Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fegga Aulia Ananda; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Dwi Wigati Ratna Sari
Abstrak:
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat di suatu negara. Semakin tinggi angka kematian ibu dan bayi di suatu negara, maka dapat dikatakan bahwa derajat kesehatan negara tersebut buruk (Kemenkes RI, 2018). Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup, dan untuk Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 24 per 1.000 kelahiran hidup. Data tersebut menunjukkan bahwa AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi apabila dilihat dari target yang ditentukan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yaitu AKI sebesar 70 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 12 per 1000 kelahiran hidup, dan angka tersebut masih jauh dari target yang diharapkan (Sustainable Development Goals, 2017). Angka kematian ibu pada tahun 2021, sebagian besar penyebabnya terkait COVID-19 sebanyak 2.982 kasus, dan penyebab tertinggi kedua karena perdarahan sebanyak 1.330 kasus. Perdarahan dapat disebabkan karena anemia dan kekurangan energi kronis (KEK). World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 40% kematian pada ibu dinegara berkembang berkaitan dengan kejadian anemia pada masa kehamilan yang disebabkan oleh perdarahan akut dan status gizi yang buruk. Ibu hamil dengan status gizi yang buruk dapat mengakibatkan terjadinya kekurangan energi kronik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan KEK dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan metode kuantitatif. Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah menggunakan teknik simple random sampling. Diambil dari data sekunder yaitu dari bulan Januari 2023 - Juni 2023 dari Puskesmas Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan yang datanya sudah lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kekurangan energi kronik (p = 0,00), dan juga karakteristik responden meliputi usia ibu (p = 0,00), Frekuensi ANC (p = 0,00), Pendidikan (0,026) dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Untuk variabel yang berpengaruh paling dominan setelah dilakukan analisis multivariat yaitu variabel KEK dengan Odd ratio sebesar 2,727 dan p-Value sebesar 0,003 (< 0,05), berarti kekurangan energi kronik akan memiliki resiko 2,727 kali lebih besar untuk mengalami anemia pada ibu hamil. Dari penelitian ini, diharapkan dapat memantau ibu hamil untuk melakukan kunjungan ANC secara rutin dan dapat memantau dalam mengkonsumsi tablet tambah darah yang sudah diberikan. Serta mengajak partisipasi dari suami atau keluarga untuk mendukung ibu hamil rutin dalam mengkonsumsi tablet tambah darah, agar ibu hamil terhindar dari anemia, selain itu diharapkan dapat memberikan edukasi mengenai nutrisi makanan yang dapat dikonsumsi selama kehamilan atau diwajibkan untuk konsultasi ke ahli gizi agar ibu hamil dapat terhindar dari KEK selama kehamilan.

Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) are still indicators of the level of public health in a country. The higher the maternal and infant mortality rate in a country, it can be said that the health status of that country is poor (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2018). Based on the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (SDKI), the Maternal Mortality Rate (MMR) was 305 per 100,000 live births, and the Infant Mortality Rate (IMR) was 24 per 1,000 live births. This data shows that MMR and IMR in Indonesia are still high when viewed from the targets set by the Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, namely MMR of 70 per 100,000 live births and IMR of 12 per 1000 live births, and these figures are still far from the expected target. In 2021, the majority of maternal deaths were related to COVID-19, 2,982 cases, and the second highest cause was bleeding, 1,330 cases. Bleeding can be caused by anemia and chronic energy deficiency (CED). The World Health Organization (WHO) states that around 40% of maternal deaths in developing countries are related to anemia during pregnancy which is caused by acute bleeding and poor nutritional status. Pregnant women with poor nutritional status can result in chronic energy deficiency. This study aims to determine the relationship between chronic energy deficiency and the incidence of anemia in pregnant women at the Setiabudi District Health Center, South Jakarta. The research design used in this research is descriptive analytical with quantitative methods. Sampling in this research used a simple random sampling technique. Taken from secondary data, namely from January 2023 - June 2023 from the Setiabudi District Health Center, South Jakarta, where the data is complete. The results of the study showed that there was a significant relationship between chronic energy deficiency (p = 0.00), and also the characteristics of respondents including maternal age (p = 0.00), ANC frequency (p = 0.00), education (0.026) and incidence of anemia in pregnant women. For the variable that has the most dominant influence is chronic energy deficiency variable with an Odd ratio of 2.727 and a p-Value of 0.003 (< 0.05), meaning that chronic energy deficiency will have a 2.727 times greater risk of experiencing anemia in pregnant women. From this research, it is hoped that pregnant women can monitor their Antenatal Care regularly and monitor their consumption of the blood supplement tablets that have been given. As well as inviting participation from husbands or families to support pregnant women regularly in consuming blood supplement tablets, so that pregnant women avoid anemia, apart from that it is hoped that they can provide education regarding nutritional food that can be consumed during pregnancy or are required to consult a nutritionist so that pregnant women can avoid chronic energy deficiency (CED) during pregnancy.
Read More
S-11629
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ronauli Margaretha Silalahi; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Asep Adam Mutaqin
Abstrak:

Di Indonesia, prevalensi KEK pada ibu hamil meningkat dari 16,9% pada tahun 2018 menjadi 17% pada tahun 2023. Padahal, dalam rangka menekan angka KEK pada ibu hamil, pemerintah Indonesia sejak tahun 2014 menerapkan program intervensi gizi bagi ibu hamil diantaranya mengimplementasikan pemberian makanan tambahan sesuai bahan pangan lokal, pemberian tablet TTD, dan kelas ibu hamil. Meskipun program gizi dan kesehatan ibu telah lama diimplementasikan di Indonesia, masalah KEK pada ibu hamil masih menjadi salah satu bentuk malnutrisi yang belum tertangani secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiiko KEK pada ibu hamil berdasarkan data SKI 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel ibu hamil yang berada pada kehamilan trimester 3 dan menggunakan uji regresi logsitik sederhana untuk analisis bivariat. Dari 5.055 ibu hamil yang berhasil disurvey, terdapat 1.383 data yang eligible untuk digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini terdapat 153 (11,1%) ibu hamil dengan risiko KEK. Provinsi dengan kasus ibu hamil risiko KEK terbanyak di Indonesia adalah Jawa Tengah sebanyak 103 kasus (7,2%) sedangkan provinsi dengan kasus terendah adaalah Papua Pegunungan sebanyak 3 kasus (0,2%). Status sosial ekonomi keluarga terendah (OR 2,13; 95% CI 1,28 – 3,54), konsumsi buah ≤ 3 kali per bulan (OR 0,26; 95% CI 1,15 – 5,94), dan mengalami stres (OR 3,17; 95% CI 1,03 – 9,75) adalah faktor risiko yang berasosiasi dengan risiko KEK pada ibu hamil. Selain itu, faktor yang menunjukkan protektif terhadap risiko KEK pada ibu hamil adalah berumur > 35 tahun (OR 0,37; 95% CI 0,18 – 0,76). Oleh karena itu, program bantuan bagi keluarga ibu hamil miskin mampu mendukung pencegahan risiko KEK pada ibu hamil.


In Indonesia, the prevalence of CED among pregnant women increased from 16.9% in 2018 to 17% in 2023. In fact, in order to reduce the rate of CED in pregnant women, the Indonesian government since 2014 has implemented nutrition intervention programmes for pregnant women including implementing supplementary feeding according to local food ingredients, providing TTD tablets, and pregnant women's classes. Although nutrition and maternal health programmes have long been implemented in Indonesia, the problem of CED in pregnant women is still one of the forms of malnutrition that has not been effectively addressed. This study aims to determine the factors associated with the risk of CED in pregnant women based on SKI 2023 data. The design of this study was cross sectional with a sample of pregnant women who were in the 3rd trimester of pregnancy and used simple logistic regression test for bivariate analysis. Of the 5,055 pregnant women surveyed, 1,393 were eligible to be used in this study. The results of this study showed that there were 153 (11.1%) pregnant women at risk of CED. The province with the most cases of pregnant women at risk of CED in Indonesia was Central Java with 103 cases (7.2%) while the province with the lowest cases was Papua Mountains with 3 cases (0.2%). Lowest family socioeconomic status (OR 2.13; 95% CI 1.28 - 3.54), fruit consumption ≤ 3 times per month (OR 0.26; 95% CI 1.15 - 5.94), and experiencing stress (OR 3.17; 95% CI 1.03 - 9.75) were risk factors associated with the risk of CED in pregnant women. In addition, the factor that showed protective against the risk of CED in pregnant women was being > 35 years old (OR 0.37; 95% CI 0.18 - 0.76). Therefore, the assistance programme for families of poor pregnant women can support the prevention of the risk of CED in pregnant women.

Read More
S-11867
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Keisa Dwinta Mailova; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan kondisi kekurangan energi dalam jangka panjang akibat asupan zat gizi yang tidak mencukupi kebutuhan. KEK pada ibu hamil berdampak negatif terhadap kesehatan ibu maupun janin. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi KEK ibu hamil tertinggi di Indonesia, di mana data nasional tahun 2023 menunjukkan angka prevalensi sebesar 28%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan risiko KEK pada ibu hamil di Provinsi NTT. Desain penelitian ini adalah potong lintang (cross-sectional) menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, dengan melibatkan sampel sebanyak 215 ibu hamil. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi risiko KEK pada sampel ibu hamil di NTT adalah sebesar 22,2%. Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik (p-value < 0,05) antara risiko KEK dengan status ekonomi keluarga, sumber air minum, serta frekuensi konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya. Analisis multivariat mengidentifikasi bahwa konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya merupakan faktor dominan yang memicu risiko KEK, di mana ibu hamil yang jarang mengonsumsi kelompok pangan tersebut berpeluang 4,928 kali lebih besar untuk berisiko KEK dibandingkan ibu hamil yang sering mengonsumsinya (OR = 4,928).

Chronic Energy Deficiency (CED) is a long-term condition of energy deficiency resulting from nutrient intake that does not meet requirements. CED in pregnant women has negative effects on both maternal and fetal health. East Nusa Tenggara (NTT) Province is one of the regions with the highest prevalence of CED among pregnant women in Indonesia, with national data from 2023 showing a prevalence rate of 28%. This study aims to identify the dominant factors associated with the risk of CED in pregnant women in East Nusa Tenggara Province. The study design is cross-sectional, utilizing secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI), involving a sample of 215 pregnant women. Data analysis was conducted using the chi-square test and multiple logistic regression. The results of this study indicate that the prevalence of CED risk among the sample of pregnant women in NTT is 22.2%. Bivariate test results show a statistically significant association (p-value < 0.05) between CED risk and family economic status, drinking water source, as well as the frequency of consumption of meat, poultry, and their processed products. Multivariate analysis identified that the consumption of meat, poultry, and their processed products is the dominant factor contributing to the risk of CED, pregnant women who rarely consume this food group had a 4.928 times higher likelihood of experiencing CED risk compared to pregnant women with high consumption (OR = 4,928).

Read More
S-12335
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive