Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mugeni Sugiharto, Ristrini
Bulitsiskes Vol.19, No.2
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hermawan Susanto; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Tris Eryando, R. Sutiawan, Elvied Sariwati, Budi Pramono
T-4925
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yohani Satya Putri Liman; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Pujiyanto, Muhammad Rais Haru, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli
Abstrak:
Filariasis limfatik masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di wilayah endemis seperti Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, yang telah memperoleh sertifikat eliminasi namun, angka mikrofilaria rate di beberapa wilayahnya tetap berada di atas ambang batas nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) filariasis tahun 2023 di Kecamatan Membalong dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dan telaah dokumen terhadap pelaksana program di dua Puskesmas serta Dinas Kesehatan. Analisis menggunakan model Donabedian diperkuat dengan pendekatan Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) dari LAN, dan model Van Meter dan Van Horn untuk mengevaluasi aspek structure, process, serta output dan outcome berupa dampak. Hasil penelitian pada aspek structure menunjukkan bahwa kebijakan POPM filariasis di Kecamatan Membalong tergolong efektif sebagai dasar pelaksanaan program dan telah memenuhi indikator kualitas kebijakan menurut pendekatan IKK. Strategi pelaksanaan dinilai adaptif, ditunjukkan melalui penyesuaian waktu, pelaksanaan, sweeping serta pelibatan lintas sektor. Namun, terdapat kendala keterbatasan jumlah sumber daya manusia dan pencatatan logistik yang masih manual sehingga menimbulkan potensi risiko. Sarana prasarana dinilai memadai, dan dana kegiatan juga mencukupi kebutuhan, meskipun terdapat perbedaan dalam sistem penganggaran antar Puskesmas. Pada aspek process, Komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan sudah berjalan, namun perlu ditingkatkan sebab penting dalam dimensi process IKK yang turut menentukan kualitas implementasi kebijakan pelaksanaan POPM. Pendataan sasaran telah dilakukan secara detail, namun akurasinya masih dipengaruhi oleh mobilitas penduduk. Sosialisasi telah dilaksanakan, namun belum sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Pemberian obat telah mengikuti petunjuk teknis, namun belum seluruh sasaran hadir dan mengonsumsi obat di pos pelayanan. Sweeping efektif meningkatkan cakupan, namun keterbatasan SDM dan waktu membuat pelaksanaannya belum optimal. Fleksibilitas sweeping menjadi indikator penting dalam proses IKK untuk menilai efektivitas kebijakan. Kejadian ikutan pasca POPM umumnya bersifat ringan dan telah tertangani, tetapi pelaporan dan pemantauan masih bersifat pasif. Monitoring dan evaluasi POPM sudah terstruktur, namun masih terkendala kepatuhan, pelaporan manual, dan kurangnya integrasi. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan indikator IKK, terutama dalam aspek efektivitas, efisiensi, dan umpan balik pelaksanaan kebijakan. Dari aspek Output, Cakupan obat di Kecamatan Membalong tinggi, namun prevalensi mikrofilaria masih >1% di beberapa wilayah. Dalam IKK, keberhasilan dinilai dari konsumsi obat yang valid serta dampaknya, bukan hanya capaian angka. Jumlah obat yang digunakan telah sesuai dengan sasaran, tetapi ditemukan selisih antara obat yang didistribusikan dengan yang benar-benar dikonsumsi oleh masyarakat. Hasil survei darah jari menunjukkan angka MF rate di wilayah Puskesmas Simpang Rusa masih di atas 1%. Pada aspek Outcome menunjukkan bahwa POPM filariasis menurunkan kasus namun eliminasi belum tercapai di seluruh kecamatan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Implementasi POPM filariasis di Kecamatan Membalong didukung kebijakan yang kuat dan strategi adaptif, namun masih terkendala kekurangan SDM, pencatatan logistik manual, dan pemantauan minum obat yang belum optimal. Cakupan pemberian obat tinggi, tetapi eliminasi belum tercapai karena masih ada wilayah dengan MF rate di atas ambang batas. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan SDM, sistem pencatatan, dan kolaborasi lintas sektor.  Dalam IKK, hal ini menunjukkan efektivitas kebijakan masih perlu evaluasi dan penyesuaian strategi agar eliminasi filariasis dapat dicapai secara berkelanjutan.

Lymphatic filariasis remains a public health challenge in Indonesia, especially in endemic areas such as Membalong Subdistrict, Belitung Regency, which has received elimination certification; however, the microfilaria rate in several regions still exceeds the national threshold. This study aims to analyze the implementation of the Mass Drug Administration (MDA) program for filariasis prevention in Membalong Subdistrict in 2023 using a qualitative approach and case study design. Data were collected through in-depth interviews and document reviews involving program implementers at two primary health centers (Puskesmas) and the District Health Office. The analysis applied the Donabedian model, reinforced with the Policy Quality Index (IKK) from LAN, and Van Meter and Van Horn’s implementation model to evaluate aspects of structure, process, as well as output and outcome in terms of program impact. The findings on the structural aspect indicate that the filariasis MDA policy in Membalong is effective as the program’s foundation and fulfills policy quality indicators according to the IKK approach. The implementation strategy is considered adaptive, shown by schedule adjustments, door-to-door sweeping, and cross-sectoral involvement. However, challenges remain, such as limited human resources and manual logistic recording, which pose potential risks. Facilities and infrastructure are generally adequate, and funding meets the needs, although there are differences in budgeting systems between health centers. In terms of process, communication and coordination among stakeholders are established, but need strengthening, as these are essential in the IKK process dimension, which also determines the quality of policy implementation. Target population data collection has been conducted in detail, though its accuracy is still affected by population mobility. Socialization activities have been carried out, but have not fully reached all community groups. Medicine distribution has followed technical guidelines, but not all targets have attended and consumed the drugs at service posts. Sweeping has effectively increased coverage, but human resource and time constraints have hindered optimal implementation. The flexibility of sweeping is an important indicator in the IKK process dimension for assessing policy effectiveness. Adverse events after MDA were mostly mild and well managed, but reporting and monitoring remain passive. Monitoring and evaluation are structured but still hampered by compliance issues, manual reporting, and lack of integration. This highlights the need to strengthen IKK indicators, especially in effectiveness, efficiency, and feedback in policy implementation. In terms of output, drug coverage in Membalong is high, but microfilaria prevalence remains above 1% in some areas. According to the IKK, success is measured not just by coverage numbers, but by valid drug consumption and real impact. The number of drugs used matches the target, but discrepancies remain between drugs distributed and those actually consumed. Blood survey results show that the MF rate in the Simpang Rusa health center area is still above 1%. The outcome aspect indicates that the MDA program has reduced cases but elimination has not yet been achieved throughout the subdistrict. The study concludes that MDA implementation in Membalong is supported by strong policy and adaptive strategies, but still faces barriers such as limited human resources, manual logistics recording, and suboptimal drug consumption monitoring. Coverage is high, but elimination has not been achieved, as some areas still have MF rates above the threshold. These findings underscore the need to strengthen human resources, data recording systems, and cross-sector collaboration. According to the IKK, this suggests that policy effectiveness still requires evaluation and strategic adjustment to achieve sustainable filariasis elimination.
Read More
T-7304
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Putri; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Putri Bungsu, Erah
Abstrak:

Pemeriksaan Triple Eliminasi bertujuan untuk mencegah penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu hamil kepada bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan pemeriksaan tersebut di Puskesmas Kebayoran Baru. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 236 responden ibu hamil. Hasil menunjukkan bahwa 66,5% ibu hamil melakukan pemeriksaan, dengan pengetahuan dan dukungan tenaga kesehatan sebagai faktor signifikan.


Triple Elimination examination aims to prevent transmission of HIV, syphilis, and hepatitis B from pregnant women to their babies. This study aims to identify factors related to the examination at the Kebayoran Baru Health Center. The method used is quantitative descriptive with a cross-sectional design, involving 236 pregnant women respondents. The results showed that 66.5% of pregnant women underwent the examination, with knowledge and support from health workers as significant factors.

Read More
S-11959
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Same Betera; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Mohamad Sudomo, Wilfred N. Nunu, Budi Hartono
Abstrak:
Malaria telah menciptakan krisis kebangkitan kembali dalam kontinum eliminasi di Zimbabwe, yang berbeda dari komitmen global untuk eliminasi malaria pada tahun 2030. Penelitian kohort retrospektif ini bertujuan untuk menentukan faktor risiko yang terkait dengan malaria berat di distrik Beitbridge dan Lupane. Pengambilan sampel multistage digunakan untuk merekrut 2414 orang yang tercatat dalam database Perangkat Lunak Informasi Kesehatan Distrik2 Tracker. Penelitian ini menggunakan IBM SPSS 29.0.2.0 (20) untuk analisis data, dan rasio odds (OR) untuk memperkirakan risiko relatif (RR; 95% CI; p <0,05). Studi ini mengungkapkan risiko relatif yang signifikan (p-value<0,05) untuk individu yang tidak memiliki Kelambu Berinsektisida Tahan Lama (Beitbridge 47,4; Lupane 12,3), mereka yang memiliki tetapi tidak menggunakan LLIN (Beitbridge 24,9; Lupane 7,83), mereka yang tidur di luar rumah pada malam hari (Beitbridge 84,4; Lupane 1,93), dan orang dewasa (Beitbridge 0,18; Lupane 0,22) dibandingkan dengan kelompok referensi yang sesuai. Faktor-faktor lain menunjukkan RR yang bervariasi: jenis kelamin (Beitbridge 126,1), pengobatan yang cepat (Beitbridge 6,78), pengunjung yang menjadi tuan rumah (Lupane 6,19), dan tempat tinggal (Lupane 1,94) dibandingkan dengan kelompok referensi yang sesuai. Manajemen faktor risiko perlu difokuskan pada peningkatan kesadaran masyarakat setempat tentang malaria, cakupan universal LLINs pada ruang tidur di dalam dan di luar ruangan, program berbasis masyarakat tentang penggunaan LLIN yang tepat dan konsisten, skrining pengunjung dari daerah endemis malaria, kegiatan entomologi yang komprehensif, intervensi malaria campuran di titik-titik rawan di daerah pedesaan, dan penelitian di masa depan tentang dinamika penularan malaria lokal. Meskipun Zimbabwe memiliki potensi untuk mencapai tujuan global eliminasi malaria, keberhasilannya tergantung pada upaya mengatasi faktor-faktor risiko untuk mempertahankan kemajuan yang telah dicapai di antara daerah-daerah yang telah dieliminasi dari malaria.

Malaria has created a resurgence crisis in Zimbabwe’s elimination continuum, diverging from global commitment to malaria elimination by 2030. This retrospective cohort study aimed to determine the risk factors associated with severe malaria in the Beitbridge and Lupane districts. Multistage sampling was used to recruit 2414 individuals recorded in the District Health Information Software2 Tracker database. The study used IBM SPSS 29.0.2.0(20) for data analysis, and odds ratios (ORs) to estimate the relative risk (RR; 95% C.I; p < 0.05). The study revealed significant relative risks (p-value< 0.05) for individuals who had no Long-Lasting Insecticidal Nets (Beitbridge 47.4; Lupane 12.3), those who owned but used the LLINs (Beitbridge 24.9; Lupane 7.83), those who slept outdoors during the night (Beitbridge 84.4; Lupane 1.93), and adults (Beitbridge 0.18; Lupane 0.22) compared to the corresponding reference groups. Other factors showed varying RR: sex (Beitbridge 126.1), prompt treatment (Beitbridge 6.78), hosting visitor(s) (Lupane 6.19), and residence (Lupane 1.94) compared to the corresponding reference groups. Risk factor management needs to focus on increasing local awareness of malaria, universal LLINs coverage of indoor and outdoor sleeping spaces, community-based programs on proper and consistent LLIN usage, screening of visitors from malaria-endemic areas, comprehensive entomological activities, mixed malaria interventions in rural hotspots, and future research on local malaria transmission dynamics. While Zimbabwe has the potential to meet the global goal of malaria elimination, success depends on overcoming the risk factors to sustain the gains already made among malaria elimination districts.
Read More
T-7115
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive