Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nesya Gustin; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Asih Setiarini, Khoirul Anwar
Abstrak:
Read More
Kue kering adalah jenis kue yang memiliki tekstur renyah karena memiliki sedikit kadar air; umumnya dibuat dengan menggunakan bahan-bahan seperti tepung terigu, gula pasir, margarin, dan telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk kue kering bebas gluten dan bebas produk hewani yang menggunakan bahan dasar tepung ubi jalar ungu dan tepung kedelai, agar masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam mengonsumsi makanan yang mengandung gluten dan/atau produk hewani bisa tetap menikmati kue kering bercitarasa mirip dengan kue kering konvensional yang umum beredar di masyarakat. Adapun formulasi yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan oleh perbandingan tepung ubi jalar ungu dan tepung kedelai sebagai bahan utama kue kering bebas gluten dan bebas produk hewani. Formulasi-formulasi tersebut adalah: R1 3:9; R2 6:6; dan R3 9:3, selain itu terdapat R4 sebagai formulasi kontrol dengan resep yang dibuat seperti kue kering konvensional yang umum beredar di masyarakat. Analisis yang dilakukan adalah uji hedonik, data yang diperoleh dilakukan uji statistik ANOVA, dan jika terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji DMRT dengan tingkat kepercayaan 5%. Analisis juga dilakukan terhadap kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat pada kue kering dengan formulasi terpilih. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesukaan panelis terhadap R1, R2, R3 dan R4 berturut-turut adalah 3,09; 3,19; 3,45; dan 3,99 yang berarti R3 memiliki nilai tertinggi setelah R4 yang merupakan formulasi kontrol. Formulasi R3 menjadi formulasi terpilih dengan kadar air 6,91%, kadar abu 2,59%, kadar karbohidrat 61,59%, kadar lemak 21,31%, dan kadar protein 7,61%.
Cookies are a type of snack that have a crispy texture due to their low moisture content. They are typically made using ingredients such as wheat flour, granulated sugar, butter, and eggs. This study aims to develop gluten-free and animal-free cookies using purple sweet potato flour and soy flour, allowing those with limitations in consuming gluten and/or animal products to still be able to enjoy cookies that taste similar to conventional ones. The formulations used in this study differ based on the ratio of purple sweet potato flour to soy flour as the main ingredients for the gluten-free and animal-free cookies. The formulations are as follows: R1 3:9; R2 6:6; and R3 9:3, with R4 as the control formulation, following a recipe similar to conventional cookies commonly found in society. Hedonic testing was conducted, and the obtained data were subjected to ANOVA statistical analysis. If significant differences were found, Duncan's Multiple Range Test (DMRT) was performed at a 5% confidence level. Analysis was also conducted on the moisture content, ash content, protein content, fat content, and carbohydrate content of the selected formulation of cookies. The results of the study showed that the preference levels of the panelists for R1, R2, R3, and R4 were 3.09, 3.19, 3.45, and 3.99, respectively. This indicates that R3 had the highest score after R4, which was the control formulation. Formulation R3 was selected with a moisture content of 6.91%, ash content of 2.59%, carbohydrate content of 61.59%, fat content of 21.31%, and protein content of 7.61%.
S-11349
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nursang; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Read More
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan hambatan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku hiperaktif. Prevalensi ASD terus meningkat secara global, dengan sekitar 0,6-0,75% populasi dunia mengalami ASD tahun 2000-2012 dan terus meningkat hingga mencapai 1% pada tahun 2022, sedangkan di Indonesia sendiri, prevalensi ASD diperkirakan sekitar 1% atau 10 kasus per 1.000 penduduk. Jabodetabek merupakan salah satu wilayah dengan jumlah anak autisme yang cukup besar serta didukung oleh keberadaan sekolah inklusi dan pusat terapi. Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan dalam pengelolaan anak autisme adalah diet bebas gluten dan kasein (GFCF). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan diet GFCF pada anak autisme di wilayah Jabodetabek. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pemgambilan data dilakukan melalui google form kuesioner yang disebar secara online kepada orang tua anak autisme. Penelitian dilakukan pada 93 responden dengan metode total sampling. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 75,3% responden memiliki penerapan diet GFCF yang baik. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan informasi melalui layanan terapi (p=0,009; OR=0,273; 95% CI=0,100-0,746) dengan penerapan diet GFCF. Sementara itu, tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan ibu, tingkat pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, dan keikutsertaan dalam komunitas anak autisme (p>0,05) dengan penerapan diet GFCF. Namun, terdapat kecenderungan bahwa orang tua yang mengikuti komunitas anak autisme memiliki proporsi penerapan diet GFCF yang lebih baik dibandingkan yang tidak mengikuti komunitas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi dan pendampingan terkait penerapan diet GFCF melalui tenaga kesehatan, dan komunitas orang tua agar penerapan diet GFCF dapat dilakukan secara lebih konsisten.
Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder characterized by impairments in social interaction and communication, and hyperactive behavior. The prevalence of ASD continues to increase globally, with approximately 0.6–0.75% of the world's population experiencing ASD between 2000 and 2012, and this figure is expected to reach 1% by 2022. In Indonesia, the prevalence of ASD is estimated at around 1%, or 10 cases per 1,000 people. Greater Jakarta (Jabodetabek) is one of the areas with a significant number of children with autism, supported by the presence of inclusive schools and therapy centers. One approach widely applied in the management of children with autism is the gluten-free and casein-free (GFCF) diet. Therefore, this study aims to analyze factors related to the implementation of the GFCF diet in children with autism in the Greater Jakarta area. This study is a quantitative study with a cross-sectional design. Data collection was carried out through a Google form questionnaire distributed online to parents of children with autism. The study was conducted on 93 respondents using a total sampling method. The data obtained were then analyzed univariately and bivariately. The results found that 75.3% of respondents had good implementation of the GFCF diet, while 24.7% of respondents had poor implementation of the GFCF diet. The results of the chi-square test showed a significant relationship between the use of information through therapy services (p = 0.009; OR = 0.273; 95% CI = 0.100-0.746) and the implementation of the GFCF diet. Meanwhile, there was no significant relationship between maternal education level, maternal employment level, maternal knowledge, and participation in a community for children with autism (p>0.05). However, there was a trend that parents who participated in a community for children with autism had a better proportion of GFCF diet implementation than those who did not. Therefore, increased education and support regarding the implementation of the GFCF diet through healthcare professionals and parent communities is needed to ensure more consistent implementation of the GFCF diet.
S-12387
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shafira Ramadhani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Susi Desminarti
Abstrak:
Read More
Fenomena globalisasi mendorong pekerja, terutama di wilayah perkotaan, untuk mengadopsi gaya hidup padat dan serba cepat sehingga tren permintaan terhadap makanan siap konsumsi seperti snack bar terus meningkat setiap tahunnya. Akan tetapi, mayoritas snack bar komersial yang diperjualbelikan di pasaran masih memiliki kandungan gula dan lemak tinggi sedangkan serat dan protein rendah sehingga berkontribusi terhadap peningkatan risiko obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi snack bar berbahan dasar isolat protein kacang polong dan kacang hitam sebagai bentuk pencegahan terhadap obesitas. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan pendekatan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktorial terhadap empat formulasi snack bar. Uji hedonik dilakukan terhadap 43 panelis tidak terlatih dewasa muda (18—29 tahun) serta dianalisis menggunakan uji Friedman dan post hoc menggunakan Wilcoxon-Signed Rank dengan koreksi Bonferroni. Hasil uji Friedman menunjukkan bahwa lima dari enam parameter mutu sensori memiliki perbedaan penerimaan hedonik di antara empat formulasi snack bar yang sangat signifikan (p<0,001), yaitu rasa, warna, aroma, tekstur, dan keseluruhan. Dengan demikian, diperoleh formulasi snack bar dengan tingkat penerimaan mutu hedonik keseluruhan tertinggi, yaitu formulasi R3 (3,60). Hasil analisis zat gizi menunjukkan bahwa setiap sajian (45 g) formulasi R3 mengandung 132,90 kkal energi, 18,95% kadar air, 6,21 gram karbohidrat, 6,52 gram lemak, 12,35 gram protein, 1,47 gram BCAA, 4,68 gram serat pangan, 1,42 gram gula total, dan 167,15 mg natrium. Uji alergenisitas menunjukkan bahwa tidak terdeteksi adanya alergen kacang pada snack bar formulasi R3. Penelitian ini mengindikasikan bahwa snack bar berbasis isolat protein kacang polong dan kacang hitam berpotensi sebagai pangan fungsional yang mendukung regulasi berat badan melalui kandungan tinggi protein, BCAA, dan serat.
Globalization encourages workers, particularly in urban areas, to adopt increasingly fast-paced lifestyles, resulting in a growing demand for convenient ready-to-eat foods such as snack bars. However, most commercially available snack bars are characterized by high sugar and fat contents and low levels of protein and dietary fiber, which may contribute to an increased risk of obesity. This study aimed to develop a snack bar formulation based on pea protein isolate and black beans as a potential dietary strategy for obesity prevention. An experimental study employing a single-factor Completely Randomized Design (CRD) was conducted using four snack bar formulations. Hedonic evaluation was conducted in 43 young adult untrained panelists aged 18–29 years. The data were analyzed using the Friedman test followed by the Wilcoxon Signed-Rank post hoc test with Bonferroni correction. The Friedman test showed highly significant differences (p<0.001) among the four formulations in five of the six sensory quality attributes assessed, namely taste, color, aroma, texture, and overall acceptability. Moreover, formulation R3 achieved the highest overall hedonic acceptance score (3.60). Nutritional analysis demonstrated that each serving (45 g) of formulation R3 contained 132.90 kcal of energy, 18.95% moisture, 6.21 g carbohydrates, 6.52 g fat, 12.35 g protein, 1.47 g branched-chain amino acids (BCAAs), 4.68 g dietary fiber, 1.42 g total sugars, and 167.15 mg sodium. Allergenicity testing indicated that no peanut allergen was detected in formulation R3. These findings suggest that a snack bar formulated with pea protein isolate and black beans has the potential to serve as a functional food that supports body weight regulation through its high protein, BCAA, and dietary fiber contents.
S-12357
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
