Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Husnul Khatimah; Pembimbing: Ahmad SYafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Nida Rohmawati, Wayan Sri Agustini
Abstrak:
Penyebab terbesar kematian ibu masih tetap sama yaitu perdarahan. Upaya untuk mengendalikan terjadinya perdarahan yaitu dengan memperbaiki kontraksi dan retraksi myometrium. Hormon oksitosin diketahui dapat memicu kontraksi otot polos pada uterus sehingga akan terjadi involusi uterus dan mencegah terjadinya perdarahan. Oksitosin dapat diperoleh dengan berbagai cara baik melalui oral, intranasal, intra-muscular, pemijatan yang merangsang keluarnya hormon oksitosin, dan melalui pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Pada tahun 2013 Sulawesi Selatan menempati posisi kedua cakupan IMD tertinggi di Indonesia dengan pelaksanaan IMD berkisar 42%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar hormon oksitosin pada ibu 2 jam post partum yang menerapkan IMD di RSKDIA Siti Fatimah Makassar Tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah adalah ibu post partum yang melahirkan di RSKDIA Siti Fatimah Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ibu yang IMD kadar hormon oksitosinnya akan lebih tinggi 35,90 pg/ml setelah dikontrol variabel kecemasan, hisapan bayi dan dukungan keluarga. Pada ibu yang memiliki kecemasan ringan kadar hormon oksitosinnya akan lebih tinggi 17,95 pg/ml setelah dikontrol variabel IMD, hisapan bayi dan dukungan keluarga. Pada ibu yang hisapan bayinya efektif kadar hormon oksitosinnya akan lebih tinggi 7,26 pg/ml setelah dikontrol variabel IMD, kecemasan dan dukungan keluarga dan pada ibu yang mendapatkan dukungan keluarga kadar hormon oksitosinnya akan lebih tinggi 11,98 pg/ml setelah dikontrol variabel IMD, kecemasan dan hisapan bayi. Perlu meninjau kembali kebijakan pelaksanaan IMD dengan lebih memperhatikan kualitas pelaksanaan tidak berfokus pada waktu tapi berfokus kepada kepuasaan bayi. Kata Kunci: Inisiasi menyusu dini, hormon oksitosin, perdarahan The greatest cause of maternal death remains the same is bleeding. Efforts to control the occurrence of bleeding is to improve contraction and retraction of myometrium. The hormone oxytocin is known to trigger smooth muscle contraction in the uterus so that there will be involution of the uterus and prevent the occurrence of bleeding. Oxytocin can be obtained by various means either through oral, intranasal, intra-muscular, massage that stimulates the release of oxytocin hormone, and through the implementation of Early Initiation Breastfeeding. In 2013 South Sulawesi ranked second highest IMD coverage in Indonesia with IMD implementation ranging from 42%. This study aims to determine differences in hormone levels of oxytocin in the mother 2 hours post partum that implements IMD in RSKDIA Siti Fatimah Makassar in 2017. This research is a quantitative research with cross sectional design. The population in this study is the post partum mother who gave birth in RSKDIA Siti Fatimah Makassar. The results showed that in mothers with IMD their hormone oxytocin levels would be higher 35.90 pg / ml after controlled for anxiety, infant sucking and family support variables. In mothers who have mild anxiety, their hormone oxytocin levels will be higher at 17.95 pg / ml after controlled for IMD variables, baby sucking and family support. In mothers with effective baby sucking their hormone oxytocin levels will be higher 7.26 pg / ml after controlled for IMD variables, anxiety and family support and in mothers who get family support the hormone oxytocin levels will be higher 11.98 pg / ml after controlled variables IMD , Anxiety and baby sucking. Need to review IMD implementation policy with more attention to implementation quality not focused on time but focusing on baby satisfaction. Keywords: Early breastfeeding initiation, oxytocin hormone, bleeding
Read More
T-5017
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aisyah Syahrani Syafri; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Rizka Maulida, Nadia Shafira
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Periode neonatal merupakan waktu yang rentan bagi bayi pada awal kehidupannya dan komplikasi perdarahan selama kehamilan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup ibu dan bayi. Saat ini, terdapat perbedaan pendapat terkait pengaruh komplikasi perdarahan selama kehamilan dengan kematian neonatal serta belum ditemukannya publikasi terkait komplikasi perdarahan selama kehamilan terhadap kematian neonatal di skala nasional Indonesia dengan data terbaru. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan perdarahan selama kehamilan dengan kematian neonatal di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif menggunakan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 dengan desain studi cross-sectional. Analisis data dilakukan pada wanita usia subur (WUS) usia 15-49 tahun yang melahirkan bayi lahir hidup pada rentang tahun 2012-2017 dan merupakan anak terakhir tunggal yang terdata dalam SDKI 2017. Sebanyak 14.848 sampel didapatkan untuk dianalisis menggunakan complex survey dengan chi-square dan regresi logistik untuk memeriksa hubungan antara perdarahan selama kehamilan dengan kejadian kematian neonatal Hasil: Prevalensi kematian neonatal pada wanita usia subur (WUS) usia 15-49 tahun yang melahirkan dalam rentang waktu 2012-2017 di Indonesia berdasarkan data SDKI 2017 sebesar 0,7%. Selain itu, 48,4% dari total 14.848 responden mengalami perdarahan selama kehamilan. Setelah dilakukan analisis multivariat dengan mengontrol ukuran lahir bayi, jenis kelamin bayi, dan paritas ibu, tidak ditemukan asosiasi yang bermakna secara statistik antara perdarahan selama kehamilan dengan kejadian kematian neonatal (adjusted odds ratio 0,67; CI 95% 0,45-1,01). Kesimpulan: Perdarahan selama kehamilan tidak terbukti berasosiasi dengan kematian neonatal. Hal ini mungkin terjadi akibat keterbatasan metode penelitian yang digunakan, tidak diketahui lebih lanjut kapan dan seberapa banyak perdarahan yang terjadi, dan cakupan ANC yang baik. Dari sisi klinis, terdapat perdarahan yang cukup sulit untuk dideteksi oleh tenaga kesehatan sehingga memungkinkan tidak terdatanya kasus. Selain itu, pada perdarahan yang berisiko, penanganan cepat akan dilakukan sehingga kesehatan bayi tidak akan berdampak pada masa neonatal.
Background: Neonatal period is a vulnerable time for infants and bleeding during pregnancy can affect the survival of the mother and baby. Research regarding association between bleeding during pregnancy and neonatal deaths using the Indonesia is still rarely carried out at this time and there’s a variety of opinion regarding this matter. Therefore, researchers conducted a study to determine the association between bleeding during pregnancy and neonatal mortality in Indonesia. Method: This research is a quantitative study using secondary data from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) with a cross-sectional study design. Data analysis was conducted on women of reproductive age (WRA) aged 15-49 years who gave birth to live infants between 2012 and 2017 and whose most recent singleton births were recorded in the 2017 IDHS. A total of 14,848 samples were obtained for analysis using complex survey methods with chi-square and logistic regression to examine the relationship between bleeding during pregnancy and neonatal mortality. Results: The prevalence of neonatal mortality among women of reproductive age (WRA) aged 15-49 years who gave birth between 2012 and 2017 in Indonesia, based on the 2017 IDHS data, was 0.7%. Additionally, 48.4% of the total 14,848 respondents experienced bleeding during pregnancy. After conducting multivariate analysis while controlling with its confounders (perceived birth weight, sex of the baby, and maternal parity) no statistically significant association was found between bleeding during pregnancy and neonatal mortality (adjusted odds ratio 0.67; 95% CI 0.45-1.01). Conclusion: Bleeding during pregnancy was not found to be associated with neonatal mortality. This may be due to limitations in the research methods used, the lack of detailed information on the timing and amount of bleeding, and good ANC coverage. Clinically, some bleeding may be difficult to detect, leading to potential underreporting of cases. Furthermore, in cases of high-risk bleeding, emergency management is likely to be implemented, preventing any impact on neonatal health.
S-11682
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fida Naqiyyah; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Zahraini
Abstrak:
Dismenore primer adalah rasa nyeri menstruasi tanpa adanya kelainan ginekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT/U, aktivitas fisik, asupan kalsium, asupan omega 3, stres, usia menarche, laju menstruasi, lama menstruasi, siklus menstruasi, riwayat keluarga, dan keterpaparan asap rokok dengan dismenore primer. Dan juga mengetahui faktor dominan pada siswi SMAN 5 Depok. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pengambilan sampel menggunakan metode acak sistematik. Sampel yang diteliti adalah kelas X dan XI dengan total sampel 126 siswi. Data dikumpulkan dengan cara pengisian angket, wawancara food recall 3x24 jam,dan pengukuran antropometri untuk berat badan serta tinggi badan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara asupa omega 3 dan lama menstruasi. Dan Faktor dominan adalah lama menstruasi. Kata kunci : Dismenore primer,asupan omega 3, lama menstruasi Primary dysmenorrhea is a painful menstruation that occurs without gynecology abnormalities. The aim of this study to identify the association between BMI for Age, Physical Activity, Calcium intake, Omega 3 intake, stress, menarche, menstrual flow, duration of bleeding, menstrual cycle, family history, and smoking exposure. And then to know the dominant factor on female student in SMAN 5 Depok. this study used the cross sectional design by using systematic random sampling. The sample ini this study was 10th and the 11th grade of senior high school consisting 126 students. These data were collected by using self administered questionnaire, 3x24 hours food recall interview, and anthropometric measurement for weight and height. The result of this study showed that there was a significant correlation between omega 3 intake and duration of bleeding (p<0,05). And the dominant factor was duration of bleeding. Keyword: Primary Dysmenorrhea, Omega 3 intake, duration of bleeding.
Read More
S-9205
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ulfatun Nazifah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Helda, Fajar Hardianto
S-7947
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
