriate. The timing of antibiotics is 52.67 appropriate. There are 2 cases of ILO 1.33 of the 150 samples of caesarean section patients receiving prophylactic antibiotics.
Read More
S-9494
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evelina Endang Nurjaman; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Margareth Aryani Santoso, Anhari Achadi
Abstrak:
Pendahuluan: Peresepan antibiotik pra-pembedahan (profilaksis) merupakan penggunaan antibiotik yang sering dijumpai di rumah sakit dan pengendalian penggunaannya sangat penting namun belum banyak diteliti di Indonesia. Berdasarkan data dari surveillans audit bundles pencegahan Infeksi Daerah Operasi di RS X periode Oktober-Desember 2023, didapatkan kesesuaian jenis antibiotik profilaksis maupun ketepatan waktu pemberian antibiotik profilaksis 30-60 menit sebelum insisi masih di bawah 60%. Metodologi: Penelitian dilakukan untuk menganalisis kesesuaian dan rasionalitas peresepan antibiotik profilaksis serta melakukan evaluasi penyebab ketidaksesuaian. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur. Hasil: Penelitian ini didapat capaian kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis masih kurang dari 60%.  Dari analisis faktor yang mempengaruhi perilaku didapatkan kapabilitas dan kesempatan sudah baik namun kekhawatiran risiko infeksi dan keluarah hasil operasi mempengaruhi motivasi untuk memberikan antibiotik profilaksis secara bijak. Kesimpulan: Capaian kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis masih rendah (< 60%) dengan variasi yang tinggi karena belum tersedianya prosedur detail. Ketidakpatuhan tertinggi ditemukan pada kelompok ortopedi terkait indikasi dan durasi pemberian. Meskipun tingkat kepatuhan rendah, tidak ditemukan kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO) pada seluruh subjek. Ketidakpatuhan dokter dipicu oleh kekhawatiran terhadap hasil operasi dan skeptisisme atas efektivitas antibiotik lini pertama, yang lebih memprioritaskan keamanan pasien jangka pendek dibandingkan risiko resistensi antimikroba. Oleh karena itu, pimpinan rumah sakit perlu melakukan intervensi secara sistematis dan menerapkan pemantauan menyeluruh untuk meningkatkan peresepan antibiotik profilaksis sesuai standar.

Introduction: The use of presurgical antibiotics is common, but adherence to guideline is low. Improper use can lead to antibiotic resistance. A preliminary study was conducted at Hospital X between October and December 2023. The study found that the correct type of antibiotic and the timing of administration (30-60 minutes before incision) were both below 60% adherence. Research objectives is to analyze the appropriateness and rationality of pre-surgical antibiotics prescriptions and to evaluaste the causes of noncompliance. The research used a mixed-methods approach. Descriptive statistics to analyze prescribing patterns. Semi-structured interviews to understand the reasons behind prescribing practices. Research finding: Adherence to prescribing guidelines for antibiotic prophylaxis was less than 60%. While doctors had the capability and opportunity to prescribe correctly, concerns about infection risk and surgical outcomes influenced their motivation, leading to potentially less judicious use of antibiotics. The study concludes that compliance with prophylactic antibiotic prescribing remains low (< 60%), characterized by significant practice variation due to the absence of detailed procedural guidelines. The lowest compliance was observed within the orthopedic group regarding indications and duration of administration. Despite low adherence, no Surgical Site Infections (SSI) were reported across all subjects. Clinician non-compliance is driven by concerns over surgical outcomes and skepticism regarding the efficacy of first-line antibiotics, prioritizing immediate patient safety over the long-term risk of antimicrobial resistance. Consequently, hospital leadership must implement systematic interventions and comprehensive monitoring to align prophylactic antibiotic prescribing with established standards.  Key words: antibiotic prophylaxis, appropriateness, rationality,  behaviour
Read More
B-2562
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vandra Yovano, Pembimbing: Dumilah Ayuningtyhas; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Vetty Yulianty Permanasari, Dini Handayani
Abstrak: Peningkatan jumlah pasien periode 2014-2015 yang disebabkan olehimplementasi kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional, diikuti dengan peningkatankejadian Infeksi Luka Operasi (ILO) di RS. Awal Bros Pekanbaru. Data dariKomite Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit menunjukkan peningkatanangka ILO pada 2012-2013 dari 0 menjadi 8 kejadian pada 2014 dan 9 kejadiandi 2015. Dari kasus ILO tersebut, jumlah terbanyak terdapat pada kasus pasca-apendiktomi sebanyak tujuh kejadian, kemudian berturut-turut diikuti kasus batuginjal empat kejadian dan tiga kejadian pada kasus seksio sesaria.Penelitian bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengankejadian ILO apendiktomi pada periode tersebut, dilakukan dengan pendekatankualitatif memanfaatkan data retrospektif sebagai analisis studi kasus.Pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis data sekunder dari rekammedis dilengkapi wawancara mendalam mengacu pada pedoman wawancara.Hasil analisis mendapatkan faktor kepatuhan pemberian antibiotikprofilaksis berkontribusi pada lima kejadian infeksi luka operasi. Faktor yangberkaitan dengan ketepatan teknik aseptik antiseptik terdapat pada semua kejadianinfeksi luka operasi, demikian pula untuk faktor kesesuaian waktu operasididapatkan pada lima kejadian infeksi luka operasi. Dari penelusuran akarmasalah dapat disimpulkan, persoalan penjadwalan operasi dan standaroperasional prosedur adalah masalah pokok. Pembenahan pada penjadwalanoperasi dan perbaikan pada standar operasional prosedur dapat menjadi solusiuntuk menurunkan kejadian infeksi luka operasi apendiktomi.Kata kunci : ILO, apendiktomi, antibiotik profilaksis, waktu operasi
Increasing the number of patients the period 2014-2015 due to theimplementation of the National Health Insurance policy, followed by an increasedincidence of wound infection Operations (ILO) in RS. Awal Bros Pekanbaru.Data from the Committee on Hospital Infection Control Committee showedincreased rates of ILO in 2012-2013 from 0 to 8 events in 2014 and 2015. Of thenine events at the ILO cases, the highest number is the case of post-apendiktomiseven events, then a row followed by four incident cases of kidney stones andthree events in the case of a cesarean section.The study aims to determine the factors associated with the occurrence ofILO apendiktomi in the period, carried out with a qualitative approach utilizing aretrospective data analysis of case studies. The data collection is done byanalyzing secondary data from medical records include in-depth interviewsreferring to the interview guidelines.The results of the analysis get prophylactic antibiotics compliance factorscontribute to the incidence of surgical site infection five. Factors related to theaccuracy of antiseptic aseptic techniques contained in all occurrences of surgicalwound infections, as well as to the suitability of the operating time factor obtainedin five events wound infections. From the search root of the problem can besummed up, the issue of scheduling of operations and standard operatingprocedure is the main problem. Settling on the scheduling of operations andimprovements in the standard operating procedures can be a solution to reduce theincidence of surgical site infection apendiktomi.Keywords: ILO, appendectomy, prophylactic antibiotics, surgery time
Read More
B-1775
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Echa Aisyah; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Sandi Iljanto, Rustandi, Yanyan Bihantoro
T-5029
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive