Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yulia Novika J.; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Diah Mulyawati Utar, Sutanto Priyo Hastono, Abas Basuni Jahari, Anies Irawati
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Yulia Novika J Program Studi : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan Gizi Judul : Pengaruh ASI Eksklusif dalam Pencapaian Pertumbuhan Linier pada Bayi dengan Panjang Lahir Pendek di Kota Bandar Lampung Pencapaian pertumbuhan linier yang optimal pada bayi lahir pendek dapat dilakukan dengan mencegah peluang terjadinya stunting pada umur berikutnya. Pemberian ASI Eksklusif merupakan makanan ideal bagi bayi selama 6 bulan pertama kehidupan dapat menurunkan peluang terjadi stunting (Fikadu, 2014). Di Indonesia, masalah pendek sudah mulai terlihat pada bayi baru lahir dengan panjang lahir kurang dari 48 cm (20,2%) dan Provinsi Lampung memiliki prevalensi bayi lahir pendek yang lebih besar, yaitu 22,4% (Kemenkes, 2013; Dinkes Lampung, 2015). Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif (longitudinal) untuk mengetahui pengaruh pemberian ASI Eksklusif pada bayi dengan panjang lahir pendek dalam mencapai pertumbuhan linier yang optimal. Sampel adalah bayi yang berumur 3 bulan dengan panjang lahir pendek berjumlah 179 orang dan diamati sampai bayi berumur 6 bulan. Hasil yang diperoleh yaitu lebih dari 90% bayi dengan panjang lahir pendek dapat mencapai panjang badan normal saat umur 6 bulan. Pemberian ASI Eksklusif masih rendah (45.8%). Proporsi bayi lahir pendek yang diberikan ASI eksklusif dan mencapai pertumbuhan linier normal (97.6%) lebih besar dibandingkan dengan bayi yang tidak ASI Eksklusif (93.8%). Pertumbuhan linier bayi yang diberi ASI eksklusif lebih baik dibandingkan bayi yang tidak ASI eksklusif baik pada pertumbuhan normal maupun yang tetap pendek saat umur 6 bulan. Bayi perempuan memiliki pertumbuhan linier yang lebih baik dibandingkan laki-laki. Growth faltering terjadi pertama kali pada bayi yang tidak diberi ASI eksklusif saat periode umur 4-5 bulan dan bayi yang diberi ASI eksklusif mulai mengalami growth faltering saat umur 56 bulan. Hasil analisis regresi logistik terlihat bahwa bayi lahir pendek yang diberi ASI Eksklusif mempunyai peluang dalam mencapai pertumbuhan linier normal sebesar 3.58 kali dibanding bayi lahir pendek yang diberi susu formula setelah dikontrol variabel penyakit infeksi, kenaikan berat minimal, pekerjaan ibu, tinggi badan ibu, dan pemberian MP-ASI dini. Perlu peran aktif dari tenaga kesehatan untuk mempromosikan ASI eksklusif dan dilakukan pemantauan pertumbuhan melalui pengukuran panjang atau tinggi badan pada anak umur 0 – 72 bulan setiap tiga bulan sekali sesuai dengan Permenkes No. 66 Tahun 2014. Hal ini bermanfaat untuk deteksi dini kejadian growth faltering pada anak balita. Kata Kunci : asi eksklusif, panjang lahir, pertumbuhan linier, stunting


ABSTRACT Name : Yulia Novika J Study Program: Magister Program in Public Heatlth Science Title : Influence of Exclusive Breastfeeding on Linear Growth of Stunted Infants from Birth in Bandar Lampung City Growth assessment is an important part of health evaluation of children and as a global effort to improve early childhood growth. Exclusive breastfeeding is the only appropriate food for infant 0-6 months of age, an ideal nutrition for child development and growth. In the region of Bandar Lampung city, the prevalence of stunting is stiil high compared to national data (22.4%; 20.2%). This study aimed to know the effect of excelusive breasfeeding on linear growth infants with stunting from birth in Bandar Lampung city. A quantitative study with prospective cohort design  was carried out in Bandar Lampung city for 3 months since the babies were 3 months of age. A number of 179 mother singleton baby coupled with stunted from birth and exclusive breastfed from birth to six months of age were completed to follow up. Exclusive breasfeeding in Bandar Lampung city is still low (45.8%). Proportion of stunted infants with exclusive breasfeeding achieving normal linear growth (97.6%) up to six months of age. Linier growth of exclusively breast-fed infants is higher than those who are not exclusively breastfed either on normal growth or in infants who remain stunting at 6 months of age and girls grew better than boys. Growth faltering occurred during 4 – 5 months of age in those infants who were not breastfed exclusively while those who breastfed exclusively at 5 – 6 months of age. Growth pattern throughout 3 – 6 months of age were analyzed by logistic regression and plotted in curves compared to WHO standard. Exclusively breastfed infants had 3,58 times better in linier growth compared to formula fed infants. While partial breastfed infants had 1,6 times to achieve normal linier growth compared to infants who were fed by formula after controlling infectious disease exposure, minimal weight gain standar, materbal occupation, maternal height, and early complementary feeding. Thus, active role of health personnel to promote exclusive breasfeeding and growth monitoring, especially linier growth during 072 months of age in every three month according to Minister of Health Permenkes number 66 year 2014 to monitor growth faltering, is required. Kata Kunci : exclusive breastfeeding, birth length, linier growth, stunting

Read More
T-4963
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Isnaini Arifianti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Asih Setiarini, Triyanti, Nurya Gustina, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak: Stunting adalah kondisi kegagalan pertumbuhan disebabkan oleh kekurangan zat gizi kronik dan infeksi berulang yang memiliki dampak jangka panjang. Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Banten karena prevalensinya masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 1.643 balita yang didapat dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data SSGI 2021 milik BKPK Kementerian Kesehatan RI. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor anak (umur, jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, keragaman pangan), faktor ibu (pendidikan ibu dan pekerjaan ibu); faktor kerawanan pangan; faktor kesehatan lingkungan (kepemilikan jamban); faktor penyakit infeksi (ISPA, diare, pneumonia, TBC) dan faktor pelayanan kesehatan (pemberian vitamin A dan pengobatan balita sakit di fasilitas kesehatan). Data dianalisis menggunakan analisis data kompleks. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting pada balita 6-59 bulan adalah 22,7%. Berdasarkan analisis multivariat, determinan stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten adalah jenis kelamin (p-value 0,021; AOR 1,351; CI 95% 1,047 – 1,744); pendidikan ibu (p-value 0,009; AOR 1,484; CI 95% 1,103 – 1,998); panjang badan lahir (p-value 0,001; AOR 2,094; CI 95% 1,512 – 2,899); kerawanan pangan (p-value 0,009; AOR 1,629; CI 95% 1,131 – 2,347). Faktor dominan kejadian stunting balita 6-59 bulan di Provinsi Banten adalah panjang badan lahir pendek (AOR 2,09). Bayi panjang lahir pendek perlu mendapatkan intervensi KIE gizi dan kesehatan untuk ibu balita; mendapat makanan tambahan balita dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas serta pemantauan rutin setiap bulan di Posyandu agar tidak tumbuh menjadi balita stunting.
Stunting is a condition of growth failure caused by chronic nutritional deficiencies and repeated infections that have long-term effects. Stunting is still a public health problem in Banten Province because the prevalence is still high. This study aims to determine the determinants of stunting in toddlers aged 6-59 months in Banten Province. The research design used was cross sectional with a total sample of 1,643 toddlers obtained from total sampling based on inclusion and exclusion criteria. The data used is the SSGI 2021 data belonging to the Indonesian Ministry of Health's BKPK. The independent variables in this study were child factors (age, sex, birth weight, birth length, dietary diversity), maternal factors (mother's education and mother's occupation); food insecurity factor; environmental health factors (latrine ownership); infection disease factors (ARI, diarrhea, pneumonia, tuberculosis) and health service factors (giving vitamin A and treating sick toddlers in health facilities). Data were analyzed using complex data analysis. Bivariate analysis used the chi-square test and multivariate analysis used multiple logistic regression. The results showed that the proportion of stunting among toddlers aged 6-59 months was 22.7%. Based on multivariate analysis, the determinant of stunting for children aged 6-59 months in Banten Province is gender (p-value 0.021; AOR 1.351; 95% CI 1.047 – 1.744); mother's education (p-value 0.009; AOR 1.484; 95% CI 1.103 – 1.998); birth length (p-value 0.001; AOR 2.094; 95% CI 1.512 – 2.899); food insecurity (p-value 0.009; AOR 1.629; 95% CI 1.131 – 2.347). The dominant factor in the incidence of stunting in toddlers aged 6-59 months in Banten Province is short birth length (AOR 2.09). Short-born babies need to receive health and nutrition communication, information, education interventions for mothers under five and get supplementary food for toddlers from the District/City Health Office and Community Health Centers as well as routine monitoring every month at the Posyandu so they don't grow into stunted toddlers.
Read More
T-6692
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sisca Kumala Putri; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Kopromotor: Hartono Gunardi, Yekti Widodo; Penguji: Ahmad Syafiq, Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Abas Basuni Jahari
Abstrak:
ABSTRAK Pertumbuhan pada masa janin, dengan berat dan panjang badan lahir sebagai titik tertinggi pencapaiannya, dapat mempengaruhi pertumbuhan pada masa baduta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola gagal tumbuh linier, terutama waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan besarnya perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U) pada rentang umur 0-6, 6-12, dan 12-23 bulan berdasarkan status berat dan panjang badan lahir. Selain itu juga bertujuan mengetahui pengaruh status berat dan panjang lahir serta faktor risiko lainnya terhadap kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan juga terhadap perubahan pencapaian PB. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif dengan sampel sebanyak 408 anak responden Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak di Kota Bogor Tahun 2012 – 2019. Variabel dependen pada penelitian ini ialah waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U). Variabel independen utama pada penelitian ini ialah status berat dan panjang badan lahir. Pertumbuhan linier didefinisikan melambat jika linear growth velocity interval 3 bulan selama dua interval berturut-turut berada di bawah persentil ke-25 standar growth velocity WHO. Penelitian ini menunjukkan bahwa separuh anak SGA melambat pertumbuhannya sebelum umur 10 bulan dan separuh anak normal melambat pertumbuhannya sebelum umur 9 bulan. Penurunan z-score (Δ z-score PB/U) terbesar ialah pada rentang umur 0 – 6 bulan, sebesar -0,94 pada anak normal dan -0,4 pada anak SGA. Sedangkan pada rentang 6 – 12 bulan sebesar -0,33 pada anak normal dan -0,23 pada anak SGA. Dan pada umur 12 – 23 bulan sebesar -0,18 pada anak normal dan -0,03 pada anak SGA. Anak SGA memiliki risiko 10 persen lebih rendah untuk mengalami kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan pada masa baduta setelah dikontrol lama pemberian ASI, namun secara statistik tidak bermakna. Anak yang diberi ASI < 12 bulan memiliki risiko 50 persen lebih rendah untuk mengalami perlambatan pertumbuhan pertama kali pada masa baduta. Status SGA berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U Pada periode umur 0 – 6 bulan dan 6 – 12 bulan, namun berpengaruh negatif pada periode umur 12 – 23 bulan. Lama pemberian ASI < 12 bulan juga berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U. Sedangkan frekuensi ISPA > 50% bulan pengamatan dan asupan seng < EAR berpengaruh negatif terhadap Δ z-score PB/U. Melambatnya kecepatan pertumbuhan linier pertama kali dan penurunan z-score PB/U terbesar, baik pada anak SGA maupun normal, terjadi pada masa bayi. Oleh karena itu pemantauan pertumbuhan linier harus dilakukan lebih ketat pada masa bayi, terutama sebelum umur 9 atau10 bulan. Anak SGA tidak dapat mengejar pencapaian panjang badan anak normal, meskipun memiliki kecepatan pertumbuhan yang secara signifikan lebih cepat di awal masa bayi. Hal tersebut menunjukkan bahwa program pencegahan anak pendek harus dimulai lebih dini, yaitu sejak masa prenatal untuk mencegah bayi lahir SGA. Kata Kunci: gagal tumbuh linier, berat badan lahir, panjang badan lahir.

ABSTRACT Fetal growth, with birth weight and birth length as its culmination, influences the linear growth during the first two years of life. This study aimed to identify the pattern of linear growth failure, mainly the onset of growth deceleration and the changes in the Length-for-Age Z-score (LAZ). Furthermore, this study investigated the risk of birthweight and length status and other factors to the onset of growth deceleration and the changes in the LAZ. This study is a prospective cohort study. This study analyzed 408 children, the participants of the Cohort Study on Child Growth and Development in Kota Bogor between 2012 – 2019. The dependent variables were the time to onset of the growth deceleration and the changes of LAZ (Δ LAZ) at the age interval of 0-6, 6-12, and 12-23 months. The main independent variable was birthweight and length status. The linear growth was defined decelerate when the two consecutive 3-month length increments fall below the 25th percentile of The WHO Child Growth Standard. This study showed that half of the SGA children experience the growth deceleration onset before 10 months, while half of normal children experience it before 9 month of age. The substantial losses occurred between 0-6 months and the LAZ declined by -0,94 z-score in normal children and -0,4 z-score in SGA children. While between 6-12 months, the decline was -0,33 z-score in normal children and 0,23 z-score in SGA children. And between 12-23 months, the decline was -0,18 z-score in normal children and -0,03 z-score in SGA children. The SGA children had a 10 percent lower risk than normal children to experience the onset of growth deceleration, adjusted by the duration of breastfeeding, but statistically insignificant. The children breastfed less than 12 months had a 50 percent lower risk to experience the onset of growth deceleration than children breastfed more than ≥ 23 months. The SGA status had a positive effect on the Δ LAZ in the age period of 0 – 6 months and 6 – 12 months but had a negative effect in the age period of 12 – 23 months. The duration of breastfeeding < 12 months also had a positive effect on Δ LAZ. While upper respiratory tract infection frequency of more than 50% of the observation month and seng intake less than Estimated Average Requirement, had a negative effect on Δ LAZ. The onset of the deceleration in linear growth and the substantial loss of LAZ, in SGA and normal children, occurred in the early period of infancy. Therefore, the linear growth should be monitored strictly and regularly in the period of infancy, especially before 9 or 10 months. The SGA children could not catch up with the normal children’s attained growth. Therefore, the stunting prevention program should start early, from the prenatal period to reduce the risk of SGA. Keywords: growth failure, birthweight, birth length
Read More
D-492
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive