Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nisha Bansal ... [et al.]
AJE Vol.178, No.3
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kevin Dermawan; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Syahrizal, M. Adi Firmansyah
Abstrak:
Read More
Latar Belakang. COVID-19 telah menjadi pandemi global yang mengerikan dan bahkan tidak sedikit menyebabkan kematian. Penggunaan dari remdesivir sebagai terapi emergensi pada pertengahan tahun 2020 menyebabkan munculnya berbagai laporan yang mengaitkan penggunaannya terhadap gagal ginjal akut pada awal tahun 2021. Hal ini diperkirakan diakibatkan oleh adanya molekul sulfobutylehter-beta-cyclodextrin (SBECD) yang dapat menumpuk pada ginjal. Remdesivir lebih diutamakan pada kasus-kasus berat dan proporsi dari gagal ginjal akut lebih tinggi dilaporkan pada pasien perawatan ICU, sehingga penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana fungsi ginjal dapat terganggu akibat penggunaannya. Metode. Penelitian dilakukan secara observasional pre dan post remdesivir dengan pengumpulan data berdasarkan rekam medis rumah sakit. Pengumpulan data dilakukan pada RS Swasta di Tangerang periode Januari 2021 – Juli 2022. Data yang dikumpulkan termasuk usia, jenis kelamin, hipertensi, diabetes melitus, penggunaan antibiotik, steroid, antikoagulan, CRP, D-dimer dan fungsi ginjal (ureum, kreatinin, dan laju filtrasi ginjal). Analisis menggunakan uji Wilcoxon untuk membandingkan fungsi ginjal dan dibentuk model prediktif dengan regresi linear. Hasil. Dari 46 subyek yang mendapat terapi remdesivir didapatkan mayoritas adalah laki-laki dengan median usia 57 tahun. Model prediktif dengan variabel usia, jenis kelamin, hipertensi, DM, CRP, dan D-dimer menghasilkan nilai P 0,341; R2 0,153. Analisis stratifikasi dengan hipertensi, DM, CRP dan D-dimer menunjukkan adanya kemaknaan secara statistik (nilai P < 0,05). Kesimpulan. Terapi dengan remdesivir pada pasien COVID-19 yang dirawat di ICU dapat mengalami penurunan fungsi ginjal yang bermakna. Faktor risiko hipertensi, DM, nilai CRP dan D-dimer yang tinggi dapat memperburuk penurunan fungsi ginjal, sehingga perlu diperhatikan penggunaannya pada praktik klinis sehari-hari.
Background. COVID-19 has been a terrifying global pandemic and causing a considerable amount of death. The use of remdesivir as emergency treatment of COVID-19 was approved during the mid of 2020 and since then has been a lot of reports indicating acute kidney injury in relation to it in early 2021. This adverse event was hypothesized to be caused by a molecule called sulfobutylehter-beta-cyclodextrin (SBECD) which can cause deposits in the kidney promoting acute kidney injury. Remdesivir has been widely used in severe cases and acute kidney injury was found to be higher in ICU patients. Therefore, this study aims to show how these factors can cause kidney injury. Methods. This observational pre- and post-remdesivir study was conducted using hospital medical records. Data was collected from private hospitals in Tangerang during January 2021 to July 2022. The collected information include age, gender, hypertension, diabetes melitus, antibiotics, steroids, anticoagulants, CRP, D-dimer and kidney functions laboratory data. These data were analysed using Wilcoxon and predictive model generated with linear regression. Results. Out of all 46 subjects that included in the study, most of the participants are male with the age median of 57 years old. Predictive model with age, gender, hypertension, DM, CRP, and D-dimer fails to produce a convincing model with P-value 0,341 and R2 0,153. However, stratification analysis with hypertension, DM, CRP, and D-dimer as covariates shows statistically significant decrease in glomerular filtration rate with P-value < 0,05. Conclusion. Remdesivir therapy in patients with COVID-19 admitted to ICU could easily cause deterioration in kidney functions. Therefore, patients with risk factors such as hypertension, diabetes melitus, higher CRP and D-dimer value should be monitored closely by checking the creatinine and urine output regularly.
T-6890
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
