Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rafie Lucky Baskoro; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Indry Octavia Trisnawati
Abstrak:
Skabies adalah penyakit kulit menular akibat infestasi Sarcoptes scabiei yang umum ditemukan di lingkungan padat dengan sanitasi rendah, termasuk fasilitas tertutup seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara personal hygiene dan faktor lingkungan dengan kejadian skabies pada warga binaan di LPKA Kelas II Jakarta. Penelitian menggunakan desain kuantitatif potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan observasional analitik. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, observasi langsung, dan pemeriksaan oleh dokter. Sampel berjumlah 31 responden dari total populasi warga binaan, dipilih dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa 61,3% responden mengalami skabies dalam 6 bulan terakhir. Meskipun sebagian besar responden memiliki kebersihan personal yang kurang baik dan tinggal di kamar dengan suhu dan kelembapan tidak ideal, tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel personal hygiene dan faktor lingkungan dengan kejadian skabies (p > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara personal hygiene maupun faktor lingkungan dengan kejadian skabies, kemungkinan disebabkan oleh homogenitas perilaku, ukuran sampel terbatas, serta pengaruh faktor lain di luar variabel yang diteliti. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan lebih banyak variabel lingkungan dan ukuran sampel yang lebih besar.
Scabies is a contagious skin disease caused by Sarcoptes scabiei infestation, commonly found in densely populated environments with poor sanitation, including closed institutions such as correctional facilities for juveniles. This study aimed to analyze the relationship between personal hygiene and environmental health factors with the incidence of scabies among inmates at the Special Child Development Institution (LPKA) Class II Jakarta. A cross-sectional analytic observational design was used with a quantitative approach. Data were collected through structured questionnaires, direct observation, and medical examinations. The study involved 31 respondents selected through total sampling from the inmate population. Data were analyzed using univariate, bivariate using chi-square analyses. Results showed that 61.3% of respondents experienced scabies in the past six months. Although most respondents exhibited poor personal hygiene and lived in rooms with suboptimal temperature and humidity, no statistically significant relationship was found between any personal hygiene or environmental variables and scabies incidence (p > 0.05). The study concludes that there is no significant association between personal hygiene or environmental factors and scabies occurrence. This may be attributed to sample homogeneity, limited sample size, and unmeasured external factors. Further research is recommended to include broader environmental variables and larger sample sizes to explore this relationship more comprehensively.
Read More
S-12025
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Athaya Rofifah Fajriah; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Atik Nurwahyuni, Yulia Fitriani
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyebab utama kunjungan layanan kesehatan primer di Indonesia. Data menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan ISPA, baik pada Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP) maupun Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), dengan rata-rata tahunan masing-masing sebesar 3,7 juta dan 19,3 juta kunjungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor sosiodemografi individu (usia, jenis kelamin, segmentasi peserta, kelas rawat) serta faktor keehatan lingkungan tingkat kabupaten/kota (kepadatan penduduk, tempat tinggal, curah hujan, suhu rata-rata, kelembapan udara, dan kecepatan angin) dan tingkat provinsi (ISPU) terhadap jumlah kunjungan ISPA di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) rawat jalan Program JKN tahun 2023. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan unit analisis individu dan agregat wilayah. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel usia, jenis kelamin, segmentasi peserta, kelas rawat, kepadatan penduduk, tempat tinggal, suhu, kelembapan relatif, dan ISPU memiliki hubungan yang signifikan secara statistik terhadap kunjungan ISPA di FKTP lebih dari sekali. Pada analisis multivariat, faktor usia, segmentasi peserta, kepadatan penduduk, suhu, dan kecepatan angin berhubungan secara signifikan dengan kunjungan peserta ISPA ke FKTP. Variabel yang paling berpengaruh dalam model ini adalah usia balita. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan multi-level dalam upaya pengendalian ISPA melalui intervensi berbasis individu dan lingkungan.
Acute Respiratory Infections (ARI) remain a leading cause of visits to primary healthcare services in Indonesia. Data show an increase in ARI visits, both inpatient and outpatient at the primary level, with an average annual total of 3.7 million and 19.3 million visits, respectively. This study aims to analyze the relationship between individual sociodemographic factors (age, gender, participant segmentation, and treatment class), environmental health factors at the district/city level (population density, residence type, rainfall, average temperature, humidity, and wind speed), and provincial level factors (Air Pollution Standard Index, ISPU) on the number of ARI visits to Primary Healthcare Facilities (FKTP) outpatient services under the JKN program in 2023. This quantitative study uses a cross-sectional design, with individual and regional aggregate units of analysis. Bivariate analysis results show that age, gender, participant segmentation, treatment class, population density, residence, temperature, relative humidity, and ISPU have a statistically significant relationship with ARI visits to FKTP more than once. Multivariate analysis further reveals that age, participant segmentation, population density, temperature, and wind speed are significantly associated with ARI visits to FKTP. The most influential variable in the model is the age group of children under five. These findings highlight the importance of a multi-level approach in controlling ARI through both individual and environmentbased interventions.
Read More
S-12001
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive